
"Zyan, apa kau tau, mommy mu itu setiap hari marah-marah karena kau tidak pernah menghubunginya." ujar Zeano mengadu.
"Mom kan memang sukanya marah-marah, Dad." balas Zyano membuat Zahra langsung melotot.
"Hei, anak durhaka. Jaga bicaramu! Aku marah-marah begini karena siapa hah?! Kau setiap hari selalu menguji kesabaran ku, Zyan!" tukas Zahra tersulut emosi. Ia sudah lama menahan diri agar tidak memarahi Zyano tapi sepertinya kali ini tidak bisa.
"Selalu saja bilangnya begitu."
"Lah, kenyataannya memang begitu kan! Mom tanya deh, Apa pernah kau berinisiatif sendiri untuk menghubungi mom? Apa kau pernah memikirkan keadaan mom? Apa kau pernah memikirkan bagaimana rindunya mom dengan, Katerina? Tidak bukan! Itulah kau memang anak tidak berbakti! Selalu membuat mom marah." ujar Zahra mengungkapkan isi hatinya selama ini.
"Mom, you know that i'm bussy." ucap Zyano.
"Halah, itu terus alasanmu, Zyan. Mom sampai muak mendengarnya." balas Zahra memutar bola matanya malas.
"Yang penting kan sekarang aku sudah membawa, Katerina ke hadapan mom."
"Ya memang, tapi mom yakin ini semua pasti ide, Katerina kan? Kau mana pernah berpikir untuk mengunjungi mom." ujar Zahra sangat hapal kelakuan putranya.
"Bukan, mom. Sebenarnya ini ide, Zyan." sahut Katerina mengejutkan.
"Benarkah?" tanya Zahra tidak percaya.
"Iya, mom. Sebelumnya aku juga ingin minta maaf karena tidak sempat menghubungi mom. Tapi bukan berarti aku dan Zyan tidak merindukan mom. Tentu kami sangat merindukan mom." ucap Katerina merasa tidak enak hati.
"Tidak perlu minta maaf, Kate. Mom bisa mengerti kalau kalian sibuk tapi mom hanya sedih karena kalian tidak memberi kabar. Mom pikir kalian sudah melupakan mom."
"Tidak mom. Mana mungkin aku dan Zyan melupakan mom. Kami malah sangat merindukan mom. Saat aku di mansion aku merasa kesepian karena tidak ada mom dan Dad." ujar Katerina membantah. Ia menggenggam tangan Zahra sambil menatapnya hangat.
"Kate." tanpa aba-aba Zahra langsung memeluk menantu kesayangannya itu. Ia menangis terharu mendengar ucapan Katerina.
Katerina tertegun melihat Zahra menangis. "Astaga, mom. Jangan menangis." ujar Katerina sambil menghapus air mata Zahra.
"Mom hanya senang karena kalian datang mengunjungi mom seperti ini. Sekarang mom merasa lebih baik." ungkap Zahra terisak.
"Jangan menangis mom. Aku janji kedepannya akan sering mengunjungi mom. Jadi, mom tidak usah bersedih lagi ya."
"Janji ya?"
"Iya mom." ujar Katerina mengangguk yakin.
"Mom tunggu kedatangan kalian!"
Katerina terkekeh pelan. "Siap mom."
"Benar-benar kekanak-kanakan." ejak Zyano sambil memotong steak daging nya, lalu menyantapnya nikmat.
"Diam kau bocah!" sarkas Zahra menghunus tatapan tajam kearah putranya itu.
"Sudahlah, ayo lanjutkan makan nya." sahut Zeano melerai perdebatan ibu dan anak itu. Kalau dibiarkan sampai pagi tidak akan selesai.
Zahra membuang muka sebal sedangkan Zyano terlihat santai menikmati makan malamnya. Zyano sangat hapal dengan sifat Zahra. Ia tahu ibunya itu sedang kesal karena lama tidak mengunjungi nya tapi tetap saja bagi Zyano sifat ibunya itu sangat kekanak-kanakan. Walaupun begitu Zyano tidak marah. Ia selalu memaklumi kelakuan ibunya. Zyano tahu Zahra hanya ingin mendapatkan perhatian darinya.
Sementara Katerina hanya tertawa kecil melihat tingkah ibu dan anak itu. Ia merasa lucu dengan interaksi keduanya.
"Oh iya, mom. Bagaimana dengan penyakit jantung mom? Apa jantung mom masih sakit?" tanya Zyano.
__ADS_1
"Penyakit jantung?" tanya Zahra sesaat melupakan sesuatu tentang kebohongannya sendiri.
"Iya, bukankah waktu itu jantung mom sakit?"
"Astaga, bagaimana bisa aku melupakan hal itu? Jangan sampai Zyano tahu kalau waktu itu aku berbohong padanya." ujar Zahra dalam hatinya.
"Mom."
"Ah, ya?" Zahra tersentak kaget. Membuat Zyano jadi curiga.
"Aku sedang bertanya mom! Apa jantung mom masih sakit?" tanya Zyano menatap Zahra serius.
"Em....itu, kau tenang saja, Zyan. Jantung mom sudah tidak sakit lagi." jawab Zahra tanpa menatap putranya. Ia berdoa dalam hatinya semoga Zyano tidak curiga.
"Benarkah?"
"Iya, kan Sean sudah memberikan obat khusus untuk mom. Jadi kau tidak perlu khawatir, oke?" ujar Zahra tersenyum.
"Kenapa mom gugup begitu? Apa jangan-jangan mom..." belum sempat Zyano melanjutkan perkataannya Zahra sudah lebih dulu memotongnya.
"Tidak, Zyan! Mom tidak berbohong!"
"Oh ya? Tapi aku kan tidak pernah mengatakan kalau mom berbohong." ucap Zyano menyeringai tipis.
Skatmat
Zahra menelan ludah susah. "Astaga, bisa-bisanya aku masuk perangkap bocah nakal ini." batin Zahra dalam hatinya menjerit meruntuki kebodohannya.
"Hohoho kau ketahuan, sayang." ujar Zeano dalam hatinya sambil melirik sang istri.
"Itu.....em....." Zahra menghembus nafas panjang "Sebenarnya, jantung mom tidak sakit, Zyan. Waktu itu mom hanya akting." ungkap Zahra jujur.
"Apa?" Katerina terkejut mendengarnya.
"Sudah aku duga." ujar Zyano tersenyum kecut.
"Jadi, waktu itu sakit jantungnya cuman akting?" tanya Katerina menatap ibu mertuanya itu.
"Iya, Kate. Tapi mom tidak bermaksud apa-apa kok."
"Lalu, kenapa mom harus berbohong?"
Zahra meraih tangan menantunya itu. "Kate, mom minta maaf. Mom tidak bermaksud untuk membohongi kalian. Mom terpaksa melakukan itu supaya kalian menyetujui permintaan mom."
"Astaga, mom." Katerina mengembuskan nafas panjang. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Zahra yang rela melakukan apapun demi tujuannya tercapai.
"Apa kau marah, Kate? Mom benar-benar minta maaf. Mom tidak bermaksud untuk membohongi kalian. Mom hanya ingin kalian menikah. Itu saja. Tidak ada niat lain." ujar Zahra.
Zyano hanya diam tanpa berkomentar apapun. Sedangkan Katerina tersenyum sambil mengusap pundak ibu mertuanya itu. Katerina dapat mengerti kalau Zahra melakukan ini demi kebahagiaan mereka.
"Aku tidak marah mom, hanya sedikit kesal. Tapi aku senang kalau mom benar-benar tidak sakit jantung." ucap Katerina.
"Iya, Kate. Kau tenang saja. Mom sangat sehat kok."
"Syukurlah, kalau begitu."
__ADS_1
"Tapi lain kali, mom jangan berbohong lagi."
"Em... itu tergantung situasi nya, Kate." ujar Zahra mengulum senyum.
"Apa, Dad juga tau kalau mom berbohong?" tanya Katerina.
"Itu sudah pasti." bukan Zeano yang menjawab tapi Zahra.
Zyano berdecih. "Cih, dari dulu Dad memang selalu tidak berkutik kalau sama mom."
"Diamlah, Zyan!" sarkas Zeano.
"Sudah, sudah! Jangan ribut! Lanjutkan makan kalian!" ujar Zahra melerai.
Katerina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan keluarga ini. Dari luar memang terlihat dingin tapi sebenarnya sangat hangat. Ia merasa bersyukur bisa jadi bagian keluarga Brawitama.
"Sayang, kau harus banyak makan. Ayo buka mulutmu. Aaaaaaa." ucap Zyano ingin menyuapi Katerina dengan steak daging yang sudah di potong nya kecil-kecil. Mau tidak mau Katerina pun membuka mulutnya dan memakannya.
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Zyano.
Katerina menjawabnya dengan mengangguk. Akan tetapi tiba-tiba saja dia merasa perutnya mual. Seperti diaduk-aduk hingga membuatnya tidak nyaman.
"Hueekkkkk."
"Astaga, sayang. Kau kenapa?" tanya Zyano panik melihat sang istri yang mual-mual. Begitupun dengan Zahra dan Zeano.
"Perutku tidak nyaman, Zyan. Rasanya aku ingin muntah hueekkkkk."
"Aku ingin ke kamar mandi dulu." Katerina langsung bergegas pergi sebelum dia memuntahkan makanannya disana.
"Mom, tolong panggilkan Reza, suruh dia memeriksa Katerina. Aku akan menyusul Katerina dulu." pinta Zyano dan setelah itu pergi menyusul istrinya.
"Sayang, kenapa kau diam saja? Ayo kita liat Katerina." ajak Zeano heran melihat Zahra yang terdiam mematung.
"Tunggu dulu, sayang. Tadi Katerina mual-mual kan? Apa jangan-jangan dia hamil?" ujar Zahra menebak.
"Hamil?"
"Yah, kurasa Katerina hamil. Akhirnya kita punya cucu sayang." ucap Zahra berteriak kegirangan.
"Apa benar, Katerina hamil?" gumam Zeano sedikit ragu.
Bersambung 😎
______________________________________________
Woooooo akankah Katerina hamil?
kalau mau tau tunggu kelanjutannya 🤣🤣
Oh iya author cuman bisa update satu bab sehari karena author sibuk kuliah. Jadi mohon pengertiannya yaaa guys 🥰🙏🙏
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^
__ADS_1