MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 35 KEPO


__ADS_3

Bethoven mencoba menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mongering. Perasaan  tegang menguasai dirinya, membuatnya sangat tidak nyaman.


“Baiklah akan tante panggilkan. Mungkin saat ini Diva sedang bersiap untuk menemui kamu.” Ujar Minah lalu  meninggalkan Bethoven sendiri.


‘Whuih… Apa-apaan itu tadi? Bukan mamanya tapi ibunya? Dan lagi tatapan mata tante itu, hiii…. Serem  sekali.’ Batin Bethoven selepas ditinggal Minah sendiri.


“Hai.” Sapa Diva.


Bethoven mendongak menatap penamilan Diva yang berdiri didepannya.


‘W O W !’ Bethoven hanya bisa terkagum-kagum akan betapa cantiknya Diva yang dilihatnya kini. Bibirnya  membentuk kalimat kekaguman yang terucap dalam hatinya.


Diva mengenakan gaun model A-line selutut berwarna biru muda dengan motif sketsa bunga. Rambut ikal  panjangnya dijepit rapi, lalu asesoris sepasang jepit rambut berbentuk kupu2 berwarna biru tampak  menempel dan menghias samping kepalanya. Polesan make up tipis dengan pewarna bibir merah tua  tanpak begitu meningkatkan aura kecantikannya yang memang pada dasanya sudah cantik alami.


Diva tersenyum menyadari Bethoven yang terpaku karena terpesona dirinya. ‘Ih… kak Betho, sampai  segitunya… aku kan jadi malu.” Desis hati Diva. Pipinya merona merah mendapati perilaku Bethoven.


Senyuman Diva menyadarkan Bethoven dari rasa kekagumannya.


“Oh, hai..” Jawabnya dengan canggung.


“Silahkan duduk kak.” Kata Diva mempersilahkan Bethoven yang masih bingung harus bagaimana.


“Ah ya.. oke.”


Mereka berdua lalu diam dalam duduk berhadap-hadapan. Menit demi menit berlalu, mereka hanya terdiam.  Terkadang saling memandang dan saling melempar senyum terkulum. Terkadang saling membuang muka karena merasa malu yang tiba-tiba menyerang.


“Kamu… cantik sekali.” Kata Bethoven sangat pelan.


“Hah, apa kak?”


Sementara itu Nabila yang mendapat pesan dari Minah perihal kedatangan Bethoven langsung bergegas  menuju rumah dan menemui Minah. Dia sangat ingin tahu apa yang akan dilakukan dua muda-mudi yang  sedang dilanda asmara.


“Mereka dimana bik?” Tanya Nabila begitu sampai didepan Minah.


“Diteras samping non.” Jawab Minah datar.

__ADS_1


“Yaa… kok diteras samping sih bik. Kan jadi susah untuk memantaunya.” Keluh Nabila.


“Terus disuruh duduk mana? Kalo diruang tamu, kamu malah susah untuk melihatnya. Karena kamu pasti akan ketahuan sama Bethoven.”


“Iya juga ya. Kan Bethoven belum tahu kalo aku ini mamanya Diva.”


Nabila berjalan hilir mudik memikirkan cara paling aman memantau putri semata wayangnya itu.


“Aha!” Pekik Nabila seraya menjentikkan ibu jarinya. “Bukankah teras samping bisa dilihat dari jendela kamar Diva dilantai dua.”


Nabila segera berlari keatas dan masuk kedalam kamar Diva. Minah yang melihatnya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Nabila yang sudah dianggapnya seperti putri kandungnya sendiri itu. Minah lalu  berlalu kedapur, dia teringat kalau Bethoven belum dibikinkan minuman. Biar bagaimanapun Bethoven  adalah tamu, begitu pikir Minah.


Tanpa menyalakan lampu kamar, Nabila dengan perlahan membuka jendela kaca dan mencoba  melongokkan kepalanya melihat. Tapi karena ada plat beton sebagai pelindung jendela dilantai bawah  membuat pandangan Nabila terganggu. Dia hanya bisa kaki Diva yang sedang duduk, tanpa bisa melihat dimana posisi duduk Bethoven.


‘Aaaah… Sial! Kenapa harus ada plat beton itu sih?’ Gerutu Nabila dalam hati. ‘Aku harus mencari cara untuk  bisa melihat merekaberdua tanpa terlihat.’ Setelah sekian detik berlalu ‘Ah, tentu saja aku harus memutar dari belakang rumah aku bisa mendekat dari sana.’


Dengan terburu-buru Nabila berlari keluar dari kamar Diva.


Sementara Minah sudah membawakan minuman untuk Bethoven.


“Ah iya bu, maaf. Jadi ibu yang repot karena kedatangan kak Bethoven.” Jawab Diva tersipu malu. Tentu saja  dia merasa malu, karena takut Bethoven mencap dia tidak tahu sopan santun, masa orang tua disuruh membuatkan suguhan.


“Silahkan diminum.” Ujar Minah dengan ramah juga melemparkan senyuman.


Bethoven yang mendapat perlakuan berbeda dari Minah jadi bingung. Tadi sewaktu tidak ada Diva, ibunya pasang tampang galak, tapi sekarang kenapa auranya berbeda banget ya. Ramah banget.


“Itu ibu kamu ya?” Tanya Bethoven membuka pembicaraan. Akhirnya dia punya bahan untuk mengobrol.


“Iya, kenapa?”


“Enggak, enggak apa-apa. Hanya saja tadi pas pertama bertemu terkesan galak banget. Aku sampai takut.” Jawab Bethoven jujur.


“Hahahaha…. Ibuku galak? Yang benar saja… dan kakak bisa toh merasa ketakutan?”


“Ya tentulah, abisnya ibu kamu menatap aku tajam.” Jawab Bethoven sambil mengusap tengkuknya sendiri.

__ADS_1


“Oh ya, kata teman-teman kamu, kamu ga masuk sekolah beberapa hari ini?”


“Iya kak, mamaku memutuskan aku untuk home schooling.” Tanpa sadar Diva terlepas bicara.


“Mama?”


“Ibuku kak, ibu.” Jawab Diva cepat. ‘Bodoh, bodoh, bodohnya aku…’ Jerit hati Diva. Langsung saja dia  merasa canggung lagi. Padahal suasana baru saja mencair.


“Oh.” Bethoven kebingungan sendiri. ‘Apa aku salah dengar ya?’. “Kenapa harus home schooling?”


Diva hanya mengedikkan bahunya. Dia takut salah bicara lagi. Dan kecanggungan semakin menguasainya.


Sementara itu Nabila kini sedang mengendap-endap dibalik kegelapan. Dari balik tembok belakang, Nabila  mencoba untuk melihat dari kejauhan apa yang dilakukan Diva dan Bethoven.


‘Untuk saat ini mereka masih duduk berhadap-hadapan, aku harus waspada jangan sampai si Bethoven itu  memepet Diva. Aku harus bersiap bila Bethoven mulai bergerak mendekat untuk menempel.’ Pikir Nabila  dalam hati.


Dia merasa jarak sekitar lima belas meter ini terlalu jauh, hingga tak bisa mendengar sedikitpun  pembicaraan yang dilakukan oleh kedua remaja beda jenis itu.


Nabila dengan jalan membungkuk mencoba untuk mendekat. Sesekali kakinya yang hanya memakai sandal jepit itu harus terantuk batu karena keadaan gelap. Akhirnya jaraknya bisa sangat dekat. Hanya tiga meter.


“Duuh… banyak sekali nyamuk disini.” Gerutu Nabila pelan. Karena dia takut ketahuan kalau sedang kepoin putrinya sendiri. Sesekali Nabila menggerakkan tangannya saat ada nyamuk yang menyerangnya.  Kadangkala dia terpaksa menepuk pelan leher atau bagian tubuh lainnya yang terbuka. “Mengapa aku tadi ga kepikiran mengusapkan lotion anti nyamuk dulu sebelum kesini.” Gerutunya lagi.


Nabila mencoba mengintip disela-sela kesibukannya mengusir nyamuk yang semakin garang menyerang  anggota tubuhnya. ‘Kenapa mereka hanya saling diam tak berbicara ya? Jangan-jangan mereka lagi kode- kodean untuk melakukan lebih dari sekedar bicara.’ Rasa curiga semakin membuncah dibenak Nabila ketika melihat kedua remaja itu berdiam satu sama lain tapi saling duduk berhadapan.


Sementara itu rasa canggung yang menyelimuti Bethoven dan Diva membuat keduanya susah untuk  berbicara. Dan pada akhirnya Bethoven dengan segan merasa harus berpamitan pulang.


“Diva, a-aku balik aja dulu ya.”


“Eh, kok buru-buru kak. Belum juga terlalu malam.” Cegah Diva karena merasa sayang jika Bethoven pulang lebih cepat.


“Tapi… a-aku bi… ngung harus ngobrol apaan sama kamu…” Dengan gelagapan Bethoven mengungkapkan kebingungannya. “Ga papa ya aku balik sekarang. Janji deh besok kesini lagi.” Kata Bethoven lagi.


Dengan perasaan terpaksa Diva pun berdiri lalu memanggil Minah, karena Bethoven ingin berpamitan pulang.


“Aaah… syukurlah mereka masih berpacaran sehat.” Lega sekali Nabila melihat kedua anak itu tidak melakukan hal-hal seperti yang dirinya dulu lakukan dengan Ferdi.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2