MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 25 LAPORAN


__ADS_3

Cuplikan Eps. sebelumnya…


“Kalau begitu atur agar Bethoven bisa syuting bersama Diva.” Titah Bram. “Kamu bersediakan mengorbankan waktu liburmu untuk bekerja?”


Sekarang Bram mengalihkan kalimatnya pada putranya.


\===o0o===


“I-iya pa.”


“Bagaimana Johan?”


“Sedikit sulit, tapi saya yakin bisa tuan. Karena sinetron itu sebagian besar dananya adalah investasi dari tuan.” Jawab Johan dengan mantab.


[kilas balik berakhir]


\===o0o===


“Bang… bisakah aku rehat seminggu tanpa syuting atau kegiatan lainnya?” Tanya Nabila pada Adli. “Setelah syuting mini seri berakhir dua hari lalu, entah mengapa capeknya ga hilang-hilang?”


“Iya… iya… aku akan atur itu. Tapi job kamu sudah menunggu awal minggu depan.”


“Terima kasih bang. Aku pulang dulu sekarang ya…” Tukas Nabila dengan senyuman lebar diwajah cantiknya.


Akhirnya aku bisa istirahat, dan besok aku akan melihat Diva di lokasi syutingnya, dan ini adalah pertama kalinya aku akan melihat dia syuting setelah tiga minggu lebih tidak bertemu kecuali lewat telepon. Batin Nabila bermonolog sambil melangkah berjalan kearah mobilnya.


“Kita pulang kerumah pak.” Titah Nabila pada sopirnya.


Keesokan harinya.


Siang itu di lokasi Syuting tengah terjadi pengambilan gambar yang melibatkan beberapa pemeran. Kerumunan penduduk di sekitar lokasi syuting berdiri di area yang dibatasi tali kuning dan dijaga beberapa lelaki berbadan kekar dengan kaos hitam bertuliskan GUARD di dada.


Diantara kerumunan itu ada seorang lelaki berkacamata minus menenteng kamera. Dia beberapa kali mengambil gambar beberapa pemeran yang kebetulan sedang tidak ikut ambil bagian saat pengambilan gambar kali ini.


“Kamu ini, beberapa kali dibilangin jangan ambil foto seenak udelmu!” Teriak seorang penjaga.


“Maaf, saya jurnalis. Saya punya hak disini untuk mengambil foto, selama yang saya foto bukanlah adegan syuting. Jadi tolong biarkan saya bekerja, toh saya tidak mengganggu proses syuting.”

__ADS_1


Penjaga itu hanya menatap tajam dan memasang wajah geram. Lelaki itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah penjaga. Untung penjaga bodoh ini tidak bertanya tentang kartu anggota pers ku, kata lelaki itu dalam hati dan  lalu mengumbar senyuman licik.


Tiba-tiba perhatian lelaki berkacamata minus itu tertarik pada satu obyek yang sedikit jauh dari posisinya. Terlihat seorang wanita memakai topi lebar, berkacamata hitam lebar. Wanita itu juga memakai pakaian yang berbeda dari kebanyakan penduduk local yang ada disana. Dia memakai mantel panjang berwarna coklat tua dan krah mantelnya di berdirikan hingga menutupi sebagian besar wajahnya.


Lelaki itu lalu membidikkan lensa tele nya. Dahinya mengernyit, seolah berfikir. Dan kemudian, senyumnya terkembang.


“BINGO! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu Nabila. Bos pasti akan senang!” Serunya dalam hati.


Lelaki itu lalu keluar dari kerumunan dan mengedarkan pandangannya.


“Tepat, itu istriku yang bertugas mengikuti Nabila.” Katanya lagi dalam hati. Setelah dia melihat seorang wanita berambut panjang sedikit jauh dibelakang Nabila.


Lelaki itu lalu pergi menghampiri wanita berambut panjang yang merupakan istrinya.


Mereka berdua adalah ditektif swasta yang disewa oleh Ferdi untuk mengikuti kemanapun Diva dan Nabila pergi, lalu melaporkannya pada Ferdi setiap hari.


Beberapa saat kemudian Nabila terlihat keluar dari kerumunan lalu pergi meninggalkan lokasi syuting. Ditektif wanita sewaan Ferdi pun juga pergi meninggalkan lokasi dan mengikuti Nabila.


“Aaand… Cut!” Teriak sutradara mengakhiri sesi pengambilan gambar. “Bagus, sepuluh menit lagi kita lanjut schene berikutnya.”


Asisten sutradara satu segera memberikan perintah kepada beberapa pemeran untuk masuk ke lokasi. Kesibukan lain pun dimulai, beberapa make up artist berkeliaran menata riasan beberapa pemain yang sedikit harus  mendapat perbaikan. Juga beberapa asisten berseliweran membawakan botol berisi minuman dan menyodorkannya pada pemain-pemain yang akan tetap berada dalam pengambilan gambar berikutnya.


“Kemana? Jadwal kamu hari ini masih ada pengambilan untuk beberapa schene loh.”


“Iya bang aku tahu. Cuman sejam saja bang. Please… aku janji kembali dalam satu jam.”


“Iya… iya… cepat sana. Awas jangan terlambat untuk kembali!”


“Makasih bang…”


\===o0o===


Malam harinya.


“Bos… ini laporan terbaru dari para ditektif kita, dan ada yang mungkin menarik perhatian bos kali ini.” Ujar Joe sambil menyerahkan beberapa lembar foto pada Ferdi.


“Hmm…” Jawab Ferdi malas. Tangannya terjulur menerima pemberian dari Joe asistennya. “Kali ini kuharap ada berita bagus, bosan aku mendapat laporan-laporan yang tak berguna setiap hari.”

__ADS_1


Ferdi melihat satu per satu foto yang diserahkan oleh Joe. Dahinya mengernyit tidak mengerti.


“Foto apa ini?” Bentaknya seraya membanting lembaran kertas foto itu.


“Loh itu foto Nabila juga Diva bos.”


“Kalau Diva aku bisa melihatnya dengan jelas. Tapi mana foto Nabilanya hah?”


“Yang memakai mantel coklat dan topi lebar itu Nabila bos. Hari ini mereka bertemu di sebuah kafe tak jauh dari lokasi syuting. Meskipun kedua ditektif itu tidak memberikan rincian apa yang mereka bicarakan, tapi bukankah itu hal yang sangat aneh? Dimana seharusnya mereka tidak terlalu akrab seperti yang mereka tunjukkan selama ini?”


“Benarkah itu Nabila?”


“Menurut Dwi, ditektif wanita yang kita sewa benar, dan dia mengikuti Nabila keluar dari rumahnya lalu menuju lokasi syuting dimana Diva syuting. Kemudian pergi meninggalkan lokasi dan menuju sebuah kafe.” Joe berhenti sejenak. “Sedangkan menurut laporan dari Kuncoro, ditektif yang kita sewa untuk mengikuti Diva, Diva pergi meninggalkan lokasi syuting dan menuju kafe lalu berbicara dengan seorang wanita. Dan kedua foto yang diberikan oleh kedua ditektif ini sama bos. Ini fotonya.” Joe menunjukkan beberapa foto dengan latar belakang nama sebuah kafe, dimana ada tampak Diva dan seorang wanita yang dianggap sebagai Nabila berjalan  memasukinya.


Ferdi memperhatikan dengan seksama penjelasan Joe juga foto-foto yang ditunjukkannya.


Kenapa? Apakah memang ada hubungan tertentu diantara mereka? Apakah mereka adalah ibu dan anak? Jika iya, apakah itu berarti Diva adalah putriku? Beragam pertanyaan muncul di kepala Ferdi.


Seringaian licik terkembang diwajah Ferdi. Sejurus kemudian dia melihat tajam pada Joe. Yang dilihat dengan tajam itu sampai bergidik ngeri.


“I-iya bos…”


“Cari wartawan yang bisa kita bayar untuk menyebarkan kisah ini. Sebarkan cerita kebohongan publik yang dilakukan Nabila juga Diva. Katakan mereka menutupi itu agar karir mereka cepat meroket.” Perintah Ferdi dengan cepat. “Dan besok saat aku bangun tidur, aku sudah harus membaca berita itu di tabloid atau apapun. Aku ingin berita ini tersebar luas secepatnya. Mengerti Joe?”


“Iya bos. Iya bos.”


“Oh ya, bagaimana hasilnya, apakah kamu sudah bisa mendapatkan orang untuk memasang alat yang akan digunakan hacker itu?”


“Baru tadi sore bos, aku baru mendapatkan dia tadi sore dengan imbalan yang cukup besar. Besok pagi alat itu akan sudah berada didekat computer diruang kerja Adli bos.”


“Bagus. Kerja bagus Joe.” Sahut Ferdi senang. “Sekarang mana cewek untuk teman tidurku malam ini? Jangan sampai sama dengan cewek-cewek yang sudah pernah kupakai. Kamu paham kan?”


“Aih… aku sudah hafal kalau soal itu bos, tapi maaf bos dia belum datang. Katanya terjebak macet. Mungkin setengah jam lagi bos.” Jawab Joe sambil menggaruk ujung kepalanya. Bos ini… selalu deh gonta-ganti wanita  tiap malam. Apa ga takut kena sakit kelamin? Geram Joe dalam hatinya.


“Menyebalkan. Berani terlambat? Akan kusiksa dia sampai berdarah-darah kalau servisnya tidak memuaskan malam ini.” Gerutu Ferdi. Lalu dia menenggak wiskey didepannya.


 Bersambung…

__ADS_1


\==============


__ADS_2