
Bethoven baru akan memasuki mobilnya ketika dia melihat sebuah mobil sport merah yang mewah memasuki rumahnya. Dia tak melanjutkan tujuannya, namun berhenti menunggu karena ingin tahu siapa yang datang.
“Sepertinya itu mobil tante Naginisa deh. Pasti bakalan perang lagi deh sama mama.” Monolog Bethoven sambil merapikan bajunya dan menunggu dengan rasa penasaran.
Mobil itu tepat berhenti dibelakang mobil Bethoven. Dan seperti yang telah diduga Bethoven, Naginisa, sepupu Josephira keluar dari itu mobil. Memakai mini dres warna merah menyala. Mini dress itu sangat pendek hingga kaki panjang Naginisa terlihat indah ditunjang dengan heels mewah warna yang sama dengan dress nya. Aura seksi jelas terasa, bagi Bethoven. Dengan dress yang sangat rendah dibagian depan sehingga bongkahan daging yang besar nan putih itu serasa hampir tumpah keluar saat berjalan.
Naginisa berjalan dengan elegan mendekat pada Bethoven. Senyuman nakal menggoda dia lemparkan pada pemuda tampan dan masih termasuk keponakannya itu.
“Papa kamu ada dirumahkan keponakanku yang tampan?” Tanya Naginisa sambil membelai pipi hingga Janggut Bethoven dengan punggung telunjuk kirinya.
Bethoven sedikit menelan ludah karena diperlakukan seperti ini, apalagi harum parfum yang menyertai Nagisai serasa membuat darah muda remaja ini bergejolak. Namun Bethoven cepat tersadar dan membuang muka. Lalu menjawab singkat.
“Ada. Didalam bik.”
“Bibik, kamu panggil apa diriku keponakanku? Emangnya tantemu ini udah kaya bibik-bibik pembantu gitu?” Tanya Naginisa lagi dengan nada mendesah menggoda, sambil semakin mendekat pada Bethoven. Kini jarak diantara mereka hanya beberapa sentimeter saja. jika Bethoven menundukkan kepalanya niscaya hidungnya akan terbentur bongkahan kenyal itu.
“Maaf, aku ada janji bik. Aku pergi dulu.” Pamit Bethoven. Buru-buru dia masuk kedalam mobilnya. Tanpa lama mobil Bethoven langsung meluncur memutari taman dan keluar dari rumahnya.
“Cih, ponakan sialan!” Decih Naginisa, lalu dia menaiki tangga rumah dan masuk kedaslam.
Sementara itu Bethoven sedang menuju kerumah Diva. Dia berencana mengajaknya makan malam dan lalu menembaknya sekali lagi. Dia telah memesan satu meja di sebuah café yang selalu ramai dikunjungi insan muda-mudi. Nama café itu café Gedong Anyar. Jaraknya lumayan jauh dari rumahnya ataupun dari rumah Diva. Sekitar satu jam berkendaraan. Dan kebetulan di café Gedong Anyar yang biasanya akan menampilkan pengamen-pengamen bagus, akan menampilkan Bimo temannya sesama musisi.
Kini Bethoven dan Diva tengah menikmati makan malam. Suasana café Gedong Anyar sangat ramai. Banyak muda-mudi sepantaran mereka nongkrong disana. Bethoven berpikir dia harus bertaruh muka saat meminta Diva untuk menjadi pacarnya malam ini. Dia berharap Diva akan memenuhi permintaannya dibawah tekanan sorakan para pengunjung café.
Seperti biasa di café Gedong Anyar ada musisi yang ditampilkan. Karena kebetulan itu adalah teman Bethoven yang tampil, maka lagu-lagu yang dinyanyikan sebagian besar adalah lagu-lagu favorit Diva.
Diva merasa sangat nyaman makan malam bersama Bethoven malam ini. Meskipun sangat ramai, namun suasana café yang natural dan indah ditunjang dengan sajian penyanyi bersuara merdu beriringan gitar akustik. Sesekali dia ikut bernyanyi bersama seperti pengunjung lainnya.
“Baru kali ini nongkrong disini lagu yang dimainkan kesukaanku semua.” Kata Diva dengan wajah berbinar ceria. Lalu ikut melakukan koor bersama pengunjung lainnya.
“Kamu suka?” Tanya Bethoven sambil tersenyum dan menatap Diva.
“Banget. Suka banget kak.”
Bethoven tersenyum simpul mendengarnya. Sekarang dia menunggu Bimo untuk melakukan drama yang telah dia pesan.
“Oke, sesi pertama selesai. Kami akan beristirahat sebentar gaess.” Kata Bimo menyudahi penampilannya di sesi pertama.
__ADS_1
Tepuk tangan pengunjung berderai sebagai penghormatan atas penampilan apik Bimo.
“Kamu sering nongkrong disini Diva? Tanya Bethoven.
“Ga juga sih. Hanya beberapa kali kak. Itu pun ga malam kaya gini nongkrongnya.” Jawab Diva.
“Sama siapa?”
“Kalo kesini selalu sama tim vlog kak. Mereka sangat senang nongkrong disini. Karena di café ini banyak vloger bikin janji.” Jelas Diva.
“Oh Begitu?”
“Iya kak. Kakak sendiri sering kesini?” Diva balik bertanya.
“Ga juga sih, beberapa kali. Tapi aku pernah tampil disana satu kali.” Jawab Bethoven sambil menunjuk panggung kecil di pojokan café.
“Kakak ga pernah cerita pernah tampil disini?”
“Itu dulu Diva, waktu baru awal-awal lulus esempe. Setelah itu ga pernah ada kesempatan untuk tampil lagi disini. Karena sibuk syuting.” Terang Bethoven.
Sepuluh menit berlalu. Kini Bimo kembali tampil setelah rehat.
“Terima kasih pada kalian semua yang masih ada disini. Dan selamat datang pada kalian yang baru tiba.” Ucap Bimo sebagai kalimat pembukanya. “Untuk sesi kedua ini rasanya kok ga enak ya berdiri sendirian disini. Bolehkah aku meminta tolong pada kalian untuk menemaniku disini?” Ujar Bimo dari atas panggung kecil.
Pengunjung café jadi riuh, karena saling mengajukan nama teman-teman mereka. Tapi Bimo memutuskan untuk turun berkeliling dengan membawa mikrophone. Setelah berputar sesaat diantara meja pengunjung. Dia lalu menuju pada meja dimana Bethoven dan Diva duduk.
“Waaaah… Kita kedatangan orang tenar gaes!” Teriak Bimo sambil bersalaman dengan Bethoven dan Diva. “Bagaimana gaess, kalau aku mengundang nona Diva dan Bethoven untuk tampil bersamaku diatas panggung?”
“Setujuuuuu!”
Diva sebenarnya enggan untuk naik, tapi karena teriakan pengunjung dan bujukan Bethoven juga Bimo akhirnya mereka bertiga maju dan naik keatas panggung.
“Beri tepuk tangan yang meriah untuk bintang tamu malam ini. Diva dan Bethoven” Teriak Bimo dari atas panggung.
Para pengunjung pun bertepuk tangan dengan meriah. Sebagian dari mereka maju untuk memfoto dan memvideokan keberadaan selebritis muda yang paling ditunggu kejelasan hubungan diantara mereka.
“Enaknya aku menyanyi sama mereka atau bagaimana nih?” Tanya Bimo lagi.
__ADS_1
Bethoven membisikkan sesuatu ketelingan Bimo.
“Sekarang kita mulai bro, mohon bantuannya.” Bisik Bethoven.
“Siap brooo.” Jawab Bimo sambil mangut-mangut.
Petikan gitar Bimo mengalun pelan. Suasana café Gedong Anyar seketika senyap. Semua mata dan telimnga menunggu apa yang akan disajikan.
“Selamat malam semuanya.” Sapa Bethoven pada seluruh pengunjung café. Pengunjung menjawab serempak dengan koor panjang, ‘Malaam…’
Hening.
“Hari ini aku bertaruh dengan diriku sendiri.”
Hening.
“Apakah aku akan memenang pertaruhan ini? Ataukah aku akan kalah?”
Hening.
“Malam ini, disini, kumohon pada kalian semua untuk menjadi saksi pertaruhanku.”
Hening.
“Dan aku berharap aku tidak kalah. Karena jika kalah, maka aku akan mendapat malu terbesar dalam hidupku.”
Hening.
“Malam ini… Aku akan meminta untuk yang kedua kalinya padamu Diva. Maukah engkau menerima cintaku dan menjadi pacarku?”
Bethoven menghadap pada Diva yang sedari tadi memandanginya saat berbicara diiringi alunan gitar Bimo.
Wajah Diva tersorot lampu hingga dengan jelas kulit pipinya yang putih terbungkus make up tipis itu berubah perlahan memerah. Diva merasa bahagia dan canggung disaat yang bersamaan.
Pengunjung semakin berisik. Beberapanya dengan antusias mulai menyalakan ponselnya untuk mengabadikan ungkapan cinta Bethoven pada Diva. Lampu-lampu blitz dari ponsel mereka bagai tebaran kunang-kunang yang terbang disekitar pangung.
__ADS_1
“Terima, terima, terima” Sorak Pengunjung memberikan dukungan pada Bethoven. Mereka tampak sangat antusias ingin mendapat happy ending pada malam ini.
Bersambung…