MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 75 Sahabat Masa Lalu


__ADS_3

Diva dan Bethoven telah sampai di ICU. Oleh tim medis mereka disuruh menunggu karena Adli sudah tertidur akibat  pengaruh obat yang disuntikkan. Disana Diva dan Bethoven melakukan obrolan seputar kondisi Adli dengan  beberapa anggota keluarganya.


Beberapa saat kemudian, Nabila juga sudah sampai di depan ruang ICU. Sama seperti halnya Diva, Nabila juga  dilarang untuk menemui karena kondisi Adli yang masih tertidur.


Nabila melihat Nesy sedang berbicara dengan Diva dan seseorang yang sudah sangat lama tak dia jumpai.


“Safira*). Itu kamu?” Seru Nabila setelah memastikan yang berbicara dengan Diva dan Nesy adalah Safira.


Safira adalah adik perempuan satu-satunya Adli. Ketika Nabila harus bersembunyi di Singapura dan putus sekolah,  menjadikan hubungan mereka terputus. Dan setelah Nabila kembali ke Indonesia, Safira telah berkuliah di  sydney dan bertemu jodohnya disana. Tetapi karena suatu masalah Safira tidak pernah pulang lagi dan kabar terakhir yang diterima Nabila Safira menetap di Kanada sekarang bersama sang suami.


“Nabila?” Teriak Safira setelah mengetahui yang memanggilnya adalah sahabatnya semasa SMP dulu. “Bagaimana kabar kamu?”


“Alhamdulillah, baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Dan mana suami kamu?”


“Aku baik-baik saja Nab. Steven masih di Kanada sama anak-anak. Kebetulan aku ada urusan disini untuk satu  minggu kedepan. Baru saja dua hari lalu temu kangen sama keluarga besar, eh, tadi siang mendapat kabar bang  Adli tiba-tiba collaps.” Jelas Safira dengan wajah sedih menutup kalimatnya.


“Iya, aku juga kaget. Sebelumnya tak pernah bang Adli mengeluh sakit apapun, jadi tadi waktu dapat chat, aku  panik dan bingung banget. Memangnya dokter bilang bang Adli sakit apa Fir?” Nabila menyeret Safira sedikit  menjauh dari Nesy dan yang lainnya. Karena dia takut Safira akan bertanya tentang kehamilannya yang dulu.


“Menurut dokter tadi, abang kena serangan jantung. Sepertinya dia sangat kelelahan dan pola makannya kurang  sehat. Emang abang itu gila kerja, aku tahu sejak dulu. Makanya dari dulu setiap kali kita telpon-telponan selalu  kutanyakan kapan menikah biar ada yang merawat. Dia selalu bilang nunggu keberanian.”


“Nunggu keberanian? Eh, kok gitu?”


“Iya dia selalu bilang seperti itu. aku ga tahu siapa sih yang ingin dia kawinin? Kenapa ga kamu aja sih Nab?”


“Hehehe... Aku sih mau saja. Tapi bang Adli ga pernah ngajakin.” Jawab Nabila.


“Kita ke kantin saja yuk. Nanti kalau abang bangun biar sekretaris abangku memberitahunya.” Ajak Safira yang  disetujui Nabila. Setelah menitip pesan pada Nesy mereka berdua turun menuju kantin rumah sakit yang berada  diluar gedung.


“Eh, sebenarnya aku tadi tuh hampir mengira Diva itu kamu loh. Habisnya mirip banget sama kamu waktu dijaman  sekolah dulu.” Ujar Safira ketika mereka sudah duduk dibangku kantin rumah sakit.


Nabila hanya tersenyum saja mendengar itu.

__ADS_1


“Tapi instingku mengatakan dia memang putrimu kan? Abang dulu pernah bercerita sih, tapi aku agak-agak lupa karena sudah terlalu lama.”


“I-iya Fir, Diva itu putriku.” Terang Nabila lirih sambil kepalanya menoleh kekanan kekiri, seolah takut ada orang lain yang akan mendengarnya.


Safira menghela nafasnya dalam-dalam.


“Pantas saja.”


“Tapi kami merahasiakan hubungan kami itu dari publik Fir. Aku masih merasa malu karena dulu begitu bodoh  menyerahkan segalanya pada Ferdi.”


“Iya aku paham. Dan kalian bertiga sungguh hebat, terutama Diva. Dia begitu tenang meski melihat kamu tadi.  Kalian keluarga artis yang sangat berbakat.”


“Pantas saja, abang ingin berbicara khusus dengan kalian berdua nanti. Pasti ada hal lain yang kalian rahasiakan  ya?”


“Tidak, tidak ada. Hanya itu Fir yang kami rahasiakan. Kamu kan sahabatku sejak dulu, jadi aku berani bercerita.  Dan juga pastinya kamu sudah tahu, dulu aku sempat pacaran dengan Ferdi terus menghilang.”


“Iya juga sih, tapi sebenarnya aku sudah rada-rada lupa.” Safira berhenti sebentar untuk meminum kopinya.  “Ngomong-ngomong kalau aku memintamu menikah dengan abangku bagaimana Nab?”


“Kamu ini, yang harusnya meminta aku untuk menikahi bang Adli ya bang Adli sendiri. Masa kamu sih?”


“Tentu saja.” Jawab Nabila sambil mengangguk.


Senyuman lebar terlukis indah diwajah Safira. Dia merasa sangat bahagia, akhirnya bisa menjodohkan kakaknya  dengan Nabila yang adalah sahabatnya dimasa lalu.


“Mungkin inilah yang ditunggu bang Adli.”


“Maksud kamu apa Fir?”


“Kamu harus tahu, setiap kali aku bertanya kapan abang menikah, dengan siapa, jawabanya selalu sama. Masih  menunggu keberanian. Dan setelah mendengar ceritamu tadi, aku jadi yakin kenapa bang Adli menundanya   selama ini.” Safira berhenti sebentar.  “Kalau kamu tahu, bahwa keluarga besarku adalah termasuk orang yang  sangat kolot maka kamu akan mengerti dilema yang dialami oleh bang Adli. Ah, sudahlah nanti juga kamu akan tahu sendiri.”


Sementara itu ditempat lain.

__ADS_1


“Aneh, kenapa reporter yang kuarahkan ke rumah besar Bram tak mendapat berita apapun perihal pernikahan Bram dengan Nabila ya?” Kata Naginisa setelah mendapatkan konfirmasi dari teman medianya. “Rumah besar itu  memang biasa tertutup, tapi juga tidak ada aktifitas apapun dalam beberapa hari ini. Apakah pernikahan itu batal  atau Bram terlalu hebat dalam merahasiakannya?”


Naginisa masih mondar-mandir didalam apartemen mewahnya. Sementara Ferdi sang budak *** tampak tak peduli dengan kebingungan tuannya. Dia sangat intens melihat kanal yutub Diva, yang kini dia tahu bahwa itu adalah putri kandungnya.


“Apa yang harus kulakukan agar rumah tangga Josephira itu kacau. Dari dulu selalu saja kegagalan yang kutemui.  Kekuatan cinta mereka terlalu dalam dan mengikat kuat.” Tanya Naginisa lagi pada dirinya sendiri.


Naginisa lalu duduk sambil terus memikirkan caranya agar bisa merusak keharmonisan keluarga Bram dan  Josephira. Dipukulkannya pelan-pelan cambuk yang dipegangnya ke telapak tangannya sendiri. Pikirannya terus  melayang mencari cara.


“Sial! Apakah hanya cara itu saja? Tapi kalau sekarang aku blow up, apakah efeknya akan mengena pada Bram  dan keluarganya? Aku tidak yakin akan hal itu sebelum aku tahu kepastian pernikahan kedua Bram.”


Kembali ke rumah sakit.


“Apa yang akan dibicarakan om Adli ya kak?” Tanya Diva pada Bethoven.


“Entahlah. Aku tidak tahu Diva.” Jawab Bethoven sambil mengedikkan bahunya. “Mungkin sesuatu yang sangat  penting. Mungkin tentang pekerjaan besar, entahlah. Kita berdoa saja apapun itu semoga yang terbaik untuk kita semua.”


“Aamin.. Benar juga kak.”


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Diva, segera pesan itu dibacanya yang memberitahunya kalau Adli telah terbangun dari tidurnya.


“Aku akan bersiap kedalam kak, sambil menunggu tante Nab.” Ujar Diva setelah membaca pesan pada Bethoven.


Beberapa saat kemudian ibu dan anak itu masuk kedalam ICU menemui Adli.


Diva langsung menitikkan air matanya melihat tubuh Adli yang dipenuhi dengan alat bantu medis. Mulai dari slang  infus, alat pendeteksi detang jantung dan denyut nadi, hingga dengan alat bantu pernafasan. Hatinya tak tega  melihat orang yang dikaguminya itu dalam kondisi yang demikian adanya.


“Om..” Panggil Diva lirih.


Perlahan Adli membuka matanya yang terpejam.


Bersambung...

__ADS_1


_____________


*Footnote : )    Baca eps. 3


__ADS_2