
“Kak, aku balik ke kantor dulu ya.” Pamit Nabila seraya berjalan disamping kursi roda yang ditunggangi Josephira.
“Kamu ga makan siang dulu disini?” Tanya Josephira.
“Ga usah deh.Aku makannya nanti saja. Masih kenyang.”
“Kalau begitu temani aku makan siang saja ya?” Pinta Josephira sambil mendongak, melihat kearah Nabila.
“Iya deh. Aku akan menemani kakakku yang cantik dan baik hati ini.”
“Haa, gitu dong. Tapi sebelumnya bantu aku ganti pakaian dan diaper ini ya? Maaf merepotkan kamu Nab.”
“Ga merepotkan lah kak, aku akan membantumu selagi aku bisa. Jangan sungkan seperti itu dengan adikmu yang cantik, baik hati lagi.”
“Tapi jomblo akut!” Seloroh Josephira lalu tertawa lepas.
“Ih, kakak jahat.” Rajuk Nabila seraya mencubit lengan Josephira yang langsung mengaduh tapi kemudian tertawa lepas merasa puas bisa membuat Nabila keki.
Josephira membuka almarinya dan memilih baju yang akan dipakainya. Sementara Nabila mengambil diaper dan perlengkapan lainnya yang akan dibutuhkan saat mengganti diapers.
“Tolong Nab ambilkan yang itu, aku mau memakai yang itu saja.” Piinta Josephira seraya menunjuk t-shirt yang terlipat rapi di rak yang tak terjangkau tangannya.
“Iya kak sebentar ya.” Jawab Nabila lembut.
Kemudian Nabila mengikuti Josephira kekamar mandi. Didalam kamar mandi itu sudah dipersiapkan untuk mempermudah Josephira dan perawatnya.
“Aku mau mandi dulu. Tolong lepaskan bajuku ya?” Pinta Josephira.
Nabila pun maju dan berusaha membantu Josephira melepas pakaiannya. Kini tubuh Josephira sudah tak memakai baju, hanya diapers dewasa yang menutupi tubuh bawahnya.
“Hmmm, tubuh kakakku ini sangat bagus. Aku jadi iri melihatnya.” Kata Nabila sambil memandangi tubuh Josephira yang polos.
“Kamu ini ngomong apaan sih?” Sergah Josephira sambil tangannya berusaha menurunkan diapers dari tubuhnya.
Josephira berusaha keras tanpa minta bantuan Nabila saat menurunkan diapers itu dari badannya yang tak bisa digerakkan.
“Kenapa ga minta bantuanku sih kak?” Tegur Nabila yang melihat Josephira kesulitan seraya mendekat. Tapi Josephira memberinya isyarat untuk berhenti mendekatinya.
“Aku malu Nab. Saat diaper ini terlepas mungkin akan ada bau tak sedap. Karena aku tak bisa merasakan apakah tadi aku telah buang air atau tidak. Maaf ya Nab, maafkan kakak.”
“Hadeh... Dari tadi minta maaf terus.” Kata Nabila yang kini telah disamping Josephira.
__ADS_1
“Udah Nab, nanti bajumu kotor.” Larang Josephira pada Nabila yang kini telah membungkuk hendak melepaskan diaper.
“Ya udah aku lepas baju dulu, baru setelah itu aku bantu kakak.” Jawab Nabila lalu mundur dan melepaskan semua bajunya hingga telanjang bulat.
“Wow, inikah tubuh seorang perawan. Betul-betul orisinil dan menggoda. Pantas saja banyak yang endors kamu untuk menemani makan malam.” Puji Josephira setelah melihat tubuh Nabila. “Tapi sayang belum ada lelaki yang menyentuh itu semua.” Lagi-lagi Josephira berseloroh.
“Terus, terus saja mengejek aku.” Rajuk Nabila yang membuat Josephira terkekeh.
‘Ah jika saja kamu tahu kak, bahwa aku ini ibu beranak satu. Dan sekarang anakku menjadi pacar putramu.’ Rintih hati Nabila.
Nabila melepas diaper itu. Dan seperti yang dikatakan Josephira, saat diaper itu terlepas bau tak sedap dari air seni yang tertampung di diaper menyeruak, membuat Nabila harus mengernyit.
Wajah Josephira seketika merah padam menahan malu, melihat ekspresi wajah Nabila.
“Maaf Nab, maaf.” Kata Josephira sambil menunduk dalam-dalam.
“It’s okay kakakku yang cantik. Ini hanyalah masalah kecil. Ayo sekarang aku akan memandikan kakak.”
Josephira hanya diam tak menjawab. Dia biarkan Nabila memandikan tubuhnya.
Dengan lembut Nabila membersihkan tubuh Josephira, menggosok seluruh kulit Josephira yang putih mulus dengan spon mandi berlumuran sabun cair. Nabila juga membersihkan area inti Josephira tanpa risih dan jijik, seolah perawat berpengalaman. Nabila juga mencuci rambut Josephira. Setelah selesai baru dia mandi untuk dirinya sendiri.
“Mendekatlah kesini Nab. Biar aku menggosok punggungmu.” Pinta Josephira, dia ingin membalas sedikit kebaikan Nabila yang merawatnya tanpa rasa jijik.
“Halus dan lembut sekali kulitmu Nab.” Puji Josephira.
“Tapi sayang belum ada pria yang menyentuhnya.” Sela Nabila. “Itu pasti kelanjutan pujian dari kakak. Iya kan? Terus saja kak, terus hina harga diri adikmu ini.”
“Hei, kamu jangan suudzon ya, aku benar-benar memuji ini. kulitmu sangat halus dan lembut. Aku jadi ini.”
“Maklumin aja lah kak, aku kan masih muda. Dan kakak...” Nabila menghentikan kalimatnya.
“Maksud kamu aku sudah terlihat tua gitu? Adik tak sopan!” Ucap Josephira geram, lalu spon diusapkan dengan kasar dipunggung Nabila yang hanya tertawa terbahak-bahak.
“Aku ga ngomong begitu kok. Lagian itu memang benar sih, rasakan balasanku tadi kak. Skor sekarang dua satu. Nanti pasti akan kubalas lagi ejekan kakak. Hahahahaha...”
“Sialan kamu. Sudah semakin berani sama kakakmu ini ya?” Ucap Josephira seraya tertawa lepas.
Nabila sudah selesai merawat Josephira. Bagian inti tubuh Josephira sudah mendapatkan perawatan selayaknya, agar tidak mengalami luka yang bisa berakibat fatal nantinya.
Josephira duduk dikursi rodanya didepan meja rias. Nabila menyisir rambut Josephira dengan lembut. Sementara Josephira intens memandang wajah Nabila yang yang terpampang didalam cermin.
__ADS_1
“Nab, kamu cantik sekali. Meskipun tanpa riasan make up diwajahmu.” Pujji Josephira.
“Kakak juga sangat cantik. Rambut masih belum rapi bener seperti ini saja kakak sudah terlihat sangat cantik.” Puji balik Nabila seraya menurunkan kepala dan menyandarkan dagunya di pundak kanan Josephira. “Lihat disana, lebih cantik kakak kan?” Ujar Nabila lagi sambil membentuk muka jelek.
Josephira terkekeh melihat ulah Nabila.
“Kalau kamu seperti itu, tentu saja kamu jadi terlihat jelek Nab.”
“Hehehe... Kita berdua beruntung ya kak, dikaruniai wajah cantik seperti ini.” Ucap Nabila lirih masih diposisi yang sama menempel disamping pundak kanan Josephira.
Josephira pun tersenyum mendengar itu.
“Ayo kita makan siang. Perutku lapar.” Kata Josephira.
“Eh, tapi ini belum selesai menyisir rambutnya kak.” Protes Nabila seraya menyisir rambut Josephira lagi.
Setelah selesai mereka lalu menuju meja makan.
“Entar malam menginap disini lagi ya Nab?” Pinta Josephira sambil mengambil sayuran.
“Eeee, gimana ya?” Nabila mengingat-ingat jadwal kerjanya.
“Ayolah Nab Please.” Josephira memohon dengan mimik wajah memelas.
“Iya deh kak, aku akan menginap lagi nanti malam. Tapi aku harus balik pagi-pagi sekali karena ada sesi pemotretan dan pekerjaan lainnya.”
“Oke. Terima kasih Nabila sayang.”
Mereka masih makan sambil mengobrol, datanglah Bram.
“Assalamualaikum semuanya.” Salam Bram lalu duduk di ujung meja.
Josephira dan Nabila menjawab salam itu hampir bersamaan.
“Kok sudah pulang Bram?” Tanya Josephira.
“Miting dengan relasi dibatalkan sepihak oleh mereka. Jadi aku bisa santai sejenak, makan dirumah dengan istriku yang cantik jelita seanggun bidadari, baru balik lagi ke kantor setelah makan dan sholat.” Jawab Bram seraya mengambil nasi untuk dirinya.
“Dasar kak Bram Alay.” Runtuk Nabila sambil memutar matanya.
“Hei, kamu ga boleh iri Nab. Makanya cepat cari suami, biar ada yang memuji-muji kamu.” Seloroh Bram.
__ADS_1
Bram memang berubah sejak Josephira menderita kelumpuhan. Sekarang dia menjadi lebih sering memuji istrinya bahkan kalimat yang digunakan olehnya terkadang seperti kalimat yang dipakai para abg untuk merayu kekasihnya. Itu semua dia lakukan agar hati dan mood Josephira selalu bahagia, setidaknya itulah harapan Bram.
Bersambung...