
"Apa telinga ku tidak salah dengar? Kau memiliki istri?" tanya Aldo shock mendengar nya.
"Yah." jawabnya santai.
"Tidak mungkin." Aldo langsung membantahnya. Ia tidak percaya dengan perkataan Zyano.
"Kenapa tidak mungkin?" ujar Zyano balik bertanya.
"Karena aku tau kalau kau sangat anti dengan yang namanya wanita!" jawab Aldo tegas. Ia sangat mengenal sifat Zyano. Pria itu selalu menolak saat diajak berkenalan dengan wanita. Itulah sebabnya Aldo tak mempercayai kalau sahabatnya itu sudah menikah.
Zyano menghela nafas berat. "Terserah kau ingin percaya atau tidak yang pasti aku sudah menikah!"
"Jangan membohongi ku, Zyan!" ujar Aldo masih tak percaya.
"Apa gunanya berbohong? Bukankah kau sangat mengetahui kalau aku bukan pria yang suka mengatakan omong kosong."
"Kalau begitu kapan kau menikah dan kenapa kau tidak mengundangku hah?!" cecar nya dengan berbagai pertanyaan.
"Ceritanya panjang nanti akan ku ceritakan. Yang penting sekarang aku ingin kau membuatkan kalung pelacak untuk istriku." ujar Zyano.
"Tidak masalah mau sepanjang apapun aku akan tetap mendengarkannya sampai selesai. Jadi, ayo ceritakan semuanya padaku!" pinta Aldo tak peduli.
"Aku tidak sesantai itu untuk menceritakannya semuanya padamu sekarang. Aku sedang sibuk saat ini. Jadi, tahan semua pertanyaan mu nanti!"
"Kalau begitu aku juga tidak bisa membuatkan kalung seperti yang kau minta."
"Kenapa?"
"Karena aku juga sibuk." ujarnya santai.
Zyano menggeram marah. "Aku tidak peduli. Kau tetap harus membuatkan kalung pelacak untuk istriku!"
"Bagaimana kalau aku menolak?"
"Sayangnya Ini bukan permintaan tapi perintah!"
"Memangnya aku peduli? Kau saja tidak menghargai ku sebagai teman mu. Lalu, kenapa aku harus mendengarkan semua perkataan mu?"
"Jangan memancing kesabaran ku, Aldo!"
"Kau yang memulainya, Zyan!" ujar Aldo tak kalah sinis.
"Tapi aku memang tidak bisa menceritakan semuanya padamu sekarang!"
"Baiklah, kalau begitu nanti saja saat aku berkunjung ke mansion mu."
Zyano terkejut. "Apa? Kau ingin datang ke mansion ku?"
"Yah."
"Untuk apa?" Zyano bertanya lagi.
"Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan semua cerita mu sekaligus berkenalan dengan istrimu."
Rahang Zyano mengeras. "Apa kau cari mati?"
"Hohoho santai, Zyan. Aku tidak akan merebut istrimu. Aku hanya ingin bertemu dengan istrimu karena aku perlu memikirkan konsep apa yang cocok untuk kalung nya."
"Tapi sayangnya aku tidak mengizinkan mu untuk bertemu dengannya!" ujar Zyano tegas.
Aldo menyeringai. "Kenapa? Apa kau takut rahasia mu akan terbongkar?"
"Rahasia apa yang kau maksud?"
"Rahasia kalau kau hanya pura-pura menikah. Iya kan?" Ujar Aldo masih tak percaya.
__ADS_1
Hahahaha
Zyano tak bisa menahan tawanya lagi. "Jadi, kau masih tidak percaya padaku?"
"Jangan mengejekku! Aku tidak akan percaya kalau tidak memastikannya langsung! Jika kau benar-benar sudah menikah aku akan menuruti keinginan mu tapi jika sebaliknya maka jangan mengharapkan apapun dariku!" ujar Aldo dengan tegas memperingati.
Zyano berdecih. "Cih, gaya bicaramu seolah-olah aku sedang mengemis."
"Tapi faktanya memang begitu bukan? Saat ini kau membutuhkan bantuan ku. Tidak! Lebih tepatnya keahlian ku." ujarnya tersenyum penuh arti.
"Aku benci mengakuinya tapi kalau itu syarat yang harus dibayar maka aku tidak bisa menolaknya lagi." ujar Zyano pasrah. Saat ini dia memang membutuhkan keahlian Aldo untuk membuatkan kalung pelacak karena hanya pria itu yang bisa. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Aldo.
"Jika kau tahu itu maka siapkan beberapa cemilan untuk kedatangan ku nanti. Aku tidak suka jika hanya ada kopi."
"Kau semakin banyak bertingkah ya, Aldo." geram Zyano.
Aldo terkekeh. "Sekali-kali tidak apa kan, Zyan."
"Terserah."
Setelah itu Zyano menutup panggilan telponnya. Sementara Aldo berteriak kegirangan karena baru kali ini Zyano tak berkutik dengannya. Ini benar-benar suatu pencapaian besar untuknya. Jarang sekali Zyano menuruti keinginan nya. Padahal bisa saja dia menolaknya. Tapi Zyano tidak bisa melakukan itu karena dia memang membutuhkan keahlian Aldo untuk membuatkan kalung pelacak demi keamanan istrinya. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
"Aldo, sialan. Beraninya dia memanfaatkan keahliannya untuk menekan ku. Awas saja nanti." gumam Zyano menggertakan giginya marah.
Zyano menekan beberapa tombol hingga panggilannya terhubung dengan asistennya.
"Dave, siapkan mobil. Kita pulang sekarang!"
"Baik, tuan."
*****
Sementara itu di mansion Budi mondar-mandir tidak karuan. Ia dilanda kebingungan. Haruskah dirinya memberitahu Zyano apa yang terjadi dengan Katerina? Jujur saja Budi tak tau harus berbuat apa. Dia sendiri juga tidak tahu penyebab Katerina sampai menangis. Meskipun dia melihat semua kejadian nya di cctv tapi dia tak tau apa isi pembicaraannya sampai-sampai Katerina keluar dengan berlinang air mata.
"Budi." panggilan itu membuat lamunannya buyar. Seorang pelayan yang tidak lain adalah Lyla sedang berjalan menghampiri nya.
"Aku yang harusnya bertanya begitu. Apa yang terjadi dengan nyonya? Mengapa dia jadi sangat pendiam setelah keluar bersamamu tadi pagi? Nyonya bahkan mengurung diri di kamar hingga melewatkan makan siangnya. Apa yang sebenarnya terjadi, Budi?" tanya Lyla menatap Budi serius.
"Aku juga tidak tahu tapi sepertinya nyonya bertengkar dengan nona, Maya."
"Bertengkar karena apa?" tanya Lyla penasaran.
"Ya mana aku tahu." ujar Budi mengendikkan bahunya tanda tak tau.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Bukankah kau selalu berada di samping nyonya?" ujar Lyla tak habis pikir apa saja yang dilakukan Budi hingga dia tidak mengetahui apapun.
Budi menghela nafas sejenak, lalu berkata. "Awalnya memang seperti itu tapi nyonya meminta ku untuk keluar karena sepertinya ada hal penting yang ingin nona maya sampaikan dan aku tidak boleh tahu."
"Lalu, kau keluar begitu saja?"
"Tidak! Aku sempat menolak tapi nyonya mengatakan dia baik-baik saja karena Maya adalah teman lamanya. Jika nyonya sudah berkata seperti itu mana bisa aku memaksa untuk tetap disana?" ujar Budi menjelaskan situasi yang terjadi saat itu.
Lyla manggut-manggut pelan tanda mengerti. "Yah, kau benar itu pilihan yang sulit. Jika tidak keluar maka sama saja kau tidak mempercayai nyonya. Tapi disisi lain karena itu kau tidak tahu apa yang terjadi dengan nyonya. Ini benar-benar rumit."
"Itulah sebabnya aku sangat kebingungan sekarang, Lyla. Aku tidak tahu harus melakukan apa? Saat nyonya keluar dari kafe dengan berlinang air mata hatiku sudah tidak tenang. Aku yakin terjadi sesuatu antara nyonya dan juga nona, Maya." ujar Budi mengatakan kegelisahan nya.
"Itu sudah pasti, Budi! Tapi apa yang mereka bicarakan sampai bertengkar?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Padahal nyonya dan nona Maya kan berteman baik. Kenapa mereka bisa bertengkar?"
"Bertengkar bisa terjadi kapan saja sekalipun teman dekat. Tapi yang jadi masalahnya sekarang bagaimana kalau tuan tahu? Dia pasti akan sangat marah kalau melihat kondisi nyonya saat ini?!"
Tiitttt
Keduanya tersentak kaget saat mendengar klakson mobil dari luar gerbang. Sontak saja mereka saling pandang dengan wajah shock.
__ADS_1
"Astaga, itu pasti tuan." ujar Lyla mengenal betul klakson mobil Zyano karena setiap hari dia sudah mendengar nya.
"Aduh, bagaimana ini, Lyla?" ucap Budi sangat panik. Seluruh tubuhnya mendadak takut. Jantungnya bahkan berdegup lebih kencang daripada biasanya. Ia merasa seperti sedang menghadapi malaikat maut yang siap kapan saja mencabut nyawanya. Mungkin terdengar lebay tapi begitulah kenyataannya. Siapapun pasti tahu bagaimana Zyano saat marah? Itu sangat mengerikan.
"Aku juga tidak tahu, Budi."
"Astaga, apa yang harus aku lakukan?" ujar Budi dengan raut wajah panik dan cemas.
Lyla tampak berpikir sejenak. "Budi, ada baiknya kau jujur saja. Aku yakin tuan pasti akan mengerti kalau kau menjelaskan semua yang terjadi tanpa adanya kebohongan."
"Tapi bagaimana kalau tuan marah? Biar bagaimanapun aku sudah lalai menjaga nyonya."
"Tidak apa-apa. Terkadang kejujuran itu lebih baik walaupun menyakitkan."
"Apa memang seperti itu?" tanya Budi tampak ragu.
"Yah, kau tidak punya pilihan lain kan?"
Budi menghembus nafas berat. "Baiklah."
Mobil hitam Zyano berhenti tepat didepan pintu utama mansion. Begitu keluar dia di sambut oleh Budi dan juga Lyla yang sedikit membungkukkan badannya.
"Selamat sore, tuan." ujar keduanya menyapa ramah.
Zyano menanggapinya hanya dengan mengangguk. Saat dia hendak masuk lengannya malah di tahan oleh Budi.
"Maaf tuan, ada yang ingin saya katakan."
"Tentang apa?"
"Nyonya, tuan."
Zyano mengerutkan kedua alisnya. Dia menatap Budi yang tampak gerogi. Ekspresi wajahnya bahkan gelisah dan takut. Seperti orang yang sudah melakukan kesalahan fatal.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Iya, tuan." Setelah itu Budi menceritakan semua yang terjadi kepada Zyano. Namun, Zyano tak berekspresi apapun. Dia hanya diam dengan wajah datarnya. Budi semakin tidak karuan dibuatnya. Dia tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Sebab, dia tahu betul Zyano kalau marah tidak ada kata ampun.
"S-saya benar-benar minta maaf, tuan." ujar Budi menundukkan kepalanya penuh rasa bersalah.
"Kau yakin tidak mendengar pembicaraan mereka?"
"Iya, tuan."
"Baiklah,"
Setelah mengatakan itu Zyano berlalu pergi begitu saja. Dia langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa. Budi dan Lyla keheranan. Karena, biasanya Zyano pasti akan langsung memukuli anak buahnya yang sudah lalai menjalankan tugasnya.
"Lyla, apa tuan sudah memaafkan kesalahan ku?" tanya Budi menatap tak percaya.
"Sepertinya begitu."
"Tidak mungkin. Tuan tidak pernah mengampuni anak buahnya."
"Yah, mungkin tuan sudah berubah karena nyonya."
"Entah mengapa aku tidak yakin."
****
Bersambung 😎
Yey akhirnya otot bisa update lagi setelah sekian lama ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Adakah yang masih nungguin cerita ini wkwkwk???
__ADS_1
Maaf ya kemarin otor sibuk bgt di real life. Tapi ini udh mulai normal lagi hehehe