Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
31. PERMINTAAN GILA


__ADS_3

Tok tok tok


"Ya, masuk?"


"Hallo nona, ini sarapan anda. Tadi pagi tuan, Zyano meminta saya untuk mengantarkan sarapan anda ke kamar setelah anda bangun." ucap Lyla membawa nampan yang berisi makanan serta minuman.


"Ya terima kasih, Lyla. Letakkan saja makanan itu diatas meja." balas Katerina.


Lyla mengangguk paham lalu meletakkan makanan itu diatas meja sesuai permintaan Katerina.


"Kalau gitu saya permisi keluar dulu nona." izin Lyla sopan lalu beranjak keluar.


Katerina beranjak dari meja rias lalu duduk untuk memakan makanan yang telah disiapkan. Katerina melihat makanan itu nampak sangat menggiurkan dia pun segera memakannya sampai habis tak bersisa karena sedari tadi perutnya memang sudah lapar.


Drtt drtt


Ponsel Katerina bergetar, ada panggilan masuk dan begitu dilihat Katerina mengerutkan keningnya, itu panggilan dari Andi Cristopher. Tak perlu waktu lama Katerina mengangkatnya.


"Hallo."


"Hallo Kate, apa kabar?" tanya Andi basa-basi.


"Tidak perlu basa basi. Katakan ada perlu apa menelpon saya?" jawab Katerina ketus.


"Begini Kate, ayah ingin bertemu denganmu, apa bisa?" tanya Andi sok baik dan sopan.


"Jika saya menolak bagaimana?" tanya Katerina sengaja membuat Andi kesal.


"Kate, ayah mohon, ini sangat penting. Jangan menolaknya." tukas Andi terdengar memohon.


"Baiklah, anda ingin bertemu dimana?" tanya Katerina jadi penasaran, sebenarnya apa yang ingin Andi bicarakan dengannya.


"Ayah tunggu kau sekarang di Cafetaria!"


"Hm." Katerina menutup telponnya.


"Kira-kira apa yang ingin dia bicarakan? ah sudahlah, daripada mati penasaran lebih baik aku bergegas pergi." gumam Katerina mengambil tasnya lalu melangkah keluar.


"Kate, kau ingin kemana?" tanya Zahra yang baru saja keluar dari kamarnya dan tidak sengaja melihat Katerina yang hendak pergi.


"Hai mom, aku ada sedikit urusan di luar." jawab Katerina.


"Oh gitu, ya sudah hati-hati ya. Jangan terlalu lama." balas  Zahra.


Katerina mengangguk "Iya, mom."


Begitu keluar Katerina disambut hangat oleh seorang pria berjas hitam.


"Selamat siang, nyonya." sapa pria itu menunduk hormat. Wajahnya terlihat sangat menyeramkan.


"Iya, siang." balas Katerina tersenyum canggung karena tidak biasanya dia dihormati begini.


"Perkenalkan nyonya, nama saya Budi. Saya ditugaskan oleh tuan Zyano untuk mengantar nyonya kemanapun. Jadi, mulai sekarang saya yang akan bertugas sebagai supir pribadi sekaligus bodyguard khusus untuk nyonya." ungkap Budi dengan tegas menjelaskan tugasnya.


"Hah?" Katerina tercengang.


"Jadi, nyonya ingin pergi ke mana? biar saya yang mengantarkan nyonya." tanya Budi.


"Em, tunggu sebentar." tahan Katerina sedikit menjauh.


Katerina membuka tasnya lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Zyano.


Sementara di perusahaan Brawitama company, lebih tepatnya di ruang rapat lantai 4. Saat ini sedang berlangsung rapat penting terkait proyek yang sedang bermasalah.


Suasana di sana begitu mencekam, kaki dan tangan para karyawan nampak gemetar ketakutan karena sang bos Zyano menatap mereka dengan dingin dan penuh intimidasi.


Brak!


Bunyi berkas yang dilempar dengan kasar di meja menandakan Zyano sedang marah.


"Apa-apaan ini?! Mengapa membuat proposal saja kalian tidak becus. Apa saja pekerjaan kalian selama ini hah! Aku tidak habis pikir, mengapa pembangunan proyek selalu tertunda?" tukas Zyano marah.

__ADS_1


"M-maaf tuan, pak Jerry selaku penanggung jawab tidak betul-betul menjalankan tugasnya dengan baik. Saat kami ingin konsultasi beliau selalu menolaknya dan berkata aku sedang sibuk padahal beliau sedang berlibur bersama istrinya, tuan." ucap salah satu karyawan menunduk takut.


"Bodoh! panggil dia kemari!" perintah Zyano menggertak giginya. rahangnya mengeras karena marah.


"Maaf tuan, pak Jerry nya tidak ada di ruangannya. Sepertinya beliau belum datang."


Zyano tersenyum kecut "Bagaimana bisa dia belum datang ke kantor? Ini sudah jam berapa hah! Aku tidak mau tahu panggil dia kemari. Jika perlu seret dia. Aku tidak suka memiliki karyawan yang tidak bertanggungjawab!"


"Karena kelalaian kalian semua perusahaan yang menanggung kerugiannya!" bentak Zyano.


"Sudah tuan, pak Jerry bilang dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini."


Zyano duduk di kursi nya dengan marah. Wajahnya memerah, emosinya memuncak. Baru kali ini dia disuruh menunggu seseorang apalagi hanya penanggung jawab biasa sedangkan dia adalah big bos. Apa dunia sudah terbalik?


"Revisi semua proposal ini. Aku ingin besok proyek ini berjalan tanpa hambatan!" ujar Zyano.


"Dan untuk pria tua bangka itu. Katakan padanya, dia dipecat tanpa uang pesangon! Rapat selesai semuanya bubar!" tegas Zyano beranjak dari kursinya lalu melangkah pergi dengan wajah datar diikuti oleh Dave dibelakangnya.


Mana sudi Zyano disuruh menunggu. Ia paling tidak suka karyawan yang tidak bertanggungjawab dengan tugasnya. Itulah Zyano, tegas dalam segala hal terutama dunia bisnis. Dia tidak akan mentolerir kesalahan apapun, apalagi jika sudah merugikan uang perusahaan.


Proyek yang harusnya sudah lama dijalankan selalu tertunda karena oknum yang tidak bertanggungjawab. Wajar jika Zyano marah, karena mereka merugikan perusahaan nya.


Drttttt


Ponsel Zyano bergetar ada panggilan masuk dan saat dilihatnya ternyata Katerina.


"Hallo."


"Hallo Zyan, apa benar kau menyuruh seorang pria untuk jadi bodyguard ku?" tanya Katerina memastikan.


"Iya benar, kenapa?"


"Kenapa harus pakai bodyguard, Zyan? Aku bukan ibu negara yang harus dijaga ketat." protes Katerina tidak suka.


"Memangnya harus ibu negara saja yang memakai bodyguard? kau sebagai nyonya Brawitama juga  harus terbiasa dengan itu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan istriku, itulah sebabnya aku menyiapkan bodyguard khusus untukmu."


"Tapi, Zyan, apa ini tidak berlebihan?"


"Tidak perlu! Satu saja sudah cukup!" tolak Katerina.


"Baiklah, apa kau ingin pergi?" tanya Zyano.


"Iya, aku ada sedikit urusan sebentar."


"Urusan apa?" Zyano mulai penasaran.


"Aku ingin bertemu dengan ayahku, dia mengajakku untuk bertemu di Cafetaria. Aku tidak tahu dia ingin apa tapi dia bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan denganku." jawab Katerina jujur.


"Mengapa dia tiba-tiba ingin bertemu denganmu?" tanya Zyano sedikit curiga.


"Aku juga tidak tahu Zyan, itulah sebabnya aku ingin bertemu dengannya untuk memastikan apa yang ingin dia bicarakan. Sudah dulu ya, aku harus pergi sekarang."


"Hm, hati-hati, jika terjadi sesuatu telpon aku secepatnya."


"Iya, by suamiku."


"By, istriku."


Mereka menutup telpon dengan wajah malu. Hati Zyano yang awalnya penuh kabut hitam kini berubah drastis menjadi pelangi yang penuh warna. Katerina sudah seperti obat untuknya.


"Ayo Budi, antarkan saya ke Cafetaria." ucap Katerina.


"Baik, nyonya."


Budi membukakan pintu untuk Katerina masuk kedalam. Di perjalanan ponsel Budi berbunyi ada notifikasi pesan masuk dan ternyata itu dari Zyano.


Zyano


Budi, jaga istriku dengan baik. Kau harus pastikan tidak ada siapapun yang boleh menyakitinya. Jika terjadi sesuatu dengan istriku kau harus membayar akibatnya!


^^^Budi^^^

__ADS_1


^^^Baik tuan^^^


Sesampainya di Cafetaria. Dengan cekatan Budi membukakan pintu untuk Katerina.


"Apa perlu saya temani nyonya ke dalam?" tanya Budi.


"Tidak perlu, saya tidak akan lama kau tunggu saja disini."


"Baik, nyonya."


Kemudian Katerina melangkahkan kakinya memasuki Cafetaria itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Andi. Pria itu melambaikan tangan dan Katerina melihatnya. Ia pun menghampiri meja Andi.


"Akhirnya, kau datang juga Kate." sambut Andi berdiri.


"Hm, ya."


"Duduklah dulu, kau ingin minum apa? biar ayah pesan kan." ucap Andi ramah.


"Tidak perlu, aku datang ke sini bukan untuk minum bersama anda. Jadi katakan apa yang ingin anda bicarakan? waktuku tidak lama." balas Katerina tak ingin berlama-lama.


"Baiklah, jika begitu aku akan langsung ke intinya saja. Kau tahu bukan perusahaan kita memerlukan banyak relasi bisnis dan aku berniat untuk bekerjasama dengan perusahaan tuan Heri."


"Ya, setelah berbincang-bincang dengannya dia mengatakan akan bekerjasama dengan Cristopher Company tapi dengan syarat kau harus menikah dengannya!." ungkap Andi.


"What? Are you crazy?" pekik Katerina terkejut bukan main.


"Ayah tahu ini gila, tapi tidak ada cara lain Kate. Kau harus menikah dengannya maka dengan begitu baru perusahaan kita bisa bekerjasama dengannya." ucap Andi.


BRAK!


"Anda pikir saya mau menikah dengan pria tua bangka itu hah?! Sampai matipun saya tidak akan pernah sudi menikah dengan pria yang sudah memiliki 9 istri. Anda jangan keterlaluan!" sungut Katerina emosional.


Semua pengunjung Cafetaria menatap ke arah mereka berdua karena Katerina tiba-tiba menggebrak meja dengan kerasnya.


"Kate, tenanglah. Jangan emosi." Andi berusaha menenangkan Katerina.


"Bagaimana saya tidak emosi hah! Permintaan anda sangat gila. Apa anda pikir saya akan mengabulkannya? Jangan harap Andi Cristopher!" tegas Katerina menolak keras.


"Kate...kau tidak bisa menolaknya. Ini demi perusahaan kita. Aku tidak mau tahu, kau harus menikah dengan tuan Heri!" tukas Andi tak terbantahkan.


"Anda bilang apa? Perusahaan kita? Heh, sejak kapan itu jadi perusahaan kita hah! Anda sudah bukan ayah saya lagi. Jangan bermimpi saya mau menikah dengan pria tua itu. Suruh saja putri kesayangan anda itu untuk menikah dengannya." tolak Katerina mentah-mentah.


"Tidak bisa, Olivia akan bertunangan dengan Rei mana bisa dia menikah dengan tuan Heri, lagipula pria itu ingin kau yang menikah dengannya bukan, Olivia." sarkas Andi.


"Maaf, tapi saya tidak bersedia untuk menikah dengannya. Saya permisi." Katerina ingin pergi namun tiba-tiba ada dua pria yang menahannya.


"Lepaskan." rintih Katerina memberontak.


"Sudah aku duga kau tidak akan bersedia Kate..tapi aku tidak kehabisan akal. Kau akan tetap menikah meski dengan paksaan sekalipun" ucap Andi tersenyum picik.


"Anda jangan gila! Lepaskan saya." teriak Katerina meronta-ronta tapi tenaganya tidak sekuat itu untuk melawan dua orang bertubuh besar.


"Cepat bawa dia!" Perintah Andi.


"Budi, tolong saya." teriak Katerina nyaring.


"Jangan berteriak Kate, tidak akan ada orang yang menolong mu." sarkas Andi tersenyum licik.


Semua pengunjung Cafetaria tidak ada yang berani menolong Katerina, karena mereka takut dengan kedua pria bertubuh besar itu.


Katerina terus meronta-ronta minta tolong tapi tidak ada satupun yang menolongnya. Tangannya memerah karena terlalu kasar di cekal orang kedua pria bertubuh besar itu.


"Lepaskan istriku.." teriak seseorang.


Bersambung 😎


______________________________________________


...Udah ga waras si Andi. Cari mati dia😒😒...


Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Share ya guys:)

__ADS_1


^^^Coretan Senja ✍️^^^


__ADS_2