Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
68. KEMATIAN BRYAN #2


__ADS_3

Bryan tersentak kaget karena taksi yang ditumpangi tiba-tiba berhenti. Ada tiga buah mobil hitam menghadang taksi itu. Mereka semua memakai pakaian serba hitam dan juga topeng.


"Hei, keluar!" ucap mereka mengendor-gendor pintu mobil.


"Siapa mereka?" tanya Bryan.


"Saya juga tidak tahu tuan." jawab supir taksi itu ketakutan.


"Hei, cepat keluar atau kami pecahkan kaca mobil ini!" ancamnya.


Bryan berdecak sebal. Mau tidak mau dia terpaksa keluar. Bryan menatap mereka semua. Jumlahnya lumayan banyak. Ada 15 orang berpakaian hitam yang mengepungnya dari depan, belakang, samping kanan dan kirinya.


"T-tolong ampuni saya, tuan." ucap Supir taksi itu gemetar ketakutan.


Salah satu pemimpin mereka maju ke depan. Topengnya sedikit berbeda dengan anak buahnya. Jadi Bryan bisa mengetahui kalau dia adalah pimpinan nya.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Bryan to the poin.


Pria itu menyeringai. "Pertanyaan yang bagus untuk seseorang yang akan mati."


"Apa?"


"Habisi dia!"


Mereka langsung menyerang Bryan dengan membabi buta. Tendangan dan pukulan dilayangkan kepada Bryan. Pria itu kewalahan meskipun dia bisa bela diri tapi lawannya sangat banyak. Meskipun sulit Bryan tetap melawan mereka semua dengan kemampuan bela diri yang dimilikinya. Untungnya dulu Bryan pernah belajar bela diri.


BUGH


BUGH


Bryan melompat, lalu mengayunkannya kakinya dan kemudian menendang dada lawannya hingga beberapa diantaranya mereka terkapar lemah di tanah. Akan tetapi meskipun begitu Bryan juga terkena beberapa pukulan.


BUGH


Bryan lengah satu tonjokan mengenai rahangnya. Seketika tubuh Bryan oleng dan tidak seimbang. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangannya. Nafasnya juga menderu turun naik. Bryan kewalahan melawan mereka semua yang seperti tidak ada habisnya. Tenangnya terkuras habis.


"Menyerah saja, Bryan. Tidak ada gunanya kau melawan. Itu hanya akan mempersulit kematian mu."


"Tidak akan!"


Bryan kembali menyerang. Ia tidak ingin mati begitu saja. Walaupun wajahnya sudah babak belur tapi tekadnya untuk terus hidup masih kuat. Jadi tidak ada alasan bagi Bryan untuk menyerah.


"Ck, dasar keras kepala." ejek pria itu berdecak.


Drtttt drttttt


Ponsel pria itu bergetar. Ada panggilan masuk dari Olivia.


"Hallo, Samuel."


"Ada apa?"


"Apa kau sudah membunuh, Bryan?"


"Sedang kulakukan."


"Jangan membunuh nya!"


"Hah?!"


"Bawa dia ke hadapan ku. Aku ingin menyaksikan kematian nya langsung!"


Samuel menyeringai. "Baiklah, sesuai keinginan mu tuan putri."


Samuel memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia mengambil tongkat baseball miliknya. Samuel melihat Bryan yang masih melawan anak buahnya.


"Waktu bermain-main nya sudah habis, anak-anak." ucap Samuel.


BUGH


Bryan langsung pingsan. Hanya dengan satu pukulan tongkat baseball membuatnya tak sadarkan diri. Ia terjatuh dengan tubuh tengkurap.

__ADS_1


"Bawa dia!"


"Bos, kenapa dia tidak langsung dibunuh?" tanya salah satu anak buahnya.


"Tidak usah banyak tanya. Lakukan saja apa yang ku perintahkan. Cepat bawa dia!"


"Baik bos."


"Huh, merepotkan." gumam Samuel tersenyum kecut.


*****


Bryan di bawa ke sebuah tempat terpencil. Ia di kurung di ruangan minim cahaya. Kakinya diikat dengan rantai besi. Sedangkan kedua tangannya di borgol.


"Kenapa dia masih belum sadar?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Olivia.


"Mungkin karena aku terlalu keras memukulnya." jawab Samuel dengan santai. Ia duduk di sofa dengan kedua kaki menyilang layaknya penguasa.


Olivia berdecak sebal. "Berapa lama lagi dia akan sadar? Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku ada urusan penting."


"Baiklah."


Samuel menatap anak buahnya. "Ambilkan air dingin."


"Baik bos."


Tak beberapa lama anak buahnya tadi kembali membawa air sebaskom.


"Ini bos airnya."


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Olivia bingung.


"Tentu saja membuat nya sadar."


Samuel bangkit dari duduknya dan kemudian menumpahkan semua air dingin tadi ke seluruh tubuh Bryan hingga membuat pria itu langsung tersadar.


"Akhirnya kau sadar juga." ucap Olivia.


Bryan mendongak. "Olivia?" gumamnya terkejut melihat wanita itu. Bryan mencoba memberontak tapi ternyata tangannya di borgol dan kedua kakinya diikat dengan rantai besi. Apa yang sebenarnya terjadi? pikir Bryan.


Olivia mengangkat dagu Bryan. "Jangan membentak ku kalau kau tidak ingin cepat mati!"


Olivia melanjutkan perkataannya. "Ah, tapi setelah ini kau juga akan mati." ujar Olivia tersenyum licik.


"A-apa maksud mu?"


"Bryan, seandainya kita tidak bertemu kemarin. Mungkin saja hidupmu masih panjang tapi sayangnya kita malah bertemu." ucap Olivia sambil berjalan mengelilingi Bryan.


Bryan tersenyum kecut. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Olivia."


"Maksudku kesalahan terbesar mu adalah bertemu denganku. Kalau saja kau tidak bertemu dengan ku. Mungkin kau tidak akan mati."


"K-kau ingin membunuhku?" tanya Bryan terbata-bata.


"Yah, aku tidak punya pilihan lain."


"Tapi kenapa? Apa salahku?"


Olivia menyeringai. Ia memajukan wajahnya dan berbisik. "Salahmu karena mengetahui rahasia ku. Aku tidak ingin kau memberitahu, Rei soal masa laluku. Jadi, terpaksa aku harus membunuhmu agar kau tidak buka suara."


"Apa kau sudah gila?" teriak Bryan marah.


"Yah, aku memang gila. Tapi apa pentingnya itu? Aku hanya ingin mempertahankan, Rei disisi ku dan menghilangkan pengacau sepertimu!"


"Tapi kau tidak bisa membunuhku begitu saja, Olivia!"


"Kenapa? Saat ini kau bukan orang penting, Bryan. Kau hanyalah sampah yang tidak berguna bahkan kau juga terlilit hutang. Hidupmu tidak akan lama. Aku hanya membantu mempercepat kematian mu." ujar Olivia.


"Jangan gila, Olivia. Meskipun hidupku tidak akan lama lagi. Aku tidak rela kalau aku harus mati di tangan wanita ****** sepertimu!" teriak Bryan membentak.


PLAK

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat di wajah Bryan. Olivia menampar nya karena tidak terima atas ucapan Bryan.


"Jaga ucapan mu, Bryan! Atau kau ingin lidahmu itu aku potong sehingga kau tidak bisa bicara lagi!" sarkas Olivia tidak terima.


"Heh, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, Olivia. Kau memang wanita ******. Kau bahkan tidur dengan banyak pria." ejek Bryan tersenyum miring.


"DIAM KAU!" bukan Olivia yang membentak tapi Samuel. Ia tidak tahan mendengar Bryan mengejek Olivia.


"Siapa lagi dia? Oh, atau jangan-jangan dia salah satu pria simpanan, mu Olivia?" tanya Bryan terkekeh ejek. Kali ini Samuel tidak memakai topeng jadi Bryan bisa melihat wajah aslinya.


Srek


"KU BILANG DIAM ATAU PELURU INI MENEMBUS KEPALAMU!"


Bryan langsung terdiam. Tubuhnya menegang. Ujung pistol berada tepat di samping kanan kepalanya. Nafasnya tercekat. Satu tarikan saja dapat dipastikan kepalanya akan pecah detik itu juga.


"Olivia, cepat beri aku perintah. Aku sudah tidak sabar membunuh nya. Kepalaku sakit mendengar ocehannya." ujar Samuel semakin menekan ujung pistolnya.


"Tunggu sebentar, Samuel. Ada satu lagi yang harus aku katakan padanya." tahan Olivia.


"Bryan, aku tau kau sudah berjasa di hidupku. Aku sangat berterima kasih karena kau membuatku jadi model terkenal. Tapi sayangnya aku harus membunuhmu."


"Aku tidak bisa mengambil resiko besar. Kalau seandainya kau menemui, Rei dan memberitahu nya soal masa laluku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Untuk itu salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan mu!" ujar Olivia.


Bryan mengepalkan tangannya erat. "K-kau benar-benar tidak punya hati, Olivia. Apa begini caramu membalas jasaku? Heh, sungguh kejam."


"Sudah ku katakan bukan? Aku terpaksa, Bryant Astrope!"


"Seharusnya sejak awal aku sudah memberitahu, Rei."


"Yah, tapi sayangnya kau terlambat, Bryan."


Tatapan Olivia beralih kepada Samuel. "Bunuh dia!"


"Baik."


DOR!


Hanya dengan satu tarikan pelatuk kepala Rei berlubang. Peluru menembus kepalanya. Darah berceceran dimana-mana.


"A-aku tidak menyangka akan mati seperti ini." ucap Bryan sebelum menutup kedua matanya. Ia juga sempat melihat Olivia tersenyum puas menyaksikan kematian nya.


"Semoga kau tenang di sana, Bryant Astrope." ucap Olivia mengusap wajah Bryan untuk terakhir kalinya.


"Sepertinya kalian punya kenangan indah di masa lalu." ujar Samuel menyeringai.


"Itu bukan urusanmu!" sarkas Olivia dingin.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi."


Olivia memutar bola matanya malas. "Bereskan mayatnya. Jangan meninggalkan jejak apapun!"


"Baik, tuan putri."


Langkah Olivia terhenti. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. Olivia berbalik kembali.


"Kenapa? Apa ada yang ketinggalan?"


Olivia mengeluarkan sebuah foto. "Selidiki orang yang ada di foto ini. Aku ingin mendengar lapornya secepatnya!"


"Hm, baiklah."


"Aku pergi dulu."


Setelah kepergian Olivia, Samuel memilih duduk. Ia menatap foto yang diberikan Olivia. Di sana ada foto seorang laki-laki yang ternyata adalah Zyano.


Bersambung 😎


______________________________________________


Mau apa tuh si Olivia menyelidiki Zyano?

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰🥰🥰👍


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2