
Cuplikan Eps. Sebelumnya...
Setelah Nadia keluar dari hotel, pria tadi menatap Nabila dengan tatapan hangat dan tanpa berbicara dia menjentikkan jarinya keatas.
Beberapa saat kemudian terlihat dari arah dapur restaurant datang seorang lelaki dengan pakaian ala chef. Dia mendorong troli makanan. Diatas troli terlihat tudung saji makanan berbentuk setengah lingkaran. Nabila hanya diam dan memperhatikan saja, ketika lelaki itu berhenti disamping meja lalu membungkuk memberi hormat pada sang CEO. Sang CEO yang memang belum mengenalkan namanya itu hanya mengangguk sedikit, sebagai isyarat pada pelayan tadi untuk menyajikan.
Lelaki dengan pakaian ala chef itu lalu membuka tudung saji dan lalu mengambil hidangan yang telah dipersiapkan lalu meletakkan didepan Nabila, satu porsi nasi goreng dengan telur mata sapi tersaji dengan indah disana.
Mata Nabila terbelalak. Ini adalah menu sarapan faforitnya. Hampir tiap hari dia selalu sarapan dengan nasi goreng dan telur mata sapi. Nabila memandang sang CEO dengan pandangan bertanya yang dijawab dengan senyuman tipis dan bahu yang mengedik. Pelayan tadi masih menyediakan untuk Nabila, kali ini dia menuangkan lemon jus. Kembali Nabila menelan salivanya karena aroma jus jeruk itu sangat menggodanya.
Setelah semua tersaji bagi Nabila, kini pelayan itu membuka berganti menyajikan menu yang sama untuk sang CEO. Setelah itu sang pelayan membungkuk memberi hormat lalu meninggalkan mereka berdua.
“Eh-hem.” Nabila berdehem karena bingung mau mengawali pembicaraan.
“Ah iya nona Nabila?” Tanya sang CEO sedikit terbata. Terlihat sangat jelas sang CEO ini salah tingkah.
“Anda sudah mempelajari saya?” Tanya Nabila tajam. Membuat wajah putih sang CEO merona merah seolah ketahuan berbuat hal yang memalukan.
“Ah iya, eh tidak, ha-hanya sedikit nona.” Jawabnya semakin terlihat betapa salah tingkahnya sang CEO.
“Hmmm... Terima kasih karena saya sangat menghargai ini tuan, dan saya jadi sangat berbahagia pagi ini. Tetapi...”
“Benarkah? Anda menyukainya?” Tanya sang CEO dengan wajah merekah berbinar seolah telah berhasil mendapatkan intan berlian sebesar telur angsa. Nabila hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum manis menjawab pertanyaan itu. Tak urung sang CEO semakin salah tingkah melihat senyum manis dari wanita cantik didepannya dan membuatnya tak sengaja menyenggol sendok hingga jatuh kelantai.
Klunting!
Suara dentingan sendok mengkilap itu menggema memecah keheningan restauran yang memang berisi mereka berdua saja. Nabila tersenyu dikulum melihat kejadian itu dan menutup mulutnya yang terseny m itu dengan satu telapak tangan agar sang CEO tidak semakin malu dibuatnya.
“Eh maaf, maaf, maafkan saya nona Nabila.” Ujarnya berkali-kali.
Seketika seorang pelayan yang lain berlari kemeja mereka dan mengambil sendok yang jatuh lalu mengganti dengan sendok baru bagi sang CEO. Setelah itu pelayang tadi berlalu pergi.
“Sekali lagi saya mohon maaf nona Nabila. Saya telah menodai momen kebahagiaan anda pagi ini.” Kata sang CEO lagi.
‘Wow, menodai momen kebahagiaanku? Sebuah pemilihan kata yang wow banget.’ Batin Nabila seraya tersenyum mendengar ucapan sang CEO. “Tidak tuan, anda tidak menodai kebahagiaan saya pagi ini.”
__ADS_1
“Betulkah? Tapi bisakah anda tidak memanggil saya dengan sebutan tuan?”
“Terus saya harus memanggil anda bagaimana? Nama anda saja saya tak tahu.”
“Ah ya benar. Bodohnya saya.” Katanya lagi sambil menepuk keningnya sendiri. “Ma-maafkan saya nona Nabila, perkenalkan nama saya Rendi Ahmad, dan saya meminta anda untuk memanggil saya dengan sebutan Rendi saja, tanpa embel-embel tuan atau yang lainnya.”
“Hmmm... Baiklah Rendi. Saya Nabila. Dan saya sangat berbahagia sekali karena dipagi ini saya mendapatkan hadiah seperti ini, dihotel mewah ini bersama anda, Rendi.”
“Syukurlah.” Jawab Rendi. Sekarang jelas terlihat oleh Nabila, wajah Rendi terlihat lega dan rasa canggungnya juga semakin berkurang.
“Boleh saya makan sekarang? Ini adalah menu faforit saya. Hampir tiap pagi saya memakan nasi goreng persis seperti ini. Hanya tampilannya saja yang berbeda.”
“Jadi anda kurang suka dengan tampilan nasi goreng itu?” Tanya Rendi tiba-tiba. Wajahnya seketika berubah mengeras.
“Bukan, bukan tidak suka. Maksud saya, kalau dirumah tampilan nasi goreng yang saya buat tidak semenarik dan seindah ini. Jadi tentu saja saya sangat senang dan ingin buru-buru memakannya.”
“Ah syukurlah kalau begitu.” Wajah Rendi berubah melunak lagi. “Kalau begitu ayo silahkan makan. Nasi goreng juga menu faforit saya.” Ucapnya lagi.
Sementara itu, Diva kini tengah diantar menuju kamarnya. Dia telah tiba di hotel tempat Nabila menginap. Semalam dia berhasil mendapatkan tiket pesawat untuk penerbangan paling pagi.
Diva merebahkan tubuhnya yang penat karena harus duduk dikursi ekonomi selama perjalanan udaranya. Dan karena ini adalah hari sabtu, penerbangan pagi itu begitu padat penumpang. Seraya rebahan Diva mengirimkan pesan pada Nabila dan menerangkan dia telah sampai di hotel xx.
“Uuh ngantuk banget aku.” Katanya dengan mata setengah terpejam. Dan sejenak kemudian Diva telah terlelap.
Kembali ke Nabila dan Rendi yang telah selesai dengan nasi goreng dan jus lemonnya. Nabila sempat membaca pesan yang dikirim Diva. Seraya tersenyum dia meletakkan kembali ponsel dalam dompetnya lalu kembali mengobrol dengan Rendi.
“Maaf, anda tadi bilang apa Ren? Konsentrasi saya sedikit terganggu karena membaca pesan yang masuk diponsel saya.” Pinta Nabila pada Rendi untuk mengulangi kalimatnya.
“Eee, saya meminta anda menemani saya hari ini.” Ulang Rendi dengan ragu-ragu.
“Maksud anda menemani seperti apa?” Nabila langsung mengaktifkan mode siaga satu.
“Ah, eh, maksud saya temani saya untuk berlibur disini. Mungkin jalan-jalan dipantai atau yang lainnya?”
‘Yang lainnya? Maksud kamu tidur bareng gitu? Aku harus mengingatkan dia tentang kontrak yang telah ditanda tangani.’ Batin Nabila penuh kecurigaan. “Apapun akan saya lakukan untuk anda sesuai dengan kontrak yang telah ditanda tangani bersama.” Tegas Nabila. Dia tak ingin lagi mendapatkan perlakuan tak menyenangkan seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
“Te-tentu saja. Tapi saya berharap saat kita melakukannya kita tidak berlaku formil seperti sekarang ini. Minimal kita berbicara tidak lagi dengan kata saya dan anda. Tapi aku dan kamu, itu lebih berkesan santai dan enak didengar.”
“Oh, oke. Selama itu tidak melanggar kontrak saya eh aku akan lakukan permintaan kamu.” Jawab Nabila masih dengan nada penuh penegasan pada kata kontrak.
“S-saya paham. Dan saya sangat berterima kasih pada anda.”
“Kenapa kamu masih menggunakan saya dan anda?”
“Ah, bodoh... bodohnya sa.. aku. Maafkan aku Nabila.” Ucap Rendi. Tapi kemudian dia menyadari telah memanggil tanpa sebutan nona pada Nabila yang membuatanya menutupi mulutnya. Lalu dia berkata lagi dengan pelan seolah takut kena marah, “Kamu tak keberatan kan kalau aku hanya memanggilmu dengan nama saja tanpa kata nona?”
“It’s okay.” Jawab Nabila seraya tersenyum.
Hening.
Hening.
“Eeee... Nabila.”
“Iya Ren.”
“Maukah kamu menikah dengaku?” Ucap Rendi dengan sangat pelan. Namun terasa begitu jelas dan gamblang di telinga Nabila. Seolah terdengar Rendi memakai toa mushola saat mengatakannya.
DUAR!!!
Suara Rendi tiba-tiba terasa seperti ledakan bom atom Hiroshima-Nagasaki. Membuat Nabila terhenyak kebelakang dengan mata melotot. Bukannya marah tapi sungguh dia merasa sangat terkejut. Ini adalah pertama kalinya bagi Nabila, diajak menikah oleh pria tampan yang baru saja dia kenal namanya. Baru sekitar satu jam yang lalu dia bertemu dengan pria didepannya ini. Dan sekarang pria ini sudah mengajaknya menikah?
‘What’s up with you broooo?’ Tanya batin Nabila. ‘Are you serious brooo? Baru saja kenal sudah mau nge prank diriku! Gimana sih?’
“Eeee... Maaf bila aku seperti ini. Aku serius dan aku juga tidak sedang nge prank kamu Nabila. Aku tahu kita baru saja kenal, tapi jujur dan bersungguh-sungguh saat aku mengatakan aku ingin menikah denganmu. Aku ingin menjadi suami kamu. Sampai maut memisahkan.”
“Apa? Sekarang kamu bisa membaca pikiranku?’ Teriak batin Nabila. Sungguh saat ini dia tak tahu harus berbicara apa. ‘Apa otak kamu sudah kena sliding manajer Reyhan yang tampan itu ya? Atau kamu ini memang sudah gila? Belum apa-apa sudah main lamar saja. Pedekate dulu kek? Ajak kencan dulu kek, biar saling mengenal satu sama lain.’ Maki hati Nabila.
“Aku mengerti kamu pasti menganggap aku adalah orang gila saat ini. Aku bisa mengerti, ini semua memang salahku. Seharusnya aku tak terburu-buru, seharusnya aku melakukan perkenalan lebih dulu, atau berkencan lebih dulu.” Ucap Rendi lagi. Tapi kali ini dia mengatakannya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah takut dimarahi.
“Ju-jur a-aku bingung harus berkata apa sekarang ini.” Hanya itu yang bisa Nabila katakan. Dalam otaknya sungguh berjuta pertanyaan mengganggunya. Dan saat ini tiba-tiba saja dia merasa jengah duduk didepan Rendi.
__ADS_1
Besambung...