
Hati Bethoven sangat geram, jengkel dan sudah ingin meledak. Suasana hatinya sungguh ingin menghajar atau menghancurkan sesuatu agar emosinya tersalurkan. Dengan tangan terkepal dan wajah mengeras, Bethoven masih mencoba untuk menahan emosinya.
“Kak Betho!” Diva sudah berteriak ketika melihat Bethoven, meski jarak mereka masih cukup jauh.
Buggy Car yang ditumpangi Diva terus melaju membelah beberapa calon penumpang pesawat. Berkali-kali dan sedari awal Rendi atau Nabila yang ada didalamnya meneriakkan minta maaf kepada penumpang yang berteriak memakin karena merasa terganggu. Akhirnya buggy car berhenti sepuluh meter dari posisi Bethoven. Diva langsung turun dan berlari seraya berteriak memanggil Bethoven.
Bethoven menoleh, dia mengucek matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat ini Diva tengah mendekat dengan buggy car. Ketika mobil kecil itu berhenti, Diva langsung turun dan berlari padanya.
“Di-Diva?” Gumam Bethoven. Dalam hatinya ada terbersit rasa senang, namun rasa marah mendominasi hatinya, karena Bethoven merasa telah terbohongi, terabaikan dan sangat tak dianggap. Membuatnya hatinya merasa dingin pada gadis yang dicintainya itu. Pada Diva yang kini telah mendekat dan seketikan menubruknya, memeluknya sambil menangis tersedu.
“Maafkan aku kak, maafkan aku.” Rengek Diva meminta maaf seraya menangis tersedu. Dari seluruh pesan yang dikirim Bethoven selama ponselnya dimatikan, Diva bisa tahu kalau kekasihnya tengah kecewa dan sangat marah karena merasa tak dianggap olehnya. “Akan kujelaskan semuanya. Maafkan aku ya kak Betho.”
Kehebohan diantara mereka mengundang para flight attendant (pramugari/pramugara) yang berada disekitar situ. Sebagian dari mereka mengenal siapa Diva maupun Bethoven, dan mereka berinisiatif merekam momen langka itu. Ada yang menyiarkan secara live dalam story media sosial mereka, ada punya yang hanya merekam saja.
Bethoven hanya diam. Dia tak menjawab. Bahkan kedua tangannya tak bergerak memeluk atau menepis tubuh Diva. Dia hanya mematung diam seribu bahasa.
“Kak, akan aku jelaskan semuanya. Sekarang aku sudah bisa bercerita seluruhnya pada kakak. Sungguh kak, maafkan Diva. Bukannya aku mengabaikanmu, atau tak menganggapmu. Aku sungguh mencintaimu kak.” Ucap Diva sambil mendongak menatap wajah kekasihnya itu. Air matanya berderai berjatuhan seperti hujan yang turun dengan sangat derasnya. “Aku mencintaimu setulus hatiku.”
Bethoven melengos, merasa jengah dan malas mendengar apapun kalimat Diva.
“Kak, lihat aku. Sungguh aku akan jujur padamu, aku akan mengatakan semuanya padamu.” Ucap Diva lagi diantara isak tangisnya. Diva melepaskan pelukannya. Masih dengan menatap wajah tampah Bethoven, dia genggam jemari Bethoven. “Maafkan aku kak, dulu aku tak mampu menceritakan semuanya. Dulu aku terpaksa melakukannya kak. Tapi kini, beban itu telah lepas. Akan aku ceritakan semuanya.”
Bethoven menatap wajah gadis yang memeluknya sambil menangis itu. Tatapannya datar, seolah hatinya tiba-tiba membekukan seluruh perasaan cinta yang dimilikinya. ‘Pembohong selalu akan berbohong. Kalau sudah tertangkap basah baru mengakuinya. Entah itu dengan kejujuran atau dengan kebohongan yang lainnya.’ Ucap batin Bethoven.
“Kak, tolong jangan berhenti mencintaiku. Aku, aku sangat mencintaimu...” Kalimat Diva terhenti ketika seorang flight attendant wanita perlahan mendekat pada Bethoven dan mempersilahkan Bethoven untuk memasuki pesawat karena kendala telah terselesaikan.
__ADS_1
Tanpa sedikitpun keraguan, Bethoven melangkah hendak meninggalkan Diva tanpa berucap sepatah katapun.
“Kak...” Panggil Diva berusaha menarik lengan Bethoven untuk mencegahnya pergi. Air matanya semakin deras mengalir.
Bethoven tak bergeming. Dia tetap melangkah menuju garbarata yang menghubungkan dengan pesawatnya.
Beberapa flight attendant yang sedari tadi merekam Diva dan Bethoven ikut meneteskan air mata melihat adegan demi adegan dan kata-kata Diva yang mengiba memohon maaf.
“Kak Betho...” Diva mendekap tubuh Bethoven dari belakang. Membuat langkah Bethoven terhenti. Dengan sedikit kasar, Bethoven berusaha melepaskan tangan Diva dari tubuhnya.
Diva tak menyerah, dia berlari kedepan Bethoven lalu mendekapnya lagi dengan sangat erat. Dia sangat ingin mendengar sedikit kalimat sebagai ucapan perpisahan, dan sedikit janji Bethoven. Diva berharap Bethoven mau mengatakan akan mencintainya dan kembali padanya.
“Lepaskan!” Perintah Bethoven dengan suara pelan, namun tegas dan penuh penekanan. Dia semakin jengah dengan perlakuan Diva malam ini.
Diva tak langsung melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Bethoven mencoba mencari kejelasan dari manik mata kekasihnya. Mata mereka saling beradu. Diva mencoba menyelami kedalam tatapan lelaki yang dicintainya itu berharap masih menemukan secercah harapan.
“Sebentar kak... kumohon ijinkan aku memelukmu sekali lagi.” Kata Diva dan langsung memeluk erat tubuh Bethoven meski kekasihnya itu belum mengatakan apa-apa. Diva lalu memandang lekat wajah Bethoven, mengusap lembut pipi dan rahang yang mengeras karena marah itu.
Bethoven hanya membeku. Sorot matanya semakin tajam menghujam pada netra Diva.
“Tuan muda, silahkan waktu kita untuk take off akan tiba.” Ucap flight attendant yang tadi menjemputnya.
Mendengar kalimat itu. Diva seperti tersengat listrik yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Dia berjinjit lalu tanpa mengucapkan satu kalimat apapun, Diva ******* bibir Bethoven.
Bethoven terkejut mendapat perlakuan itu. Dan perlakuan itu malah membuat hati Bethoven mengeras. Bibir terkatup tak meladeni ciuman tanda perpisahan dari Diva. ‘Dasar murahan!’ Sungut batin Bethoven.
__ADS_1
Beberapa saat dengan derai cucuran air mata Diva terus ******* bibir terkatup Bethoven. Bethoven hanya diam membiarkan saja, hingga Diva menghentikan sendiri perbuatannya.
Beberapa ponsel terus merekam setiap adegan demi adegan.
Bethoven melangkah pasti meninggalkan Diva. Hatinya semakin mengeras membatu seiring mengerasnya rahang-rahang diwajahnya.
Diva menangis tersedu. Menangisi kepergian Bethoven meninggalkan dirinya karena marah. Tangisannya semakin menjadi, tatkala dilihat Bethoven menghilang memasuki garbarata. Tubuhnya semakin bergetar hingga dia duduk dengan kaki terlipat, bersimpuh dengan cucuran air mata kesedihan dan penyesalan.
Nabila juga ikut menangis. Dia sengaja membiarkan mereka berdua. Meskipun dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi cepat atau lambat, tak urung air matanya meleleh juga menyaksikan kesedihan putrinya. Dia lalu turun dari buggy car dan berlari menghampiri Diva lalu memeluknya. Mereka berdua menangis dan saling berpelukan.
Rendi datang menghampiri. Lalu ikut berjongkok.
“Sudah, sudah, kalau dia memang jodoh kamu Diva, dia pasti akan kembali padamu.” Nasihat Rendi pelan.
“Tapi om...” Diva mencoba membantah, namun diurungkannya.
“Bersabarlah. Om janji akan bantu kamu. Tapi tidak sekarang, karena kamu masih harus menyelesaikan masa SMA kamu yang kurang satu tahun lagi kan? Nanti setelah lulus mungkin om bisa tempatkan kamu untuk magang di perusahaan om di London. Oke?”
Diva mengangguk.
“Nah sekarang ayo bangun aku akan antar kalian pulang. Malu dilihat dan direkam banyak orang.” Ajak Rendi sambil menunjuk beberapa orang yang masih merekam dengan antusiasnya.
Diatas jet pribadi yang telah mengudara. Bethoven mengusap bibirnya berkali-kali. Entah sudah berapa lembar tisu basah yang telah dia pake dan buang sembarangan. Hingga lantai pesawat itu terlihat kumuh. Para flight attendant masih enggan memungutinya, karena mereka tadi kena bentakan Bethoven saat bermaksud merapikan.
“Aku sungguh menyesal telah jatuh cinta pada penipu dan wanita murahan seperti dia!” Maki Bethoven sambil memukulkan kepalan tangannya ke pegangan tempat duduknya.
__ADS_1
Bersambung...