MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 11 TERSELAMATKAN


__ADS_3

“Mang, bawa aku pergi dari sini. Cepat mang. Cepaaaat!” Titah Diva penuh ketakutan.


“Tapi neng, mobil kita udah ga bisa kemana-mana. Didepan dan dibelakang mobil kita ada mobil yang tidak bisa bergerak juga.” Jawab mang Udin tak kalah cemas, melihat kepungan wartawan yang terus meringsek baik dari depan, samping ataupun belakang mobil yang mereka tumpangi.


Wajah Diva semakin memucat, keringat dingin sebesar jagung mulai keluar dari keningnya. Meskipun didalam mobil suhunya begitu sejuk karena ac mobil yang dinyalakan cukup besar oleh mang Udin. Tangan Diva meremas-remas ujung rok seragam sekolahnya. Dia menoleh kekanan dan kekiri dengan paniknya. Baru kali ini dia mengalami hal seperti ini, dikepung wartawan. Meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Apakah aku pernah salah bicara? Batin Diva penuh kebingungan.


Saat keadaan semakin mencekam. Diva sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, begitu juga mang Udin. Mereka berdua pasrah, ketika mobil mulai bergoyang karena para awak media yang terus datang meringsek berdesakan disekeliling badan mobil.


Dari dalam mobil, Diva dan mang Udin melihat beberapa awak media seperti tertarik badannya menjauhi mobil. Satu persatu mereka tersingkirkan oleh empat orang kekar dengan berpakaian hitam-hitam dan berkacamata hitam. Tubuh kekar dan tampang dingin mereka mampu membuat keder para awak media. Sempat terjadi perang mulut antara awak media dengan empat orang tadi. Tapi dengan dingin mereka terus berusaha menghalau para awak media agar menjauhi badan mobil yang ditumpangi Diva.


Setelah wartawan sedikit memberi jarak, dua orang satpam sekolah membuka jalan agar mobil yang ditumpangi Nabila bisa masuk. Dengan pelan mang Udin menjalankan mobilnya. Begitu melihat mobil itu berjalan lagi, wartawan mulai maju lagi selangkah demi selangkah yang membuat mang Udin terpaksa berhenti lagi.


Ke empat orang kekar itu dengan sigap maju menghalau. Akan tetapi kali ini para wartawan ini tidak menghiraukan, mereka terus merangsek.


Seorang siswa laki-laki dengan seragam yang sama yang dipakai Diva tiba-tiba datang dan langsung mendorong wartawan yang berada didepan mobil Diva. Siswa dengan rambut sedikit gondrong ini terus mendorong wartawan tanpa peduli. Melihat hal itu, empat lelaki kekar itu semakin sigap maju menghalau wartawan.


“Kak Bethoven…” Gumam Diva menatap sosok pelajar ganteng yang membantunya.


Hingga akhirnya mobil yang ditumpangi Diva bisa masuk ke area sekolah. Ke empat lelaki tegap itu membantu para satpam sekolah menutup gerbang dan menjaga jangan sampai wartawan nekat menerobos masuk.


Diva keluar dari mobil dengan lega. Setidaknya dia sekarang tidak perlu menghadapi para awak media. Karena saat ini dia harus fokus ujian. Kalau sampai dia tidak lulus, dia harus menghadapi kemarahan kepala sekolah yang menuntut janji.


Diva menatap kedepan. Dihelanya nafas dalam-dalam ketika mendapati seorang Betoven menunggunya juga para guru yang berdiri di teras depan kantor.


“Terima kak Beto.” Ucap Diva ketika melewati Betoven. Jantungnya berdebar tatkala melihat Betoven membalas ucapannya dengan senyuman tipis, namun tetap terlihat manis dimata Diva.


Kini dia berjalan menuju para guru yang telah berdiri melihat kedatangannya. Diva merasa harus meminta maaf atas kehebohan dan ketidak nyamanan yang terjadi. Diantara para guru juga terlihat ibu kepala sekolah yang memandanginya tanpa tersenyum.


“Maafkan Diva ibu, bapak. Diva juga tidak mengerti mengapa ini terjadi.” Ucap Diva dengan membungkukkan kepala seperti orang Jepang yang memberi hormat.


“Ah sudahlah, sekarang kamu masuk kelas. Lima menit lagi ujian dimulai.’ Jawab Prihandini, sang kepala sekolah.


Diva menoleh pada Bethoven yang sekarang sudah berjalan kearah tempat dia berdiri. Jantung Diva makin berdetak kencang. Tadi cemas akibat terkepung wartawan, sekarang cemas karena bisa dekat dengan Bethoven.


Hari itu ujian semester bisa dilaksanakan dengan tenang. Seluruh siswa telah menyelesaikannya. Tapi mereka tidak bisa langsung keluar, karena di pintu gerbang masih banyak awak media yang menunggu klarifikasi dari Diva.


“Duh, kenapa sih mereka itu?” Cemas Diva sambil mengintip dari jendela kelasnya.


“Kamu ini kudet banget sih… nih lihat.” Sergah Cherry sambil menyodorkan hapenya.

__ADS_1


Diva menerimanya dan melihat sebuah konten youtube berisi kumpulan foto antara dirinya dengan Nabila, mamanya. Lalu di konten itu juga mulai ditulis narasi peristiwa menghilangnya Nabila dari panggung dunia hiburan empat belas tahun lalu.


Konten itu juga memperkirakan usia Diva pas, jika peristiwa menghilangnya Nabila secara mendadak berhubungan dengan kelahiran Diva.


Tentu saja penjelasan itu semakin membuat Diva panik. Saat ini dia sendiri, Adli berada diluar negeri untuk urusan kontrak, sehingga tidak bisa langsung mendampinginya. Nabila juga memilih bersembunyi, yang membuat wartawan hanya terfokus pada Diva untuk mendapatkan klarifikasi kebenaran kabar bohong.


Diva yang masih hijau di dunia entertainment, sangat takut. Dia takut karena tidak tahu harus berkata apa. Dia berkata jujur atau tidak Diva tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari.


Hape Diva bergetar. Diva segera melihat siapa yang memanggilnya. Tertulis nama Adli. Segera Diva mengangkatnya.


“Halo. Assalamua’alaikum… om Diva takut…”


“Waalaikumusalam, tenang Diva. Kamu harus tenang. Untuk saat ini kamu tidak perlu menjawab apapun yang ditanyakan para awak media. Tadi anak buah om sudah menghubungi kepala sekolah, biar kepala sekolah yang menghadapi para awak media. Lima belas menit lagi akan diadakan jumpa pers disana. Jadi kamu diam saja, tidak usah menjawab apapun. Mengerti?”


“Iya om.”


Setelah itu sambungan telepon ditutup.


“Diva, apakah itu beneran?” Tanya Cherry.


Bella yang disamping Cherry pun ikut menunggu jawaban dari ssahabatnya ini. Mereka ingin tahu kebenaran berita burung yang sedang viral ini.


Diva hanya diam tertunduk, tidak memberikan jawaban apa-apa.


Betoven hanya diam dan terus mendekat kearah Diva dan berhenti tepat didepan Diva yang tengah duduk.


“Kamu tenang saja ya, jangan takut.” Kata Betoven sambil memegang pundak Diva.


“Iya kak.” Jawab Diva sambil mendongakkan kepalanya melihat kearah Betoven, dan Diva melemparkan senyuman manisnya,


“Hmm..”


Cherry dan Bella hanya senyum-senyum menikmati mahluk tampan yang kini berhadapan dengan sahabatnya itu.


“Diva, ibu kepala sekolah memanggilmu. Kamu akan hadir dalam jumpa pers sekarang.” Kata Pak Wasis wali kelas Diva.


“Iya pak.” Jawab Diva. Lalu beranjak menuju ruang kepala sekolah.


Bella dan Cherry mengekor dibelakang Diva, begitu juga dengan Betoven.


“Eh kak Beto, sejak kapan kakak jadi malaikat pelindung Diva?” Tanya Bella iseng, sambil berjalan dibelakang Diva.

__ADS_1


“Ah, eh, malaikat pelindung? Lebai kamu!” Sergah Bethoven jengah.


“Kakak Beto naksir sahabat aku ya?” Goda Bella tanpa memperhatikan ekspresi wajah Bethoven.


Bethoven diam saja tak menggubris ocehan Bella.


\=\=\=o0o\=\=\=


“Selamat siang rekan media. Maaf karena hal ini mendadak, jadi mungkin dalam konferensi pers hari ini ada ketidak nyamanan bagi anda semua.” Prihandini membuka konferensi pers di aula sekolah, setelah melihat semua awak media duduk rapi, setelah sebelumnya meletakkan berbagai alat perekam di meja. Sebagian lain telah menyorotkan kamera kearah meja. Dimana duduk disana Diva, kepala sekolah, wali kelas, dan pewakilan manajemen Diva.


“Dalam konpers ini, saya tegaskan pada anda semua bahwa saya atas nama sekolah ini tidak bisa melarang anda untuk mencari informasi dan tidak berniat menghalangi. Tetapi saya berkeberatan jika aktifitas yang anda lakukan itu mengganggu proses kegiatan belajar mengajar yang kami selenggarakan, apalagi mulai hari ini, para siswa sedang melaksanakan ujian semester. Karena itu kami meminta, jika ada berita yang perlu diklarifikasi oleh siswa ataupun kami selaku pengajar, TOLONG Agar tidak sampai mengganggu proses belajar mengajar ditempat kami.” Prihandini berhenti sebentar sambil melihat keseluruh awak media yang duduk didepannya. “Kembali saya tegaskan Jangan Sampai Mengganggu Proses Belajar Mengajar di tempat kami. Anda bisa menanyai yang bersangkutan diluar sana. Tapi saat berada di wilayah kami, tolong hormati kami. Biarkan kami dan para siswa belajar dengan tenang. Saya harap hal ini bisa dimengerti.”


“Maaf bu, saya Agnes dari tabloid XX ingin bertanya…” Seorang wartawan wanita muda berdiri sambil mengacungkan tangannya keatas.


“Apa yang tidak anda fahami dari kalimat yang saya ucapkan tadi?” Tanya Prihandini dengan nada tegas penuh intimidasi. Membuat wartawan itu tersenyum kecut. Lalu duduk kembali.


“Baiklah. Bila apa yang saya sampaikan bisa dimengerti. Saya akan menutup konferensi pers ini. Assalamu’alaikum.”


Teriakan koor bernada kecewa dari para awak media sontak terdengar. Tetapi mereka tampaknya memahami situasinya, bahwa disini bukanlah tempat yang tepat untuk mengorek sebuah berita gossip. Mereka pun lalu membubarkan diri keluar dari lokasi sekolah.


Diva bernafas lega. Lalu menghampiri Prihandini kemudian menyalami kepala sekolahnya yang bertubuh sedikit tambun ini. Diva mencium punggung tangan Prihandini seraya berucap terima kasih padanya, lalu tidak lupa Diva juga melakukan hal yang sama pada Wasis wali kelasnya.


“Sudahlah, ini bukan salahmu. Kami hanya membantu melakukan apa yang harus kami lakukan.” Tukas Prihandini sambil membelai ujung kepala Diva.


Ditempat lain. Nabila mendapatkan sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal. Setelah beberapa kali diabaikan, akhirnya Nabila mengangkatnya.


“Hallo.”


“Halo Nabila, masih ingat aku?”


“Ferdi?”


“Hahahaha… suara kekasihmu ini masih juga kamu ingat ya?”


“Stop it. Why you called me?” (Hentikan. Kenapa kau menelpon?”


“I missed you babe… hehehe…” (Aku merindukanmu sayang… hehehe…)


“Stop it. Stop telling a bullshit. What do you want?” (Hentikan. Hentikan mengatakan omong kosong. Apa yang kamu inginkan?)


“Kita harus bertemu. Malam ini. Di café XX jalan XX, pukul delapan malam.”

__ADS_1


Bersambung…


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2