MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 26 Bingung


__ADS_3

Cuplikan eps. sebelumnya….


“Menyebalkan. Berani terlambat? Akan kusiksa dia sampai berdarah-darah kalau servisnya tidak memuaskan malam ini.” Gerutu Ferdi. Lalu dia menenggak wiskey didepannya.


\===o0o===


Ferdi terbangun dari tidurnya. Diliriknya tubuh putih, mulus dan polos seorang wanita muda berambut sebahu yang terlelap tepat dipinggul kirinya. Tanpa sehelai benangpun membalut tubuhnya, hingga sebuah tato naga merah terpampang jelas di lengan kanan wanita itu yang melingkar dipaha kiri Ferdi.


Mata Ferdi terus menjelajah kulit mulus itu. Bongkahan dada yang menggiurkan, pinggang yang ramping membuat inti tubuh Ferdi tergerak tanpa sadar. Dengan gemas tangan Ferdi memukul pantat wanita yang tertidur


memeluknya itu.


Wanita itu hanya melenguh pelan mendapatkan tamparan keras dipantatnya, lalu merubah posisi tidurnya menjadi terlentang setelah itu.


“Hmmm… jadi pengen lagi kalau melihat kamu seperti ini.” Ferdi menyeringai ketika dirasakannya inti tubuhnya secara alami membesar. Dengan kasar ditariknya tubuh polos itu.


Wanita muda itu kaget karena tidurnya merasa terganggu. Kesadarannya belum sepenuhnya merasuki otaknya, dia sudah merasakan jilatan-jilatan basah dan nikmat menjalar diarea dadanya.


“Ouhg… tuan… aku masih lelah…. Aaahh….”


Dan pagi itu terjadi lagi kegiatan nikmat penuh dosa yang dilakukan oleh pembeli dan penjual di sebuah kamar yang menjadi saksi bisu aksi-aksi mereka.


\===o0o===


“Kak… aku sudah sampai di cafenya…” Nabila memberitahukan pada Josephira melalui percakapan telepon.


“Iya Bila, sekitar lima belas menit lagi aku sampai disana. Tunggu sebentar ya…” Jawab Josephira dari seberang.


Sambungan telepon pun ditutup. Nabila memilih tempat duduk di dekat pintu masuk. Sofa café itu membelakangi jendela kaca lebar, hingga Nabila bisa melihat kearah luar dengan leluasa. Seorang pelayan datang menghampiri, Nabila pun memesan dua gelas minuman, kopi latte kegemarannya juga kopi hitam kental kesukaan Josephira.


Dengan perasaan relaks dan senang karena akan bertemu sahabatnya, Nabila duduk menunggu. Dia edarkan pandangannya menyapu café tempat dia biasa nongkrong dengan Josephira ini. Beberapa orang tampak duduk


bersantai, ada yang sekedar mengobrol sambil menikmati makanan yang tersaji, adapula yang hanya duduk sendiri sambil memainkan laptop, membaca koran dan memainkan gadget mereka.


Tiba-tiba pandangan Nabila terpaku pada salah satu headline bacaan dari salah satu pengunjung café. Dengan jelas terbaca Nabila “RAHASIA APA DIBALIK NABILA DAN DIVA?”.


“APA????” Pekik Nabila tertahan. Dengan terburu-buru dia keluar dari café dan mencari tempat kios atau pedagang koran keliling. Dia ingin membeli dan membaca sendiri.


Belum sepuluh langkah Nabila berjalan, telepon genggamnya berdering. Nabila segera melihat layar teleponnya, tulisan bang manajer tertera disana. Dengan cepat Nabila menekan tombol terima.


“Halo bang…”


“Halo! Kamu sudah tahu headline bebeberapa surat kabar hari ini?”


“Belum bang, tapi aku tadi sempat membaca satu judul headline, dan sekarang aku sedang berusaha untuk membelinya.”


“Kalau kamu ada di rumah, berdiam dululah disana…”


“Tapi… aku sekarang di café xxxx bang, aku ada janji bertemu kak Josephira….”


“Aish… tapi jangan sampai keberadaanmu diketahui reporter, aku masih merundingkan dengan tim manajemen untuk mengatasi masalah ini.”

__ADS_1


“Iya bang… aku akan berusaha. Terus bagaimana dengan Diva bang?”


“Aku sudah mengontak produsernya, dan telah menambah beberapa orang untuk membantu mengamankan lokasi syutingnya. Untuk sementara dia masih belum tahu kabar ini.”


“Iya bang, bantu Diva ya bang.”


“Oke, semoga kita segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


“Iya bang… maaf merepotkanmu bang.”


“Sudahlah. Lanjutkan kegiatanmu, hati-hati jangan sampai lokasimu diketahui media.”


“Iya bang.”


Sambungan telepon itu ditutup. Nabila melanjutkan pencariannya, tetapi sebelumnya ia memakai scarf tipis untuk menutupi wajahnya. Scarf itu selalu ia bawa didalam slimbagnya.


Nabila menemukan satu kios dipojokan gedung yang sama dengan café itu. Dia lalu membeli beberapa koran dan tabloid yang menampilkan headline tentang dirinya juga putrinya. Setelah melakukan pembayaran, Nabila


kembali memasuki café.


Nabila mulai membaca salah satu koran yang telah dibelinya. Wajahnya memerah menahan amarah. Tanpa ada klarifikasi atau wawancara yang tertulis disana, melainkan lebih banyak spekulasi wartawan itu sendiri. Nabila berganti pada surat kabar berikutnya. Sama, isinya hampir sama malah lebih banyak bumbu hingga membuat rahang Nabila semakin mengeras menahan amarah.


Kemarahan Nabila semakin meningkat, hingga dia tidak menyadari Josephira sahabatnya telah duduk  disebelahnya.


“Hmm… ada berita apa sih, sampe wajah cantik kamu hilang berganti wajah super jutek seperti itu?” Tanya Josephira.


“A… Kak J-Josephira….” Nabila gelagapan, karena baru menyadari keberadaan Josephira.


“Ma.. maaf kak… maaf, maaf.” Jawab Nabila seraya terburu-buru mengumpulkan koran-koran yang baru dibelinya dan menaruhnya disebelah kakinya.


“Aaah… berita basi itu lagi ya?” Tanya Josephira dingin.Dia tahu karena sekilas membaca salah satu headline tadi. “Udahlah… ga usah difikirin, cuekin aja.” Seloroh Josephira lagi.


“I-iya kak…”


“Udah deh… hari ini kita senang-senang saja. Kita happy aja hari ini, kita shoping, aku yang traktir semuanya, terus kita tutup dengan memanjakan diri dengan spa ditempat faforit kita. Bagaimana?”


“Baiklah… karena kakak Josephira yang menyarankan, adikmu ini pasti akan mengikuti nasihat kakak.” Seru Nabila dengan melemparkan senyuman lebar.


Semoga berita hari ini yang entah dihembuskan oleh siapa bisa diredam bang Adli seperti waktu dulu. Kasihan Diva, dia tak seharusnya menanggung hal seperti ini. Batin Nabila bermonolog.


\===o0o===


Satu minggu berlalu.


“Apa? Kenapa?” Teriak sang sutradara dalam sebuah percakapan telepon.


".....”


“Baik… baik bos. As you wish bos.” Kata sang sutradara dengan nada lemas, lalu menutup sambungan telepon.


Semua mata memandang kearah sutradara yang tiba-tiba menampakkan wajah muram. Persiapan syuting telah selesai, mereka semua kini sedang menunggu aba-aba komando dari sang sutradara untuk memulai kegiatan

__ADS_1


syuting hari ini.


Sutradara yang ditatap berpuluh pasang mata itu meremas kertas skrip lalu membantingnya ke tanah.


“Maaf, karena sesuatu hal kegiatan kita hari ini batal. Kru cepat bereskan peralatan!” Kata Sutradara.


Semua yang mendengar hanya diam, bingung. Tak satu pun kru atau pemain yang ada disana beranjak bergerak. Mereka saling berpandangan dengan sorot mata penuh tanya. Begitu juga Diva dan Bethoven yang telah bersiap di depan kamera. Keduanya saling bertatap penuh tanya.


“Kru! Kalian dengar omongan aku tidak?! Bereskan peralatan sekarang juga. Kita pulang!” Bentak sutradara itu dengan keras.


Bentakan itu mampu menggerakkan kaki dan tangan para kru  yang terdiam untuk mulai bergerak melaksanakan instruksi sutradara. Dalam diam penuh tanya mereka membereskan peralatan.


“Pemain, kalian kemas barang kalian dan pulang. Tunggu kabar dari kami. Pihak kami akan menghubungi manajemen kalian untuk penjelasan apa yang sedang terjadi.”


Dengan lemas Diva, Bethoven dan pemain lainnya berjalan meninggalkan lokasi syuting. Begitu juga para asisten, mereka hanya bisa mengomel kecil karena kejadian tidak jelas pagi ini.


“Ada apa ya kak?” Tanya Diva sambil berjalan menuju ruangan ganti pada Bethoven yang berjalan disebelahnya.


“Aku tak tahu Diva. Perubahan ini sangat mendadak. Aku juga bingung, tapi sepertinya sutradara juga kebingungan setelah menerima telepon tadi.” Jawab Bethoven sambil menggaruk-garuk ujung kepalanya yang tidak gatal.


Diva segera memanggil asistennya dan memerintahkan untuk menelpon Adli manajernya. Perlu sedikit waktu untuk bisa tersambung.


“Siang om…”


“….”


“Anu om, kenapa tiba-tiba Diva dan seluruh pemain juga kru disuruh pulang? Apa yang sebenarnya terjadi om? Diva bingung?”


“….”


“O! Jadi ada hal seperti itu ya? Siapa sih om yang resek?”


“….”


“Iya om, Diva akan mencoba menerima ini semua. Diva sadar, hal ini pasti akan terjadi dan terjadi lagi.”


“…”


“Iya om, sekarang Diva akan berkemas dan kembali ke rumah.”


“…”


\===o0o===


“Diva anakku.” Sambut Minah sambil memeluk Diva yang masih berdiri didepan pintu rumahnya. “Ayo masuk nak, ibu kangen banget.”


Minah menggandeng tangan Diva yang sudah dirawatnya dari bayi dan telah dianggap seperti putri yang telah dilahirkannya.


Bersambung…


\=============

__ADS_1


__ADS_2