MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 57 Kritis


__ADS_3

Mobil sport Naginisa melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan dan kembali keapartemennya.


“Hahahaha… Rasakan itu Bram, Josephira. Aku puas, sangat puas. Hahahaha… Akhirnya aku bisa membalas rasa sakit hatiku. Hahahaha…” Naginisa tertawa keras didalam apartemen mewahnya. Kini dia  telah berganti baju hanya tanktop hitam dan ****** ***** hitam yang membalut tubuhnya.


Sementara lelaki budak nafsunya kini tengah duduk terantai dipojok ruangan bertelanjang dada.


“Kamu hebat juga budakku. Bagus sekali. Kamu pasti sudah tidak sabar menunggu hadiah kamu kan?”  Lelaki budak itu melihat dengan wajah penuh hasrat lalu menanggukkan kepalanya berkali-kali. Seperti  anjing peliharaan yang sangat setia pada tuannya. “Hahahaha…Tapi tidak untuk saat ini. Hahaha… Aku ingin  tidur dulu. Nanti malam hadiah yang kujanjikan akan kutepati. Hahahaha…” Kata Naginisa lagi lalu masuk kedalam kamarnya.


Dan budak nafsu itu langsung telungkup dilantai tanpa bersuara.


Kembali dirumah sakit. Lampu hijau menyala diatas pintu ruang operasi pertanda operasi telah selesai.  Seorang dokter lelaki masih memakai pakaian standar ruang operasi keluar lebih dulu menghampiri Bram  dan yang lainnya. Wajah dokter itu tertutup masker, namun masih terlihat jelas kelelahan dari matanya  setelah melakukan operasi selama tiga setengah jam.


“Bagaimana dokter? Bagaimana istri saya dan bayinya?” Tanya Bram tidak sabar.


“Maaf tuan. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik yang kami bisa. Tapi tuhan berkehendak lain.  Maaf karena luka tusuk itu membuat janin di rahim pasien tidak bisa kami selamatkan karena mungkin virus  telah meracuni rahim pasien hingga janin mengalami kematian. Maafkan kami.”


“Lalu, istri saya bagaimana?”


“Operasinya lancar, kami berhasil menghentikan pendarahannya, dan beruntungnya stok darah di bak darah  sedang berlebih hingga kami tidak kesulitan. Tapi juga karena benda tajam yang menusuk pasien itu telah  merusak beberapa syaraf di tulang belakang pasien.” Dokter itu berhenti sebentar untuk mengambil nafas.  “Dikarenakan hal itu kondisi pasien saat ini masih kritis, kami menghitung semoga perhitungan kami salah,  bahwa peluang kehidupan pasien kami perkirakan hanya sekitar dua puluh lima persen saja. Jadi, yang bisa  kami lakukan sekaranga hanya terus memantau kondisi pasien dalam dua kali dua puluh empat jam  kedepan. Kalau pasien bisa melewati masa kritis, maka kami yakin pasien bisa diselamatkan. Maafkan  kami, kami sudah berusaha yang terbaik tuan. Semoga ada keajaiban yang membuat pasien melewati masa  kritisnya. Kami berhharap seluruh keluarga pasien bisa mengerti.”


Bram dan yang lainnya langsung lemas tak berdaya. Peluang kehidupan Josephira sangat kecil, hanya keajaiban yang bisa membantu Josephira melewati masa kritis.


“Sebaiknya kita perbanyak berdoa pada Allah Ta’ala kak. Mungkin dengan kita berdoa bersama-sama dan  terus menerus Allah akan mengabulkan permohonan kita.” Saran Nabila lirih. Setelah semuanya terdiam  dalam waktu yang cukup lama.


“Be-benar. Kamu benar.” Jawab Bram. Lalu menoleh pada Bethoven dan Diva. “Kamu berdoa yang khusyu ya.  Untuk saat ini hanya berdoa kepada Nya yang bisa kita lakukan untuk membantu perjuangan mamamu.”


Bethoven dan Diva mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu Bram mengajak mereka ke mushola rumah sakit untuk menjalan sholat sunnah dua rakaat dan mulai berdoa.


Sedang khusyuk berdoa, layar ponsel Diva menyala tanpa suara karena dalam mode bisu, tanda ada telepon  masuk. Diva melihat nama kunyuk tertulis dilayarnya. Dia pun keluar dari mushola untuk  menerimanya.


“Hallo, Assalamualaikum.”


“Waalaikumusalam. Kamu bisa datang jam berapa Diva, bosku?” Jawab Dodit dan langsung bertanya dengan nada jengkel. “Kita sudah menunggu lama disini.”


“Maaf-maaf, lupa memberitahu karena panik. Sebaiknya syuting untuk konten dibatalkan saja deh untuk hari  ini. Karena ada kejadian yang sangat menyedihkan.” Jawab Diva.


“Memangnya kejadian apaan?”


“Tante Jose, mamanya kak Betho ditikam orang dan sekarang kondisinya lagi kritis. Sekarang kami semua,  sedang mendoakan tante Jose, agar diberi keselamatan melewati masa kritisnya.”


“Whoaa! Beneran? Ini ga nge prank kan?”


“Hehehe… maaf, maaf. Kamu dimana sekarang? Karena tim juga ga ada pekerjaan sebaiknya kami juga  bersama-sama bos Betho mendoakan mamanya. Katanya kan semakin banyak yang mendoakan semakin  makbul.”


“Eee… Tapi beneran loh, jangan banyak bercanda disini. Kami semua serius berdoa.”


“Iyalah, bos Betho orang baik, jadi kita sebagai temannya juga harus membantu. Apalagi disaat-saat seperti ini.” Jawab Dodit serius.


Lalu Diva mengatakan posisinya pada Dodit. Dan setengah jam kemudian  tim vloger sudah ikut berdoa  bersama-sama. Ada yang mengaji Al Quran, ada yang berdzikir. Bahkan Zelda yang non muslim juga ikut  berdoa meski tidak masuk dalam mushola.


Hari telah berubah menjadi malam. Dokter sekali lagi mengatakan belum ada perubahan pada kondisi  Josephira.


“Hei, kenapa kita tidak streaming saja sekarang?” Usul Dodit tiba-tiba, disela mereka makan dikantin rumah sakit.

__ADS_1


“Kamu ini sudah sakit otak ya?” Maki Diva. Karena merasa Dodit hanya memikirkan konten dan konten saja.  “Kak Betho ini lagi sedih. Kok bisa-bisanya kamu ngomong kaya begitu?”


“Eh bukan begitu maksudku. Dengar dulu dong, jangan main potong saja.” Bela Dodit.


“Apa maksudnya?” Sergah Diva dengan wajah tidak senang.


Sementara Bethoven terlihat muram tak memperhatikan percakapan itu, dan hanya mengaduk-aduk  makanannya.


“Maksudku begini, kita akan adakan streaming di rumah sakit ini sekarang juga. Dan meminta pada para  fans kamu dan fans bos Betho untuk ikut mendoakan. Siapa tahu dengan semakin banyak yang mendoakan,  maka kondisi tante Jose bisa lebih baik.”


Dodit berhenti dan melihat ekspresi Diva dan anggota tim lainnya. Dia melihat sepertinya mereka sedang memikirkan dengan serius usulannya ini.


“Hmmm, sebenarnya bagus juga ide kamu. Tapi aku takut kalau mengatakannya pada kak Betho, apalagi  pada om Bram. Bisa-bisa dikira aku ini hanya orang gila popularitas dan tak punya simpati sama sekali pada  musibah tante Jose.” Jawab Diva muram.


“Benar juga sih. Aku juga ga berani.” Jawab Dodit. Anggota tim lainnya juga menganggukkan kepala seolah mengatakan sama, mereka juga tidak berani.


“Aku setuju.”


Tiba-tiba Bethoven angkat bicara. Diva dan tim vloger langsung menoleh dengan pandangan tak percaya atas yang baru mereka dengarkan.


“Benar, aku setuju. Mungkin itu bisa sebagai salah satu ihtiar kita. Tapi tetap saja aku harus minta ijin papa.  Kalau papa setuju, kalian yang harus meminta ijin pada pihak rumah sakit.”


“Siap bosque.” Jawab Dodit semangat.


“Baiklah, sekarang aku akan minta ijin dulu pada papa. Berdoalah semoga ini bisa dilaksanakan dan  mendapat perhatian para fans lalu ikut mendoakan. Dan juga doa-doa kita semua dikabulkan hingga  mamaku akan selamat dan sehat seperti sebelumnya.”


“Aamiin.” Seluruh tim vloger kompak mengamini ucapan Bethoven.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2