
Di apartemen mewah.
“Sial! Kenapa aku tak bisa mengetahui apakah Bram jadi menikah lagi atau tidak? Bahkan aku tak bisa menemui Bram, meski sudah beberapa kali mencoba menemuinya dikantor. Rumahnya juga tak bisa lagi ku akses. Penjaganya tak mengijinkan masuk siapapun dengan alasan karena Josephira sedang dalam perawatan dan butuh ketenangan.” Runtuk Naginisa. Nafasnya tersengal-sengal entah karena terlalu jengkel atau karena perlakuan Ferdi yang sedang mengobel-obel inti bawah tubuhnya.
Naginisa berdiri seraya dan langsung menendang tubuh Ferdi, budak nafsunya.
Bugh!
“Aduh!” Jerit Ferdi mengaduh berbarengan dengan tendangan yang tepat mengenai perut kirinya.
“Menyingkir kesana kamu!” Perintah Naginisa dengan tatapan tajam dan dingin.
Ferdi segera berlalu sambil merangkak menjauh. Dia mengambil ponsel yang diberikan Naginisa dan langsung menyalakan untuk melihat konten video faforitnya.
“Dasar budak bodoh sialan! Tahu tuannya sedang bingung malah asyik sendiri.” Naginisa ngedumel sendiri meyaksikan budaknya yang bersimpuh dengan ponsel ditangannya.
Naginisa berjalan mendekat mini bar yang tersedia dalam apartemen mewah tempat tinggalnya itu. Diambilnya sebotol wiskey dan langsung diminumnya tanpa menggunakan sloki.
“Hmmm... Apa yang harus kulakukan untuk memancing amarah Josephira? Aku tak mau sepupuku itu tenang dalam hidupnya. Dia harus terus waspada dan ketakutan.” Geremeng Naginisa sambil duduk didepan meja bar dan tangannya memegang botol wiskey. Ditenggaknya beberapa teguk lagi wiskey itu. “Ah, kenapa tak kugunakan saja hal itu? Entah si Bram brengsek itu jadi menikah atau tidak. Kalau bola panas itu menggelinding aku jadi bisa tahu dimana keberadaan sebenarnya Josephira. Dengan begitu aku akan bisa mencari cara menyakitinya lagi.”
__ADS_1
Naginisa berpikir lagi untuk merealisasikan ide dalam otaknya. Pandangannya seketika terhenti ketika melihat Ferdi yang sedang menikmati gambar-gambar dalam layar ponselnya. Mata Naginisa memicing ada ide yang menyergap dalam otaknya.
“Hmm... Dia kan mantan artis dan anak orang super kaya negeri ini. Aku yakin dia pasti tahu dan kenal beberapa awak media yang bisa dibeli dan kujadikan untuk permainan penggiringan opini publik.” Monolog Naginisa sambil mangut-mangut, dia lalu menenggak lagi beberapa tegukan. Suara dan wajah puas ketika dia menghentikan tenggakannya, sambil menatap botol wiskey ditangannya, dia berkata lagi, “Selain awak media, aku juga harus menggunakan jaringan medsos. Untung aku kenal dengan pemilik akun Mak Lambe Dower yang seringkali mengumbar aib selebritis dan berhasil menjadi viral. Dia pasti akan senang dengan bukti yang kubawa ini.”
Naginisa bangun dari duduknya. Dia berjalan lalu berhenti di depan cermin besar tak jauh dari meja bar. Diperhatikannya pantulan dari tubuhnya sendiri pada cermin besar itu. Tubuh seksinya kini terlihat jelas tanpa sehelai benang menempel disana. Tangannya bergerak kearah dadanya sendiri, lalu mengangkat dadanya dan mengusap ceruk dibawahnya.
“Lengket sekali. Aku akan mandi saja.” Ucap Naginisa seraya berjalan menuju kamar mandi. Ketika didepan pintu Naginisa berhenti sebentar seolah berpikir. Tanpa menoleh dia berkata dengan keras, “Budakku mandikan aku sekarang. Cepat! Letakkan ponsel itu atau kau akan menyesal telah dilahirkan dan menjadi budakku.”
Ferdi yang mendengar itu segera meletakkan ponselnya dan merangkak menuju kamar mandi. Dia masih ingat hukuman yang dia terima karena tak mendengar perintah akibat terlalu menikmati video Diva. Wajah Ferdi terlihat sangat ketakutan karena dia masih belum lupa rasa sakit akibat hukuman yang dia dapatkan dari tuannya itu.
Sementara itu ditempat lain.
“Iya bu, saya paham. Ternyata bang Adli ada juga yang kelupaan untuk membatalkan. Karena aku pernah meminta untuk semua jenis kontrak seperti ini dicancel saja.” Jawab Nabila.
“Hanya satu ini Nab, orangnya maksa banget. Aku yang waktu itu ikut negosiasi bersama pak Adli melihat klien ini begitu berharap kamu mau meneruskannya. Bahkan beliau rela untuk menyetujui seluruh klausul tambahan seperti tidak ada alkohol, tidak ada pakaian seksi atau baju renang, tak boleh asal menyentuh dengan alasan apapun pada kamu, kecuali kamu mengijinkannya. Dan bahkan jika kamu tiba-tiba merasa tidak nyaman saat acara itu, kamu bisa langsung pulang dan membatalkannya dan pihak klien akan membayar ganti rugi atas perasaan ketidak nyamanan kamu sebesar lima milyar.” Jelas Nesy menggebu-gebu. “Dan akhirnya pak Adli tak lagi mampu berkelit.”
“Memangnya siapa sih yang mengendors aku itu? Sampai-sampai rela berkorban sebegitunya?”
“Seorang pengusaha muda yang tak belum mau disebutkan namanya. Yang kita tahu dia ingin kamu hadir dalam acara soft launching hotelnya dibali selama tiga hari. Dia juga menjelaskan acara soft launchingnya sendiri hanya sehari, yang dua hari adalah hadiah untuk kamu agar menginap dan merasakan pelayanan eksklusif dari hotel barunya itu.” Jelas Nesy. “Dan ada lagi, kamu akan diberikan hadiah super spesial karena tidak membatalkan kontrak endors ini. Dan semuanya itu tertulis didalam klausul kontrak.”
__ADS_1
“Wow... Wow...” Ujar Nabila speechless karena memang tak lagi bisa berkata apa-apa. Baru kali ini dia mendapatkan klien yang sangat, sangat rela berkorban hanya untuk kehadirannya dalam acara soft launching. “Aku merasa diperlakukan seperti seorang ratu kalau mendengar dan membaca adendum kontrak ini.”
“Yah begitulah. Sebenarnya pak Adli tetap kekeh meminta pembatalan karena memang ini sudah menjadi permintaan kamu dan rela memberikan konsinyasi pembatalan seperti dalam klausul kontrak. Tetapi akhirnya pak Adli luluh. Aku juga sampai terheran-heran waktu itu. Karena orang itu sampai memohon dan hampir berlutut agar pak Adli tidak membatalkan kontrak.”
“Ini sangat gila! Kok sekarang aku malah takut ya? Setelah mendengar cerita bu Nesy yang terakhir tadi.”
“Sudahlah, aku sendiri sih sebenarnya merasa kamu akan aman-aman saja. Aku yakin kamu tak akan mendapat perlakuan buruk seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Karena aku melihat didalam mata pengusaha itu ada ketulusan dengan semua kata-katanya.”
“Hmmm... Ya sudalah aku jalani saja. Mau bagaimanapun kontrak sudah di tanda tangani, dan kita sudah berupaya yang terbaik. Jadi akan aku jalani bu.” Putus Nabila. “Besok aku akan berangkat ke Bali bu. Tolong akomodasinya dipersiapkan.”
“Beres. Semua keperluan kamu telah aku serahkan pada Sadil, asisten kamu. Besok kamu tinggal berangkat dengan penerbangan jam sepuluh pagi.”
“Ah baiklah. Terima kasih bu. Aku pamit balik dulu kalau begitu.” Jawab Nabila lalu bersalaman dan pergi meninggalkan kantor manajemen.
Dalam perjalan pulang, Nabila tetap memikirkan dan bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang mengendorsnya itu.
“Siapa dia ya? Dan apa motif tersembunyi dari permintaannya itu? Ah, semoga tidak terjadi apa-apa padaku. Tapi aku juga harus mempersiapkan diri.” Ucap Nabila pada diri sendiri. “Lalu apa yang harus aku persiapkan? Silat aku tak bisa, ah yang penting berusaha dan berdoa, dan tetap waspada saja selama disana.”
Bersambung...
__ADS_1