MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 28 Resah


__ADS_3

Cuplikan eps. sebelumnya…


“Kami minta maaf bik, dan kami disini mau ucapin selamat ulang tahuuuunnn…..” Jelas Nabila sambil menggeser tubuhnya hingga terlihat Diva yang tersenyum berhiaskan cahaya lilin dari atas kue ulang tahun.


“Haaaa…. Terima kasih anak-anakku… terima kasih….” Seru Minah setelah terlepas dari keterkejutannya.


\===o0o===


Ditempat lain.


“Bos, ini data yang berhasil diretas oleh hacker. Disini juga sudah dipilah data dari lima belas tahun lalu. Manajer Nabila sangat rapi dalam melakukan akuntingnya.” Joe menjelaskan kepada Ferdi sambil  mengeluarkan satu map merah.


“Aku minta hasilnya saja, apa memang ada arus uang yang mencurigakan sehingga kita bisa memastikan Diva adalah putriku?”


“Ada bos, disini tertulis semuanya. Bagaimana ada uang masuk dari nomor rekening milik tuan Rudi, dan dikeluarkan untuk menutup penalty putus kontrak, lalu ada beaya sewa pesawat satu kali jalan ke Singapura, juga ada beaya sewa rumah disana bos. Lalu setiap satu bulan sekali ada transfer ke rekening Nabila dan juga ada satu kali transfer ke rumah sakit bos.”


“Ke rumah sakit?”


“Benar bos. Kemungkinan besar itu adalah biaya persalinan bos.”


“Benar kamu Joe. Bagus Joe, sekarang aku bisa mendesak dia untuk menikah denganku. Hahahahaha….”


\===o0o===


“Kenapa tiba-tiba mata kiriku kedutan ya?” Seloroh Nabila pelan, sambil memasukkan sepotong kue kedalam mulutnya. “Apa ada yang membicarakan aku?” Karena terlalu pelan, suara Nabila tidak terlalu didengar oleh Minah dan Diva yang duduk disebelahnya.


“Oke, sekarang kalian mandi dulu. Aku akan memasak special untuk makan malam kita.” Minah berdiri lalu menuju dapur meninggalkan Nabila dan Diva.


“Ma, maafin Diva ya. Tadi udah berkata keras pada mama.”


“Iya, mama juga minta maaf Diva. Tapi beneran kan kamu ga ngapain-ngapain sama Betho?”


“Enggaklah ma, Diva juga takut dosa. Mama juga pernah bilang kan dulu….”


Lalu Diva menceritakan kenapa sampai dia menjuluki Bethoven dengan sebutan ‘mesum’. Nabila yang mendengarnya terbelalak.


“Jadi, dada kamu sudah dipegang oleh dia? Awas kamu Bethoven kalo sampai bertemu aku, sudah pasti kucakar-cakar kamu.”


“Jangan ma, kasihan kak Betho. Lagian memang itu ga disengaja kok.”


“Ga disengaja kok pas!”


“Dicubitin aja ya ma… jangan dicakar-cakar. Entar hilang deh ketampanan kak Betho.” Tawar Diva memelas.

__ADS_1


“Iya… iya… tapi mama ga janji. Dada putri mama yang suci udah ternodai. Grrrr…!”


“Ih mama udah kaya kucing betina saja kalo seperti itu.”


“Apa??? Kamu sudah berani  ngatain mama ya…” Nabila seraya menubruk putrinya dan menggelitik perutnya.


Diva tertawa terbahak-bahak, lalu berlari menghindari.


\===o0o===


“Johan, cepat jelaskan kenapa syuting sinetron itu dihentikan?” Bram bertanya dengan nada tinggi kepada asistennya.


“Maaf tuan, karena dari pihak televisi membatalkan kontrak pembelian hak tayangnya. Untuk sementara kita hentikan proses syuting sampai ada kejelasan lebih lanjut.”


“Maksud kamu?”


“Pihak stasiun televisi hanya memberikan alasan karena rating popularitas nona Diva menurun tuan, mereka tidak mau gambling membeli sinetron dengan bintang utama mempunyai banyak haters.”


“Aneh, Diva itu kan bintang baru, sinetron pertama dia terbilang sukses dan menerima banyak pujian. Kenapa tiba-tiba punya banyak haters?”


“Saya telah menyelidiki perihal tersebut tuan, itu karena baru-baru ini di portal berita-berita on line dan pesan berantai di media sosial tuan. Hampir semuanya menyebarkan berita tentang adanya hubungan sepesial antara nona Nabila dan nona Diva. Dan diberitakan terjadinya pembohongan public untuk mengangkat popularitas nona Diva tuan. Saya merasa seolah ada yang menggiring opini masyarakat untuk membenci nona Diva tuan.”


“Hmm… investasi kita disana tidak terlalu besar. Tapi disana Bethoven juga menjadi salah satu pemain meskipun hanya figuran, dan menurut laporan kamu tempo lalu sutradara begitu puas dengan perform Betho yang alami.”


“Benar tuan.”


“Iya tuan, saya akan selidiki siapa yang menghembuskan gossip sehingga masyarakat begitu antusias mencari informasi tentang seorang Diva dan kemudian membencinya tuan. Saya akan berusaha yang terbaik.”


“Bagus, aku tak mau melihat raut kekecewaan Josephira. Secepatnya syuting harus dimulai lagi. Dan juga cepat cari pembeli hak tayang untuk sinetron itu.”


“Siap tuan. Akan saya atur yang terbaik.”


\===o0o===


Keesokan harinya.


“Ma, aku berangkat sekolah.” Diva dengan setelan seragam sekolah lengkap bersaliman dengan Nabila. Tadi malam Nabila tidur dikamar Diva. Mereka saling berbagi cerita dan bercanda hingga larut malam.


“Iya, hati-hati ya nak. Ingat tetap low profile, dan tugas utama kamu adalah belajar. Semangat ya.”


“Siap ma. Semangaaat…” Jawab Diva sambil tersenyum lebar memamerkan barisan gigi putih kecilnya. Lalu Diva menghampir Minah yang sibuk didapur. “Ibu, aku berangkat sekolah.”


Minah menoleh dan tersenyum. “Iya, hati-hati ya. Ibu doakan semoga Allah memberikan kamu kemudahan dan kelancaran.”

__ADS_1


“Aamiin… terima kasih bu.” Diva mengamini sambil mencium punggung wanita paruh baya yang sudah merawat dan mengasuhnya dengan penuh kasih sayang itu.


Didalam mobil yang mengantarkan, Diva bersyukur dalam hati. Proses produksi sinetronnya dihentikan tepat dimulainya sekolah. Diva tersenyum dia berhasil naik kelas dan masuk peringkat sepuluh besar. Dan lebih


bersyukur lagi karena dia dan genk BCD nya tidak terpisah. “Alhamdulillah…. Terima kasih ya Allah.” Pelan Diva bersyukur pada Tuhan Yang Maha Agung.


Kembali pada Nabila.


“Hari ini kamu ga ada kegiatan non?” Tanya Minah setelah mengetahui Nabila akan berbalik kerumahnya.


“Eemm… hari ini aku hanya akan ke agensi, ada meeting dan penanda tanganan kontrak baru. Mungkin sebelum malam aku sudah bisa pulang bik. Aku pamit langsung berangkat ya.”


“Iya nak, hati-hati. Semoga Allah memberikan segala kemudahan dan kelancaran dalam setiap usahamu.”


 “Aamiin… terima kasih bik. Bibi juga hati-hati dirumah ya.” Jawab Nabila seraya mencium punggung tangan Minah, orang yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.


\===o0o===


Nabila kini tengah duduk disebuah café didampingi Adli menunggu kedatangan klien yang akan mengadakan kontrak kerjasama.


“Sudah setengah jam kita disini bang, apakah belum ada tanda-tanda berapa lama lagi kita harus menunggu kedatangan mereka?”


“Tenanglah Nab, kamu ini kaya orang baru saja di industry ini. Kita biasanya juga harus nunggu hampir dua jam untuk bisa bertemu orang-orang sibuk seperti mereka ini.”


“Iya juga sih.”


“Ada apa sih?”


“Eee.. tak tahulah. Hatiku tiba-tiba resah aja.”


“Ya sudah, tenang dan sabar ya. Kita berdoa saja hari ini lancar.”


“Iya bang, aamiin…”


Kondisi café tempat perjanjian mereka semakin penuh oleh pengunjung. Tanpa disadari Nabila dan Adli, ada Ferdi dan Joe yang duduk di dekat mereka. Nabila dan Adli tidak mengetahuinya karena terhalang penghias café berupa dua pot berisi tanaman bonsai berdaun cukup rimbun.


\===o0o===


Tiba-tiba ada sebuah mobil warna putih memotong jalan mobil yang ditumpangi Diva. Mau tak mau mang Udin, sopir yang bertugas mengantar kemana Diva pergi harus menginjak pedal rem dalam-dalam sehingga membuat Diva yang sedang santai dengan gawainya tersorong kedepan. Hampir saja kepalanya membentur jok didepannya.


“Aduh!” Jerit Diva. “Kenapa mang Udin? Hati-hati dong...”


Belum sempat Udin menjawab, kaca jendela dipecahkan seseorang dari luar. Kemudian orang dari luar itu melemparkan sesuatu kedalam mobil. Asap putih mengepul membuat Udin dan Diva merasa lemas dan pusing.

__ADS_1


Bersambung


\===========


__ADS_2