
“Bagaimana pendapat kamu Nab?” Tanya Josephira.
Kini mereka berdua tengah berada disebuah ruko dikawasan perniagaan paling elit dikota ini. Nabila kagum dengan ruko yang diperlihatkan Josephira padanya.
“Whaaah, ini besar kak. Apalagi berada dikawasan seperti ini. Sewanya pasti mahal.”
“Hehehe, kita lihat-lihat saja dulu kedalam.” Ajak Josephira sambil terkekeh.
“Ah maaf, saya terlambat.” Terdengar suara Adli yang sedikit terengah-engah.
“Bang Adli.” Seru Nabila saat melihat Adli setengah berlari mendekat. “Tidak bang, tidak terlambat kok.” Jawab Nabila lagi setelah berada Adli berdiri disebelahnya.
“Ah karena sudah lengkap. Ayo kita lihat-lihat kedalam dulu. Oh ya Ven kamu bawa dokumen pendirian perusahaannya?”
“Iya nyonya, saya membawanya.” Kata Vena, sekretaris pribadi Josephira. Dial lalu memberikan akta notaris pendirian perusahaan pada Josephira.
Sambil melangkah masuk kedalam ruko dan didampingi marketing properti yang menawarkan bangunan itu. Kemudian marketing itu memberikan penjelasan secara detil dari isi ruko tersebut. Nabila sangat puas.
“Bagaimana nona Nabila, apakah anda tertarik untuk menyewa ruko ini? Saya yakin dengan menggunakan ruko ini sebagai tempat usaha pasti akan cepat berkembang. Karena seperti yang anda ketahui ruko ini posisinya sangat strategis.” Kata pemudia marketing properti itu.
“Sebenarnya sih sangat tertarik. Dan saya sangat yakin dengan tempat ini. Tapi apa harga sewa dua ratus juta pertahun dan minimal sewa tiga tahun itu tidak bisa dikurangi?” Tanya Nabila lirih karena dia tidak terlalu percaya diri. Selama ini urusan seperti ini selalu ditangani Adli. Hanya saja mulai sekarang Adli akan mulai melepas Nabila agar bisa mandir tidak selalu bergantung orang lain.
“Waduh, itu adalah penawaran standar untuk wilayah prestisius seperti ini nona. Bahkan kalau saya boleh bilang itu sangat murah. Karena ruko didepan sana yang menjual tas branded itu juga saya sebagai marketingnya. Itu saya lepas dengan harga tiga ratus lima puluh juta per tahun nona.” Ujar marketing itu sambil menunjuk ruko diseberang jalan.
“Sebentar ya mas, saya akan berdiskusi dulu sebelum memberikan keputusan apakah jadi atau tidak nantinya.”
“Baik bu. Untuk sementara silahkan sambil berdiskusi anda bisa melihat-lihat lagi.” Jawab marketing dengan sopan.
Nabila mendatangi Adli yang tengah berbincang serius dengan Josephira dan Vena.
“Nah ini dokumen-dokumennya sudah lengkap semua. Penyertaan modal kamu dan nyonya Josephira sudah sesuai dengan kesepakatan.” Terang Adli setelah memeriksa dokumen yang disodorkan Josephira padanya tadi. “Terus bagaimana? Apakah kamu jadi mengontrak tempat ini?” Tanya Adli pada Nabila.
“Sebenarnya aku sangat menginginkan tempat ini. Tadi saat pertama kak Jose memperlihatkannya sja aku langsung jatuh cinta pada tempat ini. Tapi..”
“Tapi apa?” Tanya Adli.
__ADS_1
“Mahal.”
“Sewanya maksud kamu.”
“Iya, dua ratus juta pertahun dan harus sewa minimal dua tahun. Modal awal belum apa-apa sudah terpakai empat ratus juta. Padahal, tempat ini kan perlu direhab dulu. Perlu cat ulang, dekorasi ulang, pesan papan nama dan lain-lain. Belum lagi harus belanja untuk barang dagangan.”
“Hei, bukankah modal usaha kita masih cukup besar kalau hanya tergunakan empat ratus Nab.” Potong Josephira sambil tersenyum. “Kamu setor dua milyar aku empat milyar. Nilai empat ratus juta untuk tempat yang bagus seperti ini dibanding modal disetor itu tidak sampai satu persen Nabila.”
“Iya juga sih. Tapi kayaknya masih terlalu mahal kak.”
“Hahaha.. Ya sudah kamu tawar saja.” Titah Adli memberi semangat pada Nabila.
“Sudah bang. Tapi katanya harga yang dia tawarkan ini jauh dibawah harga yang dia tawarkan untuk toko diseberang itu.” Jawab Nabila sedikit manyun sambil menunjuk toko diseberang jalan yang menjual tas branded.
“Hmm… Oke, oke. Berapa nilai yang kamu inginkan? Nanti akan aku coba untuk menawar juga.” Kata Josephira.
“Yaa inginku sih berkurang lima puluh juta setahunnya kak.”
“Hmmm…” Jawab Josephira dengan bibir bawahnya menutup bibir atas dan mengernyitkan keningnya seolah berpikir. “Ayo kita datangi marketing itu.” Ajak Josephira lagi pada Nabila.
“Hmm…” Marketing itu tak langsung menjawab. Dia mengeluarkan ponselnya.
“Kamu tahu siapa aku kan?” Tanya Josephira pada si marketing.
“Maaf nyonya bram, tentu saja saya tahu. Maafkan saya.” Jawab Marketing itu sambil membungkukkan badannya. “Kalau begitu saya bisa memberikan diskon itu nona. Karena perusahaan kami ini merupakan relasi bisnis dengan perusahaan nyonya Bram, jadi untuk kali ini saya akan memberikan diskon.” Jawab marketing itu.
“Benarkah?” Teriak Nabila. “Kalau begitu mana dokumen-dokumen yang harus kami tanda tangani?”
Sebentar nona, nyonya Bram, saya permisi dulu untuk mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan dimobil saya. Agar bisa segera ditanda-tangani bersama.”
“Whoaaa… Bagaimana kak, bang, aku hebat kan dalam bernegosiasi?” Tanya Nabila dengan menaikkan kedua alisnya dua kali dengan nada bangga.
“Iya, iya.” Kata Adli. Meskipun dalam hati dia heran dan bertanya dalam hati, ‘Kenapa bisa begitu mudahnya marketing tersebut melepaskan tempat sebagus ini pada Nabila?’
“Sip, Hebat kamu! Gitu dong. Itu baru adik kakak.” Jawab Josephira dengan memberikan dua jempolnya.
__ADS_1
‘Cih, hebat apanya? Kalau saja kamu minta ini gratis pasti juga akan diberikan. Lah ini ruko kan salah satu aset tuan bram, marketing itu pasti takut dipecat kalau sudah nyonya yang minta.’ Cibir Vena.
Satu jam kemudian, dokumen sudah ditanda tangani dan kunci pun telah berpindah tangan.
“Oke, sekarang ke langkah selanjutnya. Kita akan panggil desain interior untuk menata lay out.” Kata Josephira dengan nada puas.
“Aku ada kenalan yang aku rasa cukup bagus untuk tata letak dalam gerai ini nantinya.” Kata Adli.
“Baiklah untuk urusan itu aku pasrakan pada Nabila. Dan Vena, karena Nabila ini masih belum punya relasi perusahaan perhiasan mewah dan batu mulia. Coba kamu hubungi agar mereka bersedia bertemu dengan Nabila.”
“Ya nyonya.Akan saya lakukan.” Jawab Vena.
“Nanti kamu sendiri yang mengurus perhiasan model dan jenis apa yang akan kamu jual disini.” Kata Josephira pada Nabila.
“Aku sendiri kak?”
“Iya. Kamu sendiri.” Tegas Josephira.
“Apa aku bisa kak?”
“Tentu saja kamu pasti bisa. Kakakmu ini punya indra keenam yang mampu menilai kamu.”
“Kenapa tidak dengan kakak saja?” Tanya Nabila lagi. Dia sebenarnya ragu karena ketakutannya sendiri.
“Hmmm… dalam akta pendirian kamu adalah direktur perusahaan ini. Sedangkan aku hanya seorang komanditer atau komisaris. Tugasmu menjalankan perusahaan, dan aku yang mengawasi kamu agar perusahaan selalu mendapat keuntungan.” Jelas Josephira. “Kamu pasti bisa. Kamu seorang wanita yang sudah sering menilai, memakai dan membeli perhiasan. Jadi aku yakin kamu pasti bisa.”
"Benar yang dikatakan nyonya Bram, jangan takut Nab. Aku nantinya juga akan membantumu. Jika ada kesulitan jangan sungkan untuk bertanya ya." Timpal Adli.
“Baiklah kak, bang, aku akan mencoba yang terbaik. Mohon kerjasamnya.”
“Bagus.”
“Target kita bulan depan toko ini akan menggelar soft opening.*) Dengan mengundang beberap kolega dan teman-teman kita. Dari sanalah kita bisa menilai apakah lay out ini sudah menarik atau perlu perubahan lagi. Menurut pengalamanku tata letak itu sangat berpengaruh untuk menarik minat konsumen kelas atas.” Kata Josephira lagi memberikan tenggat waktu. “Jadi untuk kamu Nabila, adikku tersayang, kamu harus bisa mengatur semuanya. Jangan kuatir Vena nanti juga akan banyak membantu kamu disini.”
“Siap kak.” Jawab Nabila.
__ADS_1
Bersambung…