
Keesokan harinya......
Di ruang makan Zahra sedang mempersiapkan berbagai macam makanan untuk sarapan bersama. Ia di bantu beberapa maid dan koki yang bekerja dimansion utama.
"Morning, mom." sapa Zyano dan Katerina yang baru saja turun dari kamarnya.
"Morning. Astaga, Kate. Bukankah kau sedang sakit? Kenapa malah turun ke bawah?" tanya Zahra terlihat cemas.
"Aku sudah tidak papa, mom." jawab Katerina tersenyum. Ia merasa sudah lebih baik daripada semalam.
"Kau yakin, Kate? Sebaiknya kau istirahat saja biar mom antarkan sarapan mu ke kamar." ujar Zahra.
"Yakin, mom. Aku juga sudah merasa baikan daripada kemarin. Jadi, mom tidak perlu khawatir."
Zahra menghela nafas. "Ya sudah, kalau itu mau mu, Kate."
"Duduklah, sayang." ujar Zyano sambil menarik kan satu kursi untuk istrinya. Dan setelahnya dia duduk di kursi samping Katerina.
"Oh iya, Dad mana, mom? Apa Dad tidak sarapan?" tanya Zyano mencari Zeano yang tidak ada.
"Daddy mu sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya ada rapat dewan direksi."
Zyano mengerutkan keningnya. "Apa ada masalah?"
"Entahlah, mom juga tidak tau."
Zyano hanya manggut-manggut paham. Mereka kembali melanjutkan sarapan.
"Oh iya, Kate. Kalau kau sudah tidak sakit lagi mom mau mengajak mu ke mall. Kita shopping bersama. Apa kau mau?" tanya Zahra.
Katerina cukup terkejut dengan ajakan Zahra. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja Zahra mengajaknya belanja bersama. Ia melirik Zyano sebentar.
"Kalau kau masih tidak enak badan, mom tidak akan memaksa mu, Kate." ujar Zahra.
"Tidak mom. Aku mau banget kok. Boleh kan, Zyan?" tanya Katerina menatap sang suami.
"Boleh, sayang tapi kau harus dikawal langsung oleh, Budi." jawab Zyano.
"Makasih, Zyan." balas Katerina tersenyum senang.
"Iya sayang. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." ujar Zyano seraya mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Iya, Zyan."
Zyano melirik Zahra. Ibunya itu mengedipkan mata. Sebenarnya sebelum sarapan tadi Zyano menemui ibunya.
Flashback
__ADS_1
Tok tok tok
Zyano mengetuk pintu kamar Zahra. Tak beberapa lama kemudian pintu terbuka memperlihatkan Zahra yang baru bangun tidur.
"Zyan, kau sudah bangun?" tanya Zahra sambil mengucek kedua matanya. Ia terkejut melihat putranya.
"Iya, mom."
"Ada apa, Zyan?"
"Aku ingin bicara dengan mom sebentar."
"Ohh tapi mom mandi dulu ya?" pinta Zahra.
"Jangan mom. Aku hanya sebentar, tidak akan lama." ucap Zyano serius.
Zahra mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Zyano menatapnya serius begini. Pasti ada hal penting. Pikir Zahra.
"Baiklah, ayo kita bicara di taman."
Zyano mengangguk paham dan mengikuti Zahra dari belakang. Begitu sampai keduanya duduk di salah satu kursi yang ada di taman.
"Jadi, kau ingin bicara apa dengan mom, Zyan?" tanya Zahra menatap putranya.
"Ini soal, Katerina mom."
"Ada apa dengan, Katerina? Apa dia masih muntah-muntah?"
"Kalau bukan itu, lalu apa?" tanya Zahra bingung.
"Katerina cuma sedih saat liat mom kecewa karena dia tidak hamil. Dia sampai tanya sama aku apa mom marah karena dia tidak hamil seperti apa yang mom harapkan."
Zahra terhenyak mendengarnya. "Astaga, l-lalu kau jawab apa, Zyan?"
Zyano menceritakan semua pembicaraan tadi malam dengan Katerina. Sementara Zahra mendengarkan dengan seksama. Zahra tidak menduga Katerina akan sedih karena reaksinya yang kecewa. Ia tidak berpikir sampai sana. Ia tidak menyangka Katerina akan kepikiran dengan hal itu.
"Astaga, mom tidak bermaksud begitu, Zyan. Mom juga tidak ingin membuat Katerina sedih dan sampai kepikiran seperti itu. Mom hanya sedikit kecewa saja tapi bukan berarti mom marah dengan, Katerina."
"Aku tau, mom. Tujuanku mengatakan ini supaya kedepannya mom tidak membahas soal cucu lagi. Aku tidak ingin membuat Katerina merasa terbebani. Lagipula aku juga masih ingin menikmati masa-masa seperti ini sebelum memiliki anak." ujar Zyan.
Zahra menghembus nafas panjang. "Baiklah, mom minta maaf, Zyan. Mungkin mom terlalu berlebihan ingin memiliki cucu tanpa memikirkan apa keinginan kalian. Mom jadi merasa bersalah karena terlalu egois."
"Jangan berkata begitu, mom. Aku paham mom ingin memiliki cucu. Tapi untuk sekarang tidak dulu."
"Yah, kau benar, Zyan. Mom hanya berharap kalian bahagia dengan pernikahan kalian."
"Iya, mom. Kalau begitu aku ke kamar dulu takutnya Katerina sudah bangun." pamit Zyano.
__ADS_1
"Iya, Zyan."
Zyano pun pergi meninggalkan Zahra di taman itu sendirian. Zahra bersandar di kursi taman. Ia menghela nafas gusar.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" gumam Zahra sambil memijit keningnya.
Flashback off
****
Sementara di tempat lain Bryan mondar-mandir tidak tenang. Ia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang 100 juta dalam waktu seminggu. Ia benar-benar kehabisan akal.
"Haruskah aku menemui, Rei? Bagaimana kalau dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" gumam Bryan dilanda kebingungan. Ia ragu menemui Rei sebab takut kalau pria itu tidak mempercayai nya.
Bryan terduduk di sofa sambil mengusap wajahnya gusar. Ia bersandar menatap langit-langit rumahnya. Kalau dia tidak membayar hutangnya maka rumah ini pasti di ambil. Lantas Bryan harus tinggal di mana lagi? Hanya rumah ini satu-satunya harta yang dia miliki.
"Ck, tidak ada pilihan lain. Aku harus segera menemui, Rei." ucap Bryan.
"Yah, aku hanya perlu menyakinkan nya saja dan mengatakan yang sebenarnya. Setelah itu aku akan pergi dari sini." ujar Bryan langsung bangkit dari duduknya. Ia mengambil jaketnya dan kemudian pergi.
Bryan masuk ke dalam taksi dan kemudian pergi menuju perusahaan Reino Alberto. Tanpa dia sadari ada orang yang memantaunya dari jauh. Orang itu menekan tombol telpon hingga beberapa saat akhirnya terhubung.
"Lapor, target sudah pergi." ucapnya.
"Ikuti dia dan jalankan rencananya."
"Baik, bos."
"Kematian mu segera tiba, Bryan Astrope."
Bersambung π
______________________________________________
Waduh Bryan mau di bunuhπ
Maaf ya guys kemarin gak sempet update karena kecapean π
Jadi sebagai gantinya hari ini update π₯°π
Aku kuliah hri senin - Kamis
jadi hari itu update nya gak teratur
kalau Jum'at- Minggu mungkin aku update nya normal lagiπ₯°π
Terus tunggu yaaaaaaππππ
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote Komen dan Share ya guys :)
^^^Coretan Senja βοΈ^^^