
“Apa maksud kak Jose?” Tanya Nabila tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
“Ya, aku minta maaf. Aku membatalkan permintaanku agar kamu menikah dengan Bram. Kamu bersedia kan Nab? Demi aku kakakmu?”
“Te-tentu saja kak. Asal kakakku bahagia. Aku pasti setuju.” Jawab Nabila bahagia hingga menetes air matanya.
“Kamu tak kecewa kan?”
“Tentu, tentu saja tidak. Kakak tenang saja. Adikmu ini sangat bahagia dengan apapun yang terjadi.” Sahut Nabila cepat seraya memeluk tubuh Josephira sambil membatin, ‘Kenapa baru sekarang memutuskannya kakakku yang cantik? Aku sampai berantem berhari-hari dengan Diva gara-gara permintaan kakak itu.’
“Syukurlah kalau begitu.” Josephira tersenyum lega dan memeluk lebih erat lagi tubuh Nabila. ‘Aku sempat takut karena malu harus menjilat ludahku sendiri Nab, beruntungnya aku mempunyai sahabat eh adik seperti kamu yang tahu kapan harus mengalah sama kakaknya.’ Batin Josephira bersyukur.
Bram tentu saja sangat lega sedari tadi, ketika istrinya itu sempat memberitahunya untuk membatalkan akad nikah besok.
Didalam hati, Diva bersorak kegirangan mendengar dan menyaksikan adegan antara mamanya dan Josephira. Dia bersyukur dan berjanji akan meminta maaf pada mamanya besok pagi.
Tak jauh dari situ Bethoven melihat perubahan wajah Diva. Sekarang raut muka Diva kembali bersinar seperti hari-hari sebelumnya, seolah sangat bahagia dengan pembatalan ini.
‘Aah, depresi mama ini sungguh membuat semua orang kalang kabut. Bukan hanya kami tapi juga orang-orang disekitar kami. Tapi syukur alhamdulillah tampaknya keadaan mulai berjalan normal kemabali.” Syukur Bethoven dalam hati.
“Kak, ayo kita ketemu tim. Kita akan bahas konten baru. Aku tiba-tiba mendapat ide nih.” Seru Diva semangat.
“Ayo. Kamu sudah hubungi mereka?” Bethoven menjawab cepat.
“Belum, tapi aku inginnya kita ngebahasnya ga disetudio seperti yang sudah-sudah. Bagaimana kalau kita ke cafe yang tak jauh dari sini saja kak?”
__ADS_1
“Boleh saja Diva. Kamu kontak mereka ya, lalu kita berpamitan.”
“Siap kakak sayang.” Jawab Diva riang.
Diva sangat bahagia karena merasa doa-doanya yang memohon agar mamanya gagal menikah dengan Bram terkabulkan. Dan sebenarnya dia tidak punya ide baru soal konten, itu hanyalah kamuflase untuk mengajak timnya makan-makan sebagai ungkapan rasa syukurnya.
Semua terasa berjalan normal. Kecuali yang dirasakan Diva. Satu jam setelah diantar pulang Bethoven selepas makan-makan bersama tim vlog nya, Diva baru menyadari dia telah kehilangan ponsel khusus untuk menghubungi mamanya, Nabila.
“Haduh, aku taruh mana ya? Perasaan tadi selalu berada didalam tasku? Kok sekarang sudah tidak ada?” Diva kelabakan mencari ponselnya. Semua isi tas kecilnya yang telah seharian setia menemaninya itu ditumpahkan diatas kasurnya. “Apa mungkin dicuri orang?”
Diva masih kebingungan didalam kamarnya. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian-kejadian hari ini.
“Iya aku ingat sekali, aku tak sekalipun menggunakan ponsel itu. Dan aku ingat betul tadi pagi aku memasukkannya dalam tas ku. Dan tas ini lepas hanya beberapa kali saja dari pundakku. Yaitu saat sholat, dan ke kamar kecil waktu dicafe tadi, itupun aku meletakkannya didekatku saat aku merapikan make up. Apa mungkin wanita aneh berkacamata tebal, kecil tadi ya?” Diva mencoba merunut kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Diva merebahkan tubuhnya diatas kasur. Pikirannya kalut karena kehilangan ponsel tersebut.
Malam itu disebuah gang sempit diantara dua gedung besar. Beberapa kedipan lampu terlihat dari mobil sport yang tersamarkan karena kurangnya pencahayaan. Terlihat seorang berlari mendekati mobil itu setelah kedipan berhenti.
“Masuklah.” Perintah wanita dibalik kemudi pada lelaki yang menghampiri mobil sportnya. “Bagaimana?” Tanyanya lagi setelah lelaki berperawakan kecil duduk dan menutup pintu.
Lelaki botak berperawakan kecil itu hanya menyeringai tak menjawab, dia hanya menyerahkan sebuah ponsel pada wanita itu.
“Apa kamu yakin ini ponsel yang benar?” Tanya si wanita.
“Tentu saja itu ponsel target kamu.” Jawab lelaki itu.
__ADS_1
“Kamu yakin? Kenapa hanya satu?” Tanya wanita dengan dingin.
“Aku tak tahu rahasia apa yang kamu cari didalam sana. Dan aku juga tak mau tahu. Tapi sebagai profesional di bidang pekerjaan ini, aku yakin aku hanya perlu mengambil ponsel yang kamu pegang itu. Sebab, sebagai seorang yang terkenal sudah hal yang lumrah memiliki dua atau tiga ponsel. Dan aku sangat percaya dengan instingku didalam ponsel inilah yang kamu cari.”
“Maksudmu karena ini ponsel yang dibawa tapi selalu tersimpan rapi didalam tas?”
“Benar.”
“Kalau ini disimpan didalam tas karena rusak bagaimana?”
“Periksa saja sendiri sekarang. Kalau itu memang rusak aku akan sangat kecewa dan menderita malam ini karena telah meminum dua viagra tadi.” Jawab lelaki itu dengan pandangan menelanjangi tubuh wanita disampingnya.
“Aku akan memeriksanya dulu.” Lalu wanita itu memeriksa ponsel yang dibawakan lelaki itu. Setelah beberapa saat memeriksa, bibir wanita itu menyunggingkan senyuman. “Hmmm....”
“Bagaimana, apakah aku akan tersiksa karena viagraku dan terpaksa mencari pelacur dipinggir jalan? Atau kita bisa langsung menuju hyatt dan aku yang bayar semuanya. Kamu tinggal ngangkang saja. Hahahaha....”
“Hmmm... Jadi seperti itu? Kamu ingin aku melayanimu tuan kecil?” Kata wanita itu membungkukkan badan mendekat hingga dadanya yang besar itu seakan mau tumpah keluar dari tanktop hitam yang dikeanakannya.
“Hei, tubuhku memang kecil. Tapi juniorku ini sebesar singkong. Kupastikan kamu akan sulit berjalan dengan kaki rapat besok paginya. Hahahahaha...” Lelaki itu tertawa dengan keras. “Ayolah kita menuju hyatt sekarang, efek viagra ini mulai menyiksa juniorku.” Rengeknya lalu.
“Baiklah, kita berangkat sekarang.” Ujar wanita itu seraya menyalakan mobilnya. “Sekarang saja budakku!”
Lelaki itu kaget karena wanita disampingnya itu mengatakan budakku. Dia bermaksud bertanya maksud wanita itu, tapi kalah cepat dengan kunai dari kursi belakang yang telah memutuskan urat lehernya dan membuat lelaki berperawakan kecil botak itu meregang nyawa.
“Hahahahaha... Kamu ini terlalu serakah karena ingin dilayani oleh ratu cantik ini. Berkacalah dulu sampah! Dan aku akan mengatakan padamu, malam ini kamu tak perlu merasakan siksaan akibat viagra yang kau telan. Hahahahaha....” Ucap wanita itu sambil memandangi lelaki itu meregang nyawa dengan darah tersembur dari leher dan membasahi dashboard juga mengeluarkan erangan-erangan.
__ADS_1
Melihat darah yang menyembur dan mendengar erangan-erangan karena tersembelih. Wanita itu , Naginisa, langsung merasakan horny dalam tubuhnya. Nafasnya memburu tak beraturan. Dia langsung tancap gas mengarahkan laju mobilnya menuju luar kota.
Bersambung...