
“Kok kak Jose kesini sih?” Tanya Nabila dengan nada kuatir.
Josephira hanya memajukan bibirnya manyun. Perutnya terlihat menyembul dibalik baju hamil yang dia kenakan. Satu tangannya memegangi pinggangnya agar jalannya tidak terasa berat didepan.
“Ini sudah tujuh bulan usia kandungan kakak. Harusnya kakak dirumah saja. Biar aku yang kesana.” Kata Nabila lagi sambil membimbing Josephira untuk duduk.
“Bosan tahu. Tadi Bram juga melarang aku keluar, karena kemarin aku ketahuan jalan-jalan ke mall sendirian. Untung saja tadi aku bisa menyelinap, mengelabui pengawalku, lalu aku pergi kesini menyetir sendiri.” Jawab Josephira.
“Kak Bram benar itu kak. Harusnya kakak ga boleh jalan-jalan sendiri. Tuh lihat kaki kakak terlihat bengkak.” Ujar Nabila membenarkan tindakan suami Josephira yang melarang istrinya ini untuk jalan-jalan sendirian. “Eh, jadi kakak kesini menyetir sendiri? Haduuuh… aku baru tahu kalau kakak ini tipikal pemberontak ya?” Tanya Nabila yang dijawab dengan senyum jenaka oleh Josephira. Yang membuat Nabila merasa sangat gemas.
“Ambilkan aku minum es yang manis Nab. Aku haus nih.” Perintah Josephira.
“Air dingin saja ya kak? Minuman manis kurang baik untuk kondisi kakak sekarang. Tuh lihat kaki kakak. Udah bengkak gitu. Kata dokter minuman dan makanan yang manis-manis membuat banyak kesulitan untuk kakak dan dedek bayinya kelak.” Bujuk Nabila, karena dia tahu Josephira akan terus merengek hingga akhirnya dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Ayolah Nab, kamu tahu kan ini kemauan dedek bayi?” Pintanya lagi pada Nabila dengan wajah memelas.
“Jangan kak. Air dingin saja.” Kata Nabila tegas lalu membuka kulkas kecil dalam kantornya dan mengambilkan satu botol air mineral dan juga gelas. “Kakak ini termasuk ibu hamil dengan resiko tinggi, karena faktor usia, dan juga faktor jarak kehamilan. Nanti bisa berbahaya untuk kakak.”
“Hiks, hikx, jahat. Kamu jahat Nab.” Rengek Josephira seperti anak kecil.
“Enggak, enggak, jangan pakai jurus memelas seperti itu. Enggak bakalan mempan.” Jawab Nabila membuang muka karena dalam hatinya dia tidak tega.
Nabila teringat masa-masa dulu dia mengandung di negeri orang. Minah dengan telaten tapi tegas menjaganya. Sebenarnya dulu dia juga pernah mengalami ngidam tapi selalu ditahannya karena tak mungkin dia menyuruh Minah kemana-mana untuk mencari apa yang dia inginkan. Bisa-bisa Minah kesasar dan hilang di Singapura.
Sebenarnya pada waktu itu Nabila takut anaknya akan jadi ileran karena ngidamnya tak terkabul. Tapi dia selalu ingat apa yang diomongkan Minah waktu itu.
“Semua yang masih bayi pasti ileran Nab, karena mereka tidak bisa meludah. Coba kamu pikirkan jika Allah memberi bayi itu langsung bisa meludah, para emak yang memandikan, menimang dan menggoda bayi akan diludahi oleh mereka.”
Begitu nasihat Minah kala itu. Memang konyol sih, tapi ada benarnya juga logika yang disampaikan Minah.
“Kok kamu melamun Nab?” Tegur Josephira. “Makanya kamu nikah dong, jangan pake alasan trauma.”
“Lah, aku memang takut kak.”
“Sampai kapan hah? Gara-gara kamu ga cepetan menikah sampai jadi perawan tua. Aku jadi hamil lagi deh.”
“Woeyyy, apa hubungannya kehamilan kakak dengan aku yang ga nikah-nikah?”
__ADS_1
“Kalau kamu…. Katakanlah dua tahun lalu udah menikah, kamu sekarang pasti udah punya baby. Jadi aku dan Bram ada kegiatan momongin anak kamu lah. Gara-gara kamu ga nikah-nikah, aku dan Bram jadi ga punya kegiatan lain selain bercinta. Hahahaha…”
“Yeee, itu sih emang kakak berdua doyan banget kan?” Jawab Nabila keki mendengar seloroh Josephira tadi.
Josephira tertawa lepas. Dia bahagia karena bisa bercanda bebas dengan Nabila.
“Tapi beneran loh Nab, aku ini penasaran banget, masa udah sekian tahun lamanya kamunya masih phobia cinta?” Tanya Josephira lagi dengan wajah seriusnya.
“Eng Bagaimana ya kak menjelaskannya? Yang pasti aku belum bisa merasakan lagi perasaan cinta seperti dulu.”
“Hmm… Kalau saja aku bisa membaginya?” Ujar Josephira lagi dengan pandangan menerawang.
“Membagi apaan kak? Duit ya?” Tanya Nabila cengengesan.
“Kamu ini.” Sahut Josephira manyun. “Kalau masalah harta aku kan sudah berbagi sama kamu Nab. Buktinya aku setor modal besar dengan entengnya ke perusahaan baru kamu tanpa perlu jaminan apapun.”
“Iya juga sih. Lah terus apa maksud kakak barusan?”
“Kalau aku berbagi, kira-kira aku kuat ga ya?”
“Begini Nabila sayang. Entah mengapa aku itu seneng banget saat bersama kamu. Makanya tadi sempat kepikiran, jika kamu mau jadi istri keduanya Bram, apakah aku mampu ya?”
Nabila melotot mendengar kalimat-kalimat Josephira. Dia tak habis pikir.
“Ada apa dengan kamu kak?” Tanya Nabila lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Josephira. “Ga panas? Apa mungkin lagi kesambet ya?”
“Ish! Apaan sih kamu ini?” Kata Josephira sambil menepis telapak tangan Nabila.
“Habisnya, kakak ngaco sih.”
“Hehehe, tapi aku seriusan loh. Jika aku mati duluan daripada Bram dan kamu. Maka akan kupinta Bram untuk menikahimu. Beneran!” Josephira lanjut lagi omongan ngaconya.
“Aish, kakak ini ngomong apaan sih. Makin kesini makin ngelantur saja.”
“Sungguh Nab.”
“Iya, iya aku percaya. Udah deh kak, ngomong yang lain saja deh. Serem amat ngomong meninggal duluan segala.”
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kantor Nabila dibuka dengan kasar. Lalu muncullah sosok Bram dengan tampang dingin dan aura membunuh menatap pada Nabila.
“Eh kak Bram.” Pekik Nabila kaget. “Masuk kak.” Katanya lagi salah tingkah.
“Kamu ini sudah tahu kakakmu hamil tujuh bulan malah kamu suruh datang kesini!” Bentak Bram pada Nabila.
“Oh… Eh…” Nabila tak sanggup berkata apa-apa menghadapi tatapan membunuh Bram.
“Bukan dia yang menyuruh Bram. Inisiatifku sendiri untuk datang kesini.” Bela Josephira lalu berdiri dengan susah payah. Membuat Bram tergopoh-gopoh mendekat dan memapahnya.
“Aku pulang dulu Nab. Assalamualaikum.” Pamit Josephira.
“Waalaikumus-salam…” Jawab Nabila sangat tertekan karena terus ditatap tajam oleh Bram.
+==o0o===
“Akhirnya ujian kenaikan kelas ini selesai juga.” Kata Bram ceria. Dia kini sedang menunggu Diva untuk pulang bersama. Jadwal syuting sinetron mereka masih tiga hari lagi. “Hmm… beberapa minggu lalu Diva ulang tahun. Itu artinya Diva sudah tujuh belas tahun. Aku akan menembaknya lagi. Dan pasti akan diterima. Harus itu. Aku tak mau melihat Diva didekati cowok lain.”
Kini mereka telah berada didalam mobil yang disetir sendiri oleh Bethoven.
“Diva, besok malam kamu ada acara ga?”
“Sebentar kak, kayaknya sih hanya membantu Dodit saja untuk mempertajam ide yang akan dieksekusi menjadi konten. Emang kenapa kak?”
“Maukah kamu makan malam denganku besok malam?”
“Hmmm..” Diva menggigit sedikit bibir bawahnya mencoba menimbang-nimbang. “Kayaknya bisa kak. Berdua saja atau rame-rame. Aku bisa telepon Bella dan Cherry. Aku kangen sama Cherry karena hanya dia yang ga satu sekolah dengan kita.”
“Jangan,jangan, makan malam rame-ramenya kapan-kapan saja. Aku ingin makan malam berdua sama kamu. Bagaimana bisa kan?”
“Emangnya ada apa sih kak? Kok kita berdua saja?” Tanya Diva dengan polosnya.
“Jawab bisa aja dong Diva. Jangan tanya yang lain-lain dulu.” Sergah Bethoven sedikit jengkel.
“Oke deh, bisa kak. Aku tunggu besok malam ya.”
Bersambung…
__ADS_1