MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 41 Good Job Nab!


__ADS_3

Cuplikan eps. sebelumnya….


“Hmm… Oh ya sambil menunggu menu pembuka datang. Saya ada sedikit hadiah untuk nona karena telah  menemani saya malam ini.” Kata Kemal. Lalu tanpa menunggu jawaban Nabila, Kemal lalu berdiri dan  mencari-cari didalam saku jasnya. “Aah… Ini dia. Taraaa….” Seru Kemal.


Kemal mengeluarkan seuntai kalung emas putih dengan permata berwarna biru sebagai bandulnya.  Sebagai wanita normal melihat perhiasan indah seperti itu, mata Nabila terbelalak kagum dan mulutnya  terbuka secara otomatis. Kemal tersenyum puas melihat wajah Nabila yang seperti itu.


Dia lalu berjalan medekat kearah duduk Nabila.


“Ijinkan saya memakaikannya untuk anda nona.” Katanya lembut dan sopan.


Nabila yang masih terperangah belum sempat bereaksi lebih ketika Kemal sudah berada dibelakangnya.  Nabila tersadar dari keterkejutannya ketika dia merasakan hembusan nafas menyentuh rambutnya. Tiba-tiba  Nabila merasa jijik.


Kemal telah membungkuk dibelakang Nabila. Posisi kepalanya begitu dekat hingga hembusan nafasnya  mampu menggoyang rambut tebal Nabila. Kedua tangannya dijulurkan diatas kedua pundak Nabila. Kini  tepat didepan Nabila terpampang seuntai kalung yang indah.


“Tolong singkapkan rambut anda nona Nabila, dan saya akan memasangkan kalung ini untuk anda pakai  dan miliki.” Kata Kemal dengan lembut.


“Oh sial. Sial. Kalung ini sangat cantik.! Kalau aku terima dan aku pakai nanti pasti terkesan sangat eksklusif, bisa menunjang penampilanku.’ Batin hati kecil dari sisi gelap Nabila.


“Jangan Nabila, please. Kamu tahu dia hanya merayumu untuk akhirnya mengajakmu ke tempat tidur. ‘ Teriak batin  Nabila dari sisi terangnya.


“Please, let me put this necklace. I want to see the most beautifull lady of my life.” (Saya mohon, biarkan saya  memasangkan kalung ini. Saya ingin sekali menyaksiakan wanita paling cantik sepanjang hidup saya.)  Rayu  Kemal lagi karena melihat Nabila masih terdiam tak bergeming.


“Maaf tuan, saya tidak bisa menerimanya.” Kata Nabila dengan lembut tapi tegas. “Didalam kontrak saya   tidak boleh menerima hadiah apapun selain nilai kontrak yang telah ditanda tangani.” Lanjut Nabila.

__ADS_1


“Ta-tapi saya tulus nona. Sangat tulus. Saya tidak berharap apa-apa dari anda selain harapan saya untuk  bisa melihat wanita tercantik yang saya sangat kagumi selama hidup saya.” Elak Kemal sambil menggoyang-goyangkan kalung itu didepan Nabila.


“Maaf tuan. Saya akan pergi sekarang juga jika tuan terus bersikap seperti ini.” Tegas Nabila lagi. Dia sudah  merasa sangat jengah dengan lelaki dibelakangnya ini. “Dan saya pikir kalung ini pasti akan lebih terlihat cantik bila yang memakai adalah ibu, tuan.” Lanjut Nabila dengan menekankan kata ‘ibu’ yang artinya adalah istri Kemal.


“Pfft! Anda membuat mood saya untuk makan malam hilang nona. I’ve lost my appetite now!” Sentak Kemal  lalu berdiri dan kembali duduk ditempatnya. Kemudian dengan kasar dia menuangkan sampanye kedalam  gelasnya sampai luber lalu meminumnya habis. “You have guts. I like it. And it really attracts to reach you in  my arms. (Kamu sungguh punya nyali. Saya suka itu. Dan sungguh itu menarik hasratku untuk  merengkuhmu keadalam pelukanku.)’ Geram Kemal dalam hati.


“Maafkan saya tuan.” Jawab Nabila sopan.


Pembicaraan mereka terhenti karena dua pelayan telah datang dan menyajikan menu pembuka. Pelayan lalu pergi lagi.


Baik Nabila atau Kemal sama-sama tidak menyentuh makanan yang tersaji.


“Saya akan bercerita nona Nabila.” Kata Kemal. Lalu dia melanjutkan lagi tanpa menunggu apakah Nabila  bersedia mendengarkannya atau tidak. “Ada seorang nelayan sedang memancing dilautan. Kondisi air laut  begitu jernih sehingga nelayan tadi bisa melihat ikan-ikan yang berenang dibawah perahunya. Setelah  beberapa saat melempar kail, akhirnya nelayan itu mendapatkan seekor ikan sebesar tiga jarinya. Karena  dia melihat dibawah sana ada banyak ikan yang lebih besar dari tangkapannya, dia lalu melepas lagi ikan  kecil tangkapannya tadi kelautan. Kemudian dia lempar lagi kailnya dengan harapan dia akan mendapatkan  ikan-ikan besar dibawah sana. Akan tetapi pada akhirnya dia harus pulang dengan tangan hampa karena  tidak mendapatkah satu ekor ikanpun. Rasa kecewa dan penyesalan besarpun dialami nelayan itu.”


Pelayan datang lagi. Mereka lalu membereskan menu pembuka yang tidak terjamah itu. Dan kemudian  menyajikan menu utama dimeja.


Sebuah hidangan yang sangat menggoda selera.


“Ah baiklah. Maafkan saya nona Nabila. Mari kita makan.” Kata Kemal. Dia berusaha mendinginkan  kepalanya karena ingin melancarkan trik lainnya untuk bisa merayu Nabila lagi.


“Baik tuan. Saya juga minta maaf bila saya terlalu lancang.”


“Ah tidak, tidak. Never mind, never mind, please don’t think about it. That was absolutly my fouls. (Tak  masalah, tak masalah, mohon tidak perlu dipikirkan lagi. Yang tadi itu sepenuhnya kesalahan saya.)” Jawab  Kemal dan sangat terlihat sekali kalau dia berusaha terlihat bijak dan legawa. “Mari silahkan nona.”

__ADS_1


“Maaf nona Nabila, bila saya kurang sopan.” Kata Kemal disela-sela mereka makan, setelah terdiam  beberapa saat. Dan seperti biasa Kemal dengan tanpa menunggu reaksi Nabila, Kemal langsung   melanjutkan kalimatnya. “Anda ini berusia tiga puluh tahunan dan menurut kabar anda belum menikah.   Kenapa? Dan juga saya mendengar bahwa anda ini sudah punya anak, bagaimana bisa?”


“Uhuk, uhuk.” Nabila sedikit tersedak karena mendapat pertanyaan seperti itu. Meskipun dia telah terbiasa  dengan pertanyaan seperti itu dari awak media, namun tetap saja dia merasa kaget dengan perubahan  Kemal yang bertanya urusan pribadinya. Karena sedari awal Kemal langsung tancap gas merayu saja. dan tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Nabila segera mengambil gelas berisi air putih yang tersedia. Setelah   batuknya sedikt reda dia menjawab. “Maafkan saya tuan, sungguh saya terkejut dengan pertanyaan tuan   barusan.”


“Oh, maafkan saya kalau begitu. Tapi sungguh saya sangat heran. Anda ini sangatlah cantik dan mempesona. pastilah banyak lelaki yang berusaha mendapatkan cinta anda."


Tiba-tiba terdengar denting piano memenuhi ruangan besar yang hanya diisi Kemal dan Nabila itu. Lalu  disusul sebuah suara merdu hasil gesekan dari senar biola. Sebuah lagu melankolis hadir ditengah-tengah  mereka berbicara. Kemudian seorang wanita bertuksedo hitam mendekat sambil bermain biola.


Nabila sungguh tak menyangka akan hal ini. Reflek dia membungkukkan badan dengan kedua tangan menangukup didada. Sambil tersenyum dan menatap Kemal Nabila lalu berkata. “Malam ini anda benar-benar memberikan sebuah candle light dinner yang sangat romantis tuan Kemal. Tapi sayangnya ada satu yang kurang…”


“Benarkah? Anda menyukainya?” Tanya Kemal antusias melihat wajah Nabila yang mengangguk sekali dan  tersenyum itu tengah bermandikan cahaya lilin. “Lalu apa yang kurang?” Tanyanya lagi penasaran.


“Kurangnya adalah saya. Seharunya saat ini bukan saya yang duduk disini. Yang seharusnya duduk disini  adalah nyonya Kemal.” Jawab Nabila dengan menekankan kata nyonya Kemal.


Seketika rahang Kemal terlihat mengeras. Dia sangat tertohok dengan kalimat yang diucapkan Nabila tadi.


“Sial! Anda sungguh tidak profesional! Anda dihadirkan malam ini adalah untuk menemani saya makan  malam agar saya bisa merasakan kebahagiaan di hari ulang tahun saya. Tapi anda malah membuat saya  marah. Sangat marah!” Sengit Kemal dengan lantang. “Dan kamu anjing bodoh, pergi sana!” Usirnya pada  wanita pemain biola yang tidak berhenti memainkan biolanya saat dia marah.


Nabila diam saja dengan tenang. Setenang ruangan itu karena tidak lagi terdengar alunan musik.


Kemal berdiri lalu membanting serbet yang baru saja dia gunakan untuk melap mulutnya. Kemudian dia pergi meninggalkan Nabila sendiri.


Bersambung…

__ADS_1


***Author says:***GOOD JOB NAB!


__ADS_2