MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 71 Goyah


__ADS_3

Dua hari lagi acara pernikahan antara Bram dan Nabila akan diselenggarakan dirumah Bram. Ini semua atas  permintaan mereka berdua dengan alasan biar tidak diketahui pihak media. Mereka juga meminta tidak ada pesta,  yang ada hanya acara ijab kabul, lalu doa bersama.


Josephira sangat senang. Keinginannya terpenuhi. Dengan  begini dia bisa membahagiakan Bram dan juga bisa  selalu dekat dengan Nabila.


Hari ini dia mengatur beberapa pelayan untuk mempersiapkan taman samping rumah besar untuk acara ijab kabul.  Sebuah panggung kecil yang muat untuk ijab kabul. Lalu mengatur tata letak dekorasi dan bunga-bunga. Termasuk  tata letak meja dan tempat makanan disajikan.


“Itu jangan ditaruh disana. Aduuuh, bagaimana sih.” Beberapa kali teriakan kesal dari Josephira terdengar.


Nabila yang berada dibelakangnya hanya diam membiarkan saja. Nabila merasa dengan  kesibukan yang ada  untuk Josephira mungkin bisa mempermudah bagi Josephira untuk lupa akan musibah yang dihadapi.


Hari sudah semakin siang. Tapi Josephira masih bersemangat mengatur. Kali ini dia pergi kedapur untuk memeriksa persiapan. Semua ditelitinya.


“Sepertinya semuanya sudah benar sekarang. Tapi apa lagi ya? Kok aku merasa ada yang kurang ya Nab?”  Tanyanya seraya memutar kursi roda.


“Tenang saja kak, masih ada hari esok kok. Apa kakak tidak lelah seharian ini mengatur kesana kemari?” Tanya  Nabila sabar.


“Eh, ini acara penting. Aku tak bisa tenang kalau semua belum aku periksa dan persiapkan. Dan lagi aku masih  punya banyak tenaga cadangan. Kamu jangan kuatir Nab.” Balas Josephira dengan semangat.


“Sudahlah kak, sebaiknya kakak istirahat dulu. Kakak juga belum makan.”


“Nanti saja Nab.” Sergah Josephira.


“Jangan begitu kak, kalau kakak tiba-tiba jatuh sakit. Kak Bram pasti akan membatalkan acaranya.”


“Ah, benar juga kamu. Baiklah ayo kita makan siang. Lalu sholat dhuhur.”


“Nah begitu dong. Ini baru kak Jose.”


Mereka lalu pergi keruang makan. Setelah menyantap dan merasa kenyang. Josephira mengajak untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat, Josephira bermaksud untuk melakukan  pemeriksaan persiapan, buru-buru Nabila mencegahnya. Nabila takut, jika Josephira kelelahan akan memicu depresinya.


“Ayolah kak, kita istirahat saja.”


“Aku masih belum lelah Nab. Apalagi setelah makan tadi, tenagaku sudah kembali.”


“Atau begin saja, aku akan melakukan perawatan  pada kakak. Jadi nanti saat hari  ha, kakak akan sangat fresh  dan tampil fresh juga. Bagaimana kak?”


“Kamu melakukan perawatan padaku? Tidak, tidak, harusnya aku yang memberikan perawatan padamu Nab. Masa  calon pengantin merawat aku, yang benar itu calon  pengantin mendapatkan perawatan jadi tubuh akan menjadi  lebih  mewangi saat malam pertama.”


“Ih, emang kakak bisa? Lagian baru nanti malam beauty advisorku datang. Udahlah sekarang kakak aku beri  perawatan. Terutama luluran. Biar punggung kakak tidak kudisan. Wkwkwkwk...”

__ADS_1


“Sialan kamu.”


Nabila mendorong kursi roda. Josephira sudah merasa tidak berkutik lagi, jadi dia menurut saja.


‘Ah akhirnya mau juga.’ Batin Nabila sambil mengoleskan lulur wangi  keseluruh badan Josephira. Tak hanya memberikan luluran, Nabila juga memberikan relaksasi hingga Josephira ketiduran karena merasa sangat nyaman.


Dua jam kemudian. Josephira sudah terbangun. Dan mendapati dirinya sudah bersih dan juga segar.


“Nab, kamu dimana?” Panggil Josephira.


“Aku disini kak. Ada apa?”


“Bantu aku kembali ke kursi rodaku.” Pinta Josephira.


Nabila datang bersama dengan Bram.


“Hei ga boleh, saru. Calon pengantin bertemu sebelum acara akad nikah.” Ujar Josephira.


“Apaan sih?” Sergah Bram langsung menggendong Josephira dan meletakkannya dikursi roda. “Harum sekali istriku tercinta ini.”


“Ish, ish, kamu ini Bram memujiku tak pandang tempat. Disini kan ada Nabila juga.” Josephira menepis tangan Bram mengingatkan.


“Tak apa, Nabila masih calon istri untuk saat ini. belum boleh cemburu. Heheheh...”


Ditempat lain didalam sebuah cafe.


“Kak Betho apa kamu akan diam saja dengan pernikahan ini?” Tanya Diva.


Bethoven yang duduk didepannya tak langsung menjawab. Dia mengaduk-aduk es coklat kegemarannya sambil terpekur diam.


“Aku bisa apa? Seperti yang telah kujelaskan berkali-kali padamu aku tak bisa berbuat apa-apa Diva. Ini masalah  kedua orang tuaku dan tante Nabila. Mereka bertiga sama-sama rela dan tenang.”


Diva memberengut mendengar jawaban Bethoven. Pupus sudah harapannya untuk mencegah pernikahan antara  om Bram dan mamanya.


“Kamu kok memberengut begitu?” Tanya Bethoven.


“Habisnya kak Betho tak berbuat apa-apa masalah pernikahan om Bram dan tante Nabila.”


“Kamu ini aneh.”

__ADS_1


“Aneh?”


“Iya aneh.Masa, keluarga yang menikah tenang-tenang saja, kamu yang orang luar sewot seperti itu. Hampir tiap hari lagi.”


Diva gelagapan mau menjelaskan seperti apa lagi pada Bethoven yang tak tahu kebenaran hubungannya dengan  Nabila. Akhirnya Diva lebih memilih bungkam seribu bahasa dan meminta untuk diantar pulang.


‘Jika kamu tahu kalau calon istri papamu adalah mamaku kak.’ Batin Diva.


Kembali ke rumah besar Bram.


Naginisa turun dari mobilnya, lalu berjalan masuk kedalam rumah besar.


“Kenapa rumah  ini didekorasi ulang seperti akan ada pernikahan ya? Siapa yang akan menikah? Bethoven?  Bukankah itu tak mungkin, keponakanku itu sma saja masih belum lulus. Atau rumor tentang pernikahan Bram dan  Nabila itu benar adanya.” Monolognya sambil terus berjalan memasuki rumah.


Ketika sampai di ruang keluarga, Naginisa menjumpai Bram dan istrinya sedang bersantai.


“Weleh, weleh, weleh, baru beberapa hari tak kesini kalian akan mengadakan pesta pernikahan?”


“Kenapa kamu kesini?” Tanya Bram tanpa melihat pada Naginisa.


“Selalu seperti ini, kalian selalu memperlakukan aku seperti kalian melihat penyakit menular saja. Tak bisakah  kalian bersikap lebih ramah pada sepupumu yang cantik ini?”


Bram dan Josephira hanya melengos tak menjawab basa-basi Naginisa.


“Kalian selalu seperti ini, tak pernah menganggap rasa cinta yang kuhadirkan untuk kalian. Hahahah... It’s okay,  nevermind. Kalian mau bikin pesta pernikahan? Untuk siapa?”


“Apa peduli kamu?” Tanya Bram.


“Tentu saja aku peduli. Kalau yang menikah adalah keponakan tampanku aku siap menjadi gadis pengiring dia,  free ga usah dibayar.”


“Siapa juga yang akan menjadikanmu gadis pengiring? Mimpi aja terus!” Ketus Josephira.


“Hahahaha. Sepupuku yang cantik dan lumpuh ini masih saja pedas kalau bicara.”


“Ka-kamu cepat keluar dari sini!” Usir Josephira sudah tak sanggup menahan emosinya.


“Baiklah, baiklah, aku akan keluar sekarang juga.” Kata Naginisa seraya berbalik arah keluar. “Oh ya, Selamat ya  Bram, dua hari lagi kamu sudah punya dua istri. Hahahaha... Bersyukurlah karena kelumpuhan istrimu membawa  berkah bagimu. Dan sepupuku bersiaplah untuk dilupakan tak lama lagi, karena kau sudah tak berguna baik diranjang atau dimanapun. Hahahaha...”


Josephira yang mendengar kalimat ejekan dari sepupunya mulai goyah dengan keputusannya untuk meminta Bram menikah dengan Nabila.

__ADS_1


‘Apakah aku salah? Mungkinkah cinta Bram yang begitu besar padaku akan pupus dengan kehadiran Nabila?’  Josephira terus bertanya-tanya dalam hatinya. ‘Nabila sangat cantik, sempurna, perawan dan seksi. Bisa jadi Bram  akan lupa padaku seiring berjalannya waktu.’


Bersambung...


__ADS_2