MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 36 Mundur


__ADS_3

“Kamu email file ini ke pengacara Burhan.” Perintah Johan pada salah satu stafnya.


“Siap pak.”


Ditempat lain, Burhan segera membuka email yang baru dia terima. Dia langsung tersenyum lebar setelah  membuka file yang ada dalam email tersebut. Kemudian dia langsung mem forward ke Adli.


‘Anda pasti terkejut dan langsung menelpon saya tuan Adli.’ Kata Burhan dalam hati. Senyummannya  terkembang menandakan dia merasasenang.


Beberapa menit kemudian.


Ponsel Burhan berbunyi. Burhan segera menyentuh tombol terima setelah tahu yang menelponnya adalah  Adli.


“Assalamualaikum tuan Adli, bagaimana kabar anda hari ini.”


“Waalaikumusalam, Alhamdulillah baik tuan Burhan. Anda sendiri bagaimana?” Jawab Adli dari seberang sambungan.


“Alhamdulillah, saya  juga dalam keadaan sehat dan berbahagia.”


“Hmmm… Apakah karena data yang baru saja anda emailkan kepada saya?”


“Benar. Benar sekali tuan Adli. Saya yakin tuan Rudi akan menyuruh tim pengacaranya untuk mundur dan tidak memperpanjang kasus yang mereka ingin sampaikan ke publik.”


“Sepertinya itu adalah data tentang kegiatan illegal dari salah satu usaha orang tua Ferdi. Anda mendapatkan data itu dari mana tuan?”


“Hahahaha… memang benar seperti dalam salah satu caption dalam foto yang dilampirkan itu tuan Adli.  Dengan data itu saya yakin Ferdi akan mencabut semua tuntutannya.”


“Jika itu memang benar, saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada anda tuan Burhan. Setelah ini benar-benar selesai. Saya akan traktir anda makan.”


“Hahaha… Terima kasih. Saya pasti akan menunggu realisasi janji itu.”


“Baiklah. Saya masih ada urusan. Sekali lagi saya dan Nabila mengucapkan terima kasih tuan Burhan. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.”


“Alaikumusalam.” Jawab Burhan dan menutup sambungan ponselnya.


Beberapa hari kemudian dikantor tim pengacara yang disewa Ferdi.

__ADS_1


“Kalian ini sungguh bodoh! Aku rugi besar dengan menyewa kalian.”


“Maaf tuan Ferdi. Kami sungguh minta maaf atas hal ini.”


“Maaf, maaf. Apa maaf bisa memenangkan perkara ini hah?” Sergah Ferdi memotong kalimat pengacara didepannya.


“Maaf tuan Ferdi. Kami menarik kasus ini kembali karena ini adalah perintah dari ayah anda. Untuk  permasalahan sebenarnya kami tidak tahu. Yang pasti kemarin malam kami ditelpon untuk segera  membatalkan laporan yang telah kita buat di kepolisian. Anda bisa tanyakan langsung pada tuan Rudi, ayah anda tuan Ferdi.”


“Apa? Ini perintah papah?” Ferdi sangat terkejut.


Pengacara didepannya hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Lalu dia pamit untuk  melanjutkan pekerjaannya.


Ferdi kebingungan dengan yang sedang terjadi. Papanya menyuruh melakukan eksyen, ketika dia bertindak  malah langsung di hentikan oleh papanya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Dia segera menelpon  papanya untuk bertanya.


“Papa? Kenapa papa menghentikan rencanaku?” Tanya Ferdi tanpa basa-basi lagi.


“Kamu harus mencari cara lain. Papa mendapat tekanan dari tuan Bram. Pagi tadi orang suruhan tuan Bram  mengirimkan flashdisk berisi dokumen-dokumen kegiatan illegal kita. Lalu aku dihubungi Johan agar kamu menghentikan semua tuduhan pada Nabila. Jika tidak dia tak segan-segan mempublished dokumen- dokumen itu di medsos dan mengirimnya ke aparat penegak hukum.”


“Arrgh, ****!” Maki Ferdi lalu membanting ponselnya. Dia lupa kalau sambungan telepon dengan papanya belum dia putuskan.


“Sial! Sial!” Maki Ferdi dengan nada yang sangat geram. Ditenggaknya lagi wine tak berwarna itu. Lalu  memberikan isyarat pada bartender untuk memenuhinya lagi.


“Ini masih siang tuan Ferdi, dan sudah tiga sloki?” Tanya Bartender dengan ramah.


“Sudah diam dan tuangkan saja Jon. Aku lagi pusing nih.”


Bartender yang dipanggil Jon itu hanya tersenyum, dia sudah hapal dengan perangai Ferdi. “Ada yang nyari  tuh?” Tunjuk Jon pada Ferdi dengan isyarat matanya.


Ferdi menoleh kearah yang ditunjukkan oleh mata Jon.


“Shit! Shenda. Mau apa lagi dia ini?”


“Aaah… Ferdi sayang, kamu ini ga pernah angkat telponku dan membalas pesanku sih?” Kata wanita yang  bernama Shenda ini saat telah disamping Ferdi. Dia langsung meletakkan pantatnya yang berbalut span  sangat pendek itu di kursi kecil sebelah Ferdi. Lalu dia menoleh pada bartender. “Beri aku seperti biasanya Jon, make it double.”


Jon hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua orang didepannya ini. Hari masih siang, tapi  keduanya sudah ingin mabuk, tetapi sebagai bartender yang tahu bahwa dua orang didepannya ini  adalah orang yang berkantong tebal, tentu saja Jon dengan senang hati menuangkan minuman keras berharga mahal ini.

__ADS_1


“Wajah kamu kusut sekali sayang? Ada apa?”


“Kenapa kamu disini?”


“Iiih… kamu ini gimana sih? Sudah tiga hari ini loh aku mencari kamu. Telepon kamu, kirim pesan tapi  kamunya saja yang ga nanggepi. Eeeh… malah ketemu disini. Qiqiqiq…”


 Ferdi tak menanggapinya. Dia diam dan hnay mengutak-atik ponselnya.


 “Iiih saayang…” Ucap Shenda dengan manja. “Aku kangen.”


“Kangen? Kangen apa?”


“Yaaa, kangen kamu lah.”


“Males. Aku pusing. Sudah kamu pergi sana cari suami kamu.”


“Aku maunya kamu. Tua bangka itu sedang di Hongkong untuk bisnis dan bersenang-senang. Aku jadi  kesepian…” Shenda sudah berdiri dan mengamit erat lengan Ferdi didadanya.


“Emang aku siapa kamu. Hanya penghangat kasur kamu?” Kata Ferdi dengan ketus. Untuk saat ini dia erasa jengah dengan wanita disampingnya ini.


“Aku kangen sentuhan kamu, dan kegagahan junior kamu. Ayolah sayang, kita bersenang-senang.” Rengek Shenda.


“Kamu ini!” Bentak Ferdi. “Aku pusing!”


“Biar kuobati pusing kamu sayang, ayolah.” Rengek Shenda sambil menggoyang lengan Ferdi yang masih  menempel didadanya.


Shenda, artis sinetron yang menjadi istri simpanan seorang pengusaha kelas atas negeri ini. Sebagai artis  dia lebih dikenal dengan  sensasi yang dia buat daripada karyanya. Dengan wajah cantik, dada dan bokong  besarnya dia berhasil mendapatkan banyak fans lelaki. Meskipun telah menjadi istri simpanan dari pengusaha kaya raya, Shenda sangat mencintai Ferdi. Dia tergila-gila dengan Ferdi, tetapi dia juga tahu  bagaimana bejatnya Ferdi. Dan karena itu dia rela hanya sebagai pemuas nafsu Ferdi dan juga dirinya  selama suaminya tidak kerumahnya. Dia tidak berharap untuk bisa bersanding dengan Ferdi. Bagi Shenda memberikan tubuhnya adalah bukti cintanya pada Ferdi.


“Ayolah sayang percaya sama aku deh. Aku akan memijat seluruh tubuhmu, menjilati setiap centi kulit  indahmu. Aku jamin deh, pusing kamu langsung hilang. Hihihi…”


“Hehhh! Akan kubuat kamu ga bisa jalan!” Geram Ferdi jengkel karena wanita didepannya ini terus  menggodanya meskipun dia sedang dalam bad mood.


Tak membutuhkan waktu yang lama mereka berdua telah berada didalam sebuah kamar hotel. Mereka  berdua lalu masuk kedalam kamar mandi, dan melakukan kegiatan mesum mereka dibawah guyuran  sshower.


Seperti yang Sheda janjikan, dia lebih banyak memegang kendali. Dengan aktif Shenda bagaikan seekor  kucing betina yang sedang menjilati piring makanannya. Dia menarikan lidahnya meliuk-liuk diatas kulit tubuh Ferdi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2