
Disebuah cafe.
“Bagaimana,apakah semua yang kita lakukan mendapat respon yang bagus?” Tanya Naginisa melalui sambungan telepon.
“Tenang saja Nagin. Semua yang kita lakukan sesuai dengan harapan. Penggiringan opini publik telah medapat respon. Beberapa kanal yutub aku kebanjiran komentar dan juga menambah jumlah subscribe ku. Bahkan berita kita ini telah viral diseluruh media sosial.” Jelas lawan bicara Naginisa.
“Bagus, bagus. Tapi aku ingin lebih bombastis lagi. Aku ingin pancinganku ini mengena. Karena sasaranku yang sebenarnya bukan si kroco Nabila itu.” Ujar Naginisa.
“Hei, that is not my bussines Nagin, itu urusan kamu. Aku hanya pegiat media sosial. Aku tak bisa lebih dari ini.”
“Ah ya benar. Tapi apa kamu punya saran?”
“Eeeemmm, mungkin kamu bisa menciptakan demo dari masyarakat anti Nabila, atau sesuatu yang menunjukkan rasa benci masyarakat pada Nabila. Nanti kita sebar kawan media kita untuk meliputnya. Aku rasa itu bisa sedikit menambah cita rasa seperti yang kamu inginkan.”
“Benar juga. Kamu punya kenalan seorang yang bisa aku hubungi?”
“Sepertinya ada beberapa orang yang mempunyai massa yang bisa hubungi. Tapi ongkos mereka mahal, satu kali kegiatan minimal tarif mereka seratus jutaan. Tapi aku yakin itu bisa, karena mereka biasa kerja cepat. Ide-ide mereka untuk menciptakan sesuatu yang seperti kamu bayangkan akan kamu dapatkan dari mereka dengan cepat.”
“Benarkah? Baiklah kamu kirim nomor-nomor mereka. Aku ingin besok semuanya sudah bisa dieksekusi oleh mereka.”
“Oke, sebentar lagi aku kirim nomor-nomor mereka.”
Naginisa menutup telponnya seraya tersenyum penuh arti.
“Come on Bram, show me your action. Aku benar-benar tak sabar melihat kamu dan istri-istri kamu resah dan gelisah. Terutama si Josephira itu. Hahahahaha...” Ucap Naginisa sendiri.
Kembali ke hotel XX.
“Uh, dimana aku?” Tanya Nabila sesaat setelah dia tersadar dari pingsannya.
“Ah syukurlah mama sudah sadar.” Ucap Diva disisi kanan Nabila.
Nabila kini sudah terbaring dikasur. Dia tadi sempat pingsan karena tak kuasa menahan kegelisahan hatinya.
“Dimana ini Diva?”
__ADS_1
“Masih dihotel XX mah. Hanya saja om Rendi asal menyuruh pelayannya untuk membukakan kamar kosong terdekat dari tempat kita tadi.” Jelas Diva.
“Oh...”
“Tadi om Rendi sangat panik saat melihat mamah tiba-tiba terkulai pingsan. Jadi om Rendi menyuruh seorang pelayannya untuk membukakan kamar kosong terdekat. Setelah mamah dipindahkan kesini, om Rendi juga memanggil seorang dokter untuk memeriksa mamah. Alhamdulillah, kata doter mamah hanya stres saja.”
“Ah syukurlah kamu sudah siuman Nab. Aku tadi sempat panik melihat kamu tiba-tiba pingsan.” Terdengar suara Rendi.
Nabila dan Diva segera menoleh asal suara itu dan melihat Rendi tengah berjalan mendekat.
“Kamu sudah merasa baikan sekarang?” Tanya Rendi setelah berada didekat Diva dan Nabila.
Nabila hanya menganggukkan kepala. Meskipun sebenarnya dia masih sedikit merasa pusing. Tapi dia merasa segan pada Rendi.
“Aku ingin balik kekamarku saja. Dan aku juga ingin segera pulang.” Pinta Nabila.
“Eeee... Sebaiknya kamu menginap satu hari lagi disini. Kamu tenangkan pikiranmu dulu.”
“Tapi Ren, aku...”
“Sudahlah Nab. Aku memaksamu untuk tinggal disini. Dan aku akan keluar sekarang, jadi kamu ada privasi sendiri bersama putrimu disini.” Potong Rendi lagi. Lalu dia memutar tubuhnya dan berkata tanpa menoleh lagi. “Sampai jumpa besok, kuharap kamu cepat membaik.”
Rendi melangkah kearah pintu dan keluar dari kamar itu.
Nabila masih tergolek lemah dan juga bingung harus berbuat apa lagi.
Diva pergi untuk mengambil segelas air minum lalu memberikan pada Nabila.
Nabila menerima pemberian putrinya itu dan meminumnya sedikit.
“Maafkan mama ya nak.” Ucap Nabila lirih.
“Maaf kenapa mah?”
“Karena kesalahan mama dulu, kamu mungkin akan mendapatkan cemoohan masyarakat.”
__ADS_1
“Mah, semua sudah menjadi jalan yang kita pilih bersama. Aku jadi seperti ini juga karena didikan dan bimbingan mamah, dan aku sangat bersyukur aku dibesarkan mamah dan ibu dengan sangat baik. Jadi Diva pikir tak ada yang harus dimaafkan mah.”
“Tapi...”
“Mah, semua ini takdir yang tak bisa kita tolak.”
“Benar, kamu benar Diva.”
“Sudahlah mamah istirahat saja sekarang. Jangan terlalu banyak berpikir, kita jalani saja bersama mah. Seperti yang biasa kita lakukan.”
“Maksud kamu, kita diamkan saja semua ini seperti yang sudah-sudah?”
“Mamah memilih kita diamkan seoalah semua itu adalah gosip. Aku ngikut. Mamah memilih jujur pada publik, aku juga akan ikut saja. Yang penting bagiku adalah mamah Nabila sehat, ibu Minah sehat, aku sudah sangat bersyukur.”
Sementara itu Johan sedang menerima telepon dari Bram.
“Johan, dua hari lagi kamu antar Bethoven ke London. Aku tak ingin putraku satu-satunya bergaul dengan penipu-penipu licik itu. Dan juga kamu urus secepatnya pencabutan modal usaha yang ditanam Josephira pada usaha bersamanya dengan Nabila.” Titah Bram.
“Tapi tuan, saya yakin itu akan membuat tuan muda patah hati. Padahal sebentar lagi tuan muda akan menghadapi ujian nasional kelulusan tuan, saya takut itu akan mempengaruhi nilai-nilai akhirnya tuan.” Jawab Johan memberikan masukan pada Bram. “Kalau masalah mencabut modal itu, akan saya laksanakan secepatnya tuan.” Lanjut Johan lagi.
“Kamu benar masalah Bethoven. Tapi aku sangat membenci penipu! Aku tak mau putraku tumbuh dan menjadi penipu seperti mereka suatu hari nanti. Karena itu aku sudah sangat bersusah payah mengurus semua kebutuhan kepindahan sekolah Bethoven disini. Kamu lakukan saja perintahku. Besok pagi aku akan telepon dia langsung dengan alasan Josephira membutuhkannya disini.”
“Baiklah tuan. Saya akan melaksanakan keputusan tuan. Saya harap ini menjadi yang terbaik bagi kita semua.” Jawab Johan.
“Aku harap juga begitu Johan. Ya sudahlah, aku yakin putraku itu akan kuat dan tidak cengeng dan terjatuh hanya karena masalah cinta.”
“Benar tuan.” Jawab Johan lalu berpamitan dan menutup teleponnya.
\===o0o===
Bethoven sedang sendiri disebuah cafe. Sebenarnya dalam beberapa hari ini dia belum menjumpai Diva. Mereka hanya sesekali kontak melalu pesan suara atau sesekali video call. Bethoven sedang mempersiapkan band yang digawanginya untuk membuat sebuah single lagu. Tapi berita hari yang tersebar hampir diseluruh media sosial dan program gosip televisi, yang menyajikan bukti-bukti valid tentang hubungan Diva dan Nabila yang sesungguhnya, membuat dia bingung harus berbuat apa. Karena dari siang tadi hingga malam ini Bethoven belum bisa menghubungi Diva sekalipun.
“Dimana kamu Diva? Apakah itu semuanya benar? Jika benar kenapa kamu dan tante Nabila tak pernah menceritakannya padaku? Kamu anggap apa sebenarnya diriku ini?” Tanya Bethoven dalam kesendiriannya.
Bersambung...
__ADS_1