
Rei tampak kaget melihat Olivia sedang berjalan menghampiri nya dengan senyum manis yang beracun. Wanita itu bahkan mengapit lengannya dengan manja tanpa tahu malu.
"Lepas!"
Olivia terhenyak karena Rei mendorong tubuhnya hingga terhuyung ke belakang. Hampir saja dia jatuh kalau tangannya tidak berpegang dengan tumpuan sofa.
"Rei! Kenapa kau sangat kasar padaku hah?!" protes Olivia marah.
"Karena aku tidak suka kau menyentuhku, Olivia!"
"Apa?" Olivia tercengang mendengarnya.
"Sudahlah, untuk apa kau kemari hah?!" tanya Rei to the poin. Ia sungguh malas melihat Olivia yang berkunjung malam-malam begini.
Senyum licik menghiasi wajahnya Olivia. Ia melipat kedua tangannya di atas perut. "Heh, memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumah calon suamiku hm?"
"Ti...." Ucapan Rei terpotong.
"Tentu saja boleh, Olivia. Tante senang kalau kau datang kemari." sahut Ranti langsung memotong ucapan putranya.
Olivia tersenyum. "Makasih tante."
"Sama-sama." Ranti membalas senyuman Olivia tapi kemudian melirik sinis ke arah Rei. "Kau tidak boleh bersikap kasar seperti itu, Reino!"
"Tapi mah."
"Cukup!" Ranti mengangkat satu tangannya yang artinya dia tidak suka perkataan nya di bantah oleh siapapun. Jika sudah begitu maka Rei hanya bisa diam tanpa protes.
Sementara Rangga hanya menghembuskan nafas lelah sambil mengusap wajahnya gusar. "Sudah-sudah jangan bertengkar lagi. Ayo duduklah."
"Maaf om, kurasa ini sudah waktunya untuk aku pulang karena ini juga sudah larut malam. Dan sepertinya Rei kelihatan sangat lelah. Jadi, aku tidak ingin menganggu waktu istirahatnya. Lagipula aku sudah mengatakan semuanya dengan kalian." ujar Olivia membuat Rei jadi penasaran dengan apa saja yang Olivia bicarakan dengan kedua orangtuanya.
"Hm ucapan mu ada benarnya. Kalau begitu, biar Rei yang mengantarkan mu pulang, Olivia." suruh Rangga.
"Tidak perlu om. Aku tidak ingin merepotkan, Rei karena dia baru saja pulang dari kantor. Wajahnya terlihat lelah." ujar Olivia menolak tawaran Rangga.
"Tapi tidak baik bagi seorang wanita pulang sendirian malam-malam begini, Olivia. Bagaimana kalau ada yang berbuat jahat padamu? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga cucuku."
Olivia tersenyum mendengar kata cucu. "Jangan khawatir om. Aku tidak pulang sendirian karena aku akan dijemput oleh supir kepercayaan ayah. Dan kebetulan dia sudah ada didepan."
"Ah begitu. Baiklah, hati-hati dijalan ya, Olivia. Dan jangan lupa sampaikan salam ku kepada ayahmu."
"Baik, om. Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya om, Tante."
__ADS_1
"Iya hati-hati di jalan, Olivia."
Sebelum pergi Olivia berbisik di telinga Rei. "Aku tunggu kedatangan mu besok malam Rei sayang." dan setelah itu dia pergi.
"Apa maksudnya?" gumam Rei tak mengerti perkataan Olivia. Apa yang sedang dia rencanakan? batin Rei bertanya-tanya.
PRANG!
Rei terkejut bukan main karena ayahnya tiba-tiba membanting vas bunga hingga pecah berkeping-keping. Wajahnya merah padam. Sorot matanya penuh amarah. Kedua tangannya terkepal erat hingga urat-urat nya terlihat.
"Dasar wanita sialan." umpatnya kasar.
"Pah, papa kenapa?" tanya Rei mencoba mendekati ayahnya.
"DIAM REI! ini semua gara-gara kebodohan mu!"
"Aku?" Rei menunjuk dirinya sendiri karena tidak mengerti perkataan ayahnya.
"Mas, tenanglah." Ranti mencoba menenangkan suaminya.
"Jangan ikut campur, Ranti!" teriak Rangga membentak istrinya.
"Pah, papa kenapa sih?! Kenapa tiba-tiba marah begini?" tanya Rei bingung.
Rei mengerutkan keningnya. "Memangnya apa?"
"Baiklah, karena kau sangat bodoh biar ku beritahu. Wanita itu datang kemari karena ingin meminta pertanggung jawaban darimu! Dia bahkan sampai mengancam ku. Heh, baru kali ini aku diancam oleh seorang wanita dan kau tahu itu semua gara-gara kebodohan mu Rei!"
"Apa?" Rei terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka Olivia sampai mengancam ayahnya seperti ini.
"Kalau kita tidak mengikuti permintaan nya maka dia akan nekat membeberkan soal kehamilan nya ke media. Jika hal itu terjadi maka reputasi keluarga ini akan hancur! Dan itu akan berdampak buruk untuk perusahaan Alberto!" ujar Rangga sangat marah. Ia merasa harga dirinya dijatuhkan.
"Astaga." Rei mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Rei, kau harus bertanggungjawab sepenuhnya!"
"Tapi pah, itu bukan anakku."
"Aku tidak peduli! Entah dia anakmu atau bukan kau harus menikah dengannya!"
Rei menggeleng cepat. "Tidak! aku tidak sudi menikah dengan wanita ular seperti nya pah."
"Heh, itu masalahmu. Kau sendiri yang mencari penyakit karena tergoda dengannya."
__ADS_1
Rei berlutut di kaki ayahnya. "Pah, ku mohon mengertilah. Aku tidak bisa menikah dengan wanita seperti Olivia. Dia tidak bisa dipercaya pah."
"Aku tidak suka mengulang perkataan ku! Suka ataupun tidak pernikahan kalian akan tetap berlangsung. Jadi, persiapkan dirimu mulai sekarang!"
"Dan besok malam kita akan menemui keluarganya." lanjut Rangga.
"Apa? Tidak! Aku tidak mau pah." Rei menolak keras.
"Jangan kekanak-kanakan, Rei. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang sudah kau lakukan! Jika kau memang seorang pria maka bersikap lah seperti seorang pria yang gentleman." ujar Rangga dan setelah itu berlalu pergi.
"Rei, bangunlah." ujar Ranti membantu putranya berdiri.
"Mah, aku tidak ingin menikah dengan, Olivia. Dia wanita yang sangat licik mah. A-aku yakin bayi yang dikandungnya bukan anakku." ujar Rei tersedu-sedu. Ia tetap tak ingin menikah.
"Aku tidak menyangka ternyata putraku sangat egois dan pengecut!" ujar Ranti tersenyum masam.
Rei langsung mendongak. "Mah?" Ia tak menduga ibunya akan mengatakan itu padanya.
"Kalau kau tidak ingin dikatakan pengecut maka kau harus berani bertanggung jawab dan jangan lari dari masalah! Aku tahu putraku tidak akan mengecewakan ku untuk yang kedua kalinya!"
"Maaf mah." lirih Rei merasa bersalah karena sudah mengecewakan ibunya.
Ranti menahan air matanya yang hendak keluar. "Sudahlah, kau harus istirahat Rei. Tenangkan pikiran mu." ujar Ranti kemudian pergi.
"Arghhhhhhh, sial. Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Olivia." teriak Rei menjerit frustasi. Semua masalah yang terjadi di hidupnya gara-gara Olivia. Dia tidak akan tinggal diam. Rei bersumpah akan membuat hidup Olivia menderita setelah menikah dengannya. Dia ingin balas dendam.
***
Sementara itu di perjalanan senyum Olivia tak pernah pudar. Ia sangat bahagia setelah berbicara dengan kedua orang tua Rei. Olivia tak bisa bersabar lagi. Makanya dia nekat datang menemui orang tua Rei supaya pernikahan nya cepat diselenggarakan.
"Heh, aku sungguh tidak sabar menunggu hari esok." ujar Olivia tersenyum bahagia. "Bagaimana reaksi Rei nanti ya?"
"Ah, Rei sayang kau pikir bisa melawanku hm? Jangan pernah berpikir kau bisa lepas dari genggaman ku. Karena selamanya kau tetap akan menjadi milikku." ucap Olivia menyeringai.
"Dan bayi ini akan jadi pengikat hubungan kita."
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa Like dan Vote nya dung 😇😇
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1