
Hari ini adalah hari terakhir Diva melakukan pengambilan gambar untuk sinetron perdananya. Dan selama proses syuting yang memakan lebih dari dua bulan itu berjalan dengan lancar. Diva mempunyai pengalaman baru, teman baru. Kini mereka berada didalam sebuah café, sutradara mengajak mereka semua untuk makan-makan sebagai syukuran karena telah menyelesaikan proses syuting.
Ting, ting, ting.
Seluruh pemain film dan kru yang semula duduk bersama dengan riuhnya, langsung terdiam mendengar suara mangkuk yang diketuk dengan sendok oleh Koswara sang sutradara.
“Mohon perhatiannya sebentar.” Ucap Koswara membuka pidatonya dari ujung salah satu meja panjang.
“Terima kasih atas kerja sama kalian semua, selama dua bulan ini kita telah bekerja keras. Selama dua bulan ini kita telah bekerja bersama. Terkadang ada kendala dan gangguan, tapi syukurlah kita bisa mengatasinya.” Koswara berhenti sejenak. Lalu dia mengangkat kaleng sodanya dan melanjutkan lagi. “Hari ini saya mengajak anda semua untuk bersulang, sebagai simbol rasa syukur atas keberhasilan kita dan juga sebagai simbol harapan film yang kita kerjakan ini akan disukai oleh masyarakat. Rekan sekalian angkat minuman kalian.”
Koswara melihat keseluruh yang hadir disana. Semuanya telah mengangkat minuman mereka dan dengan senyum lebar penuh harapan mereka menatap balik pada Koswara.
“Semoga sinetron kita ini digemari masyarakat. Aamiin.”
“Aamiin.” Koor keras dari seluruh pemain dan kru film kompak berkumandang.
“Bersulang. CHEERS.” Lalu bersama mereka meminum minuman masing-masing.
“Silahkan makan, silahkan makan. Ayo.” Teriak Koswara. Seluruh pemain dan kru pun kembali riuh dengan tawa dan kelakar diantara mereka.
\=\=\=o0o\=\=\=
Dua minggu kemudian.
“Ma…, bu… Cepat dong. Udah mau tayang nih.” Teriak Diva didepan tv rumahnya.
Sambil menunggu dengan tidak sabaran, Diva dudu dikarpet bersandar sofa dan memangku semangkuk camilan. Pandangannya lurus seolah tidak sabar menunggu sinetron yang dibintanginya tayang perdana malam itu. Diva menyedot es kolanya lalu memasukkan lagi camilan snack kegemarannya.
Nabila datang setengah berlari. Ditangannya membawa dua mangkuk besar berisi camilan berwarna kecoklatan dan pisang goreng. Dibelakangnya bu Minah mengekor juga dengan langkah terburu-buru. Tak lupa ditangannya menggenggam membawa dua buah es teh lemon.
“Sabar dong Diva. Masih ada lima menit lagi.” Kata Nabila sambil mendudukkan dirinya di sofa dan meletakkan mangkuk camilan dimeja kecil depan Diva.
“Iya nih. Kita jadi lari-lari malam ini.” Gerutu bu Minah.
“Udah ga sabar pake banget, pengen tahu kemampuan akting aku.” Seru Diva. Sesaat kemudian dia sadar Adli belum juga datang. Diva segera meraih hapenya dan menelpon sang manajer.
“Halo, Assalamu’alaikum.” Ucap Diva ketika telepon sudah tersambung.
“….”
“Om jadi kesini kan? Semua udah siap nih nobar.”
“….”
“Yaa… kok gitu sih? Argh, tapi om harus tetep nonton dimanapun om berada ya?”
“…”
“Ya udah om, sinetronnya udah mulai nih. Assalamu’alaikum.”
“Sudahlah Diva, mungkin om Adli lagi sibuk. Kan ga hanya kamu yang dia urus. Sabar ya, mama yakin om Adli pasti tidak akan melewatkan sinetron ini deh.” Tukas Nabila ketika putrinya terlihat manyun setelah mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1
“Iya nak, tenang saja.” Tukas bu Minah sambil mengelus ujung kepala momongannya ini.
Sinetron telah mulai dimainkan. Selama lima belas menit pertama, belum sekalipun terlihat Diva tampil di layar kaca depan mereka. Ketika jeda iklan, wajah Diva semakin terlihat manyun.
“Ih, tuh bibir kenapa dimonyong-monyongin sih.” Goda Nabila. “Kecantikan putri mama ini jadi hilang tak berbekas loh.”
“Habisnya, wajah Diva belum kelihatan sama sekali. Perasaan itu ada kok schene Diva berjalan bareng memasuki kelas dengan Rully. Ada dialognya juga. Tapi kok ga ada sih?”
“Sabar, sabar, mungkin saat pengeditan dirubah. Yang sabar ya.” Nasihat Nabila pada putrinya.
Tiba-tiba pintu rumah diketuk dan beberapa teriakan salam terdengar dibalik pintu.
“Bella, Cherry!” Teriak Diva yang mengenali suara dari luar.
Diva langsung bangkit dan langsung berlari.
“DIVA!” Teriak Nabila.
Teriakan Nabila membuat Diva menghentikan langkahnya, lalu menoleh dengan tatapan mata seolah bertanya ada apa sih?
“Mama mau pindah dulu kesebelah, baru buka pintunya ya.” Jelas Nabila dengan sabar.
Diva menepuk keningnya menyadari, para sahabatnya ini tidak boleh tahu perihal Nabila adalah ibu sebenarnya dari Diva.
“Iya ma, maaf lupa.” Jawab Diva lirih.
Nabila segera membawa es lemon tea nya juga semangkuk snack kegemarannya lalu beranjang kerumah sebelah melalui jalan kecil dibelakang yang menghubungkan kedua rumah mereka.
“Hai.” Diva membuka pintu dan mempamerkan gigi putihnya karena tersenyum lebar menyambut kedua sahabatnya.
“Lama amat sih, jawab salamnya udah dari tadi. Masa buka pintunya lama banget.” Gerutu Bella.
“Maaf, maaf, tadi pas ngejawab salam kalian, aku tiba-tiba pengen pipis. Karena sedari tadi udah kutahan. Terpaksa deh pipis dulu.” Jawab Diva sambil nyengir.
“Terus kita disini aja? Ga boleh masuk?” Sergah Cherry.
“Eh, maaf boleh dong. Malah harus masuk.” Jawab Diva sambil membuka pintunya lebar, lalu menutupnya kembali ketika kedua sahabatnya itu telah masuk.
Beberapa saat kemudian mereka telah hanyut dalam kisah sinetron.
Satu jam lebih mereka berada didepan layar kaca.
“Whuih, bagus banget akting kamu Diva.” Seru Cherry.
“Ho-oh, keren. Harusnya kamu tuh yang jadi Dini si pemeran utama.” Celoteh Bella menambahkan pujian untuk sahabatnya.
Sementara Diva merasakan hatinya sangat bahagia, namun juga sedih karena mama Nabila dan om Adli tidak ada disampingnya saat ini. Dalam hatinya dia sangat ingin mendengar penilaian dan pujian dari mereka berdua.
Hape Diva juga tidak berhenti berbunyi menandakan banyak pesan masuk. Diva sibuk membuka dan membaca semua pesan yang masuk lalu membalasnya satu persatu. Rata-rata pesan yang masuk adalah dari teman sesama pemain dan kru film, juga dari teman sekelas lainnya. Adli dan Nabila juga mengirimkan pujian dan kritikan pada penampilan Diva, meskipun lewat pesan saja.
Dengan tetap menampakan senyum kebahagiaan pada dua temannya yang masih asyik membahas penampilannya dalam sinetron, hati Diva merasakan sedikit kesedihan. Untuk saat ini mama Nabila tidak ada secara langsung bersamanya berbagi kebahagiaan ini, karena kedua sahabatnya datang dan membuat mama Nabila mengalah untuk menyingkir pergi menyembunyikan status mereka.
__ADS_1
Meskipun Diva tidak pernah faham, kenapa status antara dia dan mama Nabila harus dirahasiakan dari siapapun? Kenapa?
\=\=\=o0o\=\=\=
Hari-hari berlalu. Sinetron yang dibintangi Diva sukses dipasar. Beberapa kali foto Diva terpampang di halaman koran. Job wawancara untuk program acara talk show baik di radio ataupun televisi mengalir, membuat pundi-pundi tabungan Diva cepat mengembung.
Sejak namanya meroket, Adli memberikan fasilitas sebuah mobil dan sopir untuk mengantar kemanapun Diva pergi. Baik itu untuk kegiatan sekolah ataupun kegiatan diluar sekolah. Jadwal yang padat membuat Diva kesulitan merasakan kebebasan yang dulu ia rasakan. Kini waktunya sangat tersita dengan pekerjaan.
Suatu pagi. Seperti biasa Diva berangkat sekolah dengan diantar mobilnya.
“Mang, kenapa itu sangat ramai depan gerbang sekolah ya?” Tanya Diva pada mang Udin, sopir yang bertugas mengantarnya.
“Iya ya neng. Mamang ga tahu, ga biasanya seperti itu. Apa ada kecelakaan didepan sekolah ya?”
“Pelan-pelan saja mang.”
Mobil yang ditumpangi Diva semakin memelan ketika semakin mendekati gerbang sekolah. Terlihat beberapa mobil pengantar juga tidak bisa bergerak karena kerumunan didepan gerbang sekolah.
Diva membuka jendela mobilnya bermaksud bertanya pada salah seorang temannya yang kebetulan terlihat berjalan kearah gerbang. Diva melongokkan kepalanya dan berteriak memanggil.
Sebagian orang yang berkerumun itu menoleh dan melihat Diva yang kepalanya terjulur keluar.
“Itu Diva.” Teriak salah seorang dari mereka.
Teriakan itu mengundang orang yang berkerumun untuk menoleh kearah yang ditunjuk si peneriak. Sontak secara bersamaan berhamburan menuju mobil Diva. Begitu sampai mereka segera menyorotkan kameranya mengambil foto dan merekam kegiatan Diva.
Melihat orang berlarian menuju kearahnya, Diva buru-buru menutup jendela pintunya. Dengan wajah penuh cemas hanya diam menatap kedepan. Sejenak dalam kepanikan karena tidak tahu mengapa awak media tiba-tiba mengejarnya.
Jendela kaca mobil diketuk-ketuk oleh wartawan-wartawan yang mengepung mobil Diva. Mereka meneriakkan kalimat-kalimat tanya yang kurang jelas terdengar dari dalam mobil.
Diva teringat pada Adli. Dengan tergesa dia membongkar tasnya dan mengambil hapenya.
“Ha-halo. Assalamu’alaikum.”
“….”
“Om, tolongin Diva. Sekarang Diva dikerumunin wartawan. Diva takut om.”
“…”
“Iya om. Tapi Diva hari ini harus ujian.”
“….”
“Iya om. Iya.”
Diva menutup teleponnya.
“Mang, bawa aku pergi dari sini. Cepat mang. Cepaaaat!” Titah Diva penuh ketakutan.
Bersambung…
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=