
Nabila bergegas balik kekamarnya. Didalam kamar kedua asisten telah berkemas dan bersama mereka sekarang ada empat orang lelaki kekar berdiri dengan tegap.
Begitu pintu kamar dibukakan oleh Sadil dan Nabila langsung masuk kedalam. Dia sangat kaget melihat empat lelaki berbadan kekar yang berdiri tegap dan bersikap dingin didalam kamarnya.
“Ada apa ini? Siapa mereka Wan?” Tanya Nabila dengan nada kuatir.
“Tenang nona Nabila. Saya harap anda tenang.” Jawab salah satu dari lelaki berbadan tegap itu menyahut perntanyaan Nabila. “Saya Godek dan tiga orang ini adalah rekan saya. Kami dikirim oleh tuan Adli untuk mengawal anda pulang sekarang juga.”
“Be-benarkah?” Tanya Nabila curiga.
“Iya oma, tadi aku ditelpon abang. Katanya akan datang orang untuk mengawal oma malam ini juga.” Sahut Sadil cepat.
“Iya oma, makanya aku dan Sadil langsung berkemas. Hanya satu setel pakaian itu yang aku persiapkan untuk perjalanan pulang ini oma.” Timpal Wawan sambil menunjuk t-shirt dan celana diatas tempat tidur.
“Oke. Aku akan ganti baju sekarang. Dan untuk kalian berempat, kalian berjaga dipintu luar saja.” Perintah Nabila pada Godek dan kawan-kawan.
‘Abang Adli sudah hapal betul dengan apa yang akan kulakukan. Syukur Alhamdulillah aku diberikan orang sebaik dan sehebat bang Adli.’ Syukur Nabila dalam hati.
Dalam mobil saat perjalanan pulang. Wawan dan Sadil menanyakan seluruh kejadian saat makan malam dengan bupati yang mengendors. Wulandari pun bercerita detil tentang kejadian malam ini.
“Emang brengsek banget tuh orang. Padahal kalau melihat foto nyonya Kemal di internet, nyonya Kemal itu cantik banget, udah gitu punya gelar dokter gigi lagi.” Maki Wawan sangat geram setelah mendengar cerita dari Nabila.
“Iya brengsek banget! Padahal wajahnya itu kalau aku perhatikan dari foto di internet ga ada ganteng-gantengnya sama sekali.” Timpal sadil dengan tangan kanan terkepal.
“Iya kalian benar. Nyonya Kemal sangat cantik dan santun. Sebelum dinner aku kan sudah bertemu beliau. Dan beliau orangnya baik banget. Sayang sekali beliau mendapat suami yang seperti itu.”
\===o0o===
“Aku pulang dulu.” Pamit Bethoven setelah mereka semua tiba kembali dirumah Diva.
“Kok buru-buru kak?” Tanya Cherry. “Ini masih sore loh, lagian ini juga hari sabtu.”
“Ga apa-apa.Kalian lanjutkan saja, sebaiknya aku pulang saja.” Jawab Bethoven. Dia sudah putus asa untuk melanjutkan kencannya dengan Diva jika sudah berkumpul dengan duo sahabatnya.
Dengan berat hati, Bethoven melangkahkan kakinya keluar menuju motornya yang terparkir didekat gerbang.
Sampai larut malam ketiga sahabat ini masih saja berceloteh ceria. Ada saja bahan yang mereka bicarakan. Tapi rasa kantuk akhirnya melanda.
“Hoaaem…” Bella menguap lebar.
“Ga sopan! Whoooeee tutupin dong tuh mulut.” Sergah Cherry.
__ADS_1
“Hihihi… maaf. Tapi ngantuk banget akunya. Tidur yok, besok dilanjut lagi dirumah aku.”
“Rumah kamu?” Tanya Diva. “Memangnya ada apa dirumah kamu?”
“Kamu sih kerja mulu, jadi kudet dah.” Sahut Cherry. “Minggu lalu Bella tuh dapat hadiah ulang tahun dari papa mamanya. Kamu tahu ga hadiahnya apa?”
Diva hanya menggeleng dan memasang wajah penasaran.
“Rumah. Sebuah rumah yang besar.” Seru Cherry bersemangat.
“Whoaaa??!!?!? Rumah?” Tanya Diva dengan mulut ternganga.
“Benar. Tapi aku juga tidur disana. Setidaknya sih belum. Aku kan masih kecil dan imut.” Jawab Bella dengan mata mengantuknya.
“Terus?” Tanya Diva penasaran.
“Makanya aku ingin besok kita semua seharian disana. Tenang saja disana ada dua pembantu yang ditugaskan papa.” Jawab Bella. “Udah ah, pokoknya besok pagi kita harus kesana. Harus! Dan sekarang aku mau tidur. Ga kuat nahan lagi nih.” Jawab Bella. Dan sejenak kemudian dia sudah pulas.
Diva dan Cherry pun ikutan memejamkan mata. Dan tak berapa lama kamar itu sudah hening karena semua penghuninya telah terlelap.
“Halo, Assalamualaikum kak Betho.” Jawab Diva pada sambungan teleponnya dari Bethoven.
“O te we kak kerumah baru Bella.”
“Sama siapa? Aku antar ya?”
“Ga usah kak, kita berangkat bertiga kok.” Jelas Diva.
“Loh mereka tidur ditempat kamu kemarin malam?”
“Benar kak. Dan sekarang kami diundang Bella untuk melihat rumah barunya.”
“Aku ga diajak nih?”
“Maaf kak Bethoven yang tampan. This is girls time.” Jawab Cherry setelah merebut ponsel dari genggaman Diva. “See you kakak tampan.” Ucap Cherry lagi lalu menutup sambungan telepon sambil cekikikan tak menghiraukan Diva yang manyun.
“Whoaa besar sekali rumah kamu Bel.” Teriak Cherry heboh. Begitu mereka telah masuk kehalaman rumah.
Sebuah rumah berlantai dua dengan taman kecil disisi kiri. Dari luar rumah ini sudah menimbulkan nilai kemewahannya.
“Papa kamu kaya banget Bella.” Ujar Diva pelan.
__ADS_1
“Alhamdulillah, disyukuri saja.” Jawab Bella bijak. “Ayo masuk.” Ajak Bella pada kedua temannya.
Mereka disambut dua pembantu seperti yang ddiblang Bella kemarin.
“Berenang aja yok.” Ajak Bella.
“Emang ada kolang renangnya juga?” Tanya Diva.
Bella hanya tersenyum lebar dan menangguk.
“Aku ga bawa baju renang.” Sungut Cherry.
“Aku juga. Bella ga bilang-bilang sebelumnya sih.” Sungut Diva juga.
“Tenang, aku ada kok baju renang. Memang aku persiapkan untuk kalian.” Jawab Bella.
Bella lalu menunjukkan lemari pakainnya. Setelah dibuka ternyata disana ada beberapa puluh potong pakaian renang.
“Pilih saja. Aku yakin ada yang cocok untuk ukuran kalian.” Kata Bella. Lalu dia memilih duluan. “Tapi aku pilih yang ini. Kalian ga boleh jealous ya.”
Cherry dan Diva masih belum menyahut. Mereka masih terkagum-kagum dengan koleksi baju renang dalam lemari besar itu. Lalu Cherry tanpa permisi membuka salah satu satu pintu almari yang tertutup. Kembali mulutnya ternganga karena disitu ada beragam gaun indah tergantung. Diva juga ternganga. Sementara Bella hanya membiarkan saja tanpa berkata kelakuan dua sahabatnya ini. Diva membuka pintu yang lain. Ternyata didalamnya berisi puluhan heels cantik dan mewah. Lagi-lagi dua orang ini mulutnya terbuka lebar.
“Udah-udah, kapan kita berenangnya?” Sergah Bella.
“Kamu kaya banget Bella.” Seru Cherry. “Satu sepatu ini saja harganya jutaan.”
“Kalo kamu mau dan pas, ambil saja Cherry.” Seru Bella.
“Emang boleh?”
“Ya iyalah, apa sih yang enggak buat dua sahabatku tersayang ini.” Jawab Bella sambil terkikik. “Tapi nanti saja pilih-pilihnya. Sekarang ayo berenang dulu.”
“Oke.” Jawab Cherry dan Diva serentak.
Bella sudah berada didalam kolam renang. Tubuhya terbungkus bikini berwarna pink. Dia menunggu kedua temannya sambil meminum jus jeruk yang disediakan pembantunya. Sesekali dia menenggelamkan dirinya beberapa detik didalam air lalu muncul lagi.
“Dengan bikini model string triangle ini pasti akan membuat Diva dan Cherry iri melihatku yang punya tubuh slim seperti ini.” Monolog Bella sambil melihat kebawah kearah bentuk tubuhnya sendiri. Lalu dia cekikikan sendiri membayangkan yang diomongkannya barusan.
Bersambung…
__ADS_1