
“Om..” Panggil Diva lirih disisi brangkar. Air mata Diva telah berurai menyaksikan Adli tergolek tak berdaya, dengan tubuh ditusuk jarum-jarum disana sini.
Nabila juga merasakan hal yang sama, tapi dia masih bisa mengendalikan air matanya agar tak menetes. Nabila beranggapan saat menjenguk orang yang sedang sakit, lebih menunjukkan perasaan senang, bersemangat dengan harapan sisakit terpacu semangatnya untuk bangkit.
Adli membuka matanya. Dia melihat dua wanita yang selama ini selalu dia jaga. Nafasnya lemah, begitu pula dengan denyut kehidupannya. Itu semua terlihat dari mesin-mesin detektor disana yang menunjukkan angka-angka rendah. Perlahan Adli mengangkat tangannya berusaha membuka alat bantu pernafasannya agar dia bisa
bicara lebih leluasa.
Dengan cekatan Nabila membantu membuka alat itu.
Bibir Adli menyunggingkan senyum yang sulit diartikan oleh Nabila.
“Nab...” Kata Adli lemah.
“Iya bang.”
Adli memasang kembali alat bantu pernafasannya sebentar, dia merasakan dadanya sesak karena sulit bernafas. Sejenak kemudian dia membuka kembali alat itu.
Nabila dan Diva dengan sabar menunggu apa yang hendak dikatakan Adli pada mereka. Tangan Diva berusaha memijat kaki Adli berharap Adli bisa tegar ditengah sakit yang dideritanya.
Adli menoleh kearah Nabila yang berdiri disisi kanan brangkarnya, lalu membuka alat bantu pernafasannya dan berbicara, “Nab, kamu cantik.” Ucap Adli lirih dan bibirnya bergetar saat mengatakannya. Entah karena sangat segan mengatakannya atau karena kondisi fisiknya terlalu lemah hingga hanya mengucapkan kalimat seperti itu seperti sudah menguras seluruh tenaganya. “Biarkan aku memandangmu sejenak.” Imbuhnya lagi lalu memakai alat bantu pernafasannya lagi.
Tubuh Nabila bergetar hebat mendengar itu. Baru kali ini Adli berkata memuji dirinya, baru kali ini lelaki yang selalu menjaga dan melindunginya itu memuji dirinya. Tangis yang telah dia tahan kini tak bisa lagi dia kendalikan. Dengan berurai mata, Nabila menggenggam telapak kiri Adli dan lalu dia membungkuk mendekatkan wajahnya. Membiarkan Adli bisa puas memandanginya.
__ADS_1
‘Inikah perasaan om Adli yang sebenarnya kepada mamah? Kenapa baru sekarang om?’ Tanya batin Diva. Perasaan didalam hatinya bercampur aduk antara kasihan, bahagia, bingung melihat pemandangan didepannya.
Meskipun Adli belum mengungkapkan perasaannya, tapi ini adalah pertama kali bagi Diva mendengar Adli memuji Nabila, mamanya. Selama ini Diva hanya melihat hubungan profesional diantara keduanya. Jikapun ada momen-momen dimana Adli menunjukkan sikap yang sedikit diluar sebagai seorang manajer pada artis dibawah naungannya, itu masih dalam batas yang wajar. Tak berlebihan. Lebih pada sikap menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan dan perlindungan.
Nabila merasakan jemari Adli mencoba menggenggam jemarinya, namun genggaman itu serasa sangat lemah. Menandakan Adli saat ini tengah berjuang keras sekuat tenaga hanya untuk bisa menggenggam jemari tangannya.
“Bang, abang cepat sehat seperti dulu ya?” Pinta Nabila di telinga Adli. “Nanti Nab akan menemani abang selama abang mau.” Janji Nabila.
Mendengar itu terlihat samar Adli tersenyum. Masker pernafasannya terlihat semakin buram karena nafas Adli. Diujung mata Adli mulai terkumpul bulir bening air mata. Adli mengangguk lemah mencoba memberi isyarat pada Nabila bahwa dia akan berjuang untuk kesembuhannya.
Tangan Adli perlahan membuka tutup masker pernafasannya. Tangan itu gemetar seakan pekerjaan menarik masker itu adalah pekerjaan yang sangat berat dan menyiksa.
“A-aku mencintaimu Nab. Maafkan aku, baru disaat seperti ini aku memiliki keberanian untuk menyampaikan kepadamu.” Ucap Adli terbata. Selama mengucapkan rangkaian kalimat itu beberapa kali Adli harus menjedanya, karena harus mengambil nafas dalam-dalam. Seolah-olah kadar oksigen diruangan ICU itu sangat sedikit hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Mendengar pengakuan itu, Nabila semakin sesengukan. Sebuah kalimat yang sangat merdu dan sangat indah terdengar ditelinganya. Nabila merasa ini adalah kalimat yang selama ini dia tunggu.
“Om, om cepat sehat ya. Diva ingin melihat om yang seperti dulu.” Sela Diva memberi semangat. “Diva ingin saat lulus SMA nanti ada papa dan mama yang mengantarkan Diva diwisuda. Cepat sembuh ya om.”
Adli menoleh. Tangan kanannya diangkat dan terlihat sangat bergetar karena gemetar mencoba membelai rambut Diva., gadis yang selalu dia rawat dan jaga meski dari kejauhan.
Diva mendekatkan kepalanya dan menuntut tangan Adli ke ujung kepalanya. Dia pejamkan mata, merasakan kelembutan jemari Adli membelai pelan rambutnya.
“Ka-kamu mau jika aku menjadi papamu?” Tanya Adli. Meski pelan dan kurang jelas karena masker yang masih menutup mulutnya.
__ADS_1
Diva dengan beruraian air mata menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Mau om. Eh pah, jadilah papaku. Jadilah papaku.” Ucap Diva berkali-kali sambil menangis.
Adli kembali memejamkan mata dan menitikkan air mata. Dalam hatinya penyesalan atas kepengecutannya selama ini membuatnya semakin merasa bersalah pada dirinya sendiri.
‘Bodoh, betapa bodohnya aku. Ketakutanku memperjuangkan perasaanku pada orang yang kucintai membuat aku terpuruk dalam penyesalan terbesar dalam hidupku. Apakah Tuhan masih memberiku waktu untuk bisa menebus semua itu? Ah, seharusnya aku tidak lari dan tenggelam dalam pekerjaan. Harusnya aku berani mengungkapkan perasaan ini terlepas apakah nanti keluarga besarku akan menerima atau tidak. Ah penyesalan seperti ini tak berguna, tapi sepertinya sudah terlambat. Penyakit ini sudah tak lagi bisa aku tahan. Tapi, Ya Allah Ya Rabb akankah Kau berikan aku kesempatan untuk merasakan cinta dari orang yang kucintai?’ Batin Adli menjerit keras.
“Bang... Bang Adli... Bang...” Nabila melihat kepala Adli tergolek kesamping seperti pingsan. Dia memanggil-manggil nama Adli berharap lelaki yang baru saja mengungkapkan perasaan hatinya itu mau membuka matanya lagi. “Bang... Bang Adli...” Nabila panik hingga bingung harus bagaimana. Dia hanya menggoyang-goyang lengan Adli.
“Dokter!!!” Pekik Diva karena Adli tak juga membuka matanya meski Nabila telah beberapa kali menggoyang-goyangkan bahu Adli dan memanggilnya.
Beberapa detik kemudian, dengan berlari seorang lelaki berpakaian putih panjang dan seorang perawat mendekat.
“Maaf, sepertinya pasien telah jatuh pingsan karena kelelahan. Saya harap anda keluar dari ICU biar kami bisa memberikan penanganan lebih lanjut.” Kata dokter itu lalu memeriksa semua mesin indikator kehidupan Adli.
Dengan berat hati Nabila dan Diva melangkah mundur menjauh. Sementara dokter dan perawat itu tampak sangat sibuk memeriksa Adli.
Diva dan Nabila segera keluar dari ruang ICU. Begitu sampai diluar, mereka langsung diberondong pertanyaan oleh Safira, Nesy dan Bethoven.
“Bagaimana keadaan abangku Nab? Apakah terlihat semakin membaik?” Cecar Safira. Dia semakin panik melihat kedua wanita yang khusus disuruh masuk kedalam ruangan itu tampak begitu sembab mata keduanya.
Diva hanya menundukkan kepala, dan Bethoven segera meraih tangan kekasihnya itu untuk membawanya ke tempat duduk diluar ICU.
__ADS_1
“Bagaimana kabar om Adli, apakah semakin membaik atau bagaimana?”
Bersambung...