
Setelah berbincang dengan Zyano tadi malam akhirnya Katerina memutuskan untuk menemui Andi. Ia sadar kalau tak selamanya dia bisa menghindar dari ayahnya karena Katerina sendiri yang memilih untuk balas dendam maka diapun tidak boleh ragu ataupun berhenti di tengah jalan. Keraguan hanya akan memperburuk keadaan hatinya yang sudah lama hancur.
Sehabis jalan-jalan pagi mencari angin disekitar taman mansion Katerina mampir sebentar ke dapur. Ia berniat membuatkan segelas kopi hangat untuk suaminya. Sambil bersenandung kecil Katerina memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkir. Bi Asri yang tidak sengaja lewat shock melihat Katerina sedang di dapur.
"Ya ampun, nyonya. Apa yang anda lakukan di dapur?" tanya Bi Asri bergegas menghampiri Katerina.
Katerina menoleh dan tersenyum hangat. "Selamat Pagi, Bi Asri." sapa nya.
"Pagi, nyonya. Anda sedang apa?" Tanya Bi Asri was-was. Dia takut kalau sampai Zyano melihat istrinya di dapur. Bisa bahaya nantinya.
"Ini bi, aku sedang membuatkan kopi hangat untuk suamiku." ujar Katerina hendak menuangkan air hangat ke cangkir. Namun, dengan cepat Bi Asri menahannya.
"Biar, saya aja nyonya." ujar Bi Asri cepat menyambar.
"Loh-loh kenapa Bi?" tanya Katerina heran.
"Nanti nyonya kelelahan. Kan tuan sudah bilang kalau nyonya tidak boleh melakukan aktivitas berat."
Katerina tercengang. "Astaga, Bi. Aku hanya membuatkan kopi saja mana mungkin kelelahan. Bibi terlalu berlebihan."
"Tapi ini perintah tuan, nyonya. Saya tidak berani melanggar aturan yang sudah tuan tetapkan. Bagi para pelayan perintah tuan Zyano itu mutlak dan tidak bisa dibantah entah karena alasan apapun." ujar Bi Asri menegaskan.
"Oh astaga. Hanya membuat kopi hangat apa masalahnya?" Katerina berdecak tak habis pikir.
"Tetap saja nyonya, itu tidak boleh. Nanti kalau tuan, Zyano melihat nyonya di dapur dia bisa marah besar."
Katerina menghela nafas lelah. "Astaga, Bi."
"Sini, nyonya biar saya saja yang melakukannya."
"Jangan, Bi. Ku mohon biarkan aku saja. Ini tidak akan membuat ku kelelahan." tolak Katerina.
"Tapi, nyonya."
"Sudah, bibi tenang saja. Zyan biar menjadi urusanku. Kalau dia memarahi bibi aku yang akan membela bibi! Jadi tidak usah khawatir." ujar Katerina dengan tatapan yakin.
Bi Asri hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia membiarkan Katerina menuangkan air hangat ke dalam gelas yang berisi bubuk kopi tadi. Katerina tak menambahkan gula karena Zyano tidak suka manis dan setelahnya diaduk sampai rata.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu ya, Bi." Katerina tersenyum dan kemudian berlalu pergi sambil membawakan segelas kopi hangat untuk suaminya.
Sesampainya di kamar Katerina tidak menemukan keberadaan Zyano. Namun, terdengar suara percikan air dari kamar mandi. Ia yakin suaminya sedang mandi. Katerina pun meletakkan segelas kopi hangat tadi diatas meja. Dan, kemudian menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Tak berselang lama akhirnya Zyano keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang fresh. Ia menyugar rambutnya yang basah dengan handuk. Sesaat, Katerina melongo karena terpesona melihat ketampanan suaminya. Rambut basah, perut sixpack, wajah tampan. Astaga pemandangan pagi yang sungguh indah.
"Loh, sayang. Darimana saja kau tadi hm?" tanya Zyano tampak terkejut melihat istrinya yang sedang duduk. Karena tadi saat bangun tidur Katerina sudah tidak ada.
Katerina pun tersadar. "Ah, itu tadi aku jalan-jalan dulu ke taman cari udara segar hubby."
"Kenapa kau tidak membangunkan ku sayang?"
__ADS_1
"Aku liat hubby tidurnya sangat nyenyak. Sepertinya hubby sangat kelelahan. Jadi, aku tidak tega membangunkannya." ujar Katerina.
"Yah, kemarin aku memang sangat lelah karena banyak pekerjaan kantor yang harus diurus."
Katerina bangkit dari duduknya. "Ya ampun, kasian sekali suamiku ini." Ia langsung membantu Zyano mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk sambil memijit memijit kepalanya.
Zyano terkekeh pelan. "Kalau begitu maukah kau membantuku agar lelah ku cepat hilang?"
Katerina mengerutkan keningnya. "Bagaimana caranya?"
"Mudah, kau hanya perlu memberikan ciuman untukku." ujar Zyano tersenyum penuh arti.
"Ish, itu mah namanya modus." ejek Katerina mencubit lengan kekar Zyano.
Zyano tertawa renyah mendengarnya. Ia kemudian, menarik pelan pinggang ramping Katerina supaya lebih mendekat dengannya. "Jadi, kau mau membantuku atau tidak hm?"
"Memangnya aku bisa menolak?"
"Tentu saja tidak."
"Baiklah."
Katerina memajukan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Zyano. Ciuman itu lembut, keduanya saling membelit lidah. Katerina mengalungkan tangannya ke leher Zyano untuk memperdalam ciuman. Kali ini Katerina lebih agresif tapi Zyano malah menyukainya hingga akhirnya keduanya berhenti lantaran kehabisan nafas.
Nafas Katerina memburu. Pipinya merona merah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kedua netra mereka saling bertatapan. Zyano memajukan wajahnya dan berbisik pelan di telinga Katerina.
"Sayang, aku ingin lebih."
Tok tok tok
Namun, di tengah-tengah pergulatan panas itu tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar. Sontak saja hal itu membuat Katerina terlonjak kaget.
"Tuan, nyonya, sarapannya sudah siap." ujar BI Asri dari luar kamar.
"Astaga, Bi Asri." Katerina refleks mendorong tubuh Zyano hingga terjungkal jatuh ke belakang. Ia segera bangkit dan membenarkan pakaian nya yang sedikit berantakan. Sementara Zyano menggeram marah. Rasanya sudah diujung tanduk tapi malah berhenti. Arghhhhhhh ingin sekali rasanya dia berteriak.
Katerina membukakan sedikit pintu kamarnya. "Iya, Bi sebentar lagi aku dan Zyan akan turun."
"Baik, nyonya."
Katerina mengembuskan nafas lega setelah melihat kepergian Bi Asri. Ia berbalik dan terkejut mendapati suaminya terduduk lemah. Namun, bukannya membantu Katerina malah tertawa.
"Apa yang kau tertawa kan sayang?" tanya Zyano dengan nada kesal.
Katerina membenarkan ekspresi nya. "Em tidak ada. Ayo bangunlah hubby." ujar Katerina mengulum senyum sambil mengulurkan tangannya, berniat membantu suaminya agar bisa berdiri.
Aaaaaaaaa
Akan tetapi saat Katerina menarik tangan Zyano bukannya berdiri dia malah jatuh ke pangkuan suaminya.
__ADS_1
"Ish, hubby." Katerina memukul-mukul lengan Zyano kesal. Sementara Zyano malah terkekeh geli. Ia mengeratkan pelukannya dan berbisik.
"Sayang, ayo lanjutkan yang tadi." pintanya dengan suara serak.
"Tidak bisa! Kita harus sarapan hubby." bantah Katerina menolak tegas.
"Sarapannya nanti saja, sayang. Apa kau tega melihat suamimu tersiksa begini."
Katerina mendongak, menatap suaminya lekat. Ia bisa melihat tatapan mata Zyano yang sedang menahan gairah.
"Apa hubby masih lelah?"
"Iya," jawabnya seraya mengangguk lemah.
"Baiklah, minum kopi ini dulu." ujar Katerina mengambil kopi hangat yang ada di atas meja tadi.
"Hah?"
"Ayo minum dulu hubby." Dengan sangat terpaksa Zyano meminum kopi itu.
"Kenapa rasanya sangat pahit sayang?" protes Zyano sambil mengerutkan keningnya.
"Loh, bukannya hubby memang suka kopi pahit tanpa gula?"
"Iya, hanya saja ini terlalu pahit. Lidahku jadi mati rasa."
"Ya sudah, kalau begitu lain kali aku akan menambahkan sedikit gula supaya manis." ujar Katerina.
Cup
Zyano mengecup singkat bibir Katerina. "Tidak perlu. Pakai bibirmu saja sudah manis."
Seketika pipi Katerina langsung memerah malu. "Hubby, kebiasaan deh." sedangkan sang empu malah tertawa bahagia. Apalagi saat melihat wajah malu istrinya. Itu merupakan kesenangan tersendiri bagi Zyano.
"Astaga, hampir saja aku lupa." ujar Katerina tersadar.
"Kenapa?"
"Aku harus pergi hubby."
Alis Zyano bertautan bingung. "Pergi kemana?"
"Aku ingin menemui ayah."
"Apa?"
Bersambung 😎
_____________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa Like nyaaa dong ❤️❤️❤️❤️
^^^Coretan Senja ✍️^^^