MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 87 KLARIFIKASI


__ADS_3

Masih di hotel XX.


Pagi harinya.


“Assalamualaikum Warahmatullah.” Ucap Nabila mengakhiri sholat subuh.


Diva pun mengikuti ucapan itu sebagai makmum. Setelah itu Diva mencium tangan mamanya. Perasaan tenang tampak jelas diwajah keduanya.


Setelah mendengarkan nasihat panjang lebar dari Rendi teman baru sekaligus pemilik hotel XX tempat mereka  menginap saat ini, perasaan mereka menjadi tenang. Baik Nabila ataupun Diva, keduanya telah menyerahkan  semua masalah yang saat ini menerpa kepada Allah Ta’ala, Dzat yang menggenggam kehidupan mereka dan  seluruh umat manusia didunia.


Setelah semua ritual selesai. Mereka berdua santai didalam kamar. Keduanya masih enggan untuk berjalan-jalan  keluar dari hotel. Sambil menunggu Rendi yang akan mengantarkan mereka balik pulang dengan jet pribadinya,  mereka menyalakan televisi sambil mengobrol santai.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Sarapan pagi baru habis dimakan. Diva duduk disofa dengan santai sambil  melihat ke layar televisi. Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua, ponsel dimatikan saat waktu bersama. Bagi  mereka berkumpul seperti ini adalah quality time yang sangat berharga. Jadi sebisa mungkin tak menggunakan  ponsel. Tiba-tiba mata Diva melotot melihat layar televisi didepannya.


“GILA!!! Apa mereka sudah gila dengan melakukan itu?” Teriak Diva dan matanya masih terpaku seraya tangannya  meraba-raba mencari remote. Setelah ditemukannya dia mengeraskan volume.


“Diva, kamu ini kenapa?” Tanya Nabila karena tak senang mendengar anaknya mengumpat.


“Itu mah.” Jawab Diva seraya menunjuk layar televisi dengan remote.


Nabila segera menghampiri untuk melihat apa yang ditunjukkan Diva.


Terlihat dengan jelas bagaimana kondisi gerai toko perhiasan miliknya berada disana. Nabila juga ikut terkejut  melihat keadaan bagian luar depan tokonya itu. Sekarang toko mewah miliknya dan Josephira tampak sangat kotor  dan kumuh. Hilang semua kesan kemewahannya.


“Kini kami berada tepat didepan gerai perhiasan yang disinyalir milik selebritis terkenal, Nabila. Saat ini bisa anda  saksikan dibelakang saya ada beberapa orang yang melakukan unjuk rasa dan ada beberapa diantara mereka  yang melemparkan telur dan tomat busuk. Juga ada beberapa coretan dikaca dan tembok yang bertuliskan  penipu. Dan untuk saat ini saya sudah bersama dengan ibu Sumirah yang mengaku sebagai mantan fans dari  Nabila.” Ucap reporter televisi. Lalu gambar beralih pada seorang ibu dengan dandanan menor. Reporter itu lalu  mewawancarai ibu Sumirah tadi, “Baiklah, apa yang ibu ingin sampaikan dengan adanya aksi seperti ini.”


“Tidak ada. Saya hanya merasa jengkel dan marah. Dulu saya sangat mengagumi sosok Nabila. Saya menilai dia  sebagai sosok yang alim, kalem, lembut, sederhana tidak neko-neko dan suka membuat sensasi. Tapi ketika saya  mengetahui kebenarannya saya marah. Apalagi setelah tahu dia tidak mengakui putrinya sendiri. Itu betul-betul  membuat saya marah, dan setelah saya bertemu dengan rekan-rekan sesama fans, kami sepakat melakukan unjuk  rasa ini. Untuk menunjukkan bahwa kami kecewa, kami telah dibohongi oleh idola kami.”


“Oh jadi seperti itu ya? Baiklah, terima kasih ibu Sumirah. Saya akan serahkan kembali pada rekan Yani di studio. Silahkan Yani.” Ucap Reporter itu.


Nabila dan Diva hanya bisa menatap layar televisi dengan pandangan nanar. Mereka sudah mengira akan  menghadapi kebencian dari para fans. Tapi mereka tak menyangka mereka akan berbuat vandalisme dan anarki seperti itu.


“Mah...” Panggil Diva lirih. Pandangannya masih terfokus pada layar televisi. Kini gambar telah berganti dengan  wawancara. Serang reporter sedang mewawancarai seorang gadis remaja seumuran dengan Diva.


“Aku tak menyangka Diva yang kukagumi ternyata hanyalah anak haram dari sebuah hubungan terlarang. Cih, aku  sungguh menyesal mengaguminya seperti seorang bidadari dari surga.” Kata Gadis itu di layar kaca.


Ditempat lain.


Disebuah apartemen mewah.


Seperti hari-hari lainnya. Saat di dalam apartemen mewahnya, Naginisa akan tampil dengan busana sangat minim.  Kali ini hanya dia menatap televisi sambil berdiri dan menggenggam sebotol air mineral. Tubuhnya yang ditutupi  ****** ***** dan bra warna hitam tampak sangat kontras dengan kulit putihnya.


“Hahahaha... Semuanya berjalan sesuai rencana. Nah Bram, Josephira bagaimana reaksi kamu sekarang?” Teriak Naginisa.


Entah apa yang membuat rasa benci pada sepupunya itu selalu menyala-nyala. Dengan segala akal liciknya,  Naginisa selalu berhasil mendapat keuntungan materi dari Bram dan Josephira. Tapi keinginan kuatnya  memisahkan mereka tak pernah terwujudkan.


“Sekarang bagaimana aku bisa tahu reaksi Bram dan Josephira. Aku tak bisa memasuki rumahnya, aku tak bisa  menghubungi ponselnya, aku juga tak bisa menggali informasi dari Johan. Grrrr...  Apa yang harus kulakukan lagi  sekarang? Bram! Tunjukkan dirimu. Tunjukkan emosimu padaku setelah tahu istri mudamu yang sebenarnya.”  Geram Naginisa.


Berita yang disebarkan Naginisa dan dilengkapi bumbu unjuk rasa juga wawancara-wawancara dengan masyarakat  yang sengaja dipilih memang berdampak besar. Kebencian masyarakat pada Nabila dan Diva akibat  penggiringan opini yang masif telah berhasil diciptakan Naginisa dan teman-temannya.


“Lihat itu Fir, sekarang kamu tahu sendiri kan bagaimana si Nabila itu? Mama udah yakin sebelumnya dan  sekarang semakin yakin, dia itu pembohong, pembawa sial, punya anak haram. Pasti dia itu senangnya gonta-ganti  pasangan. Aku sungguh sangat bersyukur Adli meninggal sebelum sempat menikahi wanita murah seperti  dia.” Tanya mamanya Adli pada Safira sambil memaki-maki.


Safira hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Pagi ini dia sedang malas berdebat. Lagipula dia sudah tahu  sebelumnya dari Nabila sendiri. Dia tahu alasan dan keterpaksaan yang membuatnya harus merahasiakan  hubungan sebagai ibu dan anak pada publik.

__ADS_1


‘Dasar mama!’ Batin Safira menggerutu. “Sudahlah mah, Nabila juga sudah tak datang kerumah ini lagi. Dia juga  dengan santun pergi sewaktu mamah mengusirnya. Dan lagi jangan bawa-bawa kakak lagi lah, biarkan dia tenang disana.”


“Kamu ini selalu membela dia. Padahal faktanya sudah jelas terpampang seperti itu!”


Safira yang enggan berdebat hanya diam dan melangkah pergi. “Hari ini hari terakhirku disini mah, besok pagi aku  balik ke Kanada. Kuharap mama bisa jaga kesehatan dengan baik disini. Jangan marah-marah ga jelas terus. Nanti  bisa jadi penyakit.” Ujarnya tanpa menoleh.


Wanita sepuh itu seketika manyun melihat dan mendengar omongan putrinya yang sudah dia tempeli cap  pemberontak keluarga. Dan sudah dicoret dari daftar penerima warisan keluarga. ‘Dasar anak durhaka!’ Makinya dalam hati.


Sementara itu.


Dirumah besar keluarga Bram.


“Tuan muda, semua sudah dipersiapkan. Nanti malam anda akan kami antar ke bandara untuk terbang menuju  London.” Ucap Johan pada Bethoven yang memandang kosong keluar jendela kamarnya.


“Hmmm...” Jawab Bethoven lesu. Pikirannya bercabang, antara mencari tahu kebenarannya dari mulut Diva sendiri  dengan berangkat ke London karena mamanya sangat membutuhkan dukungan dari dirinya selama proses  perawatan dan penyembuhan.


“Baiklah tuan muda, saya akan memeriksa persiapan keberangkatan anda. Permisi tuan muda.” Pamit Johan lalu  keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali.


“Come on Diva. Answer my phone.” Rintih Bethoven. Sudah dua hari dia putus kontak dengan Diva. Segala  upayanya untuk mencari keberadaan Diva menemui jalan buntu. “Kamu dimana? Semuanya tak ada yang bisa  menjawab. Bahkan tante Minah juga berkata tak tahu kamu dimana? Seolah semuanya menutup diri dariku.  Sekarang aku menyadari siapa  sebenarnya diriku dihadapanmu Diva.”


Rasa gelisah Bethoven berubah menjadi amarah. Dia merasa sangat tak dianggap oleh Diva. Bahkan disaat seperti ini, dimana namanya juga salah satu nama yang sangat dicari pihak media, Diva tetap menghilang seolah  tak mau berbagi keluh kesah dengannya. Bethoven sendiri tak berani bertemu dengan media, karena takut salah  menjawab apabila ditanya perihal Diva. Karena dia merasa belum memperoleh jawaban yang sebenarnya.


“Mungkin pergi ke London dan meninggalkanmu selamanya adalah yang terbaik bagiku. Kamu tak pernah  mencintaiku seperti aku mencintaimu.”


Kembali ke hotel XX


“Bagaimana kalian akan balik sekarang atau...”


“Kami balik sekarang saja.” Jawab Nabila cepat memotong kalimat Rendi.


“Eeee... Maaf merepotkanmu Ren. Tapi aku mau minta tolong, bisakah kamu atur jumpa pers saat kami keluar dari bandara?”


“Akan aku usahakan. Sedikit sulit juga sih, tapi kuusahakan. Dan pastinya itu membutuhkan waktu sedikit lama  untuk mendapatkan ijin. Oke akan aku kabari lagi, setelah aku mendapatkan kepastian. Oh ya, kalau begitu  penerbanganmu ku tunda sampai kita mendapat kepastian apakah kamu bisa menggelar jumpa pers atau tidak?


Bagaimana?”


“Ya tak apa. Terima kasih Ren, maaf merepotkanmu.”


Rendi hanya tersenyum lalu menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Pukul tujuh malam. Nabila dan Diva beserta dua asistennya juga Rendi dan sekretaris Nadia berjalan keluar dari  bandara. Mereka baru saja tiba dan langsung diarahkan beberapa petugas untuk menuju tempat  diselenggarakannya jumpa pers seperti permintaan Nabila.


Nabila mengenakan kemeja putih polos lengan panjang dengan asesoris empat kancing berwarna hitam untuk  atasannya, dan denim hitam dan heels senada. Lengan kemejanya digulung sedikit dan dibiarkannya rambut  panjangnya tergerai bebas. Sementara Diva mengenakan kaos oblong warna biru muda dipadu dengan celana jins  biru dan sepatu kets. Kepalanya ditutupi topi baseball warna hitam.


Mereka berdua maju. Ada sebuah stand mic disana dan puluhan awak media yang berkumpul dengan semua jenis  peralatannya. Nabila maju kedepan mik sementara Diva berdiri sedikit dibelakangnya.


“Selamat malam teman-teman.” Sapa Nabila datar. Yang mendapat jawaban serentak dari awak media.


“Hari ini aku akan memberikan pengumuman perihal berita-berita yang telah tersebar di media sosial dan media mainstream.”


“Apakah anda akan memberikan klarifikasi yang sebenarnya atau hanya akan memberikan gimik baru?” Seorang awak media langsung memberikan pertanyaan tajam dan menyudutkan.


Nabila mengambil nafas dalam-dalam. “Maaf, saya disini hanya akan memberikan klarifikasi. Dan tak ada sesi tanya  jawab.” Nabila berhenti sebentar. “Saya akan mengatakan kepada dunia, bahwa Diva adalah putri kandung  saya. Kami memiliki hubungan yang harmonis seperti ibu dan anak, meski sedikit berbeda saat kami berdua tampil  diluar rumah. Saya sangat mencintai putri saya, demikian juga dengan Diva. Dia sangat mencintai saya.”

__ADS_1


Puluhan kilatan lampu blitz semakin gencar menyambar berusaha mengambil gambar-gambar terbaik. Begitu juga  dengan sorot kamera. Beberapa awak media seolah tak sabar dan mulai celometan bertanya. Tapi semuanya tak  digubris oleh Nabila maupun Diva.


“Kami berdua meminta maaf pada seluruh fans, teman-teman media, rekan seprofesi juga sahabat dan siapa saja  yang merasa terbohongi oleh kami. Jujur kami melakukannya karena terpaksa. Demikian terima kasih.” Tutup  Nabila dalam klarifikasinya.


Beberapa awak media tidak terima karena merasa belum mendapatkan jawaban sepenuhnya. Mereka merangsek maju berusaha bertanya. Tapi dengan sigap Rendi beserta pengawal dan petugas bandara mengamankan Nabila  dan Diva dari kerumunan dan desakan media.


Diva yang sudah menyalakan ponselnya, sambil melangkah menjauh dia membaca pesan-pesan dari Bethoven.  Dengan adanya klarifikasi dari mamanya kali ini, dia jadi berani untuk bercerita sejujurnya pada Bethoven.


[Aku, berangkat ke London malam ini. Jangan lagi mencariku. Mungkin ini adalah jalan yang harus kita tempuh  selamanya. Selamat tinggal]. Bunyi pesan terakhir Bethoven yang dikirim pukul tujuh lebih delapan.


Perasaan Diva begitu kaget membaca seluruh kalimat yang tertulis dalam pesan terakhir itu. Dengan terburu-buru  dia mengaktifkan aplikasi gps, yang mana dia bisa mengetahui keberadaan Bethoven. ‘Bandara? Kak Betho masih  dibandara ini.’ Batinnya.


Tanpa menghiraukan suasana, Diva berlari mencari Bethoven. Jarak terminal keberangkatan dengan posisinya  sekarang sangat jauh. Namun Diva yang panik dan ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu, seolah hilang  ingatan. Yang ada dalam pikirannya hanya harus berlari secepatnya menemui Bethoven.


Beberapa awak media yang melihat Diva berlari menjauh ikut mengejar Diva.


Suasana seketika kacau. Petugas bandara dan pengawal Rendi juga bingung harus berbuat apa.


“Apa yang terjadi dengan Diva?” Tanya Rendi dengan keras karena suasana yang kacau dan berisik pada Nabila.


“Aku tak tahu Ren. Aku tak tahu.” Jawab Nabila juga bingung melihat putrinya yang berlari menjauh.


“Kalian berdua cepat bantu nona Diva.” Perintah Rendi pada dua pengawalnya.


Dua lelaki bertubuh tegap itu langsung berlari mengejar Rendi. Suasana bandara semakin kacau karena beberapa  awak media juga ikut mengejar Diva.


Nabila mencoba menghubungi Diva lewat ponselnya.


“Halo mah, aku mencari kak Betho. Dia akan berangkat ke London malam ini. Aku harus menemuinya sekarang  mah. Kalau tidak akan terlambat.” Jawab Diva sambil terengah-engah dan langsung menutup teleponnya.


Nabila yang mendengar penjelasan putrinya itu,  lalu menceritakan pada Rendi.


Rendi hanya menggeleng tak percaya mendengar cerita Nabila. “Gadis kalau sedang jatuh cinta selalu menjadi  bodoh!” Runtuknya. Dia lalu menelpon seseorang. Beberapa saat kemudian ada petugas bandara datang  mengendarai buggy car (mobil yang biasa digunakan  di lapangan golf).


Petugas itu turun dan mempersilahkan  Rendi menggunakannya. Rendi menyeret Nabila untuk duduk  disebelahnya. Dia akan mengendarai buggy car itu mengejar Diva.


Dengan sangat cepat dan hampir beberapa kali menabrak orang yang  berlalu lalang. Akhirnya Rendi bisa melihat  Diva yang masih berlari dan dikejar pengawal juga awak media. Rendi membunyikan  klakson membuat pengejar  Diva sedikit minggir meski tetap berlari.


“Ayo lompat. Aku akan  mengantarkanmu menemui pacarmu itu.” Ucap Rendi tanpa menghentikan buggy carnya  dan  menyuruh Diva melompat kedalam.


Tanpa takut, Diva langsung melompat bergelantungan seperti kenek bus kopaja. Begitu Diva sudah diatas buggy  car, Rendi menginjak pedal gas dalam-dalam seraya terus menekan klakson.


“Nab, pegang kemudi sebentar aku akan menelpon seseorang.”


“Apa?” Teriak Nabila kaget karena tiba-tiba tanganya diletakkan Rendi diatas kemudi. Dan Rendi langsung  mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


“Maaf pak, hari ini aku sungguh merepotkanmu. Bisakah anda mencari keberangkatan seseorang bernama  Bethoven?” Rendi diam sejenak mendengar. “Baik aku tunggu.” Dia diam lagi. Tapi kemudi tak juga dia ambil alih.  “Oke bisa minta tolong untuk menahan penerbangannya sebentar saja. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan  Bethoven.” Dia diam lagi. “Baiklah terima kasih. Lain kali saat kita main golf jangan lupa untuk meminta  traktiran dariku.”


Rendi menutup ponselnya dan mengambil alih kembali kemudi dari tangan Nabila.


Rendi tiba-tiba membelok pada jalur khusus, yang seharusnya tidak boleh masyarakat biasa melewatinya. Jalur itu  kosong melompong. Dengan begitu Rendi bisa sangat cepat sampai ketempat dimana Bethoven sedang menunggu  pesawatnya.


“Sial! Apa-apaan sih ini?” Gerutu Bethoven yang tiba-tiba ditolak dengan sopan saat akan melintasi garbarata  (Lorong menuju pesawat terbang berada). Bethoven pun duduk dengan manyun. Suasana hati yang kalut  ditambah dengan hal kecil seperti ini membuatnya semakin marah. Tapi dia masih bisa menahan emosinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2