
“Mah, aku mau antar Diva pulang.” Pamit Bethoven.
“Diva pamit pulang tante, karena sudah malam.” Pamit Diva
“Terima kasih Diva, jangan kapok ya. Dan Betho langsung pulang setelah mengantar.” Jawab Josephira.
“Tentu tidak tan. Diva senang banget kok. Assalamualaikum.” Pamit Diva setelah sebelumnya salim dan mencium telapak tangan Josephira takzim.
“Hati-hati dijalan. Waalaikumusalam.” Jawab Josephira seraya tersenyum.
Malam telah larut. Josephira masih menonton televisi diruang keluarga rumah besarnya. Sepi, karena Bethoven belum kembali dari mengantar Diva, sementara Bram masih bekerja.
“Jam sepuluh.” Desis Josephira sendiri.
Kembali dia menahan kantuknya diatas kursi roda. Josephira ingin menyambut suaminya pulang, tapi rasa penat tersandar di kursi roda membuatnya susah menahan kantuk. Beberapa menit kemudian dia sudah terlelap dengan kepala tertunduk.
Satu jam kemudian.
Bram pulang dan mendapat laporan dari pelayan, bahwa istrinya telah tertidur diatas kursi roda. Dan tak satupun dari pelayan yang berani membangunkannya, karena sikap pemarahnya akhir-akhir ini.
“Hmmm, ya sudah. Kalian boleh kembali istirahat, aku yang akan membawa istriku.” Jawab Bram dingin.
Perlahan Bram mendekati istrinya. Lalu mendorong kursi roda dan membawanya masuk kedalam kamar. Dengan sangat berhati-hati karena tak ingin istrinya terbangun, Bram berusaha menggendong untuk memindahkan Josephira ke tempat tidur.
Aroma parfum Josephira menyeruak menyentuh saraf penciuman Bram saat harus menempelkan kepala Josephira ke pundaknya.
“Ah, kamu sudah pulang Bram?” Josephira terkerjap.
“Maaf, membangunkan kamu sayang.” Ucap Bram meneruskan usahanya memindahkan tubuh istrinya.
Josephira tak menjawab hanya pasrah saja saat dipindahkan.
“Apakah kamu tidak perlu untuk mengganti baju sayang?” Tanya Bram setelah menempatkan tubuh istrinya dengan benar.
“Eee...” Josephira mencoba untuk berpikir apakah perlu atau tidak. Dia takut Bram yang sudah lama tak melakukan hubungan sexual dengan tak mampu menahan diri lagi, seperti kemarin.
“Aku akan mengganti bajumu agar nyaman saat tidur.” Bram mengambil keputusan cepat. Lalu dia berlalu untuk mengambil satu buah baju tidur model chemise.
__ADS_1
“Bram, aku harus memakai diaper meskipun aku sedang tidur. Kalau pakai itu rasanya sangat aneh deh. Memalukan untukku.”
“Sesekali tak perlu memakai diaper sayang, biar ga iritasi.” Bantah Bram.
“Kalau aku mengompol bagaimana?”
“Its okay, kita ganti ranjang ini.” Potong Bram. “Sudahlah, aku menerima kamu apa adanya dirimu sayang, trust me. I’ll not angry if you pee on mattress.” Yakin Bram pada istrinya.
Josephira hanya diam pasrah saat suaminya melepas seluruh baju yang menempel ditubuhnya, lalu menggantinya dengan chemise yang seksi.
Bram memandang dengan puas hasil pekerjaannya.
“Ayo tidur. Hari ini aku sangat senang dan bahagia. Mitingnya sukses besar, mr. Smith telah tanda tangan kontrak investasi jangka panjang dengan kita.” Jelas Bram. “Terima kasih padamu sayangku, karenamu aku bisa sesukses ini, kalau tak ada dirimu entah apa yang akan terjadi pada diriku dan semua bisnis yang kutangani.” Sambungnya lagi seraya mengecup kening istrinya.
Josephira hanya tersenyum manis mendengar semua kalimat suaminya. Dia memutuskan akan pasrah dan menahan sakitnya bila suaminya tiba-tiba ingin mencumbunya.
Dan benar saja, sepuluh menit kemudian Bram lagi-lagi tak bisa menahan hasratnya untuk menjamah tubuh Josephira. Baginya tak ada lagi wanita selain Josephira yang bisa mengundang birahinya.
Josephira berusaha tenang dan menikmati. Meskipun hanya pada saat foreplay saja dia bisa menikmati dengan pasti. Dan dia berusaha sebisa mungkin mengimbangi permainan lembut Bram.
Kini Bram mencoba untuk menautkan kedua tubuh mereka. Josephira hanya bisa diam dan memejamkan matanya. Berharap dia tak akan mengaduh seperti malam-malam sebelumnya. Bram masih berusaha sepelan mungkin agar Josephira tak merasa tersakiti.
“Ahk.” Josephira terjerit lirih. Rasa kesemutan yang teramat sangat menyakitkan kini dia rasakan. Meski dia mencoba untuk tak berteriak, tapi air mata kesakitan tak bisa dia tahan untuk keluar.
Bram yang sedikit terbuai karena menganggap jeritan Josephira adalah ******* kenikmatan, memejamkan matanya merasakan sensasi yang sudah beberapa waktu ini tak lagi dia rasakan. Namun ketika dia membuka matanya dan melihat kewajah Josephira, mood nya mendadak hilang. Air mata yang berlinang itu membuyarkan segalanya. Dengan penuh penyesalan dia melepaskan tautannya.
“Maafkan sayang. Maafkan aku.” Kata Bram lalu merebahkan dirinya disamping Josephira dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.
Josephira hanya terdiam. Hatinya tercabik-cabik karena merasa sudah tak bisa lagi membahagiakan suaminya.
“Tak apa Bram, teruskan sayang. Aku mohon padamu.” Pinta Josephira dengan suara bergetar.
“Ti-tidak sayang, aku sudah ti-dak mampu lagi. Aku tahu kata dokter kamu akan merasakan kesakitan.”
“Tak apa Bram, itu tak sesakit yang kamu kira. Ayolah Bram jangan kau buat aku memohon untuk yang kedua kalinya.” Potong Josephira lembut.
“Sudahlah! Kamu tak perlu memohon lagi. Lain kali saja. Untuk malam ini aku sudah cukup puas bermain denganmu.”
__ADS_1
“Mana mungkin. Aku kenal dirimu sepenuhnya.” Ucap Josephira sambil menoleh kearah Bram yang terlentang dengan kedua tangan dibawah kepalanya. “Dulu kamu selalu bermain dengan sangat lama dan intens. Seperti tadi tak akan cukup bagimu. Ayolah, kita teruskan. Cumbu aku Bram, aku memohon padamu.”
“Tidak sayang. Aku tak akan sanggup melakukannya. Sudahlah sebaiknya kita tidur saja sekarang.”
“Bram, please... tak bolehkah aku menyenangkan suamiku tercinta?” Kejar Josephira sambil menggapai jemari lengan Bram.
“Tidak dengan cara yang membuat kamu harus menderita. Melihatmu tertawa, melihatmu bahagia sudah cukup bagiku. Tapi saat aku melihatmu menitikkan air mata, duniaku serasa runtuh. Seolah sia-sia semua yang aku kerjakan, saat melihatmu tersakiti olehku. Sungguh aku tak bisa sayang. Sungguh!” Tegas Bram seraya mengenggam jemari istrinya.
Hening...
Josephira terdiam.
‘Musibah yang menimpaku ini sungguh berat. Jika saja hanya aku yang menderita, aku mungkin masih sanggup. Tapi karena musibahku, Bram sekarang harus juga menderita. Apalagi Bram dengan semua keperkasaannya tentu sangat menderita saat ini.” Ucap batin Josephira.
Josephira menghela nafas dalam-dalam. Terasa berat bebannya kali ini, hingga bernafas pun serasa berat.
“Bram...”
“Hmmm...”
“Boleh aku minta dua hal padamu malam ini?"
“Tentu saja! Apapun yang kamu minta aku akan memenuhinya. Jangankan dua hal. Seratus pun aku akan berusaha memenuhinya asalkan itu masuk akal.”
“Hehehe... Aku akan memegang janjimu itu.” Ucap Josephira terkekeh. “Baiklah, dua hal ini pasti masuk akal. Pertama cium bibirku sekarang juga dan jangan berhenti sampai aku mengatakannya.” Titah Josephira seraya tersenyum nakal.
“As you wish my lady.” Dengan sigap Bram bangkit melaksanakan titah istrinya.
Mereka saling berpagutan dengan intens. Meskipun berada dibawah, Josephira seolah tak mau kalah. Dia begitu agresif hingga Bram juga semakin bersemangat meladeni permainan bibir itu.
“Sudah cukup.Nafasku sudah hampir habis.” Titah Josephira seraya mendorong pundak Bram menjauh.
“Apa permintaanmu yang kedua ratuku?” Tanya Bram tak sabar. Hasratnya bangkit kembali.
“Bercintalah denganku sekarang, jamah tubuhku sesuka hatimu. Hapuskan dahagamu selama ini dan jangan berhenti sampai kau mencapai puncak kenikmatannya.” Perintah Josephira
Bersambung...
__ADS_1