MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 9 Diva & The Genk


__ADS_3

Genk BCD melangkahkan kakinya menuju kantor kepala sekolah. Dari ketiga gadis remaja itu, hanya Diva yang menampakkan wajah tenang, sementara si Cherry dan Bella keduanya berwajah tegang. Ini adalah pengalaman pertama mendapat panggilan kepala sekolah, meskipun yang dipanggil hanya Diva. Tetapi sebagai sahabat mereka sangat takut bila Diva mendapat masalah.


 Mereka telah sampai dan disuruh untuk memasuki ruangan kepala sekolah. Ketiganya lalu duduk disofa yang ada diruangan itu.


“Lho, apa saya sekarang telah menjadi pikun ya? Apakah tadi saya memanggil kalian bertiga, ataukah nama Diva memang benar ada tiga orang sekarang?” Sindir Prihandini pada genk BCD. Meskipun sebenarnya dia merasa maklum dengan gaya para anak baru gede ini.


“Eh, maaf bu. Kami hanya ingin mengantar, karena kami merasa Diva tidak punya salah bu.” Jawab Cherry menjelaskan maksud dia dan Bella ikut masuk diruangan itu.


“Diva juga tidak punya masalah bu. Kami sahabatnya sangat tahu itu.” Bella menimpali jawaban Cherry.


“Hmmm…, benarkah?” Tanya Prihandini.


Kedua gadis sahabat Diva itu mengangguk mantab dan cepat sambil menegakkan punggung mereka, seolah ingin memberikan kesan sang kepala sekolah telah keliru, dan mereka berdua siap membuktikan hal itu.


Prihandini tersenyum simpul melihat tingkah laku siswi-siswinya ini. Kepolosan mereka, juga loyalitas persahabatan mereka begitu kuat. Semoga persahabatan kalian langgeng sampai tua, doa Prihandini dalam hatinya.


“Baiklah, karena kalian adalah sahabatnya…, kalian pasti tahu kenapa Diva saya panggil?” Tanya Prihandini sambil mencondongkan tubuhnya kedepan lalu menatap Bella dan Cherry bergantian.


Bella dan Cherry menggeleng lemah sebagai jawaban untuk pertanyaan itu. Membuat Prihandini mengeluarkan seringaian dan itu berhasil membuat dua siswinya ini bergidik ngeri. Keduanya lalu menatap pada Diva seolah bertanya ada apa? Tapi Diva hanya mengangkat kedua bahunya sambil mendorong punggungnya untuk bersandar di sofa. Bella dan Cherry kompak melongo melihat jawaban Diva yang terkesan santai dan tidak peduli.


 “Lhoooo…, katanya sahabat dan sangat tahu?” Prihandini masih ingin menggoda kedua siswinya ini, dan ingin mengatakan untuk selalu bersikap check and recheck agar tidak terjebak karena mudah terhasut. “Oh, belum tahu yang sebenarnya ya?” Tanya Prihandini lagi.


Bella dan Cherry terdiam dan menunduk. Ekor mata mereka saling melirik satu sama lain. Lalu kompak melirik pada Diva yang hanya duduk diam bersandar di sandaran sofa tanpa ekspresi apapun.


“Makanya kalian itu harus selalu melakukan yang namanya check and recheck. Jangan mudah mengambil keputusan atau mengambil tindakan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengerti?” Tanya Prihandini dengan


intonasi penuh penekanan, berharap remaja-remaja ini benar-benar mengerti apa yang dia maksud.


Bella dan Cherry mengangguk pelan.


“Bagus. Sekarang saya akan bertanya pada Diva.”Prihandini mengarahkan pandangannya pada Diva setelah tadi dia selalu menatap Bella dan Cherry bergantian. “Diva, karena kamu telah terikat kontrak, dengan berat hati saya harus menyetujui permohonan kamu untuk memberikan sedikit keleluasaan tentang kegiatan belajar disekolah. Tapi…, dengan syarat nilai kamu tidak boleh turun dari semester lalu. Dan ingat, empat bulan lagi ada ujian kenaikan kelas. Jangan sampai kamu gagal, kalau kamu gagal jangan harap saya akan memberikanmu ijin lagi bolos untuk  syuting film, atau kamu harus pindah sekolah dari sini. Paham?”


Diva mengangguk sambil mendengarkan kepala sekolahnya berbicara. Tetapi tidak dengan dua sahabatnya, mulut mereka semakin terbuka dan terbuka, mereka belum tahu kalau Diva akan syuting sebuah sinetron remaja.


“Iya bu. Saya akan berusaha membagi waktu dengan baik.Dan prioritas saya adalah belajar bu. Jadi saya harus bisa naik kelas dengan nilai baik. Lagipula menurut rencana syuting ini hanya akan memakan waktu dua bulan bu, semoga diberi kelancaran.”

__ADS_1


“Baiklah, saya percaya sama kamu. Saya akan pegang kata-katamu. Dan…” Prihandini menatap bergantian pada Cherry dan Bella yang akhirnya tersadar untuk menutup mulutnya yang telah terbuka lebar, “kalian menjadi saksi janji Diva. Kalau sampai Diva tidak naik kelas tahun ini, maka tidak akan ada lagi ijin meninggalkan jam pelajaran. Bagaimana semuanya mengerti?”


“Mengerti bu.” Jawab mereka serempak.


“Baiklah, kembali kekelas kalian. Sebentar lagi  jam istirahat akan selesai.


“Baik bu.” Jawab Diva. Lalu berdiri dari duduknya diikuti oleh kedua sahabatnya. Diva melangkahkan kakinya, tapi ketika akan membuka pintu untuk keluar kantor Prihandini kembali mengingatkan.


“Ingat Diva, pendidikan itu yang utama. Jangan pernah terlena gemerlapnya dunia entertainment. Tanpa ilmu yang cukup kamu akan menjadi pihak yang kalah dan tertindas.”


Diva menoleh dan menganggukkan kepalanya dan melemparkan senyuman seolah mengucapkan terima kasih dan pasti akan mengingatnya.


Mereka bertiga kini telah berada dikelasnya.


“Jadi, kamu ini jahat. Aku benci kamu. Kamu menutupi hal seperti ini padaku dan Bella? Katamu aku dan Bella ini sahabat, yang akan selalu berbagai suka ataupun duka. Tapi lihatlah, kamu bahkan merahasiakan hal yang sangat besar pada kami berdua, kamu…”


“Maaf.” Potong Diva, karena kalimat Cherry akan terus dan terus seolah dia adalah kamus audio yang akan mengucapkan setiap kata yang ada dalam memorinya.


Cherry manyun mendengar kata itu. Dia masih belum bisa menerima permintaan maaf seperti itu.


 “Diva, aku juga marah. Kenapa hal seperti ini kamu rahasiakan pada kami? Kapan kamu ikutan casting? Kenapa tidak mengajak serta kami?” Bella yang lebih kalem mengungkapkan segudang pertanyaannya yang telah dipendamnya sejak di kantor kepala sekolah.


Wasis, guru Bahasa inggris sekaligus wali kelas mereka adalah seorang guru yang masih muda dan tampan. Penampilan khasnya adalah wajah yang baru dicukur dan telah tumbuh sedikit bulu hingga disekitar area itu


menjadi kebiruan terkesan macho juga lengan yang banyak ditumbuhi bulu. Meskipun terkesan keras, namun cara menyampaikan materi pelajaran begitu lugas, hingga banyak siswa dengan cepat memahaminya.


“Goodmorning. How are you today?” Sapaan khasnya membuka jam pelajarannya.


 “Goodmorning. We are fine, and you?” Seluruh siswa dikelas menjawab dengan serempak.


“I’m fine too. Thank you to all of you students.”


Itulah kalimat-kalimat pembuka yang selalu diucapkan pada setiap mata pelajaran yang dipimpin pak Wasis.


Sekolah telah usai. Diva seperti biasa akan berdiri di halte menunggu bis.

__ADS_1


 “Artis kok miskin?” Sebuah suara terdengar lirih disekitaran Diva yang sedang duduk dihalte.


 Dia lalu mencari asal suara, karena merasa dia sangat mengenali suara itu. Hanya saja dia tidak yakin, karena suara itu mirip dengan suara Cherry sementara si empunya suara tidak mungkin berada di halte ini. Secara ekonomi Cherry adalah anak orang kaya, yang kemana-mana naik mobil pribadi.


Dihalte itu, meskipun jam pulang sekolah, namun yang menunggu bis hanya bisa dihitung. Sebab sekolah tempat Diva menuntut ilmu hampir semuanya adalah kaum berada. Mungkin untuk saat ini hanya Diva yang paling sering duduk dihalte itu menunggu kedatangan bis.


Diva tersenyum lebar setelah mengetahui pemilik suara. Memang benar Cherry. Sejenak kemudian Diva  mengernyitkan dahinya heran.


“Kenapa kamu disini?” Tanya Diva pada Cherry.


“Ga seneng aku disini?” Cherry balik bertanya dengan nada ketus.


“Duh…, cantik… lagi pms nih? Ditanyain baik-baik kok galak amat jawabnya?”


“Kamu itu.”


“Aku? Kenapa?”


“Gitu ya…, baru jadi artis dan belum mulai syuting aja sudah jadi pelupa dengan janji sendiri.”


“Janji?” Diva menggerakkan bola matanya keatas seolah berfikir keras. “A-Ha.” Diva lalu tersenyum lebar seolah sudah tahu akar masalahnya. Sejenak pula wajah Cherry kegirangan. “Apa ya Cher, aku lupa tuh.” Goda Diva.


Mulut Cherry langsung mengerucut. Sementara Diva tertawa cekikikan. Dia senang berhasil mengerjai temannya ini.


“Iya… iya… aku jelasin sekarang. Mumpung bis nya belum datang.”


“Kamu ga boleh pulang sebelum cerita lengkap. Kalau perlu supirku mang Udin aku suruh untuk mengikat kamu, hingga kamu ga bisa pulang kerumah seharian. Mengerti sahabatku yang cantik?” Anccam Cherry dengan melotot


yang dibuat-buat. Membuat Diva ngakak keras.


“Oke bosque. Begini ceritanya.”


Lalu Diva bercerita awalnya dia bisa ikutan casting, lolos dan mendapat kontrak.


 

__ADS_1


Bersambung…


\==============


__ADS_2