
Nabila dan Diva tak bisa memberikan jawaban yang pasti tentang kondisi sebenarnya dari Adli. Keduanya memilih mengatakan tidak tahu, karena mereka takut memberikan keterangan yang salah.
Seorang lelaki dengan pakaian dokter keluar dari ICU. Safira segera memanggil dokter itu seraya mendekat padanya. Nabila, Diva, Nesy dan Bethoven juga mengikuti Safira. Mereka kini tengah mengerubungi dokter tersebut dan menanyakan perihal keadaan Adli.
“Begini, sampai saat ini saya hanya bisa mengatakan kondisi pasien stabil, tapi kondisi organ vitalnya sangat lemah. Jika dalam beberapa hari kedepan kondisi pasien bisa lebih baik saya bisa memastikan dia akan bisa keluar dari ruang ICU. Dan sebaiknya anda semua berdoa kepada Yang Khalik agar pasien bisa diselematkan.
Kami para tenaga medis hanya bisa berusaha.” Dokter itu memberikan penjelasan lalu berpamitan pergi.
Setelah dokter itu pergi, Nesy juga berpamitan.
“Jika kak Betho ingin pulang dulu, ga apa-apa kak. Diva disini saja.” Ujar Diva.
“Eeng.. Bagaimana ya?”
“Iya Betho, tidak apa-apa. Bukankan papa mama mu besok akan berangkat ke London untuk waktu yang lama? Pulang saja, orang tua kamu pasti ingin kamu ada didekat mereka saat ini.” Nasihat Nabila.
“Baiklah. Kalau begitu Bethoven pulang dulu tante, Diva. Oh ya Diva kalau ada perkembangan baru aku dikabari ya?.” Akhirnya Bethoven memutuskan untuk meninggalkan mereka bertiga.
Diva mengangguk lalu mengantarkan kekasihnya itu sampai keluar gedung.
Setelah hanya ada Safira, Diva dan Nabila saja, mereka bisa berbicara dengan akrab tanpa takut terpeleset omongan. Nabila memperkenalkan Diva dan mengakui secara terbuka bahwa dialah putri yang selama ini tak diakui didepan publik.
Nabila dan Diva juga menceritakan yang terjadi saat mereka berada didalam ruang ICU. Safira menyimak dan raut mukanya menampakkan kesedihan.
“Aku sudah menduganya. Jika saja kami tidak terpisahkan jarak sudah pasti aku akan lebih mendorong kakakku itu untuk lebih berani melangkah.” Ucap Safira dengan pandangan menerawang. “Semoga kakakku cepat sehat seperti dulu lagi dan kalian akan segera bisa menjadi satu.”
“Aamiin.” Ucap Nabila.
“Aku tak menyangka om punya rasa pada mama. Memang sih kami sangat dekat, tapi om tak pernah menunjukkan secara terbuka.” Ucap Diva ikutan dalam pembicaraan mereka.
“Iya itulah Diva. Kakakku itu bukannya takut untuk mengungkapkan perasaannya pada Diva. Tapi ada hal lain yang membuatnya harus berpikir ulang. Dan masalah itu adalah pada keluarga besar kami sendiri. Sebagian keluarga besar kami terutama yang sudah sepuh-sepuh masih banyak yang berpikiran kolot. Sebelum bersedia menjodohkan putra atau putrinya mereka selalu menimbang bobot, bibit dan bebetnya terlebih dulu kalau mereka memutuskan tidak maka seluruh keluarga besar akan kompak menentang pernikahan apapun keadaannya.” Safira berhenti menjelaskan untuk mengambil nafas. “Aku juga mengalaminya, tapi aku nekat dan memilih kawin lari dengan Steven. Padahal Steven dulu sudah banyak melakukan pengorbanan agar bisa diterima oleh keluarga besar. Tapi hasilnya nihil. Dan keputusanku adalah aku lebih memilih Steven dan diasingkan keluarga besar.”
“Jadi om memilih untuk lari daripada memperjuangkan cintanya? Itu maksud tante Safira?” Tanya Diva.
“Benar. Kakakku pasti sudah akan memperkirakan tentangan keluarga besar jika mereka mengetahui asal-usulmu Nab, maaf Nab.” Sambil melihat pada Nabila yang menangguk memaklumi. “Juga tentang kondisimu Nab yang telah hamil diluar nikah. Itu semua pasti menjadi pertimbangan kakakku. Dan disini dia tidak memiliki keluarga yang mendukung selain aku.”
__ADS_1
“Jika saja...” Gumam Nabila pelan.
“Benar, jika saja kakakku lebih berani dan jika saja keluarga besarku tidak terlalu kolot ini semua tak akan terjadi.” Sahut Safira.
“Bukan begitu, aku sama sekali tak menyalahkan bang Adli atau menyalahkan keadaan. Aku hanya berandai-andai saja dan membayangkan jika saja kami dalam ikatan pernikahan...” Nabila menjelaskan namun kesedihan hatinya tak mampu meneruskan kalimatnya. Air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan lagi.
“Ah sudahlah mah, tak baik berandai-andai. Lebih baik kita berdoa saja mah, tan, siapa tahu doa kita diijabahi dan segalanya akan diberikan kemudahan.” Ucap Diva.
“Putrimu benar Nab, aku salut dengan kalian. Meski harus merahasiakan hubungan dan setatus kalian didepan umum. Tapi kalian begitu saling mengisi dan mencintai.” Timpal Safir mengamini apa yang dikatakan Diva.
“Sebaiknya kita balik pulang saja Nab, Diva. Lihat disana papa dan pamanku sudah datang. Dan sejujurnya aku malas sekali berbincang-bincang dengan mereka jika tidak ada kakakku. Lagian ini juga sudah malam.” Ajak Safira seraya menunjuk pada kedatangan dua lelaki tua.
“Baiklah. Kamu tinggal dimana saat disini?” Tanya Nabila.
“Di hotel.”
“Dihotel? Bagaimana kalau malam ini kamu tidur dirumahku saja Fir?”
“Boleh jug daripada tidur dihotel sendirian. Sekalian kita bisa menyambung cerita lagi.”
Keesokan harinya.
“Belum ada hal baru.” Jelas Safira sambil membaca pesan pada layar ponselnya. Dia baru saja berkirim pesan dengan papanya untuk menayakan kabar terbaru tentang Adli.
“Hmmm, kita
buat sarapan saja dulu Fir.” Ajak Nabila.
“Baiklah, tapi aku tak pandai masak. Selama di Kanada paling aku hanya buat omelet dan roti panggang untuk sarapan. Padahal sewaktu berangkat kesini aku ingin sekali sarapan nasi goreng.”
“Bilang saja langsung. Nab, buatin nasi goreng dong. Panjang amat ngomongnya kaya kereta api?” Seloroh Nabila sambil tertawa lebar.
“Hahahaha! Kamu memang pantas jadi kakak iparku.” Jawab Safira santai. “Diva tak kesini Nab?”
“Biasanya sih aku yang kesana. Memang kenapa?”
__ADS_1
“Ga apa apa sih. Hanya saja kayaknya seru saja kalau dia ada disini sekarang.”
“Ah mungkin sekarang dia bersiap-siap untuk kerumah Bethoven. Karena hari ini orang tua Bethoven akan terbang ke Inggris dan akan disana mungkin sampai dua tahun.” Jelas Nabila sambil mempersiapkan bumbu untuk nasi goreng.
“Jadi seperti itu? Bethoven itu pacarnya ya?” Tanya Safira. Kini dia sudah sibuk dengan gagetnya. “Si Diva ini punya kanal yutub sendiri ya?”
“Ho oh. Aku melihatnya sudah lumayan banyak sih subscribernya.”
“Iya, sudah sekitar dua juta lebih. Berarti besar juga dong penghasilan putrimu ini dari buat konten?”
“Alhamdulillah, dari smp hingga sekarang aku tak terlalu memikirkan duit untuk membiayai dia. Hehehe..” Jawab Nabila sambil terkekeh.
“Aku siang ini sama dengan Diva, hanya ada acara untuk mengantar orang tua Bethoven. Baru ke rumah sakit melihat kondisi bang Adli.”
“Mereka sudah tahu tentang kalian berdua?”
“Belum sih, hanya saja orang tua Bethoven kebetulan adalah sahabatku.”
“Cukup rumit juga ya? Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Diva saat bertemu dengan kamu didepan orang tua Bethoven, apalagi jika sampai mereka akan menikah kelak?”
Nabila langsung teringat ucapan Diva saat menolak rencana pura-pura menikah dengan Bram. Dia mengaku sangat tersiksa saat memanggil tante didepan semua orang.
“Iya juga sih, dan aku tak pernah berpikir kesana. Tapi memang Diva pernah mengeluh ketika memanggilku dengan kata tante didepan banyak orang.” Jelas Nabila seraya memasukkan nasi kedalam penggorengan lalu mulai menggorengnya agar bumbu bisa merasuk. “Ah, semoga saja ada cara yang lebih mudah untuk membuat pengakuan didepan publik.” Harap Nabila.
Kini orang Bram dan Josephira sudah berangkat ke London. Safira juga ikut mengantar mereka.
“What? Tampaknya kita harus buru-buru ke rumah sakit Nab!” Ucap Safira setelah membaca pesan di ponselnya. Wajahnya tampak memucat.
“Kenapa? Apa yang telah terjadi dengan bang Adli?” Tanya Nabila bergegas memasuki mobilnya diiikuti Safira. “Langsung ke rumah sakit pak.” Perintah Nabila pada sopir.
Nabila lalu menghubungi lewat pesan singkat pada Diva dan mengatakan untuk segera kerumah sakit sekarang juga.
Setengah jam kemudian mereka telah sampai di depan ruang ICU. Sudah banyak keluarga Adli dan juga Nesy disana. Wajah mereka muram dan ada yang menangis didalam pelukan.
“Kakak sudah dinyatakan meninggal Nab.” Kata Safira dengan bersimbah air mata. "Kita terlambat Nab, padahal tadi kakak sangat ingin melihat kamu dan Diva." Ujarnya lagi dengan sesengukan.
__ADS_1
Bersambung...