MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 18 Tidak Sengaja


__ADS_3

Cuplikan Eps. sebelumnya…


“Iya, ada apa?” Terdengar oleh Bethoven dan Diva sebuah suara keras dari atas mereka. “Apa? Ada dua puluh orang masuk ke warung bakso dan juga ke motor anak esema itu? Mereka juga menayakan anak laki-laki itu? Kalian tahu siapa mereka?”


“…”


“Apaaa? Cepat kita menyingkir, semuanya tinggalkan tempat ini sekarang juga.”


\=\=\=o0o\=\=\=


“Kak… udah sepi… sampai kapan kakak akan menindihku seperti ini?”


“Ups, ah… maaf… maaf…” Jawab Bethoven lalu mendorong pintu kulkas sekuat tenaga dengan punggungnya. Wajahnya memerah karena tadi dia sempat terlena menikmati sensasi hangat dan nyaman.


Pintu kulkas terbuka, Bethoven segera melihat ke sekitar.


“Sudah aman Diva, ayo keluar.”


“Kakak keluar dulu dong. Kedua kakiku masih dijepit kaki kakak nih.” Sungut Diva merasa tidak nyaman.


Mereka kini telah keluar dan berjalan pelan penuh kehati-hatian. Suasana canggung menyertai mereka berdua. Bethoven merasa bingung harus berkata apa perihal kejadian didalam kulkas bekas tadi. Dia berjalan satu langkah didepan Diva berhenti membuat gadis yang mengekori dibelakangnya itu juga ikut menghentikan langkahnya.


“Eee… Diva…” Bethoven memulai kalimatnya tanpa menoleh kearah Diva.


“i-iya.” Jawab Diva sambil menatap punggung lelaki tampan didepannya.


“……”


Bethoven tidak melanjutkan kata-katanya dan memilih melangkahkan kakinya lagi.


Aish… ga jelas amat sih. Kirain mau bilang apa, eeee… malah ngeloyor pergi! Runtuk hati Diva sambil menatap punggung Bethoven yang telah menjauh beberapa langkah. Dengan muka sebal dia sedikit berlari bergegas mengejar langkah kaki Bethoven.


Kini mereka hanya beberapa meter saja dari pagar kawat berduri tempat mereka masuk ke tempat penimbunan barang bekas ini. Bethoven berhenti tiba-tiba, karena pandangannya melihat ada beberapa orang berpakaian hitam-hitam kini telah menerobos masuk melalui pagar yang rusak. Tanpa menoleh Bethoven mengibaskan tangan kanannya mendorong dan menahan tubuh Diva untuk tetap berada dibelakang sejajar dengan tubuhnya yang menempel ditumpukan barang bekas. Wajah Bethoven tetap mengarah pada orang yang kini terlihat seperti orang yang sedang mencari.


Diva yang merasa tubuhnya terdorong hanya bisa mengikuti. Wajahnya terkejut bukan kepalang, tapi dilihatnya Bethoven sedang serius mengintip dari balik tumpukan barang bekas.


“Apakah ada bahaya lagi kak?”


“Eh, tidak Diva, kita sudah aman, ternyata itu para pengawal papaku. Mereka sudah tiba. Pasti orang yang mengejar kita tadi telah pergi.”


“Ooooo begitu? Kalau begitu kenapa tangan kakak masih menempel disini?” Seru Diva dengan keras.


Bethoven menoleh kearah Diva. Dia melihat sorot mata tajam Diva yang melotot kearahnya lalu melirik tangannya. Bethoven pun mengikuti arah sorot mata Diva.


“Ups! Maaf… maaf… maaf… maaf banget….”

__ADS_1


Mata Bethoven terbelalak menyadari posisi telapak tangannya berada tepat diatas dada Diva. Dengan cepat dia menarik tangannya menjauh. Wajah Bethoven memerah tanda sangat malu.


Aish… kok bisa tepat disitu dan aku ga menyadarinya sama sekali sih, pantas saja tadi terasa kenyal banget. Haduuuh… Dia pasti marah dan pasti mengira kalo aku ini mesum. Aduuuuh… gimana ini? Yang tadi aja masih belum bisa menjelaskan sekarang udah ditambah ulah tanganku ini. Kata Bethoven meruntuki kebodohannya sendiri.


Diva tidak menjawab dia hanya diam saja. Bibirnya mengerucut karena marah merasa dilecehkan oleh orang yang dikaguminya. Dia lalu berjalan berlalu meninggalkan Bethoven yang masih terdiam salah tingkah.


Bethoven tak mampu berkata ketika Diva ngeloyor meninggalkan dirinya menuju pada pengawal papanya.


“Oh, maaf nona… apakah nona adalah teman yang disebutkan oleh tuan muda Bethoven?” Tanya seorang lelaki memakai jas hitam.


Diva yang ditanya hanya menjawab dengan tolehan kepala kearah Bethoven yang mulai muncul dari balik tumpukan barang bekas.


Orang yang bertanya itu lalu membungkukkan badannya memberikan hormat pada Diva dan berlalu kearah Bethoven.


“Tuan muda tidak apa-apa?” Tanya orang itu pada Bethoven.


“Iya, aku baik-baik saja. Apa kamu datang membawa dua puluh orang?”


“Benar tuan muda.”


“Hmm…”


Itu artinya mereka yang mengejar aku dan Diva tahu siapa yang datang, jadi mereka langsung kabur begitu pengawal-pengawal ini tiba diwarung bakso. Tebak Bethoven dalam hati.


“Mari tuan muda, saya diperintahkan untuk mengawal anda pulang.”


Bethoven pun berlari mengejar Diva dan meninggalkan pengawalnya begitu saja.


“Diva, ayo kembali ke sekolah.” Ajak Bethoven setelah berada satu langkah dibelakang gadis teman kencannya itu.


“Tidak usah kak, sopirku sudah menjemput. Mereka sudah menunggu di depan.” Jawab Diva dingin dan tanpa berhenti juga tanpa menoleh kearah Bethoven.


“Mereka?” Desis Bethoven pelan.


Bethoven hanya bisa mengikuti langkah Diva, karena Diva tidak menjawab lagi. Dia masih merasa canggung untuk memulai percakapan lagi setelah kejadian di tempat penimbunan barang bekas. Setelah keluar dari warung, Bethoven melihat Diva sudah dijemput dua orang laki-laki dan segera mengarahkannya ke mobil. Diva tanpa menoleh sedikitpun pada Bethoven langsung memasuki mobil dan pergi meninggalkannya.


“Sial! Sial! Sial! Gara-gara ketidak sengajaan ku tadi Diva jadi marah besar padaku. Hingga berpamitan saja tidak mau. SIAAAAALLLLL…..!!!”


\=\=\=o0o\=\=\=


Ditempat lain.


“Maaf tuan saya mengganggu.”


“Hmmm…” Jawab Bram dengan tanpa merubah tatapan matanya. Dia masih memeriksa laporan keuangan didepannya.

__ADS_1


“Tuan muda Bethoven baru saja mengirim pesan, dan merasa terancam tuan.”


“Terancam…” Bram mendongak melihat pada Johan, asisten pribadinya. “Siapa yang berani mengancam putra semata wayangku?”


“Berdasar dari foto yang dikirim tuan muda, salah satu pengawal kita ada yang mengenali mereka adalah pengawal-pengawal tuan Rudi tuan.”


“APA?! Rudi dari PT. Tambang Aneka Logam itu? Yang beberapa waktu lalu kita meneken kontrak investasi?”


“Benar tuan, tapi kita tidak tahu siapa yang dikejar oleh pengawal tuan Rudi. Sebab tuan muda saat ini bersama dengan seorang temannya. Dan saya harap tuan tenang dulu, karena saya telah mengirim dua puluh orang menuju ke lokasi tuan muda untuk memberikan pertolongan.”


“Bagus. Siapa temannya itu?”


“Diva tuan. Ini profil temannya. Barangkali tuan Bram ingin tahu lebih jauh.” Jawab Johan sambil menyodorkan pada Bram dan langsung disambarnya berkas berisi profil Diva. Bram langsung memeriksa berkas profil yang ada disitu.


“Lalu, sekarang bagaimana keadaan mereka?” Tanya Bram sambil menatap intens pada berkas.


“Sudah aman tuan. Baru saja saya mendapat kabar, tuan muda dan temannya baik-baik saja.


“Syukurlah… Suruh mereka mengawal putraku pulang kerumah juga temannya agar dikawal sampai kerumahnya juga.”


“Tuan muda sudah dalam perjalanan pulang tuan, tetapi temannya yang bernama Diva itu pulang sendiri tuan.”


“Ya sudah kalau begitu. Masih ada yang perlu kamu laporkan?”


“Mmm… tidak lagi tuan. Tapi saya hanya sedikit bertanya-tanya kenapa wajah teman tuan muda itu terasa sangat familiar ya? Padahal seingat saya, saya belum pernah bertemu dengan teman tuan muda yang bernama Diva itu.”


“Hmm…”


“Baik tuan, saya permisi dulu.”


Johan keluar meninggalkan Bram yang masih duduk dimeja kerjanya dan terpaku pada berkas profil Diva.


Bram terus memandang foto Diva yang dicetak berukuran 10 R itu, “mengapa wajah anak ini sangat mirip dengan Nabila ya?”


\=\=\=o0o\=\=\=


Ditempat Adli sang manajer.


“APA?! Hadeeh… nih anak ditinggal meleng dikit aja udah bikin cemas.” Seru Adli saat melihat pesan dan lokasi yang dibagikan oleh Diva dan juga sopir sekaligus pengawal Diva.


Adli langsung menelpon kedua orang suruhannya itu untuk mengamankan dan menjemput Diva.


“Cepat kalian jemput Diva. Jangan sampai terjadi hal yang bisa melukainya. Kalau sampai itu terjadi kalian harus menanggung akibatnya karena telah lalai. Dan juga langsung bawa pulang. Aku tunggu kalian disana.” Perintah Adli melalui telpon pada sopir Diva.


Bersambung…

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2