
Cuplikan eps. sebelumnya...
“Ma! Mama kenapa?” Pekik Diva sambil berlari kearah Nabila.
Diva langsung memegang tangan kanan mamanya itu. Tampak beberapa percikan darah yang telah mengering terlihat jelas membasahi lengan putih yang dipakai Nabila. Mimik mukanya terlihat sangat cemas dan kuatir melihat keadaan Nabila.
“Mama tidak apa-apa Diva. Tenanglah.”
\=\=\=o0o\=\=\=
Diva meraba-raba lengan Nabila, juga membolak-baliknya. Kemudian dia menghembuskan nafas lega setelah mengetahui Nabila tidak apa-apa.
“Diva, mama mau ngomong sama kamu.”
“Iya ma, tentang apa?”
“Kamu masih ingat, pembicaraan kita waktu kamu tandatangan kontrak pertama kali?”
“Hmm… yang mana ma?” Diva mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat.
“Tentang kamu harus menuruti setiap omongan mama dan om Adli.”
“Oh, itu? Iya ma ingat sekarang. Selama ini Diva selalu menurut kan sama nasihat mama, om Adli juga bu Minah.”
“Iya, mama tahu. Tapi karena sedang viral berita tetang kamu dan mama, sepertinya kamu harus sedikit mengurangi kegiatan kamu di dunia entertain.”
“Kenapa ma?”
“Kamu tahu alasan sebenarnya mengapa mama merahasiakan status kamu yang sebenarnya?”
Diva menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Selama ini dia hanya menurut saja apa yang dikatakan Nabila, Minah ataupun Adli.
“Dengar, waktu mama masih seumuran kamu. Mama juga artis pendatang baru yang juga langsung melejit seperti hal nya dirimu. Om Adli juga sebagai manajer mama. Karena mama begitu bodoh dan telah termakan mulut manis hingga tidak mendengarkan nasihat dan larangan om Adli. Hingga terjadilah hal terlarang itu.” Nabila terdiam sejenak. Sesak di dadanya tiba-tiba membuat nafasnya tersengal. Bulir-bulir air mata mulai menumpuk diujung matanya, saat mengingat bagaimana hinaan yang harus diterimanya kala itu.
Diva ikut muram, meskipun dia masih belum mengerti dengan benar. Diraihnya jemari Nabila, lalu digenggam dan dielusnya berusaha memberikan kekuatan.
Nabila menatap putri semata wayangnya yang kini telah tumbuh besar. Seulas senyum terlukis dibibir tipisnya.
Minah datang membawa minuman untuk kedua orang yang telah diasuhnya itu. Dia ikut duduk disofa ruang keluarga. Nabila tidak berkeberatan dengan kehadiran Minah, bagaimanapun juga Minah bukanlah orang luar. Dan juga bila tidak ada dirinya, Nabila akan sangat kesulitan sewaktu di luar negeri dalam kondisi hamil hingga melahirkan diusia masih sangat muda.
“Akhirnya mama mengandung kamu Diva.”
“I-iya ma, tapi mama ga pernah bilang siapa papa Diva.”
“Na-namanya Ferdi.” Jawab Nabila lirih.
“Ferdi? Ferdi siapa ma?”
“Kamu tahu orangnya, karena sering melihat dia tampil di tv.”
__ADS_1
Mulut Diva terbuka lebar. Dia tidak percaya actor senior itu adalah papanya. Seorang papa yang tidak boleh mengenal dirinya. Putrinya sendiri.
“Ja-jadi papa Ferdi bintang sinetron itu ma?”
Nabila mengangguk pelan.
“Tapi, kenapa harus dirahasiakan ma? Kelihatannya papa Ferdi seorang yang baik?”
“Iya Diva, papamu itu terlihat baik. Tapi ketika kamu mengenalnya kamu akan tahu betapa bejatnya dia.” Lalu Nabila menceritakan bagaimana Ferdi menyuruhnya menggugurkan kandungan, begitu juga dengan kedua orang tua Ferdi.
Nabila juga menceritakan kejadian di café malam itu, dimana Ferdi bermaksud melakukan aksi bejadnya pada Diva.
“Ja-di tangan mama ini terkena darahnya papa?” Tanya Diva lirih. Tetes bening air matanya menetes mendengar cerita Nabila. Hatinya terasa perih mengetahui dirinya tidak diharapkan untuk lahir didunia.
Nabila memeluk tubuh putrinya, lalu keduanya menangis.
“Mama takut terjadi hal buruk dengan kamu Diva. Jika Ferdi tahu siapa sebenarnya kamu, dia mungkin juga akan merebut dirimu dari mama. Mama ga rela Diva, mama ga rela.” Kata Nabila ditengah sesengukan tangisnya. Tangannya semakin erat memeluk tubuh putrinya.
“Iya ma, Diva juga ga mau berpisah dari mama bu Minah.” Ratap Diva.
Ibu dan anak ini terus menangis. Sementara Minah yang sedari tadi hanya mendengar juga ikutan menangis. Lalu menghambur memeluk dua orang yang telah diasuhnya itu.
“Sudahlah, sekarang sudah larut malam. Kamu sebaiknya beristirahat Diva. Besok kamu masih harus sekolah.” Kata Minah setelah dirasakannya isak tangis ibu dan anak didepannya itu mereda. “Kamu juga neng Nabila, kamu juga harus berisitirahat. Kamu harus kuat melindungi Diva.”
“Iya bi.” Jawab Nabila.
Kemudian dia menyuruh Diva untuk tidur dan menenangkan fikiran. Sebenarnya Nabila sangat marah karena kejadian ini terjadi disaat Diva menjalani ujian kenaikan kelas. Dia takut putrinya akan kehilangan konsentrasi belajarnya yang berakibat nilainya akan turun dan bisa jadi gagal naik kelas.
“Iya ma.”
\=\=\=o0o\=\=\=
Keesokan harinya.
“Waktu masih kurang dua puluh menit lagi. Jangan terburu-buru, periksa kembali jawaban kalian.” Ucap guru pengawas ujian.
Diva yang berniat mengumpulkan lembar jawaban ujiannya, kembali memeriksa. Setelah dirasa tidak ada lagi jawaban yang harus dibenahi, dia bergegas berdiri dan mengumpulkan lembar jawabannya itu.
“Masih banyak lho waktunya Diva. Sudah diperiksa lagi semuanya?”
“Sudah bu.” Jawab Diva pelan dan mantap.
“Ya sudah, kamu taruh saja disitu.” Kata guru pengawas sambil menunjuk pada ujung mejanya. “Hmm… kamu terlihat pucat? Apakah kamu baik-baik saja?”
“Saya kemarin tidak bisa tidur bu. Alhamdulillah yang saya pelajari kemarin malam hampir semuanya keluar sebagai soal, jadi saya bisa cepat menyelesaikannya. Saya mau ijin ke uks bu, ingin merebahkan diri sejenak.”
“Iya, iya… kamu cepat kesana dan beristirahat ya. Semoga kamu cepat baikan, karena masih ada ujian satu mata pelajaran lagi kan?”
“Iya bu, saya permisi.” Diva lalu mengambil tas sekolahnya dan berjalan keluar kelas.
__ADS_1
Guru pengawas itu menganggukkan kepala. Tatapan matanya terus mengikuti Diva sampai menghilang dibalik tembok.
Dia sudah menjadi artis sinetron dan terkenal, tapi masih sopan dalam bertutur kata, batin guru pengawas itu dalam hati. Dia tidak bisa tidur pastinya karena diburu wartawan kemarin, batinnya lagi mencoba menganalisa alasan Diva.
Diva telah berada diruang uks. Segera diambilnya minyak kayu putih dari kotak P3K yang berada diruang itu. Kepalanya sedikit pusing karena kurang tidur semalam. Setelah mendapat penjelasan dari mamanya, dia memang masuk kekamarnya, tetapi dia menjadi susah tidur karena penjelasan itu. Timbul banyak pertanyaan, ketakutan dan kecemasan dalam benaknya.
Diva mengoleskan minyak kayu putih dipelipisnya, lalu merebahkan tubuhnya dibrangkar.
Ditempat lain.
“Diva jangan diberi job lagi bang. Please…” Sergah Nabila pada Adli lewat sambungan telepon.
Proses tandatangan kontrak kerja untuk Nabila dengan klien dari Malasia itu telah diselesaikan Adli. Sembari menunggu jadwal keberangkatannya, Adli menelpon Nabila dan memberikan penjelasan terkait kontrak baru yang sudah menunggu untuk ditanda tangani Diva.
“Kenapa Bil? Kurasa Diva sanggup kok.” Balas Adli tidak mau kalah.
“Pokoknya jangan dulu bang. Entar deh kalau abang sudah sampai disini aku jelasin alasan aku.”
“Tapi ini kontrak sinetron perpanjangan sinetron waktu lalu itu Bila, malah sekarang Diva didapuk sebagai pemeran utama dalam sinetron ini. Pemeran utama di awal episode rencananya akan dihilangkan sehingga peran Diva bisa menjadi pemeran utama. Ini hal bagus loh, sayang kalau dilewatkan begitu saja.”
“Oke, oke bang. Sekarang abang pulang secepatnya biar kita enak nih komunikasinya.”
“Iya, pesawatku masih dua jam lagi take off. Oke, kita akan bicarakan lagi nanti. Kalau begitu aku tutup dulu ya. Sampai ketemu.”
\=\=\=o0o\=\=\=
Kembali pada Nabila yang tengah berbaring di brangkar uks.
Diva membuka matanya perlahan, tepukan keras dikedua pipinya juga bentakan membuatnya terbangun dari tidurnya. Setengah sadar dia melirik kearah jam dinding yang menempel.
Baru dua puluh menit aku tertidur disini, kenapa ada yang membentak aku? Tanya Diva dalam hati.
Setelah kesadarannya penuh Diva kini menyadari diatasnya telah melotot Lia dan Anggi teman sekelasnya.
“Eh, Lia… Anggi… ada apa ya?” Diva beringsut bangun dari posisi rebahannya. Dia duduk bersila diatas brangkar.
“Pake pura-pura sakit segala, biar eloh semakin dapat simpati dari semua orang ya?” Hardik Lia sambil berkacak pinggang.
“Kalian ini kenapa?” Tanya Diva sambil mengernyitkan keningnya. Dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kedua teman sekelasnya ini.
“ELOH INI!!” Ucap Anggi dengan nada yang sangat jengkel. “Eloh ini anak haram! Jangan mencari simpati semua orang dengan gaya sok suci eloh!”
“Eh, apaan sih?” Diva menatap kedua cewek didepannya ini dengan tatapan tidak senang.
Anggi dan Lia memang teman satu kelas Diva. Hanya saja tidak terlalu akrab. Anggi dan Lia seringkali berusaha tampil dengan riasan wajah yang maksimal agar mendapat predikat tercantik, tetapi hampir semua teman sekelas tidak ada yang meresponnya dengan memberikan pujian bahkan lebih banyak yang mencibir.
“Gue ingetin ya, jangan pernah deketin Bethoven, elo jangan pernah cari muka! Bethoven itu pacar gue! Inget, PA-CAR GU-E!” Seru Lia memberikan penekanan pada pacar gue, sambil telunjuknya empat kali mengetuk dahi Diva.
Bersambung…
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=