MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 54 Fantasi Liar


__ADS_3

Naginisa yang merupakan member gold di De Alexa sudah pasti mendapatkan pelayanan paripurna. Sebuah kamar VIP yang mewah lengkap dengan baju dengan berbagai model disana.


Saati ini Naginisa berfantasi liar menjadi musuh pahlawan super dari Gotham City. The Cat Woman. Jadi dia  memilih pakaian berbahan kulit yang sangat ketat. Naginisa bahkan memilih setelan itu yang satu nomor  dibawah dari nomor baju idealnya. Meski harus sedikit bersusah payah saat memakainya, utamanya pada  bagian pinggul dan dada. Karena terlalu ketat, dia jadi sedikit sesak saat bernafas.


Tepat setelah Naginisa memakai topeng cat womennya, pintu kamar diketuk dari luar.


“Masuk!” Teriak Naginisa.


Seorang lelaki telanjang bulat masuk kedalam kamar lalu menghampiri Naginisa yang kini tengah duduk  disebuah kursi kayu. Sebuah tongkat cambuk hitam berbahan serat carbon yang keras namun lentur tak  mudah patah dan diujungnya ada kotak berbahan kulit yang tebal telah digengaman Naginisa.


Naginisa menatap lelaki tampan yang telanjang bulat itu dari ujung kepalanya. Mengamati wajah tampan itu  sedikit lama, lalu turun ke dada bidang yang mempunyai dua puncak kecil kecoklatan. Turun lagi tersajilah  otot perut yang menggoda untuk digelitik. Naginisa berdiri lalu memutari tubuh lelaki itu. Tangan kanannya memegang tongkat cambuk, sementara tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan kulit mengelus  pundak lalu memijat otot lengan lelaki itu. Punggung lelaki itu digelitiknya dengan ujung tongkat cambuknya,  membuat lelaki itu sedikit bergelinjang.


Lelaki itu diam tak bersuara. Dia hanya merasakan cubitan-cubitan kecil dari Naginisa. Tiba-tiba dia  merasakan tangan kiri Naginisa menerobos di sela lengannya. Telapak tangan terbungkus sarung tangan  kulit warna hitam itu membelai-belai perut sixpacknya. Pelan, lembut, turun dan turun.


“Ough!” Lelaki itu berteriak kesakitakan saat sosisnya yang masih lemas dicengkeram dan diremas dengan  kuat oleh Naginisa. “Arrgh!” Erangnya lagi lalu membungkukkan badan menahan rasa ngilu dari bagian  intinya.


“Hahahahaha…” Naginisa terbahak-bahak, nafasnya memburu mendengar setiap rintihan dari lelaki didepannya ini. “Dengar! Malam ini kamu adalah budakku, turuti perintahku dan buat senang diriku.” Katanya  lagi sambil tangan kirinya tak melepaskan cengkeramannya. “Mengerti?” Tanyanya dengan berteriak.


“Aaarrrgghh!” Lelaki itu tak mampu menjawab karena kembali Naginisa meremas kuat-kuat sosisnya.


Nafas Nanginisa semakin memburu, pipinya terasa panas dan merona kemerahan. Dia sangat menikmati  sensasi penyiksaan seperti ini yang mampu membuat dia horny.


“Dasar budah goblok!” Maki Naginisa. Dia lalu melepaskan cengkeramannya, dan lelaki itu ambruk dengan  tubuh melengkung ke lantai.


Tak!


“Auhg.” Jerit lelaki itu kesakitan


Tak!


“Ahg!” Jerit lelaki itu lagi.


Naginisa semakin menjadi mendengar setiap jerit kesakitan lelaki itu. Suara itu terdengar sangat enak  ditelinganya dan mampu membangkitkan gairah seksualnya.


Lelaki itu masih mengerang kesakitan dilantai. Punggungnya kini penuh gais merah karena cambukan.

__ADS_1


“Cepat bangun! Ambil kalung anjing dilaci lalu pasang dilehermu!” Teriak Naginisa di telinga lelaki itu.


Lelaki itu beringsut lemah menahan rasa sakitnya. Dia menuju laci tempat kalung anjing dan rantainya  disimpan.


Naginisa yang sudah sampai dipuncaknya, segera bersusah payah melepas seluruh pakaiannya. Meski  bersusah payah, akhirnya dia berhasil tepat setelah lelaki itu memasang kalung anjing dilehernya. Naginisa  kembali duduk dikursi dengan tubuh polosnya. Kedua kakinya terbuka lebar mempamerkan bongkahan daging kecil seperti dompet berwarna pink dan berbulu tipis


“Cepat merangkak kesini anjingku yang manis.” Titahnya pada lelaki itu dengan nada menggoda.


Lelaki itu merangkak mendekat. Setelah dekat dia menyerahkan rantai yang terikat dikalung itu pada  Naginisa.


Naginisa menyeringai puas. Dia mengangkat telapak kakinya dan memasukkan jemari kakinya itu dimulut budaknya.


“Jilati itu sampai ke betisku, dan jangan berhenti sebelum aku menyuruhmu.” Titah Naginisa dingin.


Mata Naginisa merem-melek merasakan sensasi dari fantasinya. Sesekali dia pukulkan tongkat cambuknya  tepat dipantat sang budak hingga sang budak mengerang kesakitan namun tak berhenti menjilati kaki  Naginisa. Erangan itu semakin membuat nafas Naginisa memburu, seolah mendapat rangsangan liar yang  hebat, dan dengan cepat dia telah merasakan bagian intimnya basah.


Malam masih panjang. Dan Naginisa semakin liar dan liar. Berbagai fantasi terliar yang ada dalam benaknya  dia tumpahkan sehingga beberapa kali pula malam itu dia mendapatkan kepuasan demi  kepuasan.


Kini Naginisa kini tengah duduk di meja bar dan sedang menikmati martini faforitnya.


“Boy, aku beli budak yang tadi malam. Kamu mau kan melepaskannya untukku?” Tanya Naginisa pada Boy yang sedang memainkan gelas sloki kosong di meja bar.


“Berapa yang harus kutebus?”


“Pengeluaranku untuknya selama ini sekitar tiga ratus juta. Untuk nona muda Naginisa bisalah memberiku  empat ratus juta saja. Hehehe..” Jawab Boy lagi sambil terkekeh dan menggosokkan kedua telapak  tangannya.


“Cih, kamu ini terlalu peritungan.”


“Come on, I’ve telling you, I just a businessman. (Ayolah, aku sudah bilang kan, kalau aku ini seorang pebisnis)”


“Tiga ratus lima puluh saja. Tak lebih tak kurang.” Tawar Naginisa. “Kamu sudah mendapat untung kan? Bahkan dia juga sudah memberimu keuntungan sebelumnya.”


“Come on, jangan segitu. Aku bisa rugi nona muda.”


“Ambil atau tidak?” Tanya Naginisa dan memberikan tatapan tajam membunuh pada Boy.

__ADS_1


“Hmmm…” Boy terdiam sejenak. Benaknya berpikir keras. ‘Wanita ini wanita gila yang kaya raya, meski tak  satupun yang tahu darimana sumber uangnya. Kalau aku berikan aku hanya akan sedikit untung, tapi kalau  tak kuberikan, dia mungkin akan menbayar orang untuk mengacaukan bisnisku.’ Boy masih termenung  berpikir sambil menyesap beberapa kali cerutu besarnya.


“Cepatlah ambil keputusan! Aku tak punya banyak waktu untuk menunggumu.” Sergah Naginisa tak sabar.


“Baiklah, baiklah. Saya akan melepaskannya untuk nona muda.”


“Baguslah. Kamu memang orang baik dan bermartabat Boy. Masukkan tagihannya kerekeningku.”


“Senang berbisnis dengan nona muda Naginisa yang cantik dan dermawan.” Jilat Boy.


“Cih dasar penjilat gila. Dandani dulu budak itu lalu masukkan kemobilku.” Titah Naginisa.


\===o0o===


Siang ini Bethoven dan Diva sedang rapat dengan tim vloger. Mereka membahas rencana pembuatan konten  yang melibatkan Bethoven dan Diva didalamnya sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta.


“Jadi maksud kalian, kita bikin video semacam reality show?” Tanya Bethoven.


“Bener bos. Jadi apapun kegiatan kencan bos Betho dan Diva akan diikuti tim. Kamera akan terus  mengambil gambar selama anda berdua kencan. Bagaimana? Kami pikir itu akan mendongkrak popularitas  chanel kita.” Jawab Zelda salah satu tim kreatif.


“Aku sih pada dasarnya setuju saja. Tapi tak semuanya akan kalian tampilkan dalam video kan?” Tanya Bethoven lagi.


“Tentu saja tidak. Sebelum video kita upload pasti kita edit dan harus disetujui oleh bos Betho dan Diva.  Kalau dirasa berlebihan atau ada yang tidak disuka oleh bos berdua, kita akan edit lagi sampai bos berdua  setuju.” Jawab Dodit.


“Benar bos, tapi tentu saja mungkin kita akan beradu argumen dulu sebelum melakukan edit. Begitu sih  biasanya cara kerja kita.” Timpal Zelda.


“Oke aku setuju.” Jawab Bethoven lalu melihat pada Diva yang duduk disampingnya.


“Aku setuju juga.” Jawab Diva sambil tersenyum senang.


“Kalau begitu tinggal kita bahas bagi hasilnya sekarang.” Tukas Bethoven.


“Cih perhitungan amat nih bos Betho.” Cibir Zelda.


“Hahaha… bisnis is bisnis. Lagian hasilnya akan kutabung untuk persiapan aku menikah dengan Diva kok.” Jawab Bethoven enteng.

__ADS_1


“Whattttt???” Diva terkejut mendengarnya.


Bersambung...


__ADS_2