MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 92 Sukarelawan


__ADS_3

“Hei,bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pameran kampus-kampus di mall?” Usul Cherry. “Bukankah dengan begitu   kita mendapatkan info tentang apa yang kita inginkan?”


“Hmm... Benar juga. Ayo kita kesana. Selagi belum terlalu malam dan pamerannya ditutup.” Jawab Bella. “Hitung-hitung sekalian ngemall, siapa tahu ketemu cowo ganteng disana.”


“Hei, kamu ini kan sedang dekat dengan Leo Bella.” Sergah Diva.


“Dekat? Iya sih, tapi untuk saat ini kita hanya berteman saja. Aku dan dia belum pacaran juga kok. Jadi masih  bebas lah... hahahaha...”


“Aku boleh ga ngajak pacar aku?” Tanya Cherry.


“Si Borneo? Boleh saja, tapi ga boleh tampil mesra-mesraan didepan  kami. Ingat kami berdua ini masih jomblo. Benerkan Diva?”


“Iya benar sekali Bel. Kalau sampai kalian bermesraan melewati batas, akan kita gencet abis tuh si Borneo.” Timpal Diva.


“Memang aku cewe apaan sih dimata kalian? Sampai segitunya?” Rungut Cherry.


“Habisnya setiap kita jalan bareng. Kalian pasti menghilang sebentar. Aku yakin kalian cari tempat untuk he..hehe.. hehe kan?” Goda Bella.


“Enak saja. Kapan kami seperti itu?” Sergah Cherry. “Borneo itu gentel banget. Satu tahun kami pacaran dia bahkan tak pernah minta berciuman.”


“Padahal kamu pengen kan?” Goda Diva.


“Iya sih. Eh, gak lah. Masa aku segampangan itu.” Jawab Cherry keceplosan dan membuat pipinya memerah menahan malu.


Dua sahabatnya tertawa terbahak-bahak melihat kegugupan Cherry.


“Mendingan kamu cepetan nikah sama Borneo itu. Daripada kamu nahan NTT.” Usul Diva.


“Nahan NTT? Nusa Tenggara Timur? Apaan sih kamu Diva, ga jelas banget!” Kejar Cherry penasaran dan mulai kesal digoda terus menerus.


“Eeeeeee.....NTT itu adalah.... Nahan Nafsu Tingkat Tinggi. Hahahaha...” Seloroh Diva sambil terbahak-bahak.


Bella juga ikutan tertawa. Hanya Cherry yang semakin manyun dan bibirnya semakin maju beberapa senti.


“Udah-udah ayo kita bersiap. Kalian pinjam bajuku atau bagaimana?” Sergah Bella cepat agar obrolan semakin tidak ngawur.


“Emang baju kamu muat sama kami Bel?” Tanya Cherry. “Secara kamu tuh ya, selalu beli baju yang kekecilan sih?”

__ADS_1


“Bukan bajuku yang kekecilan neng Cherry. yang seksi....” Sahut Bella cepat. “Dada kalian saja yang ukurannya jumbo bikin aku iri saja.” Lanjut Bella sambil meremas dada Diva yang ada disampingnya.


Diva menjerit kaget mendapat perlakuan tiba-tiba itu.


Tapi tangan Bella masih belum lepas dari dada Diva itu. “Nih, dua pepaya ini, satu telapak tanganku saja tak  mampu menutupi satu pepaya setengah matang ini.” Jelas Bella sambil terus meremas.


“Apaan sih?” Sergah Diva dan dia lalu membalas perlakuan sahabatnya itu. Dia mulai menangkupkan dua  tangannya memengang dada Bella yang memang hanya setengah ukurang miliknya, lalu memutar-mutarnya. “Nih, aku bantu biar cepat tumbuh besar.” Kata Diva lagi sambil menguyel-nguyel pepaya milik Bella.


Bella berteriak kaget lalu berlari menghindar.


“Oooo... Jadi begitu ya?” Kata Bella setelah berdiri. Keningnya berkerut dan pandangan matanya menerawang seolah sedang membayangkan sesuatu.


“Maksud kamu?” Tanya Diva, merasa Bella memikirkan sesuatu.


“Berarti pepaya kamu itu sangat besar karena dulu kak Betho sering menguyel-uyel seperti yang kamu lakukan barusan?”


“Woey. Ga pernah woey. Kami selalu pacaran sehat tahu! Ini memang sudah besar dari sononya, secara  punya  mamaku juga sebesar ini kok. Jangan kabur kamu Bell, ayo kesini akan kubantu lagi supaya ukurannya sama  dengan milikku.” Diva langsung mengejar Bella yang sudah kabur kekamar mandi sambil tertawa, merasa sukses  menggoda kedua teman baiknya.


Di London.


Lula dan Agnes yang sudah menunggu juga berpakaian seperti itu. Keduanya kompak memakai tanktop dengan  belahan dada sangat rendah dipadu dengan jins ketat. Kedua gadis itu memiliki rambut dengan warna yang sama,  coklat muda, Lula dengan gaya ekor kudanya sementara Agnes rambutnya diikat dan digelung keatas.


Senyum Lula seketika mengembang melihat Samuel berhasil mengajak Bethoven. Sejak pertama melihat Bethoven,  gadis cantik bermata biru ini sudah merasa jatuh hati dan ingin mengenal lebih jauh.


“Hai. Sebelah sini!” Panggil Lula dengan semangat. Membuat yang dipanggil dan beberapa orang pengunjung menoleh kearahnya.


Setelah berbasa-basi dan memesan minuman, mereka terlibat percakapan hangat. Meskipun lebih Lula bertanya  pada Bethoven. Dan hal ini pula yang membuat Lula semakin penasaran dan ingin lebih dekat dengan Bethoven  yang tampan.


“Ah, tak terasa sudah hampir jam dua. Kenapa waktu begitu cepat berlalu saat mengobrol denganmu?” Gerutu Lula.


“Memangnya kamu mau kemana?” Tanya Samuel.


“Dimusim panas ini, aku menjadi relawan di Chester Hospital. Aku merawat orang-orang tua miskin yang sedang terbaring sakit disana.”


“Itu rumah sakit apa panti jompo?” Kejar Samuel. Sementara Bethoven hanya diam mendengarkan saja.


“Rumah sakit lah, hanya saja mereka merawat pasien lanjut usia dari sebuah panti jompo.” Jelas Lula. “Kalau  begitu aku pergi dulu ya, see you guys.” Pamit Lula seraya berdiri.

__ADS_1


“Biar Bethoven yang mengantar kamu.” Jawab Samuel. Membuat Bethoven menoleh dan menatap tajam kearahnya. Dan Samuel hanya tersenyum lebar mendapat tatapan tajam itu.


“Benarkah? Kamu ingin mengantar aku?”


“Benar lah!” Sahut Sam cepat. “Bahkan  Bethoven pernah  bilang ingin berbuat amal selama musim panas ini.”


“Ah kebetulan sekali. Ditempatku masih membutuhkan beberapa tenaga sukarelawan untuk itu.”


“Tuh kan, seperti yang kubilang. Kamu bakalan cocok dengan Lula. Sudahlah Betho cepat antar Lula deh.” Usir Samuel sambil nyengir.


“Sialan kamu!” Maki Bethoven dengan berbisik ditelinga Samuel. Dan Samuel hanya tertawa sebagai balasan makian Bethoven.


Dengan mengendarai ferarinya, Bethoven mengantar Lula. Dan karena ucapan Samuel tadi, Bethoven mau tak mau ikut mendaftar sebagai sukarelawan di rumah  sakit itu.


Setelah selesai mendaftar sebagai sukaralewan, Lula mengajak Bethoven bekerja dan memberikan banyak arahan.


“Sekarang aku akan mengajari kamu mengganti popok bapak ini.” Terang Lula sebelum memasuki sebuah kamar.


“Selamat siang tuan Josef, bagaimana kabarmu hari ini?” Sapa Lula pada seorang lelaki sangat sepuh yang  terbaring di brangkar. Dua slang terhubung ditubuhnya. Satu slang dari infus, satunya adalah slang untuk alat  bantu pernafasannya.


“Ah si cantik Lula. Aku sudah merindukanmu.” Jawab Josef dengan genit. “Tentu saja aku baik-baik saja hari ini.  Karena aku bersemangat menunggu kedatangan kamu.”


“Ah, tuan Josef bisa saja. Oh ya, perkenalkan ini temanku Bethoven. Panggil saja dia Betho. Dia yang akan  menggantikank aku mulai besok.”


“Aku tak mau.” Sergah Josef dan langsung bergaya merajuk.


“Ayolah tuan Josef. Aku masih disini kok. Aku akan sering-sering mengunjungimu disaat luang.” Rayu Lula. Dan karena hal itu seketika bibir Josef menyunggingkan senyuman.


“Kamu berjanji?”


“Tentu saja aku janji. Janji kepanduan!” Jawab Lula dengan sabar dan selalu melemparkan senyuman manis.


Bethoven hanya diam memperhatikan saja. Dia melihat betapa Lula telaten dan sabar menangani pasien-pasien  manula disini. Tiba-tiba Bethoven teringat pada  Diva yang juga pernah merawat mamanya dengan sabar dan  penuh kasih sayang.


‘Aaaah, kenapa aku masih saja teringat pada Diva sih.’ Geram Bethoven dalam hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2