MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 69 Depresi


__ADS_3

“Tentu saja tidak!” Jawab Bram cepat dan lantang.


“Tidak akan! Itu konyol kak!” Seru Nabila hampir barengan dengan ucapan Bram.


“Baiklah.” Jawab Josephira tenang. “Bram, kamu telah menghinakan aku beberapa malam lalu!” Seraya menoleh  pada suaminya dan menatap sangat tajam. “Dan kamu berjanji akan menuruti keinginanku, apa saja asal masuk  akal. Inilah keinginanku dari lubuk hatiku yang terdalam.”


“Tidak, tidak, pintalah yang lain saja!” Seru Bram seraya mengguncang tubuh istrinya.


“Hentikan kak kamu menyakiti kak Jose!” Bentak Nabila.


Bram seketika menurut dan menundukkan kepala seraya berkata, “Kumohon sayang jangan minta aku menduakan kamu. Kumohon. Aku tak bisa melihatmu tersakiti nantinya.”


Josephira hanya bergeming. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Nabila.


“Dan kamu adikku tersayang yang cantik jelita. Apakah kamu menyayangi kakakmu ini?”


“Tentu saja kak! Aku sangat sayang sama kakak. Makanya aku tak mau menjadi istri kedua kak Bram.”


“Aku ingin selalu didekatmu, bahkan sejak sebelum kamu mengenal aku. Entah apa penyebabnya, aku sudah  sangat menyukaimu dan sampai sekarang pun aku sangat menyukaimu dan ingin selalu didekatmu.” Josephira  berhenti sebentar. Lalu meneruskan kalimatnya, “Saat aku dirumah sakit, kamu menyebutku bunda ratu dan akan  memenuhi permintaanku. Sekarang aku ingin kamu menikahi suamiku, dan jadilah bagian dari keluarga kami.  Kumohon, penuhi permintaanku.”


“Ti,tidak kak. Aku tak bisa.” Jawab Nabila lemah sambil menggeleng.


“Baiklah, karena Bram telah menghinaku dan tak mau menceraikan aku, dan juga karena kalian orang-orang yang  kusayangi tak mau menuruti aku. Biarkan aku mati sekarang juga.” Ucap Josephira dingin seraya menempelkan  belati yang sedari tadi masih dipegangnya di lehernya sendiri.


“Kak! Apa yang kamu lakukan?” Teriak Nabila. Dia sangat panik, belati itu sangat tajam. Leher Josephira sudah mengeluarkan darah segar.  “Kak Bram cepat cegah kak Jose!”


Bram yang melihat itu bermaksud merebut belati dari tangan Josephira. Tapi setelah melihat darah keluar dari leher  Josephira dia mengurungkan niatnya. Bram hanya bisa memohon, “Sayang, hentikan kegilaan ini. Kumohon  sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku tak mau kehilangan kamu atau menduakan kamu.”


Josephira hanya diam, lalu memejamkan matanya. Dari sudut matanya menggelinding buliran air mata.


“Biarkan aku mati saja didepan kalian.” Ucapnya lirih.


Darah semakin banyak mengucur membasahi pundak dan baju renang Josephira.

__ADS_1


“Hentikan kak, hentikan...” Pinta Nabila sambil menangis tak tega melihat darah yang keluar.


“Josephira! Hentikan kegilaanmu!” Bentak Bram.


Josephira langsung menatap suaminya dengan tatapan mata yang tajam.


“Aku tidak gila Bram! Aku memang menginginkan ini!”


“Kak Josephira, ada apa denganmu? Kenapa kamu tak memikirkan perasaanku dan menuntutku menikah dengan  suamimu?” Sekarang Nabila ganti berkata dengan keras seraya menangis pada Josephira. “Kapan kamu  menayakan perasaanku? Kapan kak? Kapan? Lalu apa arti diriku dalam hatimu kak? Apakah aku hanya seorang anak kecil bisa selalu kamu dikte?”


“Tidak Nab, bukan begitu.” Tukas Josephira cepat. “Maafkan keegoisanku ini, maafkan kakakmu ini.”


Air mata Josephira mulai mengalir deras, entah kenapa dia sangat bersikeras dengan keinginannya untuk  menikahkan Bram dengan Nabila hingga rela melukai dirinya sendiri.


“Aku, aku, rela membagi suamiku denganmu Nab. Sungguh! Dan sekarang aku memohon padamu, aku  melamarmu untuk menjadi istri untuk suamiku Bram.”


“Kamu gila kak!”


Josephira tak langsung menjawab. Dia mencoba mengumpulkan kekuatannya, tangannya bergetar hingga luka  pada lehernya semakin terkoyak dan darah semakin banyak yang keluar. Wajah Josephira semakin memucat,  karena kehilangan banyak darah.


“Terus kenapa kak? Aku rela melakukan ini untukmu. Aku ini sahabatmu, aku ini adikmu. Aku tak menuntut kakak  untuk membalasku dengan apapun didunia ini. Aku hanya ingin melihat kakak kembali seperti dulu meski tetap  duduk dikursi roda.”


“Itulah Nab. Jika kamu rela melakukan semua hal untukku, jika kamu bisa tulus padaku, kenapa aku tak bisa. Bukankah ketulusan akan sangat bernilai tinggi jika memberikan yang terbaik yang kita miliki. Aku mempunyai  Bram yang sangat aku cintai dan jujur aku tak ingin membaginya dengan wanita manapun didunia ini. Tapi kini aku sudah tak mampu membuatnya bahagia seperti dulu, karena aku malu dan takut berada diluar sana dengan keadaanku sekarang.”


Klunting! (suara pisau yang terjatuh kelantai)


Josephira pingsan karena terlalu banyak darah yang keluar dari luka sayat dilehernya.


“Kak Bram cepat ambilkan tisu itu!” Perintah Nabila.


Bram segera mengambilkan tisu dan menyerahkan pada Nabila.


“Aku akan membawanya kerumah sakit sekarang.” Tanpa berpikir panjang, Bram segera menggendong tubuh Josephira.

__ADS_1


“Kak!” Panggil Nabila tak dihiraukan Bram.


‘Aduuh, kak Bram ini. Kamu dan kak Jose kan hanya pakai baju renang. Dasar kak Bram bucin banget!’ Gerutu  Nabila seraya mengambil jubah mandi untuk dipakai lalu berlari menyusul.


“Kamu pegangi dia Nab.” Perintah Bram setelah meletakkan istrinya di jok belakang.


Nabila masuk dan duduk disamping Josephira yang terkulai. Ditutupinya tubuh Josephira dengan jubah mandi yang telah dia bawa tadi, juga menekan luka sayat dileher Josephira agar darah tak terlalu deras keluar.


“Kak, pakai ini juga. Kamu hanya memakai boxer.” Ujar Nabila seraya menyerahkan satu jubah mandi pada Bram.


Bram hanya menepuk dahinya, lalu menerima tak langsung memakainya. Dia langsung menyalakan mesin  mobilnya dan langsung melaju kencang menuju rumah sakit. Dalam perjalanan dia langsung menelpon dokter Eka  dan memintanya agar standby bersiap menangani istrinya.


Kini Josephira sudah ditangani oleh dokter Eka dan tim medis. Bram dan Josephira menunggu dengan tenang,  karena sebelumnya dokter Eka sudah mengatakan tak ada hal yang membahayakan Josephira kecuali depresi  yang dialaminya.


“Nab...” Panggil Bram lirih pada Nabila yang duduk di kursi besi panjang.


Nabila menoleh melihat Bram yang duduk tak jauh darinya. “Iya kak Bram.”


“Apa yang harus kita lakukan? Ah tidak, lebih tepatnya apa yang harus aku lakukan?”


“Entahlah kak, aku juga tak tahu. Sampai sekarang aku tak menyangka kak Jose akan mengalami depresi berat.”


“Benar. Aku juga sungguh tak menyangka. Meski aku tahu musibah ini sungguh memang berat bagi kami. Terutama bagi Josephira.”


Terlihat dokter Eka keluar dari ruangannya. Bram dan Nabila segera menghampiri.


“Kondisi istrimu sudah semakin membaik. Beruntung stok darah yang dibutuhkan istrimu sedang berlimpah. Jadi  kamu tenang saja. Sekarang istrimu sedang tidur karena pengaruh obat penenang yang kami berikan.”


“Terima kasih Ka.” Jawab Bram.


“Oh ya, sepertinya istrimu memang dalam kondisi depresi akibat musibah yang dihadapi. Sebisa mungkin kamu  menghiburnya, menguatkan hatinya dan menyenangkan hatinya. Karena itu salah satu obat mujarab orang yang  sedang depresi.” Nasihat dokter Eka.


“Iya Ka, akan aku lakukan segalanya agar Josephira tak depresi lagi.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2