
Cuplikan eps. sebelumnya…
Tok… tok tok.
Beberapa ketukan pintu berirama terdengar membuyarkan lamunan Diva. Keringat dinginnya semakin deras mengurucur dari keningnya, ketakutan semakin menyelimuti tubuhnya.
\=\=\=o0o\=\=\=
“Diva, cepat keluar! Ini aku Betho.”
Diva segera membuka pintu dan memeluk tubuh Bethoven.
“Ada banyak orang memakai pakaian hitam-hitam dan diantaranya membawa senjata api kak. Aku takut sekali.”
“Iya, aku tahu tapi aku tidak tahu apa yang mereka incar. Yang pasti mereka telah mengusir semua pengunjung warung bakso ini sebelumnya dan juga telah menindas pegawai warung ini, hingga pelayan tadi datang menyajikan bakso kita itu datang dengan tubuh gemetar yang hebat.” Bethoven memberikan analisanya atas apa yang dilihatnya tadi, juga memberikan sedikit elusan dipunggung Diva yang memeluknya, berharap gadis didepannya ini bisa lebih tenang dan tidak panik.
“Aku takut kak…”
“Iya, aku juga. Aku berfikir sebaiknya kita kabur dari pintu belakang itu sekarang juga.” Jawab Bethoven sambil menunjuk pintu kecil didepan pintu toilet. “Aku tadi telah memeriksanya, pintu didepan itu tidak dikunci. Aku tadi juga sempat melihat ke tempat parkir motorku didepan sana, ternyata disana telah dijaga dua orang juga dengan pakaian hitam-hitam, jadi yang bisa kita lakukan sekarang adalah hanya menyelinap keluar lewat pagar kawat yang telah rusak dibelakang warung ini. Ayo, kita harus bergegas. Kamu jangan takut ya… aku akan coba melindungi kamu semampu yang bisa aku lakukan.”
“Om Adli…”
“SIapa?”
“Manajer aku. Aku harus telepon dia.”
“TIdak perlu. Aku sudah meminta bantuan pada pengawal papaku. Tapi untuk sementara sambil menunggu bantuan datang, kita harus kabur dari sini dan mencari tempat sembunyi terlebih dulu.” Sergah Bethoven.
Tanpa menunggu jawaban dari Diva, Bethoven segera menarik tangan Diva keluar dari pintu menuju belakang warung. Disana ada pagar tinggi dari kawat berduri. Bethoven yang sempat memeriksa, tahu dimana posisi pagar yang telah rusak hingga mereka bisa melewatinya tanpa tergores kawat berduri.
Mereka berdua telah berada diseberang pagar, dan kini berada di area luas tempat benda rongsokan yang menggunung.
“Sepertinya ini adalah tempat penimbunan besi tua dan barang bekas Diva.” Kata Bethoven sambil mengedarkan pandangannya mengamati keadaan sekitar.
Sementara Diva hanya mendengarkan dan menoleh kearah tembok belakang warung bakso dengan cemas. Sejurus kemudian ketakutannya semakin menjadi, karena dia melihat dua orang lelaki berbaju hitam telah keluar dari balik pintu.
“Kak, ayo cepat sembunyi. Mereka telah tahu kalau kita kabur.”
__ADS_1
Bethoven menoleh kearah pintu dan melihat apa yang membuat Diva ketakutan.
“Ayo cepat lari!” Seru Bethoven sambil menggenggam tangan Diva dan menariknya.
Belum beberapa langkah mereka lari, sudah terdengar umpatan dan perintah untuk mereka agar berhenti dan tidak berlari. Tapi mereka berdua tak menghiraukannya, mereka terus berlari diantara tumpukan barang bekas dan besi tua itu.
Tanpa tahu arah, mereka terus saja berlari, jarak yang mereka ciptakan dari para pengejar mungkin tidak terlalu. Tetapi karena tumpukan barang bekas ini lumayan tinggi mampu menghalangi pandangan baik yang mengejar maupun yang dikejar.
Bethoven dan Diva kini menemui jalan buntu. Sebuah tembok tinggi, membuat langkah mereka berhenti. Sementara itu dari balik tumpukan barang bekas itu terdengar gerutuan dan makian dari orang-orang yang mengejar mereka.
“Kita harus sembunyi.” Bisik Bethoven.
“Tapi dimana kak?”
Bethoven melihat sebuak kotak besar tergeletak disisi kanannya. Sepertinya ini adalah kulkas bekas yang cukup tinggi. Ini cukup untuk Diva bila dia mau rebah didalamnya. Batin Bethoven. Lalu dia membuka dan memeriksa kulkas bekas itu. Sudah tidak ada lagi rak yang menghalangi, ini cukup luas untuk satu orang, batinnya lagi.
“Diva…” Panggilnya lirih.
Diva mendekat. Dahinya mengernyit saat mengetahui sorot mata Bethoven menyuruhnya masuk dalam kulkas. Yang bener saja kak… itu kan kotor…, batin Diva.
“Cepat kamu masuk. Aku akan cari tempat yang lain untukku.”
Meskipun pengap dan sedikit berbau, Diva merasa lega didalam kulkas itu karena ada jarak yang lumayan. Diva segera teringat untuk menghubungi sopirnya, juga manajernya. Dia lalu menghubungi keduanya, menceritakan juga membagi lokasi dimana dia berada.
Bethoven masih mengamati keadaan sekitarnya mencari tempat untuk dia bersembunyi. Tapi tak juga dia menemukan tempat yang bisa menyimpan tubuhnya. Tiba-tiba dia melihat seseorang yang berjalan mundur.
Gawat, pengejar itu telah masuk ke lorong ini. Sementara aku masih belum menemukan tempat persembunyian yang sangat aman. Gerutu Bethoven dalam hati.
Tanpa berfikir panjang lagi Bethoven kembali membuka kulkas tempat Diva bersembunyi dan langsung masuk. Tangannya dia gunakan untuk menyangga hingga tubuhnya tidak menimpa tubuh Diva.
“Kenapa kakak masuk kesini juga?” Tanya Diva dengan berbisik. Kondisinya membuat dia sangat canggung. Wajah Bethoven begitu dekat dengan wajahnya, kedua hidung mancung mereka pun hampir bersentuhan sementara kedua dada mereka sudah saling menempel. Bahkan deru nafas Bethoven pun begitu hangat menerpa kulit wajah Diva.
“M.. Ma-maaf, aku terpaksa masuk kesini. Mereka sudah didekat sini.”
Plak!
Terdengar suara tamparan di dekat tempat mereka bersembunyi.
__ADS_1
“Kalian Goblok! Dimana mereka!”
“Maaf bos, ini lorong terakhir yang kami periksa. Dan kami masih belum bisa menemukan mereka.”
Brugh.
Bethoven merasakan punggungnya terdorong kebawah karena tiba-tiba pintu kulkas itu seperti ada yang menekan kebawah.
Shit! Dadaku kini menempel dan sangat menekan dada Diva. Semoga saja aku ga horny, runtuk Bethoven dalam hati. Kini dia dengan ketegangan yang teramat sangat masih bisa merasakan betapa dada Diva diumurnya yang sekarang sudah ada tumbuh daging yang lumayan besar dan kenyal.
“Kak…kok kakak makin menindihku?” Bisik Diva ditelinga Bethoven. Karena memang posisi Bethoven yang sudah tidak mungkin bergerak menjauh lagi akibat tekanan dari atas.
“Maaf, untuk sementara aku harus menindih tubuhmu. Kamu jangan bergerak-gerak ya.” Bisik Bethoven mengingatkan Diva.
“Nggg… itu yang dibawah apa ada ular ya kak? kenapa tiba-tiba bergerak-gerak sedikit dan pelan…”
Wajah Bethoven langsung memerah. Beruntung posisi wajahnya kini disamping pipi Diva, hingga gadis yang dibawahnya ini tidak mungkin melihat perubahan wajahnya yang malu, karena juniornya kini terpancing secara alami akibat tubuhnya yang menindih Diva.
Duh, pake nanya lagi. Kamu ini polos banget atau gimana sih? Runtuk Bethoven dalam hati.
“Ssst…itu bukan ular dan kamu diamlah Diva. Diluar masih ada orang yang mengejar kita.”
Diva pun terdiam, tak lagi berani berkata-kata. Padahal dia sekarang merasakan sensasi aneh merasakan ganjalan kenyal di atas kedua pangkal pahanya.
Diluar masih terdengar orang-orang yang berbicara, namun tidak terlalu jelas apa yang sedang dibicarakan. Bethoven maupun Diva tidak bisa memperkirakan berapa orang yang diluar sana. Yang pasti mereka tidak jauh. Bethoven hanya bisa memastikan satu orang masih duduk di kulkas yang roboh ini.
“Kak… maaf sepertinya itu bergetar-getar kak…” Diva berkata dengan suara pelan juga bergetar menahan sensasi ketika dirasakannya pangkal pahanya yang sebelah luar merasa geli karena ada getaran-getaran lembut.
“Ma-maaf sepertinya itu hapeku yang bergetar. Aku akan mengangkatnya.” Bethoven menjawab dengan berbisik sangat pelan.
Bethoven bergerak pelan didalam ruang sempit itu. Setiap gerakan kecil itu sangat berpengaruh pada mereka berdua. Apalagi sewaktu Bethoven merogoh saku celananya yang lekat pada paha Diva, membuat gadis itu semakin merasakan sensasi-sensasi aneh disana namun cukup membuat dia tahu bahwa itu sangat menggoda untuk dicoba lagi.
“Iya, ada apa?” Terdengar oleh Bethoven dan Diva sebuah suara keras dari atas mereka. “Apa? Ada dua puluh orang masuk ke warung bakso dan juga ke motor anak esema itu? Mereka juga menayakan anak laki-laki itu? Kalian tahu siapa mereka?”
“…”
“Apaaa? Cepat kita menyingkir, semuanya tinggalkan tempat ini sekarang juga.”
__ADS_1
Bersambung…
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=