
Setelah dari perusahaan Brawitama Felix memutuskan untuk pulang menemui istrinya. Dia ingin membicarakan masalah ini kepada Irene. Biar bagaimanapun Irene harus mengetahui apa kesalahannya.
"Irene."
"Irene dimana kau?" teriak Felix memanggil istrinya.
"Ya ampun mas, ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Irene yang baru saja keluar dari dapur.
Felix menatap Irene dengan tajam. Perasaannya saat ini campur aduk antara marah, kesal dan kecewa. Ia tidak menyangka istrinya yang baik itu bisa menghina orang lain. Apakah Felix terlalu memanjakan istrinya? pikirnya.
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Ada apa mas? Apa terjadi sesuatu?" tanya Irene heran melihat wajah suaminya yang terlihat marah.
"Katakan dengan jujur! Apa benar kau sudah menghina istrinya tuan, Zyano?!" tanya Felix serius.
Irene terkejut mendengarnya. "A-apa yang kau katakan mas?"
"Jawab saja! Iya atau tidak?!" bentak Felix.
"I.....itu..." Irene tidak tahu harus mengatakan apa. Mulutnya terasa sulit berucap.
"Itu apa hah?! Katakan yang jelas?" bentak Felix marah besar.
Irene terdiam. Ia tidak pernah melihat Felix semarah ini bahkan sampai membentaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? batin Irene bingung. Tidak ada angin tidak ada hujan suaminya itu tiba-tiba marah.
"Kenapa diam?! Jadi, benar kalau kau menghina istrinya tuan, Zyano?!"
Irene mendekati suaminya. "Mas, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba marah?"
Felix menepis tangan Irene dengan kasar. "Jangan mengalihkan perhatian! Jawab saja pertanyaan ku, Irene!"
Irene terhenyak karena perlakuan kasat suaminya. "Mas, kau ini kenapa hah?!"
"Kau yang kenapa?! Apa susahnya menjawab pertanyaan ku?! Iya atau tidak?!"
"Tidak!" bentak Irene berteriak.
"Bohong!" sarkas Felix marah. Ia tersenyum getir. "Berani-beraninya kau membohongi ku, Irene!"
"Aku tidak bohong mas!" balas Irene masih tidak mau jujur.
"Oh ya? Lalu ini apa hah?!" bentak Felix menunjukkan video berisi rekaman saat Irene menghina Katerina dan Zahra.
Irene melebarkan matanya tajam. "D-dari mana kau mendapatkan video itu mas?"
"Dari manapun aku mendapatkan nya itu tidak penting! Yang pasti aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal memalukan itu, Irene!" ujar Felix sangat kecewa.
"Itu tidak benar mas! Video itu pasti diedit!"
"Jangan membohongi ku, Irene!"
"Aku tidak bohong mas! Video itu memang editan. A-aku tidak mungkin melakukan itu!" bantah Irene.
Felix tersenyum hambar. "Lalu, apa kau pikir tuan, Zyano membohongi ku?" tanyanya.
Irene shock. "Apa? Tuan, Zyano?"
"Yah, aku mendapatkan video itu darinya!" jawab Felix tegas.
"Tidak mungkin." gumam Irene.
"Apanya yang tidak mungkin?!"
"Aku tidak mungkin melakukan itu mas! Video itu tidak benar!" ujar Irene masih tidak mau jujur.
"Kalau begitu katakan padaku untuk apa tuan, Zyano mengedit video itu? Apa untungnya baginya Irene?!" bentak Felix. Ia sangat marah karena istrinya tidak mau jujur.
"Ya, m-mana aku tau. Mungkin saja dia ingin menjatuhkan mu mas." jawab Irene mencari alasan.
"Diam! Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar kebohongan mu lagi, Irene!" bentak Felix berteriak.
"Jadi mas lebih percaya dengan orang lain daripada aku istrimu sendiri mas?" tanya Irene berakting sedih.
"Aku tidak pernah mempercayai orang lebih darimu, Irene! Karena itu aku bertanya padamu tapi apa? Kau malah membohongi ku!" jawab Felix sangat kecewa.
Irene terdiam. Ia tidak tau harus mengatakan apa. Gengsinya yang tidak membuat nya tidak ingin mengakui kesalahannya sendiri. Irene hanya tidak ingin suaminya tahu perbuatannya. Ia tidak ingin dicap tidak baik oleh Felix. Tapi justru karena hal ini Felix makin kecewa.
"Sampai kapan kau tidak mau mengakui kesalahan mu, Irene?" tanya Felix hambar. Ia tertunduk lemah di sofa.
"A-aku....." Mulut Irene terasa sulit untuk berucap. Bibirnya kelu tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Apa sulitnya untuk jujur? Apa selama ini aku salah menilai mu? Ku pikir kau wanita baik-baik tapi ternyata tidak? Apa kau akan terus mengecewakan ku seperti ini, Irene?"
Irene menundukkan kepalanya. "M-maaf mas."
"Maaf untuk apa? Kebohongan mu atau kesalahan mu?" tanya Felix.
Irene hanya diam. Ia tidak menjawab ataupun membantah. Sesaat keheningan menyelimuti kedua. Felix melirik istrinya. Ia dapat melihat satu tangan Irene terkepal kuat menahan amarah. Namun, Felix hanya tersenyum kecut.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi ingat aku tidak akan bicara denganmu. Kecuali, sampai kau jujur!" ujar Felix berdiri dan hendak pergi.
"Iya! Aku memang menghina istrinya, Zyano! Lalu, memangnya kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dia wanita yang beruntung bisa menikah dengan pria hebat seperti Zyano Meskipun statusnya hanyalah orang biasa."
"Dan seharusnya dia tidak marah kan? Karena itulah faktanya! Malahan dia harusnya bersyukur bukan malah mengadu dengan suaminya sampai kau semarah ini padaku mas. Cih, tidak ku sangka wanita itu ternyata bermuka dua. Tampilannya saja yang manis tapi dibelakang busuk."
PLAK
Satu tamparan mendarat keras di wajah Irene hingga oleng ke samping. Tangan Felix gatal tidak tahan mendengar perkataan Irene hingga tanpa sadar menamparnya. Sedangkan Irene tidak menyangka. Ia shock mendapat tamparan dari suaminya.
"A-apa yang kau lakukan mas? Kenapa kau menamparku?"
"Kau pantas mendapatkan nya! Mulutmu ternyata se busuk itu, Irene!" ujar Felix.
"Mas, Felix." Irene memegangi wajahnya yang terasa perih habis di tampar.
"Tidakkah kau sadar apa yang kau ucapkan? Aku menampar mu agar kau sadar kalau apa yang kau katakan itu tidak pantas!"
"Oh, jadi begini sikapmu di luar sana? Kau baik di hadapan ku tapi bersikap kurang ajar dengan orang lain hanya karena statusmu yang kau bangga- banggakan itu hah?!" bentak Felix.
"Yang harusnya sadar itu kau, Irene! Kau menghina orang lain tapi lupa berkaca dengan dirimu sendiri! Ingat posisimu juga! Kalau bukan karena ayahmu kita tidak mungkin menikah!" ujar Felix mengeratkan rahangnya.
"Apa yang kau katakan mas?"
"Sama sepertimu aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Kalau bukan karena pernikahan ini mana mungkin kau punya status, Irene!" ucap Felix menohok.
"Diam mas! Teganya kau mengatakan itu padaku! Aku ini istrimu mas!" bentak Irene marah tidak terima.
Felix tertawa sarkas. "Kau marah bukan? Begitu juga dengan tuan, Zyano. Dia sangat marah saat tahu kalau kau menghina harga diri istrinya! Itulah yang dia rasakan, Irene! Apa kau sudah mengerti hah?!"
Irene terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang dikatakan suaminya membuat nya sadar.
"Apa kau tahu, Irene? Saat tuan, Zyano mengatakan ini aku juga tidak percaya tapi sekarang aku tambah yakin. Aku terlalu tinggi menilai mu karena kupikir istriku tidak mungkin melakukan hal itu tapi kenyataannya malah seperti ini? Kau benar-benar mengecewakan ku, Irene." ujar Felix tersenyum hambar.
"A-aku......" bibir Irene terasa kelu untuk berucap.
"Tunggu mas. A-aku bisa jelaskan itu semua." ucap Irene menahan tangan Felix.
"Tidak perlu!"
"Tapi mas, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu."
"Apa kau menyesali perbuatan mu?"
Irene mengangguk. "Iya, aku sangat menyesal."
Felix tersenyum tipis. "Baiklah, kalau kau memang menyesalinya maka minta maaflah dengan istrinya tuan, Zyano."
"Apa?" Irene shock mendengarnya.
"Kenapa? Kau tidak mau?"
"Bukannya tidak mau hanya saja aku takut kalau dia tidak mau memaafkan ku." ujar Irene ragu.
"Soal itu urusan belakangan. Yang penting kan kau meminta maaf dulu. Diterima atau tidaknya itu terserah mereka."
"Tapi apa itu harus?"
"Harus! Kalau kau memang menyadari kesalahan mu maka kau harus minta maaf! Kecuali, kalau kau hanya berpura-pura menyesal."
Deg
Irene meneguk liurnya gugup. "T-tentu saja aku menyesal."
"Baguslah, kalau begitu besok pagi kita akan berkunjung ke kediaman tuan, Zyano. Aku akan menemanimu." ujar Felix memutuskan.
"Iya." Irene hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak menduga kalau suaminya akan memintanya untuk minta maaf pada Katerina. Meskipun Irene sudah menyadari kesalahannya tapi tetap saja gengsinya tinggi. Namun, dia tidak punya pilihan lain karena itu permintaan suaminya. Irene tidak ingin suaminya marah atau tambah kecewa padanya. Jadi, dia akan melakukan itu walaupun dengan berat hati.
****
Malam harinya setelah selesai makan malam Katerina masuk ke dalam kamarnya. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati angin malam yang berhembus kencang menerpa wajahnya cantiknya. Rambut panjangnya dibiarkan berterbangan kesana kemari.
Katerina termenung memikirkan apakah keputusan Sera nanti. Ia hanya takut kalau Sera tidak setuju. Kalau sampai itu terjadi maka hancurlah semua rencananya. Huh, memikirkan itu saja membuat Katerina pusing.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kau lakukan disini hm?" tanya Zyano melingkarkan tangannya ke perut istrinya. Ia memeluknya dari belakang seraya mengirup aroma Jasmine dari tubuh istrinya itu.
"Ah, Zyan. Aku hanya mencari angin sebentar." jawab Katerina membalikkan badannya.
"Tapi disini dingin sayang nanti kau masuk angin." ujar Zyano sambil memasangkan selimut agar menutupi tubuh Katerina.
"Astaga, Zyan. Badanku jadi gemuk karena selimut ini." protes Katerina berdecak.
"Biarkan saja atau kita masuk ke dalam!" ancamnya.
Katerina hanya bisa menghela nafas. "Baiklah, hubby."
"Tadi kau memanggilku apa sayang?"
"Hubby. Kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Katerina.
Cup
Zyano mengecup singkat bibir Katerina yang tampak menggoda itu. "Suka sayang. Kedepannya kau harus memanggil ku seperti itu!" pinta Zyano.
Katerina terkekeh pelan. "Iya hubby." ucap Katerina tersenyum manis.
"Oh sayangku. Kau membuatku tambah cinta." goda Zyano memeluk istrinya hingga Katerina merasa sesak.
"Aduh lepaskan hubby. Aku jadi susah bernafas kalau kau memelukku terlalu erat begini." ujar Katerina mengeluh.
"Salahkan dirimu karena terlalu menggemaskan sayang. Aku jadi tidak bisa menahan diri." ucap Zyano membuat pipi Katerina merona.
"Suamiku ternyata sangat nakal." ejek Katerina mencebikan bibirnya manyun.
"Jangan menggodaku sayang." ujar Zyano memperingati.
"Aku tidak menggoda mu." bantah Katerina.
"Bibirmu yang manyun seperti itu apa minta dicium hm?"
"Tidak." Katerina lekas-lekas menutupi bibirnya takut diserang singa lapar.
Zyano terkekeh geli. "Kau sangat lucu sayang. Jangan ditutupi atau kau mau aku cium hm?" ancamnya.
"Aku menutupinya karena takut di cium olehmu!" ujar Katerina jujur.
"Kenapa memangnya?"
"Nanti bibirku bengkak kalau dicium tawon raksasa." ejek Katerina menyindir tajam.
"Ah iya, benar. Aku jadi lupa. Bukankah harusnya malam ini kau memberiku hadiah sesuai janjimu tadi pagi hm?" ujar Zyano dengan tatapan menggoda.
Katerina tersadar. "Astaga aku lupa." batinnya.
"Itu....em....."
"Itu apa hm?"
"Janjinya di batalkan!" putus Katerina sepihak.
"Loh mana bisa begitu sayang?"
"Tentu saja bisa kan aku yang membuat janjinya." ucap Katerina.
"Sayangnya bagiku itu tidak bisa!"
Aaaaaaaaaa
Katerina memekik saat tubuhnya tiba-tiba terangkat. Ia refleks mengalungkan tangannya ke leher Zyano karena takut jatuh.
"Zyan, apa-apaan ini? Turunkan aku!" protes Katerina memberontak.
"Maaf sayang aku tidak bisa menahannya lagi." ujar Zyano.
"Apa?"
Cup
Katerina melotot mendapat serangan mendadak. Zyano mencium bibir nya sampai membuat Katerina tidak bisa menolak. Ia terbuai oleh permainan bibir suaminya itu. Zyano masuk ke dalam kamarnya tanpa melepaskan bibirnya yang saling berpagut. Dan akhirnya malam itupun terjadi. Katerina di terkam singa lapar yang sudah lama menahan diri. Ia hanya bisa pasrah menerimanya.
Bersambung π
______________________________________________
Hohoho Katerina diserang singa laparπ€£π€£
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya π₯°π₯°π₯°ππ₯°ππ₯°
^^^Coretan Senja βοΈ^^^