
“Kenapa tiba-tiba aku punya fantasi make love di jalanan yang ramai saat siang hari ya?” Kekeh Naginisa. Dia lalu menyeruput kopinya.
Seperti biasa tubuhnya yang sempurna dibalut pakaian mini nan ketat yang semakin menonjolkan aura sexualitasnya. Dengan setelan putih, heels putih dan topi lebar putih lalu kacamata hitam lebar dan rambut dikucir kuda mempamerkan leher jenjnagnya, membuat setiap mata lelaki yang memandang pasti menelan saliva dan membayangkan hal yang diinginkan untuk memuaskan syahwat mereka.
“Ayo kita jalan-jalan.” Kata Naginisa pada lelaki budak yang telah dibelinya.
Lelaki itu berjalan mengekor tanpa bersuara. Tubuhnya tegap dan gagah, tapi pandangannya kosong tanpa jiwa. Lelaki itu seolah-olah hanya sebuah tumpukan daging tak berjiwa atau hewan peliharaan yang tak punya akal pikiran.
Naginisa telah berada dibalik kemudi dan lelaki itu duduk disampingnya dengan patuh. Mobil sport mewah itu melaju meninggalkan apartemen mewah yang ditempati Naginisa. Tujuan Naginisa adalah kawasan perdagangan paling elit dikota.
“Tepat seperti yang kubayangkan.” Monolog Wulandari dengan senyum puas menghias bibirnya. “Jalanan begitu ramai orang dan kendaraan lalu lalang di hari minggu ini. Yes, yes, aku semakin bersemangat.” Monolognya lagi.
Dia lalu melambatkan laju mobilnya. Setelah mendapatkan tempat parkir ditepi jalan, didepan toko perhiasan mewah dan tas-tas branded dia pun menepikan dengan baik mobil sportnya.
“Kau, anjing yang baik.” Naginisa menoleh pada lelaki yang telah menjadi budak nafsunya itu. “Sekarang tuanmu ini menyuruhmu berlaku seperti anjing yang menyenangkan tuanmu ini.” Katanya lagi sambil membelai dagu lelaki itu, seolah sedang membelai seekor anjing.
Lelaki itu menoleh kearah Naginisa dengan menjulurkan lidahnya keluar. Dia juga menirukan suara anjing yang sedang dimanjakan tuannya. “Kaiingng… kaiingng…”
“Wkwkwkw… Bagus. Anjing pintar.” Serun Naginisa sambil tertawa lebar. “Sini dogie, sini puaskan tuan cantikmu ini.” Katanya lagi sambil menuntun kepala lelaki itu ke bagian intinya. “Yaa… benar… Aah… Good, smart dog. Uuuh… yes… ouh…” Naginisa terus melenguh dan meracau semakin keras. Matanya merem melek menikmati sensasi jilatan di area paling sensitifnya.
Naginisa semakin terangsang tatakala beberapa pejalan kaki merasa penasaran dan mencoba melihat apa yang terjadi dibalik jendela. Dia hanya tertawa lirih sambil terus mendesah.
Sensasi-sensasi seperti inilah yang menjadi fantasi-fantasi liar Naginisa. Dan dia adalah orang yang selalu ingin mendapatkan yang lebih dan lebih liar lagi.
Tiba-tiba pandangan Naginisa terpaku pada mobil yang baru parkir tak jauh didepan mobilnya. Sopir bersetelan jas hitam dan topi hitam kecil tampak turun dan membukakan pintu belakang. Lalu keluarlah seorang wanita sedang hamil besar yang terlihat sangat cantik dan anggun.
“Josephira?” Dia lalu menjambak rambut lelaki yang masih menjilatinya tanpa berhenti dan mengangkatnya keatas lalu mendorongnya kesamping dengan kasar. “Apa yang sedang Josephira lakukan disini? Hah, dia masuk ke toko perhiasan itu? Apa itu tokonya yang baru? Atau dia hanya mengidam saja?”
Naginisa lalu membetulkan span super mininya yang sempat tersingsing keatas, sehingga bagian intimnya yang tidak memakai segitiga pengaman itu tertutupi.
“Hemmm, ini kesempatanku balas dendam. Sakit dileherku masih belum hilang sepenuhnya sejak malam itu.” Kata Naginisa sambil menyeringai.
Sebuah niat jahat tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Dia lalu membuka laci dan mengambil sebuah kunai*).
“Budak!” Panggil Naginisa dingin.
“Ya nona.” Jawab lelaki itu.
__ADS_1
“Kamu lihat foto wanita ini.” Kata Naginisa sambil menyodorkan ponselnya. “Hapalkan wajahnya.” erintahnya lagi. Dan lelaki itu mengamati foto dalam ponsel itu lekat-lekat. “Sudah hapal?”
“Iya nona. Dia sangat mirip dengan nona muda.”
“Bagus. Bawa kunai ini, masuklah ketoko perhiasan disana itu.” Katanya memberi petunjuk sambil menunjuk toko perhiasan milih Nabila dan Josephira. “Jika kau melihatnya cepat tusuk wanita itu dan kabur. Tunggu aku di gang kecil sana, setelah aku memastikan pekerjaan kamu, aku akan menjemputmu.” Katanya lagi memberikan jalur pelarian.
“Baik nona.”
“Ingat, harus berhasil. Dan kamu akan mendapatkan hadiah untuk melepaskan nafsumu yang tertunda sekarang. Tapi jika gagal aku akan mencambukmu nanti malam. Mengerti?”
“Iya nona.”
Budak itu lalu turun dari mobil. Semua orang yang melihat lelaki budak ini tak akan pernah menyangka bahwa lelaki tegap dan tampan ini adalah seorang budak nafsu. Pakaian yang dia kenakan bagus dan mahal.
Sementara itu, didalam ruang kerja Nabila.
“Kakak, kenapa kakak kesini sih. Telepon saja aku, pasti deh aku datang kerumah kakak.” Sapa Nabila saat melihat Josephira masuk keruang kerjanya.
“Kamu ini sudah mirip Bram saja.” Sungut Josephira. “Bosan tahu dirumah terus.”
Josephira terkekeh kecil melihat ulah sahabat yang sudah dianggapnya adik itu.
“Oh ya kuambilkan minuman ya kak. Tadi aku pesan es kelapa muda dan baru saja terkirim tepat sebelum kakak tiba.” Tawar Nabila.
“Wow, tumbenan kamu? Tentu saja aku mau.”
“Hehehe… sekali-kali untuk kakakku tak apalah minum es kelapa muda yang segar. Bahkan kata orang-0rang tua jaman dulu air kelapa muda bagus untuk janin.”
“Sotoy kamu. Menikah saja belum pernah, mau menasehati aku. hahahaha...”
“Hahaha… katanya kak, beneran apa tidak yang penting segar ditenggorokan.” Elak Nabila sambil menyodorkan satu gelas besar es kelapa muda dengan sirop berwarna merah muda.
“Hmmm, mantab rasanya.” Seloroh Josephira setelah meminumnya dengan sedotan.
“Eh kakak kesini ada perlu penting atau hanya mengobrol saja?”
“Dua-duanya lah.”
__ADS_1
“Dua-duanya? Kalau begitu aku tanya yang penting dulu saja deh.”
“Ini.” Kata Josephira sambil menyerahkan foto disain gelang dalam ponselnya. “Ini sketsa disain kamu kan? Aku tertarik ini untuk kamu produksi, tapi kamu produksinya terbatas. Hanya lima belas biji saja.”
“Kenapa kak?”
“Karena aku ingin memesannya satu untuk calon babyku.”
“Owh. Begitu ya? Oke kak. Nabila akan produksi seperti yang bunda ratu katakan.”
“Bunda ratu. Ratu nyai roro kidul kali. Hahahah…” Seloroh Josephira.
Lalu mereka membahas sedikit tambahan untuk disain yang diminta Josephira. Dan seperti biasa lalu terjadilah percakapan super akrab disertai canda dan tawa.
“Ah, aku harus pulang Nab.” Keluh Josephira setelah mendapat pesan dari Bram suaminya.
“Iya kak, entar malam aku akan main kerumah kakak deh, sambil ngelanjutin bahasan disain ini tadi.” Jawab Nabila.
“Oke aku pulang dulu ya.” Pamit Josephira.
“Aku antar keluar kak.”
Josephira berjalan mendahului Nabila, karena tiba-tiba Nabila mendapat telepon dari koleganya.
“Sebentar kak.” Seru Nabila sambil mengangkat ponselnya lalu berbicara sambil berbicara serius mengekori Josephira yang sudah menuruni anak tangga.
Sesekali Nabila berhenti melangkah agar bisa menjelaskan dengan seksama pada koleganya lewat telepon. Jarak diantara mereka semakin melebar. Kini Josephira telah semakin dekat dengan pintu keluar.
Nabila yang berjalan sambil telepon tiba-tiba disenggol dengan keras oleh seorang lelaki yang berjalan dengan cepat kearah Josephira.
“Hei, hati-hati dong kalau berjalan.” Sengit Nabila karena merasa terganggu.
Bersambung…
_____________
*Footnote :**) Kunai Sejenis pedang pendek (belati) Jepang dengan cincin besar di gagang pegangan.
__ADS_1