
Di kediaman Christopher saat ini Sera dan Olivia tengah sarapan bersama. Namun, Sera tampak sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Sera pusing memikirkan bagaimana caranya membujuk Andi. Ia bahkan sampai tak bisa tidur karena saking stresnya. Sebab, Sera tahu betul tabiat suaminya itu. Andi tidak akan rela memberikan perusahaan nya begitu saja kepada orang lain. Terlebih lagi, Katerina.
"Apa yang harus kukatakan nanti saat bertemu Andi? Bagaimanapun kalau dia langsung menolak tanpa bersedia mendengarkan perkataan ku dulu? Arghhhhhhhhhhhhhhh aku sangat pusing memikirkan ini semua." ucap Sera dalam hatinya frustasi.
Saking stresnya tanpa sengaja Sera menyenggol gelas minumannya hingga jatuh ke lantai.
Prang
"Oh my good ibu." pekik Olivia marah karena minuman itu mengenai dress-nya. Ia pun refleks bangkit dari duduknya.
"Astaga, maaf Olivia. I-ibu tidak sengaja." ujar Sera merasa bersalah. Ia hendak membantu membersihkan tapi tangannya langsung di tepis Olivia.
"Cukup Bu! Jangan pegang-pegang!" tukas Olivia tak suka.
"Loh kenapa sayang? Ibu hanya ingin membantu mu." ujar Sera heran.
"Tidak perlu! Aku tidak ingin dress ku tambah kotor!" ucap Olivia.
"Apa maksudmu, Olivia? Kenapa kau berkata seperti itu? Mana mungkin ibu melakukan hal seperti itu padamu!" balas Sera tersinggung atas ucapan putrinya itu.
"Apa ibu tidak tahu berapa harga dress yang ku pakai saat ini hah?! Jutaan Bu! Kan, ibu tau sendiri kalau hari ini aku ada pemotretan majalah. Kalau dress nya kotor bagaimana? Apa yang harus kukatakan nanti dengan pihak manajer nya? Oh, astaga mereka pasti akan memaki ku habis-habisan. Setelah sekian lama aku tidak mendapat job pemotretan karena masalah ayah sekarang ibu malah mengacaukan nya!" tukas Olivia marah.
Sera makin merasa bersalah. "Olivia, tenanglah. Ibu minta maaf. I-ibu tidak bermaksud membuat mu dalam masalah sayang. I-ibu benar-benar tidak sengaja."
Olivia memutar bola matanya jenuh. "Ibu sebenarnya kenapa sih? Aku perhatikan dari tadi ibu bengong aja. Apa ibu sedang ada masalah?"
"I-ibu." Sera tak tau harus mengatakan apa kepada Olivia. Pasalnya, dia belum menceritakan semuanya kepada putrinya itu. Ia takut Olivia akan tambah memarahinya kalau dia jujur sekarang. Jadi, Sera memutuskan untuk tidak memberitahu Olivia dulu tentang kesepakatan nya denganp Katerina sampai situasinya terkendali.
"Bu!" bentak Olivia menyentak tangan Sera hingga membuatnya terlonjak kaget. "Kenapa ibu diam saja hah?! Aku sedang bertanya Bu! jawab! Apa ibu sedang ada masalah?"
"T-tidak, Olivia." jawab Sera terbata-bata.
"Lalu, kenapa ibu bengong? Apa yang sedang ibu pikirkan hah?!"
"I-ibu hanya sedang tidak fokus, Olivia. Kau tau sendiri kan ayahmu sedang ada di penjara dan itu terus saja menganggu pikiran ibu. Di tambah kau juga terus mendesak ibu agar bisa mengeluarkan ayahmu tapi kau tau kalau itu semua tidaklah mudah!" ujar Sera beralasan.
"Jadi, ibu menyalahkan ku begitu hah?!" tanya Olivia justru marah.
"B-bukan begitu sayang. I-ibu hanya ingin kau mengerti. Itu saja!"
"Ah sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan ibu. Lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi pemotretan sebelum mereka memarahi ku lagi!"
"Tunggu, Olivia." ujar Sera menahan tangan putrinya yang hendak pergi.
__ADS_1
"Apa lagi sih Bu?!" bentak Olivia menepis tangan ibunya kasar.
"Kau belum selesai sarapan, Olivia."
"Selera makanku hilang karena ibu. Aku sudah tidak nafsu makan lagi!" ujar Olivia dan setelah itu melenggang pergi meninggalkan Sera yang terdiam mematung.
"Arghhhhhhhhhhhhhhh, ini semua karena, Katerina!" teriak Sera menjambak rambutnya frustasi sambil menyalahkan Katerina atas semua ini.
"Mpok Ijah." teriak Sera memanggil asisten rumah tangga nya itu.
"Iya, nyonya sebentar."
"Ada apa nyonya?" tanya Mpok ijah tampak ngos-ngosan berlari setelah mendengar panggilan dari Sera.
"Bersihkan semua ini!" perintah Sera menunjuk lantai yang kotor.
"Astaga, mengapa bisa sampai seperti ini?"
"Tidak usah banyak tanya! Lakukan saja apa yang saya perintahkan!"
"B-baik, nyonya." ujar Mpok ijah mengangguk paham sambil menunduk.
"Huh, hari yang menyebalkan." keluh Sera sambil melangkah pergi dengan perasaan marah.
"Rumah ini serasa bukan rumah karena setiap hari pasti ada saja keributan. Entah karena masalah apapun. Tidak ada kedamaian di rumah ini." ucap Mpok Sera berdecak.
"Ah sudahlah, itu bukan urusanku. Lebih baik aku membereskan semua ini sebelum nyonya marah lagi."
****
"Harus berapa lama lagi aku disini?" gumam Andi meratapi nasibnya.
"Ini semua karena, Katerina! Dasar anak tidak tahu diri! Gara-gara dia aku harus mendekam di penjara. Arghhhhhhhhhhhhhhh. Apa yang harus kulakukan?" ucap Andi menggeram putus asa. Sudah tiga Minggu dia berada di penjara. Andi benar-benar merasa tidak sanggup lagi. Tempat ini tidak nyaman baginya. Ia tersiksa lahir dan batin.
"Aku sudah berusaha menghubungi Black Shadow tapi sampai detik ini tak ada satupun dari mereka yang menjawab nya. Huh, bahkan Sera tidak pernah mengunjungi ku lagi. Apa yang sebenarnya mereka lakukan di luar sana?" gerutunya marah.
Ceklek
Andi tersentak kaget saat ada yang masuk. Ternyata itu adalah Sera. Orang yang paling dia tunggu-tunggu. Andi pun lekas bangkit dari duduknya.
"Sera." lirih Andi. Tampak binar kebahagiaan di wajah Andi saat melihat kedatangan istrinya itu.
"Mas, Andi." gumam Sera tersenyum tipis. Melihat penampilan suaminya yang tampak kacau itu Sera jadi tidak tega. Ia paham pasti Andi sangat tersiksa dalam tahanan. Bahkan tubuhnya juga lebih kurusan.
__ADS_1
"Silahkan, waktu kunjungan hanya 20 menit. Tolong jangan buat keributan." ujar polisi yang bertugas menjaga tahanan itu.
"Baik, pak."
Setelah kepergian polisi tadi Sera duduk di depan penjara Andi. Tempat itu hanya terhalang kaca.
"Akhirnya kau datang juga, Sera. Aku sangat merindukanmu. Di mana, Olivia? Mengapa dia tidak ikut bersama mu?" tanya Andi mencari putri kesayangan nya itu.
"Olivia sibuk. Hari ini dia ada jadwal pemotretan. Jadi, tidak bisa berkunjung." jawab Sera berbohong. Dia sengaja tidak memberitahu putrinya itu kalau dia akan mengunjungi Andi di penjara.
"Yah, padahal aku ingin bertemu dengannya. Kupikir kalian semua sudah melupakan ku hingga tidak ada yang mengunjungi ku tapi aku senang akhirnya kau datang." ujar Andi curhat.
"Aku tidak pernah melupakan mu, mas. Aku tidak mengunjungi mu karena aku sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mengeluarkan mu dari penjara." ucap Sera jujur.
"Benarkah? Lalu, apa kau sudah menemukan caranya?"
"Iya." jawab Sera mengangguk ragu.
"Katakan apa? Aku ingin tahu!" ujar Andi bersemangat. Ia ingin segera bebas dari penjara itu.
"Tapi sebelum aku mengatakannya kau jangan langsung marah. Dengarkan dulu semua perkataan ku sampai selesai! Baru, setelahnya kau boleh berkomentar." pinta Sera.
"Ya-ya, cepatlah. Aku sudah tidak sabar keluar dari sini." ujar Andi sangat bersemangat.
"Kalau mas memang ingin cepat keluar dari sini maka tandatangani surat pemindahan kekuasaan perusahaan Cristopher kepada, Katerina!"
"Apa katamu?"
Bersambung 😎
______________________________________________
Maaf guys lama update aku sibuk banget banyak tugas huhuhu
kuliah dri pagi sampe sore, malamnya istirahat aja ga sempet nulis 😭😭😭😭
tpi aku tetap usahakan untuk update kok🥺
cuman gabisa teratur gitu 😩
Mohon dimengerti ya guys🙏🙏
Thank you
__ADS_1
^^^Coretan Senja ✍️^^^