Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
38. MENEROBOS MASUK


__ADS_3

Katerina dan Zyano keluar bersama dari penjara setelah mengunjungi Andi. Dave yang setia menunggu diluar langsung membukakan pintu mobil saat melihat kedua pasutri itu berjalan menghampirinya.


"Zyan, apa setelah ini kau akan ke kantor?" tanya Katerina.


"Iya, tapi sebelum itu aku akan mengantarmu pulang dulu ke mansion." jawab Zyano.


"Tidak perlu, setelah ini aku ingin bertemu Maya di Le Grand Restoran." tolak Katerina.


"Hm baiklah, jika begitu kau akan pergi bersama Budi. Dia yang akan mengantarkan mu ke sana." balas Zyano.


Katerina mengangguk "Iya, kau pergilah ke kantor."


Tatapan Zyano beralih kepada Budi yang berdiri tegak di samping mobil.


"Budi, jaga istriku dengan baik jika terjadi sesuatu dengannya kau yang harus bertanggungjawab!" tegas Zyano dengan sorot mata tajam. Ia mengisyaratkan kepada Budi untuk menjaga Katerina dengan baik.


"Baik, tuan." Budi mengangguk penuh hormat.


"Ya sudah, aku pergi dulu." pamit Katerina mencium punggung tangan suaminya.


"Hm berhati-hatilah, jika ada apa-apa hubungi aku secepatnya." ucap Zyano sembari mencium kening sang istri dengan penuh cinta.


"Iya Zyan, aku tahu, dah."


"Tunggu dulu." tahan Zyano membuat langkah Katerina terhenti.


"Apa lagi?" tanya Katerina.


"Ini untukmu." Zyano memberikan sebuah Black Card. Kartu tanpa batas untuk Katerina secara gratis.


"Ini? bukannya ini kartu tanpa batas itu bukan?" tanya Katerina melongo melihat kartu itu ada ditangannya. Seumur-umur dia belum pernah memiliki Black Card karena untuk memiliki kartu itu memiliki syarat khusus yang tidak sembarang orang bisa memilikinya.


"Iya, kenapa kau terkejut begitu sayang?"


"Bagaimana tidak terkejut. Kau memberikanku kartu itu. Apa kau tidak takut jika aku menghilangkan nya? Lebih baik tidak usah." tolak Katerina was-was takut, jika hilang habis sudah.


"Jika hilang ya tidak apa. Aku masih punya banyak kartu yang lain." balas Zyano dengan santainya.


"Hah?" Katerina tercengang dibuatnya.


"Pakailah sesuka hatimu. Aku memberikannya khusus untuk istriku." ucap Zyano tersenyum mengusap kepala Katerina dengan lembut.


"Tapi..."


"Jangan menolak!" tegas Zyano tak suka dibantah.


Katerina mendengus pasrah "Baiklah, tapi jangan salahkan jika aku menjadi boros." Ancam Katerina memicingkan matanya.


Zyano hanya terkekeh "Terserah kau saja, itu milikmu."


"Ya sudah, kalau gitu aku pergi dulu dah suamiku." ucap Katerina mengecup singkat bibir Zyano dan langsung bergegas masuk kedalam mobil karena malu.


Zyano mematung sesaat. Namun, detik berikutnya senyum terbit di wajah tampannya. Hatinya berbunga-bunga hanya karena sikap Katerina yang malu-malu. Menurutnya itu sangat menggemaskan.


Melihat mobil yang ditumpangi istrinya telah pergi tatapan Zyano berubah jadi dingin.


"Dave, tambahkan dua bodyguard bayangan untuk istriku. Aku tidak tenang jika hanya Budi yang menjaganya." perintah Zyano datar.


"Baik, tuan." Dave mengangguk paham.


"Ayo pergi." Zyano masuk kedalam mobilnya begitupun juga Dave.


*****


Di lain tempat Rei sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Brawitama company. Ia benar-benar nekat ingin bertemu dengan pimpinannya.


Angga asistennya menyetir dengan hati tidak tenang. Sesekali, Angga melirik Rei lewat kaca spion depan. Pria itu nampak tenang sambil membuka handphonenya. Namun, tidak dengan perasaan Angga yang dilanda kegelisahan. Angga hanya takut saat sampai di sana Rei akan memaksa untuk bertemu dengan pimpinan Brawitama Company.


Sesampainya di depan perusahaan Brawitama Company. Rei segera keluar dari mobil dan melihat gedung menjulang tinggi didepannya. Diatas gedung tertulis dengan jelas Brawitama Company. Perusahaan nomer satu di dunia yang bergerak dalam bidang elektronik dan perangkat lunak komputer.


"Ayo kita masuk." ajak Rei kepada asistennya yang setia menemaninya.

__ADS_1


Rei dan Angga melangkahkan kakinya memasuki gedung besar itu. Begitu masuk mereka dihadapkan oleh banyak karyawan yang sedang sibuk kesana-kemari. Ada yang sedang menelpon dan ada yang membawa banyak berkas. Semua karyawan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Angga berjalan mendahului Rei untuk bertanya kepada bagian Resepsionis. Mereka disambut baik di sana. Rei menatap sekitarnya dia tertegun melihat betapa mewahnya perusahaan ini. Sangat jauh berbeda dengan perusahaannya. Berbagai alat canggih tersedia di sana.


"Maaf, ada yang bisa kami bantu pak?" tanya Resepsionis dengan sopan.


"Iya, bos saya ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan ini. Apa beliau ada ditempat?" tanya Angga.


"Mohon maaf pak, saat ini beliau tidak ada ditempat, tetapi jika kalian ingin menunggu tidak apa." jawab Resepsionis tadi.


"Kira-kira, kapan beliau datang?" tanya Angga.


"Maaf pak, kami juga tidak tahu."


"Baiklah, kami akan menunggu." ujar Angga.


Angga berjalan menghampiri Rei yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana Angga?" tanya Rei.


"Maaf tuan Rei, bagian resepsionis mengatakan jika pimpinan perusahaan sedang tidak ada ditempat." ucap Angga memberitahu.


"Hah! bagaimana bisa? apa dia tidak ke kantor hari ini?" tanya Rei terheran-heran.


"Entahlah tuan, mungkin saja beliau sedang sibuk." jawab Angga apa adanya.


"Ck! sok sibuk sekali dia. Aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk bertemu dengannya tapi dia malah tidak ada ditempat. Sia-sia saja artinya kita ke sini." balas Rei berdecak kesal.


"Jadi tuan ingin bagaimana? apakah kita harus menunggu atau kembali ke kantor?" tanya Angga hati-hati.


"Kita tunggu 15 menit lagi. Jika belum datang juga kita pulang saja." jawab Rei, melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya sudah menunjukkan pukul 11:15.


"Baik tuan."


Rei dan Angga mendudukkan pantat mereka di kursi tunggu. Waktu terus berjalan. 15 menit telah berlalu begitu saja. Namun, tidak ada tanda-tanda kedatangan CEO Brawitama Company. Rei mulai kesal dan mondar-mandir tidak jelas. Kali ini kesabarannya benar-benar diuji.


"Ck! sampai kapan kita harus menunggu hah! sampai detik ini tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Apa kau tidak salah membaca jadwalnya Angga?" tanya Rei berdecak kesal.


"Sial, benar-benar membuang waktuku." umpat kasar Rei menggertak giginya jengkel.


"Maafkan saya tuan." ujar Angga menundukkan kepala merasa bersalah.


Rei menghembuskan nafas kasar "Sudahlah, lebih baik kita kembali ke kantor saja." balas Rei beranjak dari duduknya.


"Mari, tuan."


Belum jauh melangkah tiba-tiba dari arah pintu utama terlihatlah Zyano yang baru saja masuk bersama Dave. Para karyawan yang melihat kedatangan Zyano sontak saja langsung menyapa dan menunduk hormat. Namun, Zyano tetap berjalan dengan wajah datarnya.


"Dia....bukankah dia suami Katerina?" gumam Rei, terperangah melihat Zyano masuk kedalam lift khusus CEO.


"Apa dia CEO Brawitama company?" tanya Rei dalam hatinya.


Angga yang ada disampingnya mengikuti arah pandang Rei. Ia terheran-heran melihat ekspresi terkejut dari Rei. Ada apa sebenarnya? pikir Angga.


"Tuan." Panggil Angga menepuk pundak Rei, menyadarkan pria itu.


"Ah ya, kenapa?" tanya Rei nampak linglung sesaat.


"Ayo kita pulang tuan." ajak Angga.


"Tunggu sebentar, aku harus memastikan sesuatu." ujar Rei bergegas pergi menuju resepsionis.


"Permisi."


"Ya, ada yang bisa saya bantu pak?"


"Saya ingin bertanya, apa pria yang baru saja datang tadi CEO Brawitama Company?" tanya Rei.


"Iya benar tuan, dia tuan Zyano pemilik perusahaan ini." jawabnya.


Rei sangat terkejut mendengarnya. Tidak disangka-sangka ternyata suami Katerina adalah pemilik Brawitama Company.

__ADS_1


"Maaf tuan, apa ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Em..begini saya Reino Alberto pemilik perusahaan Alberto company. Saya ingin bertemu dengan tuan Zyano. Apa bisa?" tanya Rei to the poin.


"Apa tuan sudah memiliki janji temu dengan beliau?"


Rei menggeleng "Tidak.. tapi saya ada keperluan mendesak."


"Maaf tuan, jika ingin bertemu dengan tuan Zyano harus membuat janji terlebih dahulu." ucap resepsionis.


"Asisten saya berkali-kali ingin membuat janji temu tapi selalu ditolak. Dan hari ini saya sengaja menyempatkan waktu datang kemari untuk bertemu langsung dengannya karena ada hal penting yang harus dibicarakan." tukas Rei tersulut emosi.


"Sekali lagi maafkan saya tuan. Bukannya saya menolak tetapi itu sudah menjadi aturan disini. Jika belum membuat janji maka tidak bisa menemui tuan Zyano." tolak resepsionis itu dengan sopan.


Rei mendengus kesal. Wajahnya memerah menahan marah yang menggebu-gebu. Ia sudah bersedia menunggu lama. Namun, pada akhirnya tidak diperbolehkan untuk bertemu.


"Angga." panggil Rei, mengisyaratkan sesuatu kepada asistennya.


"Jika tidak bisa dengan cara baik, maka jangan salahkan aku jika memakai cara tidak sopan." gumam Rei langsung menerobos masuk kedalam. Kali ini ia benar-benar nekat.


"Hei pak tunggu." teriak Resepsionis panik.


"Satpam." panggil resepsionis tadi. Sontak saja kedua satpam yang berjaga bergegas menghampiri.


"Ada apa nona?" tanya kedua satpam.


"Tahan bapak itu, dia menerobos masuk." ujar resepsionis tadi menunjuk punggung Rei yang terus berjalan memasuki lift.


Kedua satpam tadi mengangguk paham dan langsung pergi mengejar Rei.


"Hei tunggu, jangan lari." teriak kedua satpam itu mengagetkan semua karyawan.


Mendengar suara teriakan itu, Rei seketika menjadi panik dan langsung berlari cepat memasuki salah satu lift yang sedang terbuka. Ia memecat tombol hingga pintu lift tertutup rapat.


Jantungnya berdegup kencang seperti habis maraton. Seumur-umur Rei belum pernah melakukan hal nekat ini. Menerobos masuk ke perusahaan orang dan dikejar satpam. Tapi tidak ada pilihan lain, dia harus bertemu dengan Zyano.


"Astaga, aku tidak tahu dimana ruangan pria itu. Kira-kira dilantai berapa ruangan CEO?" gumam Rei kebingungan.


"Ah sudahlah, pasti ada dilantai paling atas gedung ini." ujar Rei yakin lalu memencet tombol ke ruangan paling atas.


Kedua satpam tadi terus mengejar Rei lewat tangga darurat. Tak lupa juga mereka menyalakan alarm tanda bahaya untuk memperingati setiap karyawan agar berhati-hati, takutnya kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Mendengar alarm tanda bahaya para karyawan sedikit panik. Mereka takut ada penyusup berbahaya yang masuk, terlebih sekarang rawan kejahatan. Tapi setidaknya dengan alarm itu mereka akan lebih hati-hati dan waspada terhadap keadaan di sekitar.


Sementara Zyano yang baru saja masuk kedalam ruangannya langsung terkejut mendengar alarm peringatan itu.


"Apa yang terjadi Dave? mengapa alarm itu berbunyi?" tanya Zyano mengerutkan keningnya.


"Saya juga tidak tahu tuan."


Tiba-tiba terdengar suara mikrophone yang memberitahu kepada semua orang.


"Perhatian semuanya. Ada seorang pria yang menerobos masuk kedalam. Diharapkan untuk kalian semua lebih berhati-hati dan waspada. Takutnya pria itu membawa senjata tajam yang dapat membahayakan. Jadi apabila kalian melihatnya segera beritahukan kepada kami." ucap satpam yang berada di ruang penyiaran.


"Dave periksa Cctv. Siapa pria yang menerobos masuk kedalam perusahaanku! Berani sekali dia." perintah Zyano tersenyum smirk.


Dave mengangguk paham. Ia merogoh ponselnya dan membuka cctv perusahaan. Alisnya bertautan, bingung sekaligus terkejut melihat siapa pria yang menerobos masuk ternyata dia adalah Reino Alberto.


"Bagaimana Dave?" tanya Zyano menunggu penjelasan.


"Lihatlah ini tuan." ujar Rei memperlihatkan video Rei yang menerobos masuk.


"Ternyata dia sangat nekat." gumam Zyano tersenyum tipis melihat perbuatan Rei yang sangat nekat.


"Jadi bagaimana tuan? apa kita usir saja?" tanya Dave.


"Biarkan saja dia. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya saat bertemu denganku." jawab Zyano menyunggingkan senyum licik di bibirnya.


Bersambung 😎


______________________________________________

__ADS_1


Jangan lupa Like yak😍😍😍😍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2