
Cuplikan eps. sebelumnya...
“Gue ingetin ya, jangan pernah deketin Bethoven, elo jangan pernah cari muka! Bethoven itu pacar gue! Inget, PA-CAR GU-E!” Seru Lia memberikan penekanan pada pacar gue, sambil telunjuknya empat kali mengetuk dahi Diva.
\=\=\=o0o\=\=\=
“Eh, biasa aja kale.” Jawab Diva merasa jengah dan menepis tangan Lia dari dahinya.
“Iih! Elo ya… Rasakan ini!” Lia berteriak dengan nada jengkel. Seketika tangan kirinya menjambak rambut tebal Diva dan tangan kanannya melayangkan bogeman keras tepat mengenai wajah Diva, hingga sudut bibir kirinya mengeluarkan darah.
“Aww!” Diva hanya bisa menjerit karena tidak menyangka dua temannya ini melayangkan serangan fisik padanya.
Anggi yang melihat itu segera mendekat, tapi bukannya melerai Anggi malah melayangkan tendangan yang tepat menerjang perut Diva.
“UGH!” Diva membungkuk terkena tendangan. Satu tangannya bertumpu pada kasur. Sementara tangan satunya berusaha melepaskan jambakan pada rambutnya.
Lia lalu melepaskan jambakannya. Dia lalu mendorong kening Diva yang masih tertunduk menahan sakit hingga wajah Diva kini terlihat jelas dimatanya sedang meringis kesakitan.
“Itu hanya peringatan karena elo berani mendekati kak Bethoven. Tapi kalau elo masih berani lagi… jangan salahkan kami bila berbuat yang lebih dari ini.” Ancam Lia sambil menepuk-nepuk pipi Diva. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan ruangan uks.
“Ingat. Jangan elo dekati kak Bethoven, LAGI!” Anggi ikut mengancam Diva, dan memberikan bonus sebuah dorongan tangan kearah kepala Diva hingga gadis ini terjengkang kebelakang.
Selepas Lia dan Anggi pergi, Diva beringsut bangun. Tangannya terkepal menandakan dia sangat geram.
“Awas kalian berdua, akan kubalas.” Rungut Diva.
Diva melihat jam tangannya, waktu istirahat masih sepuluh menit lagi berakhir. Dia bergegas membasuh lukanya dan merapikan rambutnya. Wajahnya kini ada sedikit lebam, karena tonjokan Lia tadi. Diva segera memberikan sedikit riasan untuk menutup lebam itu. Tapi tetap saja terlihat meskipun sedikit tersamarkan.
Setelah dirasakan cukup, Diva bermaksud keluar dan kembali kekelasnya.
“Hai sudah bangun rupanya.” Teriak Cherry ketika membuka pintu uks dan mendapati Diva sudah berdiri didekat pintu. “Padahal tadinya aku berniat bangunin kamu.”
Diva hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
__ADS_1
“What? Kenapa wajah kamu lebam begini?” Teriak Cherry lagi.
“Iya Diva kamu kenapa?” Timpal Bella yang memandang dengan raut muka cemas. Punggung tangannya segera disentuhkan ke kening sahabatnya itu. “Tidak panas? Tapi kok sampai ada sedikit lebab dipipi kiri kamu?”
“Dipukul Lia dan Anggi.” Jawab Diva dingin.
“Kurang ajar. Kita balas mereka, sekarang juga!” Teriak Cherry meradang mendengar jawaban Diva.
“Ho oh.” Bella menimpali.
“Tenang, tenang dulu gaes… tenang dulu. Kita pasti akan membalasnya. Tapi tidak sekarang. Ada saatnya kita akan membalas dengan syantik dan elegan.” Diva meredam kemarahan kedua sahabat didepannya.
“Emangnya ada masalah apa kamu sama mereka? Perasaan kita ga pernah menyinggung si sok cantik itu?” Gumam Bella.
“Mereka menuduh aku mendekati kak Bethoven, dan menyuruh aku untuk tidak melakukannya lagi.”
“Bener-bener kurang ajar dan kurang kerjaan mereka itu. Kamu bilang saja Diva, pasti kuhajar hingga babak belur mereka.” Cherry bertambah rasa geram dalam hatinya mendengar penjelasan Diva. “Padahal kan kak Bethoven sendiri yang tiba-tiba mendekati kita kan?”
“Benar. Malah kata Lia, kak Bethoven itu sudah menjadi pacarnya.” Jelas Diva lagi.
Bella dan Diva memandang dengan heran mendengar kata kasar terucap dari bibir Cherry. Sementara Cherry yang tidak sadar sudah mengucapkan kata kasar itu masih mengerucutkan bibirnya.
“Udah, udah, kita tenangin diri aja dulu. Cooling down, setelah itu kita kembali ke kelas. Oke?” Diva menenangkan kedua sahabatnya karena masih ada ujian yang akan dihadapi.
Diva ingin agar ujian ini tidak membuat dia kehilangan kesempatan berkarir didunia hiburan. Dia masih ingat benar perjanjiannya dengan kepala sekolah. Dan dia bertekad tidak akan membuat kecewa siapapun termasuk kepala sekolah yang telah memberikannya perlindungan kemarin.
Kedua sahabat Diva itu menurut, mereka juga menyadari bahwa kali ini adalah ujian kenaikan kelas. Kalau ada yang gagal maka peluang mereka untuk naik kelas juga semakin kecil.
Setelah dirasa tenang, ketiganya buru-buru kembali ke kelas.
\=\=\=o0o\=\=\=
Ditempat lain, Adli sedang berbincang dengan Nabila disebuah café.
__ADS_1
“Jadi seperti itu ceritanya? Benar-benar sudah psyco si Ferdi itu.” Geram Adli setelah mendengar cerita selengkapnya dari Nabila. Kedua telapak tangannya mengepal dan dipukulkan pada meja hingga membuat gelas-gelas diatasnya ikut terguncang.
“Karena itulah bang, aku meminta supaya Diva off aja dulu. Minimal sampai Ferdi itu terkena batunya.”
“Tapi sampai kapan kalian harus bersembunyi seperti ini?”
Nabila tidak bisa menjawab pertanyaan Adli itu. Dalam benaknya juga sering terlintas pertanyaan itu, tapi rasa takut akan kehilangan Diva membuatnya harus mengambil sikap menghindari konfrontasi langsung.
“Oke, begini saja. Kuharap kamu setuju. Diva hanya akan dapat job satu sinetron ini. Tidak ada lagi job lain. Dan karena kontraknya bisa dibilang bernilai eksklusif aku bisa menyewa satu atau dua pengawal untuk Diva yang akan memberikan perlindungan dua puluh empat jam padanya.” Adli memberikan satu usulan.
“Apa tidak sebaiknya ditolak saja bang?” Tanya Nabila penuh keraguan.
“Aku berharap kamu menyetujuinya Bila, kamu ingat kan bagaimana sulitnya kamu untuk bisa mendapat job setelah menghilang? Aku takut Diva akan mengalami hal yang sama. Sementara menurut pengamatanku passion Diva juga seperti punya kamu. Dan ini juga adalah kesempatan yang terbaik untuk saat ini. Aku berjanji akan selalu menolak tawaran dari manapun. Sampai kamu merasa Diva telah aman. Bagaimana?”
“Aku bingung bang. Entahlah.” Jawab Nabila lirih.
Dalam benak Nabila dilanda kebingungan. Semua yang terjadi saat ini seolah dejavu. Proses perjalanan kehidupan yang sama dan terus menerus berulang.
“Kita fikir saja dalam beberapa hari ini. Karena menurut produsernya, tanda tangan kontrak akan dilaksanakan dua minggu lagi. Jadi kita masih punya waktu untuk mencari solusi terbaik bagi Diva. Bagaimana?”
“Iya bang. Sebaiknya jangan terburu-buru. Nanti aku akan fikirkan lagi, barangkali ada jalan keluar yang lebih baik lagi.”
\=\=\=o0o\=\=\=
Satu minggu telah berlalu. Jadwal ujian yang harus dijalani oleh Diva telah selesai. Hari ini sampai satu minggu lagi hanya diisi dengan santai disekolah. Dan kebanyakan diisi kegiatan classmeeting, yaitu lomba antar kelas. Baik kompetisi bola basket dan bola voli, juga lomba kebersihan dan keindahan kelas. Semua kelas wajib mengirimkan tim pesertanya. Tidak ada lagi istilah junior-senior disana, yang ada adalah kompetisi.
Untuk kedua kompetisi olahraga yang dipertandingkan lebih banyak adegan lucunya daripada aksi-aksi yang menawan. Karena hampir disemua kelas tidak ada satu tim yang menonjol, yang bisa dan mendalami setiap kelasnya paling hanya satu atau dua siswa, selebihnya lebih jago menjadi penonton atau komentator.
“Hei Diva, udah ketemu belum caranya balas bullian Lia dan Anggi?” Tanya Cherry dengan wajah serius.
Diva dan Bella yang sedang sibuk mempersiapkan hiasan untuk memperindah ruang kelas mereka pun menoleh dan menghentikan kegiatannya.
“Belum sih, masih belum terfikirkan. Memangnya kamu ada rencana mengerjai mereka?” Tanya Diva setengah berbisik.
__ADS_1
Bersambung…
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=