
Bram betah memandangi istrinya dari kejauhan. Dia sangat bahagia bisa melihat senyuman dan tawa lepas disana.
“Minum dulu Nab. Aku haus.” Seru Josephira seraya menyuruh Nabila membawanya ketepian.
Nabila naik keatas dan mengambil dua gelas es kelapa muda setelah sebelumnya menempatkan Josephira ditepi kolam.
Josephira masih setia menunggu Nabila datang dengan tangannya menopang diatas tepian kolam agar dirinya tidak tenggelam.
Nabila meletakkan es kelapa muda tepat didepan Josephira, sementara dia sendiri duduk ditepian kolam dengan kaki tercebur diair sambil menyeruput segarnya es kelapa muda.
“Nikmat sekali. Habis capek berenang minum es kelapa muda.” Ujar Nabila seraya meletakkan gelas esnya yang sisa setengah.
“He eh, benar sekali Nab. Rasanya badanku sedikit bertambah segar.” Timpal Josephira.
“Yah, syukurlah. Setidaknya punggung dan pantat kakak ga bakalah kudisan karena terus duduk dan tidur terlentang. Wkwkwkwk....”
“Sialan, masa kudisan sih? Apa ga sekalian kena lepra saja!” Ketus Josephira lantas ikutan tertawa terbahak-bahak.
“Aku datang!” Teriak Bram sambil berlari lalu melompat kedalam kolam.
Kedua wanita yang sedang menepi itu kaget bukan kepalang. Mereka tak menyangka hal yang akan dilakukan Bram barusan.
“Hei! Aduh, kak Bram ah. Es aku jadi kecampur air kolam nih karena terciprat air.” Teriak Nabila seraya memberengut. “Padahal masih sisa separoh.” Sambung Nabila dengan nada sangat kesal, dan bibirnya makin maju.
Bram hanya terbahak-bahak melihat aksi Nabila. Dia lalu berenang ke tepian mendekati Josephira. Kemudian didekapnya perut istrinya itu rapat.
“Aish, ada Nabila Bram. Sana, sana, menjauh dariku.” Usir Josephira.
Tapi Bram bergeming dia tetap saja memeluk istrinya dengan mesra.
“Yaaa, mulai deh adegan film India. Seharusnya kak Bram sambil nyanyi kuch kuch hota hae gitu, biar kena.” Seloroh Nabila seraya berdiri lalu berjalan menuju kursi malas.
Josephira dan Bram sama-sama tertawa ngakak mendengar selorohan itu.
“Kamu ini mengganggu saja.” Gerutu Josephira pelan karena tak mau Nabila mendengarnya.
Josephira masih tak memungkiri rasa marah karena terhina beberapa hari lalu. Meski dia sudah berusaha melupakannya dan berpikir positif tentang keputusan Bram. Tapi entah mengapa dia selalu saja merasa sangat terhina dan terlecehkan oleh perlakuan Bram.
“Udah dong dinda jangan marah-marah. Nanti dinda lekas tua.” Seloroh Bram meniru lirik lagu.
__ADS_1
“Ih, siapa yang marah.” Balas Josephira. “Udah, sekarang gendong aku ke kursi malas.” Titahnya.
“As you wish my queen.”
Bram membopong tubuh Josephira. Seperti pengantin baru yang melaksanakan bulan madu. Tatapan mata Bram hampir selalu lekat memandang wajah istrinya dengan penuh cinta, begitu pun Josephira.
“Cih, kalau sudah begini aku pasti akan jadi obat nyamuk sebentar lagi.” Decih Nabila saat Bram meletakkan tubuh Josephira di kursi malas tepat disebelah kursi Nabila.
Sepasang suami istri itu hanya melirik sekilas pada Nabila seraya tersenyum tipis.
“Dasar abege tua.” Seloroh Nabila sambil memutar matanya malas.
Lagi-lagi kedua pasangan itu tak menjawab hanya terkikik kecil.
Kini mereka bertiga terlentang dikursi malas masing-masing.
“Bram...” Panggil Josephira.
“Iya sayang.”
Nabila hanya diam dan pura-pura tak mendengar.
“Kenapa kamu sudah pulang?”
‘Mulai lagi deh, rayuan gombal ala Bram.’ Runtuk hati Nabila yang hanya mendengar saja. Dia lalu duduk dan mengupas mangga yang ada di meja.
Josephira melihat Nabila lalu berkata, “ Nab, berikan aku pisau dan mangga juga. Aku ingin mengupas sendiri.”
Nabila langsung mengambilkannya untuk Nabila.
Josephira mulai mengupas mangga, lalu menoleh pada Bram dan berkata, “Kamu mau?”
Bram mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.
“Pemikiran kamu tentang Nabila untuk tinggal disini bersama kita memang tepat aku rasa.” Ucap Josephira pelan dan tegas, sambil menyorongkan daging mangga kearah Bram.
Bram mendekat dan membuka mulutnya, lalu melahap semua sodoran Josephira hingga jemari Josephira ikutan masuk kedalam mulutnya.
“Benar.” Jawab Bram dengan mulut penuh mangga.
__ADS_1
“Nab, kamu mau kan tinggal disini menemaniku?” Tanya Josephira sekarang ganti menoleh pada Nabila yang sibuk mengunyah mangga hasil kupasannya sendiri.
“Bisa diatur, tapi terkadang aku juga sibuk kak.” Jawab Nabila sekenanya.
“Done. Beres sudah.” Seru Josephira sambil menyuapkan mangga lagi kemulut Bram.
“Eh, kalian serius?” Tanya Nabila kemudian sambil meletakkan pisau dan biji mangga dipiring.
Suami istri didepan Nabila kompak mengangguk.
Nabila hanya bisa nyengir kuda menyadari persetujuannya tadi ditanggapi dengan serius oleh Bram dan Josephira.
“Sekarang aku mau menagih janji Bram.” Kata Josephira lagi seraya menoleh pada suaminya.
“Apa?”
“Nikahi Nabila. Jadikan dia istri keduamu.”
“APA?” Teriak Bram dan Nabila serempak.
“Kamu sudah gila Sayangku!” Bentak Bram tiba-tiba kesal dengan permintaan istrinya.
“Kak, kamu sehat-sehat saja?” Tanya Nabila juga dengan nada tinggi.
Josephira dengan tenang melanjutkan mengupas mangga lalu memakannya. Setelah beberapa detik dia mengunyah, dia menganggukkan kepala.
“Aku tidak gila dan sangat sehat kecuali kelumpuhan. Semuanya sudah aku pikirkan, dan aku rela jika Bram menikah lagi asalkan istri keduanya adalah Nabila.”
“Tidak, tidak, itu tidak mungkin.” Bram berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil menggelengkan kepala tanda tak setuju.
“Benar kak, itu tak mungkin. Aku seorang publik figur, bisa-bisa seluruh jagad medsos dan jagad hiburan tanah air memberiku cap sebagai pelakor. Kakak tega dengan hal itu?” Timpal Nabila seraya berdiri dan duduk dikursi yang sama dengan Josephira. “Lagian jikapun aku mau, Aku yakin aku dan kakak akan sama-sama tersiksa oleh cemburu. Sementara saat aku masih menjadi adikmu saja aku seringkali cemburu melihat kemesraan kalian berdua.” Jelas Nabila pelan, tegas seraya menatap intens kedalam manik mata Josephira.
Josephira tetap tenang. Dia tersenyum mendengar kalimat-kalimat dari dua orang disekitarnya ini.
“Nab, aku tahu kamu akan mengatakan itu. Dan setelah mendengarnya kini aku yakin kamu bisa mencintai kakakmu Bram sebagai suamimu. Sama seperti aku. Karena kamu akan merasa cemburu padaku.” Jelas Josephira tenang. “Masalah pelakor? Dimana bisa kamu disebut pelakor? Kan aku memberikan Bram suamiku untuk menjadi suamimu? Kamu bukan pelakor Nabila sayang, karena kamu tidak merebutnya dariku.” Kali ini Josephira dengan nada tegas bicara dan menekankan pada bukan pelakor.
“Tapi sayang, kenapa?” Tanya Bram berlutut didepan Istrinya. “Aku tak butuh Nabila sebagai istriku. Aku sudah cukup puas dan bahagia hanya memilikimu.”
“Benar yang dikatakan kak Bram. Aku bisa menikah dengan orang lain, dan kakak tak perlu mencarikan aku jodoh dengan mengorbankan perasaan kakak sendiri, dan mungkin perasaanku nantinya.” Timpal Nabila.
__ADS_1
“Kalian tidak mau menuruti keinginanku?” Tanya Josephira dingin, seraya menatap dua orang didepannya bergantian dengan tajam.
Bersambung...