
Diva baru saja terbangun dari tidurnya pagi ini. Meski sudah beberapa kali tidur dirumah Cherry, tapi selalu saja Diva merasa bingung ada dimana saat baru terbangun. Ditatapnya seluruh ruangan kamar yang masih samar, karena Cherry lebih senang menyalakan lampu kecil saat tidur. Setelah tersadar dan teringat sepenuhnya dia langsung duduk dan melakukan ritual meregangkan badan setelah bangun tidur dia melihat pada jam dinding yang tergantung dengan memicingkan mata.
‘Sudah jam setengah lima, aku harus bergegas shubuhan sebelum kesiangan.’ Perintah hati Diva pada dirinya sediri.
Diva lalu bangkit ambil air wudlu lalu sholat. Tak lupa dia lakukan sholat sunnah dua rakaat sebelum mengerjakan sholat subuh.
“Assalamualaikum warrahmatullah.” Ucap Diva mengakhiri sholat subuhnya. Sebenarnya dia bermaksud untuk berdzikir sebentar, tapi karena dilihatnya Cherry dan Bella masih pulas dalam tidurnya, Diva bermaksud membangunkan mereka.
Diva menggoyang-goyang tubuh mereka. Tapi mereka hanya bergerak tanpa sedikitpun terbangun dan membuka mata.
‘Hadeeeeh… kalau sudah molor, susah sekali dibanguninnya.’ Gerutu Diva dalam hati. Sekali lagi dia menggoyang-goyangkan tubuh dua sahabatnya itu. Namuh hasilnya tetap sama. ‘Hmmm… kalau cara ini tak berhasil, aku nyerah dah.’ Batin Diva lagi sambil tersenyum. Dia lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Cherry, kebetulan Cherry posisi tidurnya miring.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Diva mulai melantunkan adzan tepat ditelinga Cherry yang lagi pulas itu.
Seketika Cherry membuka matanya dan kemudian langsung duduk. Diva terbahak-bahak melihat temannya itu langsung terduduk dan bibirnya maju manyun.
“Anjayyyy tega banget sih! kamu anggap aku ini dah meninggal ya, jadi kamu adzanin?” Gerutu Cherry.
“Hahahaha… habisnya waktu subuh dah mau habis kalian susah banget dibanguninnya.” Ujar Diva sambil terbahak-bahak. “Sekarang bangunin tuh si Bella, lalu sono pergi sholat.” Seloroh Diva lagi masih dengan tawanya yang renyah.
Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi mereka bertiga. Karena pada hari ini pengumuman kelulusan akan menunjukkan pada mereka apakah mereka berhak untuk memakai seragam abu-abu putih atau masih harus memakai biru putih mereka.
“Ayo kita berangkat.” Seru Diva pada dua sahabatnya.
“Oke.” Jawab Cherry dan Bella serempak.
“Eh, cat semprotnya ga ketinggalan kan?” Tanya Bella pada Cherry dan Diva.
“Beres bos. Sudah didalam tas semua.” Jawab Cherry dengan senyum merekah.
Dan merekapun berangkat menuju sekolah. Meskipun mereka sangat yakin akan lulus, akan tetapi hati kecil mereka masih timbul sedikit ketakutan.
Jam sepuluh lewat, tapi pengumuman kelulusan belum ditempel di mading sekolah.
“Tenanglah Cherry, aku yakin kita semua akan lulus kok hari ini.” Kata Bella menenangkan Cherry yang terlihat semakin gelisah.
__ADS_1
“Benar, memang sih teman-teman ada yang mengatakan dapat info bocoran bahwa ada dua orang yang tidak lulus dari sekolah kita tahun ini. Tapi aku yakin itu bukan salah satu dari kita.” Timpal Diva menguatkan hati pada Cherry dan Bella.
“Semoga saja, kita semua lulus dengan nilai yang bagus.” Kata Cherry lirih. Hatinya sangat resah.
“Hei, lihat gerbang sekolah sekarang ditutup rapat dan digembok pak satpam.” Seru Cherry.
“Berarti sebentar lagi pengumuman akan ditempel. Ayo kita mendekat, biar cepat kita tahu lulus atau tidaknya.” Ajak Diva. “Dan setelah pastikan kalau kita lulus, kita langsung cari tempat didepan panggung, karena kak Betho dan bandnya akan tampil menghibur kita.”
“Beneran?” Tanya Cherry yang tak biasanya menjadi kudet.
“Beneran lah. Kak Betho bilang diminta tolong sama para guru agar mau mengisi acara. Biar siswa kita tidak ikut-ikutan konvoi motor dijalanan setelah pengumuman.” Jelas Diva lagi.
“Kalau seperti itu, ayo cepetan kita mendekat ke mading.” Kata Cherry sambil berlari meninggalkan dua sahabatnya.
Pada akhirnya mereka semua dinyatakan lulus. Bahkan Diva dan Bella masuk sepuluh besar nilai terbaik. Cherry seperti biasa hanya mampu masuk jajaran lima puluh besar. Tapi itu tak menyurutkan rasa gembira mereka.
Dan mereka pun melampiaskan euforia khas remaja yang merayakan kelulusan.
\===o0o===
Sebuah dress berwarna royal blue dengan model empire waist mendapat persetujuan ibu dan mama Diva. Setelah beberapa kali mencoba beberapa macam jenis dress. Ada saja alasan untuk tidak setuju, yang kependekan lah, terlalu rendah lah, terlalu seksi lah. Namun setelah dua jam akhirnya yang dress indah ini mendapatkan persetujuan mereka berdua.
Diva sendiri sangat menyukainya, karena bentuknya sederhana, tapi kesannya sangat glamour. Dan yang lebih penting ini adalah hadiah mamanya. Harganya cukup fantastis, empat belas juta, untuk sebuah baju. Meskipun sebenarnya Diva mampu membeli dengan uangnya sendiri hasil dari kerja kerasnya selama ini.
Besok malam adalah prom night. Sebuah pesta yang digelar disekolah setelah pengumuman kelulusan. Banyak teman lelaki Diva yang ingin mengajak Diva sebagai pasangan mereka untuk datang bersama. Namun dengan halus Diva menolaknya, karena Bethoven sudah terlebih dulu menawarkan diri untuk mendampinginya di acara tersebut.
Padahal Bethoven mendapat gelar prince of prom pada tahun sebelumnya dengan Delila sebagai princess of prom sebagai pasangannya.
Malam harinya.
Minah membuka pintu dan muncullah Bethoven dengan setelan tuksedo warna biru gelap lengkap dengan vest dan dasi dengan warna senada.
‘Penampilan kamu ini begitu sempurna. Kamu pantas disebut tampan dan elegan. Sangat cocok dengan putriku Diva.’ Begitu pujian yang dikatakan hati Minah saat melihat saat ini.
Minah menyuruh Bethoven untuk masuk dan menunggu. Belum sempat Bethoven duduk, dia sudah terpaku dan memandang penuh ketakjuban.
__ADS_1
Minah sendiri pun ikut berhenti, setelah menyadari Bethoven berhenti. Dia memandang mengikuti arah pandangan Bethoven yang terpaku, terpesona.
Diva menuruni anak tangga dengan wajah memerah. Dia merasa canggung karena Bethoven memandangnya dengan cara seperti itu. Diva melambaikan tangan didepan dadanya mencoba menyadarkan Bethoven yang terpaku.
“Hai..” Sapa Diva canggung.
“Oh, hai.” Jawab Bethoven setelah tersadar dari rasa takjubnya. “Kamu cantik.” Hanya itu kalimat selanjutnya yang bisa Bethoven katakan.
Pipi Diva semakin memerah mendengar pujian itu. Rasa berbunga-bunga melambungkan asanya kelangit ketujuh.
“Kakak juga. Ga-gah.” Puji Diva terbata karena kecanggungannya belum reda.
Bethoven menyerahkan bunga mawar yang dia bawa pada bidadari cantik yang kini berdiri dihadapannya. Dan Diva menerimanya lalu tersenyum dengan manisnya dan mengucapkan terima kasih dengan sangat lirih.
“Kita berangkat saja sekarang ya kak?” Tanya Diva.
“Baiklah.” Jawab Bethoven singkat setelah melihat jam tangannya.
Setelah itu mereka berpamitan pada Minah.
Nabila menangis bahagia dari balik pintu dapur. Sebenarnya dia sangat ingin mengantar kepergian putrinya itu ke prom night. Tetapi karena aib masa lalu, membuat dia hanya bisa bersembunyi menyaksikan putrinya bergandengan tangan dengan Bethoven keluar dari rumah.
Bersambung…
______________
Author Says:
(Sebuah acara yang menurut author kurang bermanfaat dan lebih banyak bahayanya kepada para pemuda utamanya para remaja perempuan, mereka jadi lebih rentan untuk melakukan hubungan *** pra nikah dengan pacarnya setelah acara prom night. (Yaaa… salah sendiri mengadopsi pesta american style)
__ADS_1