Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
59. HANYA MILIKMU


__ADS_3

Sinar matahari pagi masuk lewat kaca jendela. Di sebuah kamar ada sepasang suami istri masih terlelap dalam tidurnya.


Perlahan Katerina membuka kedua matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tenang Zyano saat tertidur. Tanpa sadar tangannya terangkat membelai wajah sang suami. Dari pipi, hidung bahkan sampai bibir.


Katerina tersenyum. Di lihat dari manapun Zyano sangat tampan apalagi saat tidur. Ia melirik jam sudah menunjukkan pukul 07:00.


"Zyan, ayo bangun." ujar Katerina.


Bukannya bangun Zyano malah memeluk Katerina. "Nanti sayang, aku masih mengantuk."


"Tapi kau harus ke kantor, Zyan!"


"Tidak! Hari ini aku tidak ke kantor."


Katerina mendongak. "Loh, kenapa?"


"Tidak papa. Aku hanya ingin menemani istriku." jawabnya sambil menghirup aroma tubuh Katerina. Zyano juga mulai menciumi leher Katerina. Awalnya hanya kecupan biasa tapi lama-kelamaan berubah jadi gigitan kecil hingga meninggalkan bekas keunguan.


"Zyan." Katerina mengigit bibirnya bawahnya menahan *******.


"Maaf, sayang." Zyano terkekeh lalu mengecup singkat bibir Katerina.


Zyano membenarkan posisinya, bersandar di kepala headboard. Ia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Zyano hendak menghubungi Dave.


"Hallo, tuan." sapa Dave.


"Dave. Kosongkan jadwalku hari ini! Aku tidak akan ke kantor!" ujar Zyano memerintah.


"Baik, tuan." setelah itu Zyano memutuskan panggilan. Ia meletakkan ponselnya ke tempat semula.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, sayang?" tanya Zyano merasa lucu karena Katerina menatapnya serius.


"Kau yakin tidak ke kantor? Bukannya pekerjaan mu sangat banyak?"


"Iya, memangnya kenapa? Kau ingin aku ke kantor, hm?"


"Tidak. Aku hanya heran saja tumben kau tidak mau ke kantor."


Zyano meraih pinggang sang istri agar mendekat dengannya. "Hari ini aku hanya ingin menikmati waktu bersama istriku. Apa tidak boleh?" tanyanya menggoda.


"T-tentu saja boleh. Lagipula tidak ada yang melarangnya." jawab Katerina membuang muka karena malu.


"Kenapa wajahmu merah? Apa kau malu sayang?" tanya Zyano suka sekali menggoda Katerina apalagi saat melihat wajahnya yang malu-malu menurutnya sangat menggemaskan.


"T-tidak, siapa yang malu hah? Ya sudah, aku mau mandi dulu." Katerina buru-buru turun dari kasur tapi sayangnya dia lupa kalau lututnya sedang terluka.


"Aughhh." pekiknya terjatuh.


"Kate." Zyano panik dan langsung bergegas menghampiri Katerina.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Zyano dengan raut wajah penuh kekhwatiran. Ia mencek setiap inci tubuh Katerina takut kalau ada yang terluka.


"Aku tidak papa, Zyan. Lutut ku hanya sedikit sakit." jawabnya tersenyum. Ia tidak ingin membuat Zyano khawatir.

__ADS_1


"Ck." Zyano berdecak dan langsung menggendong Katerina. Ia merebahkannya di kasur dengan pelan dan hati-hati.


Zyano menyingkap celana Katerina untuk melihat lukanya. Ia menggertak kan giginya marah. Zyano marah dengan dirinya sendiri karena Katerina terluka gara-gara dirinya.


"Zyan, aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir." ucap Katerina menggenggam tangan suaminya.


"Tapi kau terluka karena aku sayang. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." ujar Zyano.


"Jangan bicara begitu, Zyan. Ini bukan kesalahan mu. Aku saja yang tidak hati-hati makanya bisa jatuh." bantah Katerina tidak suka Zyano menyalahkan dirinya.


"Tapi kalau bukan karena mengejar ku, kau tidak mungkin jatuh, sayang."


"Sudah cukup! Aku tidak suka kalau kau terus menyalahkan diri sendiri, Zyan. Intinya bagiku ini bukan kesalahanmu! Kalau kau terus menyalahkan diri sendiri aku akan marah!" ancam Katerina serius.


Bukannya takut Zyano malah tertawa "Sayang, ternyata kau bisa mengancam ku, hm?"


"Tentu saja! Apa kau pikir aku takut denganmu?!"


"Mana mungkin, istriku kan sangat pemberani." ucapnya menggoda.


Katerina tersipu malu mendengarnya. Ia membuang muka ke samping. "Ah, sudahlah aku ingin mandi. Badanku sangat gerah."


"Baiklah."


Kyaaaakkk


Katerina memekik saat tubuhnya tiba-tiba terangkat. Ia refleks mengalungkan tangannya ke leher Zyano.


"Tentu saja membantu mu mandi!"


"Hah?" Katerina terperangah.


"Kau bilang ingin mandi kan? Ya sudah biar aku yang membantumu mandi."


"T-tidak perlu, Zyan. Aku bisa mandi sendiri." tolak Katerina sangat malu.


"Kaki mu kan masih sakit sayang. Jadi, untuk sementara waktu kau tidak boleh banyak bergerak apalagi berjalan. Nanti lukanya tambah parah." ujar Zyano.


"Tapi...." Katerina sedikit ragu mengatakannya. Ia sungguh malu.


"Kenapa, hm? Apa kau pikir aku akan melakukannya di kamar mandi?" tanya Zyano mengerti akan hal yang di pikirkan Katerina.


Katering tersipu malu. "T-tidak. Aku....aku hanya...." Katerina tidak bisa melanjutkan perkataannya karena malu.


"Hanya apa?" tanya Zyano benar-benar suka menggoda Katerina. Ia bahkan sampai membuat Katerina kehabisan kata-kata.


"Em...itu. Ah iya, aku tidak ingin merepotkan mu, Zyan." jawabnya mencari alasan.


"Tapi aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru aku malah senang bisa membantu istriku mandi." ujar Zyano tanpa ragu.


Katerina terdiam. Ia mengigit bibirnya kehabisan akal mencari alasan karena Zyano selalu mampu menjawabnya.


Zyano terkekeh pelan. Ia memajukan wajahnya dan berbisik. "Tenang saja, sayang. Aku tidak akan melakukannya di saat kau sakit. Lagipula kan masih banyak waktu di lain hari."

__ADS_1


Blush


Wajah Katerina memerah malu. Ia hanya bisa pasrah saat Zyano membantunya mandi. Pria itu benar-benar memperlakukan nya dengan lembut. Zyano juga menepati janjinya untuk tidak melakukan itu. Padahal bisa saja Zyano mengambil kesempatan tapi dia tidak melakukannya.


Setelah selesai mandi Katerina duduk di depan meja rias. Ia sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Tapi tiba-tiba saja Katerina teringat ucapan Kenzie. Ia sangat penasaran tentang siapa ayah biologis dari bayi yang di kandung Olivia.


"Sayang, apa yang kau pikirkan, hm?" tanya Zyano tiba-tiba memeluk Katerina dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di celenguk leher Katerina. Mencium aroma Jasmine dari tubuh Katerina.


"Aku masih penasaran soal, Olivia. Kalau, Rei memang bukan ayah bayi itu, lalu siapa?"


"Jangan terlalu di pikirkan, sayang. Saat bersamaku kau tidak boleh memikirkan hal lain."


Katerina menunduk. "Maaf. Aku hanya ingin tau saja."


Cup


Zyano mengecup pipi Katerina. "Tenang saja. Aku akan membantumu menyelidikinya. Tapi dengan syarat kau tidak boleh terlalu dekat dengan adik angkat mu itu."


Katerina mendongak. "Kenapa?"


"Aku tidak suka, Kate!"


"Tapi dia hanya adik angkat ku, Zyan."


"Aku tidak peduli. Meskipun dia adik angkat mu aku tetap tidak suka melihatnya."


Katerina hanya bisa menghela nafas. "Baiklah, suamiku ternyata sangat pencemburu." ejeknya.


"Itu salahmu, sayang. Kau terlalu bersinar sehingga aku takut kau akan direbut orang." ujar Zyano.


"Suamiku juga sangat tampan. Aku malah lebih takut kalau ada wanita yang merebut mu dariku."


Zyano terkekeh. "Tenang saja, sayang. Aku hanya milikmu. Aku juga tidak tertarik dengan wanita lain."


"Benarkah?"


"Tentu."


"Baiklah, aku percaya denganmu, Zyan." ucap Katerina tersenyum.


"Ya sudah, ayo kita sarapan. BI, Asri sudah menyiapkan makanan."


Katerina mengangguk. "Ayo."


Bersambung 😎


______________________________________________


Maaf ya author cuman bisa update satu bab karena lagi sibuk. Kalau udh gak sibuk nanti author Crazy update hehehe 😁😁🙏


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)


^^^Coretan Senja ✍️^^^

__ADS_1


__ADS_2