MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 44 Bermanja


__ADS_3

“Nab, apa bisa hangout siang ini?” Tanya Josephira dari seberang telepon. “Udah lama banget nih kita tidak hang out.”


“Eh bisa kak. Kebetulan sekali. Padahal aku baru berencana telepon kakak tapi kalah dulu. Hihihi…” Jawab Nabila. “Ketemu dimana kak? Ditempat biasanya?”


“Iya ketemu disana saja. Nanti kalau bosan kita pindah ketempat lain.”


“Oke kak, sekarang juga aku o te we kesana. See you kakak cantikku.” Nabila langsung menyuruh sopir yang  mengantarnya untuk menuju ketempat yang telah dijanjikan.


Di sebuah sudut mall terbesar dan megah Nabila dan Josephira bertemua. Mereka mengobrol dengan  santai dan gembira selayaknya dua wanita cantik bersaudara yang sudah lama tidak bertemu.


“Dari tadi kita mengobrol sepertinya ada hal yang kamu pikirkan Nab?”


“Iya kak, sedikit sih. Tapi ga ada masalah kok.” Jawab Nabila santai.


“Eeee, kamu ini kebiasaan banget deh. Kamu anggap kakak cantikmu ini apa? Ayo cerita barangkali kakak bisa membantu.” Sergah Josephira.


“Sebenarnya aku ingin memulai usaha bisnis kak, dan memulai kesibukan didunia entertain.” Jawab Nabila. “Tapi…”


“Tapi apa?” Tanya Josephira penasaran.


 “Aku kan ga punya pendidikan tinggi kak. Hehehe…” Jawab Nabila malu-malu mengakui kalau dia hanya  punya ijazah sekolah dasar saja. “Juga aku ga punya pengalaman apapun soal berbisnis. Semua urusan  sudah dihandle sama bang Adli. Aku hanya bekerja dan terima matangnya saja.” Nabila berhenti sebentar,  “Lagian aku ga tahu bisnis apa yang menjanjikan dan menguntungkan untuk saat ini.”


“Hmmm… Kamu serius nih?”


“He eh.” Jawab Nabila sambil menganggukkan kepalanya. “Usiaku sudah tidak muda lagi. Sekarang banyak  bintang-bintang baru yang lebih cantik dan berbakat. Sudah waktunya bagiku kak untuk mempersiapkan  masa pensiunku.”


“Begini saja, kita patungan untuk buka usaha. Dan aku sudah punya ide. Bagaimana kalau kita buka gerai toko perhiasan?”


“Emang kakak mau patungan dengan aku yang bodoh ini?”


“Hadeew… kamu ini. Bukan hanya patungan. Kita akan bekerja sama sebagai direktur. Kita akan kembangkan usaha bersama. Gimana?”

__ADS_1


“Boleh juga kak. Kalau kakak yang mendampingi aku jadi percaya diri deh.” Jawab Nabila antusias. “Tapi…”


“Apalagi sekarang?”


“Memangnya kak Bram akan memberikan ijin pada kak Jose? Sebab kak Bram itu kan udah tajir melintir kaya sultan.”


“Hahahaha, kamu ini emang ga tahu apa pura-pura ga tahu sih? Gerai dengan nama J-Ewelery itu punya siapa? Kalo kamu lagi beli perhiasan kan sering disana juga.”


“Iya, apa hubungannya?” Tanya Nabila polos.


“Itu kan semuanya aku yang kelola sendiri Nabila. Itu usaha utama keluarga besar aku. Makanya aku diberi  ijin sama Bram. Dia hanya sesekali memantau atau membantu kalau ada masalah yang sulit kuatasi.” Jelas  Josephira. “Sudah sepuluh tahun aku berusaha sendiri dan sekarang telah lebih dari delapan cabang di  seluruh negeri ini.” Ujar Josephira dengan bangganya.


“Wow. Kak Jose hebat banget.” Pekik Nabila semakin mengagumi sahabatnya yang berusia empat puluh tahun tapi kecantikannya masih belum ada tanda-tanda memudar itu.


“Iya, makanya kita patungan saja. Kamu buka brand kamu sendiri.”


“Loh kenapa ga nebeng nama brandnya kakak saja?”


“Itu kan usaha kamu. Berkembang atau tidaknya tergantung usaha kamu dengan sedikit bantuanku, dan juga takdirmu.” Jelas Josephira lagi. “Terus kamu juga akan punya kebanggaan tersendiri, bisa mandiri, bisa  mengembangkan usaha sendiri. Percaya deh rasa bangga itu akan kamu dapatkan. Dan itu merupakan hasil jerih payah kamu sendiri.”


“Iya benar. Sudahlah untuk format kerjasama kita nanti biar diurus Vena asisten pribadiku. Setelah kamu  setuju dengan format kerjasama yang kusodorkan kita akan mencari tempat yang bagus dan merenovasinya  sesuai selera kamu. Bagaimana?”


“Boleh, boleh, boleh, makasih ya kakak Josephira yang cantik selangit kaya bidadari tak bersayap.” Jawab  Nabila cengengesan. Dia tidak menyangka akan semudah ini menemukan jalan keluar dari keinginannya.


“Gombal!” Kata Josephira lalu terbahak-bahak. “Kita spa sekarang ya Nab. Tiba-tiba aku pengen banget spa.” Ajak Josephira.


“Oke kak. Tapi kakak yang traktir kan? Kakak kan istrinya sultan.” Jawab Nabila cengengesan.


“Hiii… kamu ini kalau sama aku sering tak punya malu ya?” Jawab Josephira dengan gemas melihat sahabatnya itu.


Sementara Nabila hanya cekikikan saja ketika Josephira mencubit dua pipinya. Seperti seorang kakak pada adik kecilnya dengan perasaan gemas.

__ADS_1


\==o0o===


“Mah, bu, aku besok berangkat ke lokasi syuting. Dan menurut jadwalnya sih sekitar satu minggu disana,  baru balik syuting disini.” Pamit Diva pada Nabila dan Minah.


“Terus pengumuman kelulusan kamu kapan?”Tanya Nabila.


“Iya. Ibu harap kamu lulus dengan nilai terbaik Diva.” Sambung Minah.


“Kalo ga salah ingat sih sekitar dua minggu lagi lah mah. Insyaallah Diva lulus dengan nilai yang baik.  Karena hampir seluruh soal latihan yang diberikan pak Virgos muncul sebagai soal ujian mah, bu.” Terang  Diva sangat senang.


“Syukurlah kalo begitu.” Jawab Minah.


“Ya sudah, kamu persiapkan saja keperluan kamu sama asisten-asisten kamu.”


“Iya mah.”


“Kamu sendiri hari ini mau kemana Nab?” Tanya Minah setelah Diva pergi untuk mempersiapkan keperluannya selama proses syuting.


“Hanya dua kali pengambilan foto untuk suatu produk siang ini. Terus rehat. Baru malamnya pergi syuting  acara talk show di stasiun tv bik.” Jawab Diva. “Tapi siang nanti pas rehat aku ada janji sama kak Josephira  melihat ruko yang akan kami kontrak untuk gerai perhiasan kami. Doakan lancar ya bik.”


“Aamiin. Aku selalu mendoakan kalian berdua. Berarti jadi ya kamu beralih ke bisnis perhiasan?”


“Insyaallah bik, semoga ini bisa membuat aku jadi lebih banyak waktu untuk melihat Diva.” Kata Nabila. “Kasihan anak itu, sudah harus berpikir mandiri sejak dini.”


“Benar Nab. Tapi bersyukurlah Diva merasa sangat bahagia meski dengan kondisi seperti ini.”


“Semua berkat bibi Minah. Terima kasih ya bik, telah merawat kami berdua.” Ucap Nabila terus memeluk tubuh Minah dan menangis.


Nabila bukan menangis karena sedih atau mengeluh. Dia menangis bahagia karena setelah melakukan  kebodohan dimasa lalu kemudian mendapatkan hinaan lalu harus hidup dinegeri orang agar aibnya tidak  diketahui publik. Dia dipertemukan dengan orang-orang yang selalu mendukungnya disaat terjatuh.


“Sudah, sudah, bibi sangat senang melihat kalian bisa jadi seperti sekarang. Kalian dan bibi adalah sama.  Sama-sama sebatang kara. Jadi kita harus selalu saling membantu, mendukung sesuai kemampuan kita.”  Jawab Minah juga dengan linangan air mata kebahagiaan. “Bibi selalu menyayangi kalian berdua.”

__ADS_1


Nabila melepaskan pelukannya. Sebenarnya dia masih sangat ingin berlama-lama bermanja-manja dan  bercerita dengan Minah seperti masa lalu dinegeri orang. Tapi untuk saat ini dia harus berangkat bekerja,  karena ponselnya telah berdering karena mendapat telepon dari asistennya.


Bersambung…


__ADS_2