
Keesokan harinya.
Dirumah orang tua Adli dan Safira.
“Mah, kenapa mama berlaku kejam sama Nabila kemarin malam.” Tanya Safira dengan pelan-pelan dan hati-hati.
“Tunggu sebentar.” Jawab mamanya Safira sambil berlalu memasuki kamarnya. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil menenteng sebuah buku agenda kecil. “Ini, kamu baca semuanya. Mama sebenarnya tak tahu, kalau kakakmu itu menderita, sangat menderita karena Nabila.” Jelasnya seraya memberikan buku agenda kecil itu pada Safira.
Safira menerimanya dan segera membuka lalu membacanya.
“Ini kan buku diary kakak. Aku tak tahu kak Adli ternyata begitu melankolis seperti ini.” Senyum Safira sambil mulai membaca.
Safira terus membaca beberapa lembar dari diary Adli. Dari sana dia bisa mengetahui segala isi hati yang tak pernah Adli ungkapkan.
“Oh, ternyata kakak sudah jatuh cinta dengan Nabila sejak pertama kali aku memperkenalkannya dulu. Tapi kenapa kakak tak pernah bercerita padaku ya? Kakakku ini ternyata sangat pemalu dan tertutup. Aku kira kakakku baru merasakan cinta tapi ternyata dugaanku salah.”
Safira terus membaca. Dia juga tahu peran kakaknya yang membelanya saat kedua orang tuanya tak menyetujui pernikahannya dengan Steven karena perbedaan budaya dan segudang alasan lainnya yang tak masuk diakal.
Air mata Safira menetes, saat dia ingat perjuangannya untuk mendapat restu orang tuanya. Steven yang orang asing pun berusaha keras agar bisa diterima. Tapi semua usaha yang dilakukan mentok tak menemukan jalan keluar selain pernikahan diam-diam tanpa restu orang tua Safira.
Lembar demi lembar Safira terus membaca.
“Hei, ini ditulis tiga bulan yang lalu. Dan tulisan ini jauh lebih panjang dari tulisan kakak yang lainnya.” Ucap Safira antusias.
Aku menulis lagi disini.
Hari ini aku melihat Nabila begitu cantik. Bahkan sangat cantik. Ah entahlah setiap kali aku bertemu dengannya aku merasa melihat bidadari paling cantik. Tapi, aku hanya bisa sekedar mengaguminya. Aku tak berani memilikinya. Dinding pemisah ini serasa tumbuh semakin tebal dan tinggi menghalangi aku untuk mengungkapkan perasaanku.
Jika saja aku seberani Safira.
Jika saja aku tak sepeduli Safira.
__ADS_1
Tapi aku tak bisa. Aku tak ingin berdosa karena melawan kehendak mama.
Memang aku tak pernah mengatakan langsung kepada mama juga. Namun aku pernah bertanya pada mama tentang menantu yang diinginkannya.
Dan mamaku hanya mengatakan, seorang wanita yang akan menjadi jodohmu itu haruslah seorang gadis, bukan janda, bukan juga perempuan murahan yang memberikan tubuhnya karena terkena rayuan dan uang.
Mama mengatakan kepadaku, aku harus menikah dengan gadis yang jelas siapa orang tuanya, bagaimana mereka mencari rejeki untuk menafkahi keluarganya. Bukannya gadis yang tak jelas siapa orang tuanya, dan harta yang diperoleh orang tuanya adalah dari jalan yang tak diridoi Tuhan.
Intinya mamaku mengatakan bobot, bibit dan bebet nya harus jelas dan terukur. Dan yang terpenting adalah satu suku, dan agama.
Hal inilah yang membuatku selalu ragu untuk mengutarakan perasaanku pada Nabila, meski aku sangat ingin untuk mengungkapkannya.
Mungkin cintaku tak akan bertepuk sebelah tangan, atau mungkin juga cintaku ini tak akan terbalaskan. Entahlah aku tak tahu, karena aku juga belum pernah mengatakan tentang perasaanku pada siapapun, termasuk pada Safira. Biarlah hanya aku dan kamu saja yang mengetahuinya. Sampai saat ini aku sudah cukup bahagia bisa melihat Nabila, menjaga dan melindungi dia.
Satu bulan yang lalu, aku sempat akan dijodohkan dengan salah satu putri temannya mama. Kalau tak salah sih, namanya Naginisa. Dari foto yang disodorkan jujur kukatakan dia sangat cantik, hatiku sempat tergoda untuk menerima perjodohan itu.
Tapi...
Kalau tentang nyonya Josephira aku akan memujinya setinggi langit. Berkat dia, Nabilaku bisa meniti karirnya lagi di dunia entertainment tanah air. Berkat dia juga, suaminya bersedia mendanai beberapa proyek filmku yang dibintangi Nabila. Bahkan dua bulan lalu, Nabila yang ingin mundur dari dunia entertainment dan menjadi pengusaha mendapat bantuan yang luar biasa dari nyonya Josephira.
Tapi, sekali lagi Nabila menyelamatkan hidup dan hatiku. Karena dari dia aku jadi tahu perangai Naginisa. Meskipun hanya sekali mereka bertemu.
Dari sanalah aku berusaha mencari siapa Naginisa ini. Dan dari usahaku mencari informasi, aku mendapatkan bahwa Naginisa yang akan dijodohkan denganku itu, adalah orang yang sangat liar dan sangat misterius. Meskipun telah dihukum keluarganya dengan tidak diberikan nafkah agar bisa berubah, tapi dia tetap dengan keliarannya.
Menurut informasi yang aku dapatkan, Naginisa ada seorang maniak ***, bahkan seorang kolega yang pernah bermain dengannya mengatakan tak akan lagi mengulangi meski Naginisa telanjang didepannya.
Hehehe... Inikah calon istri yang disodorkan mamaku? Yang kata mama sudah sangat jelas bobot, bibit dan bebetnya itu?
Tapi biarlah, toh aku sekarang sudah menolak perjodohan itu. Dan syukurlah mamaku mau mengerti alasan penolakanku. Tentu saja aku tak mengatakan yang sebenarnya siapa Naginisa, karena aku tak mau membongkar aib seseorang. Bahkan orang itu tak aku kenal secara langsung kecuali hanya sebuah foto dan nama yang disodorkan.
Aah.. Aku lelah dengan semua ini.
__ADS_1
Aku lelah dengan segala keraguanku ini.
Apakah aku harus nekat seperti Safira saja?
Apakah aku tega membuat mamaku menangis, seperti dulu saat Safira nekat menikahi Steven?
Aah... aku capek. Entah sampai kapan aku hanya bisa sebagai pengagum Nabila?
Aku hanya ingin Nabila menjadi istriku. Dan kuharap mama mau merubah pandangannya tentang bobot, bibit dan bebet.
Safira menutup diary itu. Lalu menatap mamanya yang masih duduk dengan dingin didepannya.
“Mah, kakak sudah tiada. Dia sangat mencintai Nabila mah, mereka tak akan bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Tapi kenapa mama kemarin berbuat seperti itu? Seolah semuanya adalah salah Nabila?” Tanya Safira.
“Kamu ini bagaimana, dia itu yang membuat Adli merasa tersiksa karena mencintainya dalam diam. Membuat Adli menolak perjodohan yang aku sodorkan. Tentu saja aku marah pada Nabila!” Jawab mama keras.
“Tapi ditulisan ini kakak sudah menuliskan siapa itu Naginisa, dan mengapa kakak tak juga mau terbuka dan berterus terang tentang perasaannya baik pada mama ataupun pada Nabila. Karena kakak ingin menjaga jangan sampai mama atau Nabila terluka.” Jelas Safira. Nafasnya kini terasa memburu dan dadanya serasa ingin meledak karena mendengar alasan yang disampaikan mamanya. “Kakak ingin Nabila sebagai istrinya, tapi dia ingin kepastian mama untuk bisa menerima seorang Nabila yang dibesarkan di panti asuhan sejak kecil dan tak pernah mengetahui siapa orang tuanya. Kakak tak ingin jika Nabila sudah bersedia menjadi istrinya lalu mama menolaknya dengan alasan bobot, bibit dan bebet seperti yang mamah selalu bilang.”
“Halah, kamu ini selalu saja ingin bertengkar dengan mama. Ingat ya, sampai detik ini mama masih belum mau mengakui Steven kamu itu sebagai menantu mama. Dan sekarang kamu menguliahi mama? Kamu ini memang anak durhaka. Tak seperti kakakmu!”
“Loh, kok jadi ke aku sih?! Kita ini sekarang sedang membahas perlakuan mama dan alasan yang mama pakai untuk mengusir Nabila. Kakak sudah jelas-jelas menulis disini, kakak tak ingin melihat mama menangis dan kakak berharap mama mau merubah sikap setidaknya sedikit saja tentang kriteria jodoh bagi kakak. Itu saja. Kenapa larinya ke aku.”
“Mama tak peduli. Pokoknya mama tak mau melihat yang namanya Nabila. Karena mama hanya ingin putra-putri mama berteman dan bergaul dengan kalangan yang jelas dan bermartabat saja.”
“Kalangan yang jelas dan bermartabat? Seperti Naginisa? Apa mama sudah membaca alasan sebenarnya kakak menolak perjodohan yang mama ajukan?”
“Sudah, tapi mama yakin dengan bobot, bibit dan bebet yang jelas, seorang Naginisa pasti akan berubah menjadi baik setelah menjadi menantu mama.”
Safira bingung harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa menepuk keningnya sendiri mendengar alasan mamanya yang sudah sangat keterlaluan melihat status sosial orang lain.
Bersambung...
__ADS_1