MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 53 Kunyuk


__ADS_3

Meskipun merasa senang karena sudah diterima sama Diva sebagai pacarnya. Namun hati Bethoven akhirnya mendongkol juga saat perjalanan pulang dari café.


“Iya maaf..” Kata Diva yang sejak masuk kedalam mobil sampai hampir setengah perjalanan benda pipih  warna hitam itu tak lepas dari daun telinganya. “Aku juga ga tahu.” Jawab Diva lagi pada Dodit yang  menelpon dia.


“Kamu ga asyik Diva. Masa kita yang tim vloger malah ga dapat video atau foto eksklusif lagi. Noh lihat noh,  video kamu jadi viral dan moment kamu menerima cinta Bethoven jadi trending topic nomor satu sekarang.”  Urai Dodit dengan sengit. “Teman-teman semua pada manyun tuh.” Katanya lagi.


“Iya, iya, aku minta maaf. Aku ga tahu kalau kak Betho berniat propose to me (menembak untuk jadian).  Lagian kami sering toh jalan berdua saja. Jadinya aku ga nyangka banget. Tiba-tiba saja aku diseret  kepanggung sama pengisi acara café, juga kak Betho.”


“Tapi kamu bisa kontak-kontak dulu. Jadi kita bisa dapetin dikit saja.”


“Ya maaf, beneran deh. Aku minta maaf pada tim. Lagian ini memang spontan. Dan kayaknya…” Diva tiba-tiba memutus sambungan teleponnya, lalu melihat dengan seksama pada Bethoven yang menyetir sambil  manyun karena tak dihiraukan.


“Udah teleponnya. Udah capek.” Kata Bethoven ketus.


“Hmm… Kak Betho jangan pakai acara ngambeg ya. Yang tadi itu kakak udah ngatur semua ya?” Tanya Diva tak merespon kengambegan Bethoven. “Termasuk Bimo yang pakai pura-pura cari relawan untuk maju  keatas panggung?”


Mau tak mau Bethoven jadi gelagapan mendapat serangan pertanyaan Diva. Tapi hatinya yang dongkol masih belum hilang.


“Kalau iya kenapa? Memang aku rencanakan karena aku sudah sangat ingin kita bisa berpacaran. Tapi udah  diterima jadi pacar, malah yang ngobrol banyak si Dodit kunyuk.” Geremeng Bethoven sambil tetap manyun  bibirnya.


“Wkwkwkw… “ Diva terbahak-bahak.


Bethoven semakin sewot dibuatnya. “Eh, malah ketawa. Ga sopan.”


“Wkwkwkwk… habisnya kakak sekarang kasih julukan  kunyuk pada kak Dodit. Wkwkwkw… terus ngelihat  bibir kakak yang seksi maju tiga senti itu jadi ngerasa gemes banget. Wkwkwkwk…” Diva terus saja tertawa  terbahak-bahak sambil melihat wajah Bethoven dari samping. “Tapi, wkwkw… memang pantas juga sih  kalau kak Dodit diberi julukan kunyuk. Habisnya wajah tirusnya ga cocok banget sama rambut kriting yang  digondrongin ditambah lagi pakai kacamata berbingkai tebal warna merah menyala. Wkwkwkwk…”


Mau tak mau Bethoven ikut tertawa membayangkan Dodit. “Wkwkwk… beneran kamu. Wkwkwkwk… kamu


bener sayang…”


“Idiiih… Sekarang panggilnya ke Diva jadi sayang gitu?” Cibir Diva. “Tadi saja ketus ngebentak?” Kata Diva  lagi lalu memutar tubuhnya kedepan dengan tangan bersedekap.


“Loh kok malah marah?” Tanya Bethoven kebingungan.


“Enggak. Diva gak marah!”


“Beneran?”

__ADS_1


“Iya. Aku ga marah.” Jawab Diva dengan nadi semakin meninggi.


Sambil menyetir dan melirik sebentar kearah Diva yang tiba-tiba terlihat jutek membuat Bethoven bingung  harus berbicara apa lagi. Digaruknya ujung kepalanya yang tidak gatal.


“Kalau ga marah, senyum dong sayang. Jangan jutek seperti itu.” Akhirnya Bethoven berkata setelah  beberapa menit terdiam.


Diva memutar kepalanya, menoleh pada Bethoven. Lalu membuka bibirnya mempamerkan gigi putihnya yang rapi.


“Ini aku tersenyum.” Katanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.


“Idih, senyum terpaksa. Yang tulus dong sayang.” Cibir Bethoven.


“Ini sudah tulus iklas kok. Ga percaya?”


“Iya deh, iya deh. Kakak percaya.” Jawab Bethoven sambil menggaruk-garuk tengkuknya meskipun tidak gatal.


Sementara itu ditempat lain. Disebuah Club House terkenal dan terbesar.


Naginisa melempar kunci mobilnya pada valet *). Setelah itu dia menaiki anak tangga masuk kedalam club house De Alexa.


Club house De Alexa ini adalah sebuah tempat hiburan untuk siapapun yang berkantong tebal untuk  dihabiskan dalam acara hura-hura. De Alexa memberikan berbagai hiburan lengkap. Mulai dari salon  kecantikan, perawatan tubuh, pijat, karaoke, diskotik, hingga layanan prostitusi gelap. Semua ada disini.


“Bartender.” Panggilnya pada bartender. Lalu wanita dengan pakaian pelayan berbentuk kelinci lengkap dengan bando kuping kelinci putih yang panjang diatas kepalanya datang menghampiri.


“Tambah lagi nona?” Tanyanya dengan tersenyum.


“Aku mau tanya. Kamu lihat Boy?”


“Oh om Boy? Ada sebentar saya akan panggilkan.” Jawab Bartender itu lalu meninggalkan Naginisa.


Beberapa saat kemudian dari arah belakang Naginisa datang pria paruh baya berbadan tambun memakai  hem motif bunga ala anak pantai dengan dua kancing atasnya dilepas mempamerkan bulu dadanya yang  lebat. Di lehernya tersampir kalung emas model rantai yang besar. Celananya model cutbray warna putih.  Sangat-sangat hingga tak enak dipandang mata ditambah dengan kepalanya yang botak dan berhidung  besar dan juga menghisap cerutu besar, rasanya semakin bikin mata (author) ini empet saja saat  melihatnya.


“Nona muda Naginisa cantik. Sudah lama sekali tak kesini mencariku.” Sapa laki-laki paruh baya tadi yang  bernama Boy.


Naginisa memutar kursinya hingga dia lurus dengan Boy yang berdiri. Boy mengangkat tangannya ingin  memberikan pelukan cipika-cipiki pada Naginisa. Tapi Naginisa menepisnya.


“Jangan sok akrab loh sama aku. Pake acara cipika cipiki segala. Padahal kamu ini cuma mau pamer cincin berlianmu yang baru itu kan?”

__ADS_1


“Hahahaha… Seperti biasanya perkataan nona muda Nagin  setajam silet, namun perhatian padaku.  Hahaha…” Kata Boy sambil terbahak-bahak hingga perut tambunnya terlihat berguncang keras.


“Ada budak yang bisa kumainkan?” Tanya Naginisa serius.


Boy tak langsung menjawab, dia seolah berpikir sambil memainkan cerutu besar yang menyala dibibirnya.


“Hmmm… bukan nona muda Nagin kalau tidak to the point tanpa basa basi. Sebentar aku akan ingat-ingat  dulu apa ada yang kosong malam ini.” Kata boy lagi dengan cerutu besar di sudut kiri bibirnya. Dia lalu  mengeluarkan tabletnya lalu memeriksa dengan serius. “Aaah, ada nona muda. Orang baru. Tapi tarifnya mahal.”


“Cih, kamu ini selalu seperti ini padaku. Dasar tak punya malu kamu ini!”


“Hahaha… Boy tampan ini tak berani nona muda. Ini profilnya dan itu tarifnya untuk satu malam.” Boy  menyerahkan tabletnya pada Naginisa. Wanita muda ini dengan antusias menerimanya.


“Hmm, ganteng juga macho. Dan kayaknya familiar banget wajah ini?” Kata Naginisa melihat foto profil alam tablet. “Wow tarifnya setinggi itu? Kamu gila Boy!” Sergahnya dengan nada tinggi.


“Tenang nona muda Nagin, khusus untuk malam ini, Boy yang tampan sedunia lain ini akan memberikan  discount tiga puluh persen. Bagaimana nona muda?”


“Wkwkwkwk… Oke. Deal! Masukkan ke tagihanku seperti biasa.” Jawab Naginisa berbinar.


“Baiklah nona muda. Silahkan nona muda pergi ke kamar lima kosong lima. Boy yang tampan sejagat semesta ini akan mempersiapkan segalanya.”


“Baiklah. Aku kesana sekarang. Dan GA PAKE LAMA!” Tekan Naginisa.


“Siap nona muda. Oh ya nona muda, ada satu syarat tambahan kali ini.”


“Hmmm… apa?”


“Please nona muda jangan mencambuknya di muka dan itunya ya? Budak terakhir harus pensiun dini gara-gara cambukan-cambukan nona muda waktu itu.” Kata Boy dengan wajah memelas.


“Oke, doakan aku ingat akan hal itu. Karena saat horny aku kadang lepas kendali.” Jawab Naginisa dingin.


“Wadhuh! Please nona muda. Aku mohon.” Pinta Boy sambil menggosok-gosok jidatnya harap-harap cemas


Bersambung…


______________


footnote:

__ADS_1


*) Valet : Petugas yang bertugas memarkirkan kendaraan pelanggan


**) Martini adalah sejenis minuman koktail beralkohol (minuman beralkohol rasa buah) yang dibuat dengan gin (minuman hasil fermentasi gandum, serelia) dengan vermouth (minuman hasil fermentasi anggur  icampur rempah) yang tidak manis (dry) lalu dihias dengan buah zaitun atau buah cherry sebagai topingnya.


__ADS_2